
"Saya benar-benar minta tolong Bang" wajah Bang Danar memelas memohon pada Bang Jamal.
"Yowes lah, sekalian hiburan buat anggota, tapi pelaksanaannya usai jam dinas ya..!! jangan mengganggu kegiatan" Kata Bang Jamal.
"Siap laksanakan.. saja paham Bang, terima kasih banyak Abang" senyum tampan menghias wajah Bang Danar.
...
Bang Giras dan Bang Jamal hanya menggeleng melihat sahabatnya sibuk menghias gerobak yang biasa di gunakan untuk mengangkut barang berat di Batalyon.
"Kau ini mau buat apa?" Tanya Bang Giras.
"Kereta kencananya Nyi Roro kidul" jawab Bang Danar masih terfokus pada pekerjaan nya.
"Heehh Danar.. apa maksudmu?? Siapa Nyi Roro kidul yang kamu maksud????" Bang Rey yang baru saja tiba mulai panas mengira Bang Danar memiliki wanita idaman lain.
Bang Danar membuang nafas kasar. "Siapa lagi kalau bukan adik kesayanganmu itu.. satu-satunya perempuan yang bikin aku sakit kepala sampai mau pecah rasanya"
"Mau bagaimana pun kelakuannya.. kau tetap sayang khan?" Tanya Bang Rey memastikan.
"Yo jelas to Kang.. Lah ini kalau nggak sayang, mana mungkin aku bela-belain buat kereta macam mau karnaval kecamatan. Semua demi siapa?? Demi si minul bojo kesayangan iki..!!" Jawab Bang Danar membuat Bang Rey dan Bang Giras terkikik.
"Memangnya Nadine minta apa?" Bang Giras pun ikut penasaran.
"Minta jadi Nyi Roro kidul. Pengen syuting film"
"Astagaaa.. selesailah kau Danaarr.." Bang Rey terbahak dan akhirnya Bang Giras tidak bisa menahan tawanya.
"Jangan tertawa kau ya, ingat yang aku bilang.. ini syuting. Aku takut Nadine jadi sutradara dan kita aktornya" kata Bang Danar yang memang tidak tertawa, mungkin sudah merasa cemas di awal.
"Laah iya, mudah-mudahan nggak lah" jawab Bang Giras seketika berhenti tertawa.
Tawa Bang Rey pun berhenti. "Ini serius Nadine mau syuting Dan?"
"Yaa.. sekalian makan-makan sama anggota lah, anggap saja aku syukuran kehamilan Nadine. Dia bahagia dan sehat saja aku sudah tidak ingin hal lain lagi" jawab Bang Danar sambil mengikat hiasan cantik di kereta buatannya. "Okee.. sudah selesai, tinggal tunggu nanti sore"
//
"Make up artist? Suami saya menyewa MUA??"
"Iya Bu, Pak Danar menghubungi kami untuk acara ibu nanti.
"Oohh baiklah.. silakan masuk..!!"
ddrrtt.. dddrrttt.. dddrrttt..
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Bang"
"Wa'alaikumsalam dek.. tadi kenapa hubungi Abang? Abang masih sibuk di kantor" jawab Bang Danar.
"Bisa nggak kalau Om Lukman jadi Buto ijo?" Tanya Nadine.
"Jangankan Buto ijo, kolor ijo aja dia mau" Bang Danar menyenangkan hati Nadine dengan mengabulkan segala inginnya. "Tapi sayang, sebenarnya Abang bingung.. kamu ini mau syuting yang bagaimana?"
"Nyi Roro kidul perang sama Buto ijo Bang" kata Nadine.
"Sayang, yang perang sama Buto ijo itu timun mas.. bukan Nyi Roro kidul" Bang Danar mencoba membenarkan sesuatu yang menurutnya masih ada kesalahan.
"Abang bisa nggak ikut skenario Nadine aja. Apa Abang pengen di lempar terasi??" Ucap Nadine dengan jengkel.
"Ya sudah, Abang nggak tanya lagi. Abang tunggu kamu di kantor ya. Sudah siap nih semua alatnya."
"Hmm." Nadine pun menutup panggilan teleponnya tanpa kata apapun juga.
...
Sore usai kegiatan kantor, Nadine datang dengan jemputan Om Khoirudin karena Om Lukman sedang mendapat misi khusus dari Bang Danar. Di sisi yang lain, ibu-ibu sedang berolahraga sore.
Agar tidak mengganggu jalannya kegiatan kantor, Bang Danar mengalihkan keinginan sang istri di bukit belakang Batalyon.
"Saya besok kalau punya istri nggak mau cari yang ribet seperti istri Pak Danar. Pulang kerja capek, pengen tidur. Bukan malah di kerjain. Saya nggak habis pikir, apa Pak Danar tidak susah punya istri manja seperti Bu Nadine?" kata salah seorang anggota.
Tak di sangka Bang Danar sedang berjalan di belakang mereka. "Eheem.." Bang Danar berdehem menegur mereka.
"Selamat sore komandan.. ijin..!!"
"Kapan kamu pengajuan nikah Tok?" Tanya Bang Danar pada seorang anggota berpangkat Pratu.
"Siap.. belum ada calon komandan." Jawab Pratu Totok.
"Saya mau bilang sesuatu ya, menikah itu sangat penting untuk kita sebagai umat manusia. Menjaga martabat, harga diri kita sebagai pria dan juga untuk meredakan hawa nafsu yang terkadang meninggi dan tidak tertahan. Dari nafsu kalian pada istri, hadirlah si kecil calon buah hati.. kalian biasa menyebutnya hamil. Tidak jarang fase hamil ini menimbulkan mual, muntah, pusing, tidak nafsu makan, kelelahan dan masih banyak lagi, apalagi kalau sudah mood swing" kata Bang Danar. "Jadi laki-laki jangan mau enaknya aja. Kita minta enak, minta di puaskan tapi tidak mau peduli dengan ngidamnya istri. Selama badan kita masih sehat, kuat, mampu berdiri.. apa salahnya membahagiakan istri. Istri susah payah hamil karena kita juga. Nggak boleh egois Tok."
"Siap salah Komandan" Pratu totok mulai mengerti arah pembicaraan Bang Danar.
"Saya tau ini mungkin terdengar aneh, tapi tidak salah khan memanjakan istri sendiri. Anggaplah kalian rileks dari kegiatan, sembari melepas penat. Jangan cemaskan saya, saya bahagia dengan hidup saya. Malah saya akan sangat takut kalau istri tidak manja lagi sama saya. Lalu apa gunanya saya" Bang Danar tersenyum dan berlalu meninggalkan dua orang anggotanya.
:
Sebuah mobil berhenti dibawah bukit belakang Batalyon. Turun seorang wanita memakai pakaian model dodotan berwarna hijau dengan manset berwarna kulit di dalamnya. Rambut Nadine masih tergerai indah dengan mahkota cantik di atasnya. Riasan maha sempurna membuat Bang Danar sejenak pangling melihat istrinya sendiri.
"Dan.. jangan melongo aja, cepat itu di shoot..!!" Bang Giras menyenggol lengan Bang Danar yang masih ternganga melihat kecantikan Nadine. Sadar dengan tingkahnya, Bang Danar segera mengangkat kameranya lalu menyoroti Nadine.
__ADS_1
Sebenarnya tak hanya Bang Danar saja yang terpesona, tapi Bang Giras pun sempat khilaf mata melihat cantiknya sang mantan istri. Ibu dari Rudra, putra kesayangannya dari Nadine.
:
Buto ijo berlari mengganggu Nyi Roro kidul dan disana Nyi Roro kidul menghajar Buto ijo habis-habisan hingga jatuh terguling. Dengan cantiknya Nadine mengibaskan selendang ke wajah Buto ijo kemudian terlihat Buto ijo terangkat karena kekuatan nyi Roro kidul.
Tak lama rombongan tentara menyergap Buto ijo dan menandunya pergi menjauh karena sudah membuat keonaran di lingkungan warga. Setelah Buto ijo pergi, Nadine terangkat dan naik kereta kencana dan menghilang di balik bukit.
Entah bagaimana konsep pemikiran Nadine. Di saat seluruh anggota tertawa terbahak karena tentara ikut campur dalam masalah Nyi Roro kidul yang sedang membela kebenaran, hanya Nadine sendiri yang tidak tertawa dan mendalami peran dengan serius.
"Cut..!!" Bang Danar mengakhiri syuting tepat seperti permintaan Nadine.
"Bagaimana Bang, bagus nggak?" Tanya Nadine dengan semangatnya.
"Bagus sayang.. kamu cantik sekali" Bang Danar menunjukkan hasil kerjanya pada Nadine.
Tak lama Om Lukman berlarian memakai celana pendek berwarna hijau menghampiri Bang Danar. Seluruh tubuhnya pun berwarna hijau tak luput pula dengan rambutnya.
"Ijin Dan, seingat saya.. dulu saya si lantik jadi tentara, bukan Buto ijo" protes Om Lukman.
Bang Danar menahan tawanya sedangkan anggota yang lain sudah terbahak.
"Saya minta stand man kalau ada yang begini Dan..!!" Protes Om Lukman lagi.
"Utututuuuu.. kasihan sekali ajudan saya. Baiklah.. khusus untuk kamu, bonus satu kali gaji dari saya karena sudah menyenangkan istri saya..!!" Kata Bang Danar menanggapi protes ajudannya.
"Yang benar Dan??" Om Lukman bahagia sekali mendengarnya.
"Saya pantang ingkar" jawab Bang Danar.
"Yeess Alhamdulillah.. terima kasih Komandan, terima kasih ibu. Ijin.. kalau saya mau di gantung di pohon sekali lagi juga nggak apa-apa. Jadi kolor ijo pun saya ikhlas komandan" kata Om Lukman sekarang lebih bersemangat.
"Hahaha.. ada-ada saja kamu Man"
"Mudah-mudahan rejeki komandan berlipat dan terus mengalir dan semoga ibu selalu hamil biar kami ketiban rejeki terus" do'a Om Lukman karena terlalu bahagia.
Senyum Bang Danar mendadak hilang. "Heehh.. rejeki sih boleh saja saya aamiin kan. Tapi yo jangan hamil terus donk. Saya remuk Maan.. Lukman..!!!!!"
.
.
.
.
__ADS_1