Elang Timur

Elang Timur
50. Amarah.


__ADS_3

Ramaikan kolom komentar dengan positif ya..!!


🌹🌹🌹


"Untung saja kamu bisa diselamatkan Gi. Kenapa sih kamu selalu berbuat hal bodoh dalam hidupmu?" Tegur Papa Huda.


"Papa benar. Harusnya Papa biarkan aku mati. " Jawab Bang Giras.


"Apakah mati akan menyelesaikan semua masalah mu?" Bentak Papa Huda. "Setelah mati malaikat masih menanyakan amalmu. Apakah amalmu sudah cukup kau bawa ke surga??? Bagaimana kalau kau malah masuk neraka????"


Bang Giras menangis. Rasa frustasinya masih begitu mengacak perasaannya.


"Tobat Giras..!! Banyak istighfar.. bukannya malah bunuh diri..!!"


"Aku sayang anak istriku Pa"


"Kalau sayang di do'akan, bukannya seperti ini Giras..!!!!!!" Suara Papa Huda meninggi. Sungguh susah melihat hal seperti ini di depan matanya. Di antara putra putrinya hanya Giras saja yang membuat hatinya resah dan hancur.


"Astagfirullah hal adzim" perlahan Bang Giras mampu menguasai perasaannya.


\=\=\=


Bang Danar menemui Bang Giras saat pria itu sudah kembali bekerja seperti biasa.


"Bagaimana keadaan mu hari ini?" Bang Danar mendekap bahu Bang Giras layaknya hari-hari normal lainnya.


"Alhamdulillah sudah lebih baik."

__ADS_1


"Hmm.. syukurlah. Oiya Gi.. aku pindah ke seberang rumahmu ya..!!" Ijin Bang Danar.


Bang Giras tersenyum. Ia langsung paham maksud kawan seperjuangannya sejak dulu. "Pindah saja. Nanti rumahku akan ku tata ulang dan ku tutup tirai agar tidak membuat Nadine dan Niken trauma lagi"


"Maaf ya, sebenarnya aku tidak bermaksud seperti ini"


"Kami paham keadaanmu pot.. kami juga mohon maaf. Nadine mau mendekati tanggal persalinan. Aku tidak ingin ada gangguan......"


Bang Giras balik merangkul bahu Bang Danar. "Iyaaaa.. kapan pindah? Biar aku bantu, aku duda. Tidak ada lagi yang ku sayang di rumah" kata Bang Giras santai namun terdengar menyedihkan.


Baru saja Bang Danar akan menjawab.. Om Lukman datang menghadap. "Selamat siang Dan..!!"


"Ada apa Man?"


"Ada Ibu Nena mencari Pak Giras"


~


"Tahan emosimu pot..!!" Bang Rey sampai ikut kerepotan menekan amarah Bang Giras.


Bang Danar dan Bang Rey menghadang tangan Bang Giras agar tidak 'menghajar' Nena.


"Aku hanya bilang, aku juga ingin jadi istrimu Bang. Anak ini juga butuh ayahnya. Apa aku salah?" Tanya Nena.


"Kau membuat istriku meninggal bunuh diri bersama anakku..!!" Bentak Bang Giras.


"Aku nggak tau kalau akhirnya akan seperti ini Bang. Kurang apa aku sama dia?? Apa ku sudah bersedia berbagi sayangmu."

__ADS_1


"Sedikitpun saya tidak ada rasa sama kamu Nena. Kamu harus membusuk di dalam penjara" ancam Bang Giras.


"Jadi kamu rela aku melahirkan di dalam penjara?? Ini anakmu juga Bang. Anakmu sudah mati. Hanya anak ini yang bisa kau harapkan" kata Nena semakin memanaskan hati Bang Giras.


"Iya.. pergilah kau ke penjara. Aku tidak peduli denganmu dan anak itu..!!" Bang Giras menyeret Nena keluar dari ruangan Bang Danar selaku 'atasan'nya.


"Nggak.. aku nggak mau. Apa sulit sekali menikahiku???? Aku juga berhak atas semua yang seharusnya ku miliki..!!!!!" Teriak Nena.


Bang Giras tak mempedulikan langkah Nena hingga terjatuh dan tidak peduli dengan keadaan Nena.


"Aawwhh.. Abang.. perutku sakit..!!"


Bang Giras yang gelap mata tetap menyeret Nena.


"Astagfirullah Gii.. sabaar..!!" Bang Danar mencegah kasarnya sikap Bang Giras namun ia pun memahami perasaan sahabatnya itu. Mungkin jika dirinya ada pada posisi sahabatnya itu ia akan melakukan hal yang sama karena telah menyebabkan sang istri tiada.


"Aku benci dia. Sangat membenci dia" teriak Bang Giras.


"Aku paham. Tapi yang di perutnya tetap anakmu..!! Pikirkan itu Giraaass..!!!!!" Bentak Bang Danar.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2