
"Nadine tidak bisa mencintai pria lain lagi..!!"
Bang Danar tersenyum pahit, ia kembali menghisap rokoknya. Matanya memerah, denyut jantungnya berdegup kencang, hatinya terasa nyeri dan begitu sakit.
"Tapi Nadine gengsi untuk mengatakannya. Nadine ingin dengar dari mulutnya sendiri..!!"
"Kamu nggak bisa mencintai dia lagi, dia sudah ada yang punya. Seseorang yang sudah terikat tali pernikahan, tidak pantas menerima cinta laki-laki atau pria lain." Batin Bang Danar terasa tertusuk saat Nadine mengatakannya.
"Apa salah kalau Nadine ingin dengar kata sayang dari mulut Abang, kenapa Abang nggak pernah romantis dan hanya manis kalau Abang sedang ingin di manja?" Nadine terlihat kecewa saat Bang Danar seakan menolaknya.
"Sayang.. maksud Abang bukan begitu..!!"
"Abang masih cinta sama mantan Abang itu khan?" Ucap Nadine sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
'Ngomong apa sih Nadine ini??' batin Bang Danar kemudian masuk ikut menyusul Nadine masuk ke dalam kamar.
"Astagfirullah.. jangan kencang begitu dek tidurnya..!!!!" Bang Danar terpekik kaget melihat Nadine membanting diri tidur tertelungkup di atas ranjang.
"Kenapa di dunia ini nggak ada yang mencintai Nadine??" Ucapnya sembari terisak-isak.
"Yang bilang nggak cinta itu siapa? Abang cinta sama kamu" Bang Danar sampai emosi mendengar ucapan Nadine barusan.
"Itu tadi Abang bilang..!!"
"Salah Abang dimana? Abang bicara benar khan, kamu nggak boleh punya rasa karena Giras itu sudah jadi suami Amanda. Apa kamu masih mau bilang cemburu?? Kamu mau menanggapi dia yang masih mencintaimu??" Kata Bang Danar.
Mata Nadine menyipit menerka arah pembicaraan Bang Danar. "Nadine kasih kode untuk Abang buat bilang cinta sama Nadine, kenapa Mas Gi di bawa-bawa?? Mau Mas Gi buat apapun sama istrinya.. Nadine nggak peduli" jawab Nadine.
"Abang juga nggak peduli mau mantan bertingkah seperti apa di depan Abang. Cinta Abang hanya untuk kamu" ucap Bang Danar yang juga belum menyadari keadaannya sampai dirinya dan Nadine saling pandang kemudian sama-sama memalingkan wajahnya yang memerah. "Aseemm.. perkoro kecubung nyusahke tenan" gumam Bang Danar ikut malu-malu kucing.
"Itu beneran Bang? Abang cinta sama Nadine?" Tanya Nadine berkedip dengan pertanyaan bodohnya.
"Kalau nggak cinta mana bisa perutmu belendung anak Abang Neng???"
Mereka berdua terdiam sejenak. Saling berusaha menyadari dan memahami perasaan.
"Cinta Abang memang tidak terucap, tapi akan selalu terungkap. Cinta Abang bukan sekedar kata yang manis di awal tapi pahit di akhir saat kamu rasakan. Abang ingin kamu tau.. dalam hati ini, jiwa raga ini.. semua sudah Abang pasrahkan menjadi milikmu Alta Nadine kesayangan ku.. peri malam pengoyak batinku, peruntuh imanku" Bang Danar sama sekali tidak menatap mata Nadine tapi jelas dalam suaranya terkandung makna yang sangat dalam dimana pria tersebut membuang egonya sebagai pria dingin dan kaku di hadapan Nadine istrinya.
"Katakan yang jelas biar Nadine paham..!!" Kata Nadine.
"Ya Allah, kamu ini pengen Abang bicara apa?? Seperti gaya anak ABG yang suka mengobral cinta??" Tanya Bang Danar.
"Iya.." jawab Nadine singkat.
__ADS_1
Bang Danar menggeleng, mau bagaimana pun juga ia harus tetap menyadari bahwa pastinya ada sifat manja dari seorang Nadine yang tidak bisa hilang begitu saja. Wanita dewasa saja masih bisa sangat manja apalagi hanya seorang Nadine.
"Apa pentingnya katakan cinta, mengapa tidak di rasakan saja?"
"Apa susahnya katakan hal yang ringan? Apa perlu orang lain yang menyayangi istri Abang?"
Bang Danar menghela nafas panjang. "Dewi Kenes Alta Nadine.. Cintaku.. Abang mencintaimu.. amat sangat mencintaimu sayangku"
Nadine tersenyum tersipu malu mendengarnya. "Nadine juga cinta sama Abang" jawab Nadine langsung membungkam mulut Bang Danar. "Kalau memang cinta.. biasakan katakan cinta.. sebab kalau tidak, pria lain yang akan melakukannya..!!"
***
Hingga pagi hari Bang Danar tidak bisa tidur karena terngiang ucapan Nadine. Batinnya ketakutan dan begitu tersiksa, resah jika Nadine masih menyimpan rasa yang tertinggal untuk Giras mantan suami Nadine yang juga adalah sahabatnya meskipun ia tau kemungkinan itu sangat kecil.
Nadine melihat Bang Danar hanya mengacak-acak nasi di piring tanpa melahapnya sama sekali.
"Masakan Nadine nggak enak Bang? Nadine nggak masak sayur beracun lagi." Tegur Nadine kesal.
"Ini Abang makan dek..!!" Bang Danar melahap tumis sawi dan ayam goreng untuk sarapan tapi sepertinya perutnya tidak bersedia menerima makanan apapun karena rasanya sungguh mual.
"Ya sudah kalau nggak mau makan. Apa Abang masih terbayang mantan Abang, si Ita itu?" Begitulah ucap Nadine jika sedang kesal.
"Apa hubungannya to dek. Lagipula darimana kamu bisa tau mantan Abang namanya Ita?"
"Dari Om Lukman" jawab Nadine ringan tapi penuh dengan kekesalan.
...
"Siap.. tidak ada Dan, hanya menjawab beberapa pertanyaan yang ibu tanyakan" jawab Om Lukman.
"Tanya apa?"
"Siap.. tidak banyak pertanyaan. Hanya bertanya.. saat Komandan dulu pacaran dengan ibu Ita, pernah kemana saja"
"Hhaaahh.. Ya Tuhan, terus kamu jawab apa Man?" Tanya Bang Danar cemas.
"Pacaran di club malam berlian dengan komandan" jawab Om Lukman.
"Astagaaa.. kamu pengen lihat saya ribut sama istri??????" Bentak Bang Danar.
"Si_ap Komandan" Om Lukman ragu menerka apa kesalahannya saat dirinya sudah berlaku jujur tapi Komandannya yang galak malah tidak sependapat dengannya bahkan baginya mantan adalah bagian dari masa lalu yang tidak ada artinya.
"Push up sekarang..!!!!!"
__ADS_1
...
Bang Danar sangat mengurangi intensitas pertemuan dengan Bang Giras. Ia pun tak tau mengapa hatinya jadi tidak dewasa dan kekanakan menghadapi segala sesuatu yang kemungkinannya sangat kecil untuk terjadi.
Hari ini akan ada seorang anggota yang akan menghadap ke ruangannya bersama calon istrinya. Maka itu semua menjadi alasan terbaik baginya untuk menjauh dari Bang Giras.
tok.. tok.. tok..
"Masuk..!!" Kata Bang Danar.
"Selamat siang.. Praka Muhamad Yusuf ijin menghadap..!!" Lapor Om Yusuf.
"Silakan duduk..!!"
Om Yusuf dan calon istrinya duduk di hadapan Bang Danar.
"Mbak Anne.. sudah siap jadi istri prajurit?" Tanya Bang Danar tanpa menatap wajah Anne karena hati dan pikirannya sedang tertuju ada Nadine.
"Siap Pak Danar" jawab Anne dengan lembut.
Bang Danar mendongak sekedar menghormati tamunya, namun alangkah terkejutnya saat melihat wanita yang ada di hadapannya adalah Anne mantan istri Rey dan juga perusak rumah tangga Nadine dengan Giras dulu.
"Baik.. riwayat hidup Mbak Anne ini adalah juga mantan istri anggota?" Bang Danar mencoba profesional dan tidak mencampur masalah pribadi dalam pekerjaannya.
"Benar Pak" jawab Anne.
Wajah Anne terlihat sangat sedih membuat Om Yusuf menjadi gelisah. "Ijin Pasi.. kalau bisa jangan menanyakan masa lalu calon istri saya. Sebab calon saya sudah sering mendapat fitnah dan dulu mendapat tindak KDRT dari mantan suaminya, mantannya juga doyan selingkuh"
"Oya.. jadi kamu lebih tau masa lalu Mbak Anne ini??" Tanya Bang Danar menegaskan.
"Siap.."
Bang Danar mengangguk. "Baiklah kalau begitu.."
Tak lama Bang Giras menghubungi Bang Danar. Mau tak mau dirinya terpaksa mengangkat panggilan telepon itu. "Ada apa? Aku ada cek pengajuan"
"Kamu ikut jemput Rey nggak?" Tanya Bang Giras di seberang saja.
"Kamu saja, nanti malam saja kita ngopi bareng" jawab Bang Danar.
.
.
__ADS_1
.
.