Elang Timur

Elang Timur
42. Masalah besar.


__ADS_3

Pikiran Bang Danar masih terfokus pada Nadine yang meminta memetik buah coklat sedangkan disana Bang Danar dan Bang Rey berdebat karena akan bertemu dengan Nena di sebuah cafe.


"Awaaaaasss..!!!!!!!!!" Pekik Bang Giras.


Pikiran Bang Danar yang kacau sampai hampir saja menabrak kucing di hadapannya. Dengan sigap ia menginjak rem full dengan kuat.


"Allahu Akbar.. matamu dimana sih pot????????" Bentak Bang Rey.


"Maaf...maaf.. aku nggak konsentrasi." Bang Danar menepikan mobilnya kemudian menata nafasnya yang lumayan berantakan.


"Aku saja yang nyetir..!!! Mikir apa sih kamu???? Aku nggak mau kita mati konyol karena ulahmu..!!" Banyak Bang Rey lagi.


Bang Danar menatap mata Bang Rey dan Bang Giras secara bergantian. "Aku butuh pohon cokelat" kata Bang Danar.


"Haaaahh.. kamu ngelindur?????" Tanya Bang Giras menanggapi pertanyaan suami dari mantan istrinya.


"Mau apa kamu cari pohon cokelat????" Bang Rey pun ikut penasaran.


"Nadine pengen petik cokelat. Tapi aku nggak punya akal lagi dimana harus cari pohon cokelat"


"Duuhh alaaahh.. cokelat ya?? Kalau kopi mah banyak disini, lah kalau cokelat.. mau cari dimana??" Bang Rey akhirnya ikut pusing memikirkan permintaan Nadine. Ia terdiam sejenak menerawang dimana kiranya bisa mendapatkan pohon cokelat sampai akhirnya dering ponsel Bang Giras berbunyi.


"Siapa??" Selidik Bang Danar.


"Nena" jawab Bang Giras.


"Dia pasti sudah tunggu kita. Ayo cepat berangkat. Urusan Nadine nanti saja..!!" Ajak Bang Giras.


...


"Aku minta tanggung jawab Bang" kata Nena.


"Kamu ada bukti kalau itu anak saya??" Tanya Bang Giras.


Nena menyerahkan video panas mereka berdua. Memang terlihat Bang Giras tidak menggunakan pengaman. Disana Bang Rey dan Bang Danar hanya bisa memercing ngeri melihat kelakuan sahabatnya. Apalagi saat itu posisi Bang Giras belum resmi menceraikan Nadine yang tengah mengandung Rudra.


"Bisa saja kamu melakukannya dengan pria lain."


"Aku juga pilih-pilih Bang, aku benar memastikan ini anakmu. Lihat tanggal USG nya. Sesuai khan dengan saat kita melakukannya???" Kata Nena.

__ADS_1


"Lalu sekarang kamu mau apa?" Bang Giras sudah malas melihat wajah Nena. Wanita yang membuat perkara salam hidupnya meskipun dirinya juga salah.


"Ya tanggung jawabmu.. nikahi aku..!!!!" Pinta Nena.


"Aku nggak bisa nikahi kamu Nena. Aku sudah bilang, aku sudah menikah dengan Amanda. Dia hamil muda" tolak Bang Giras mentah-mentah.


"Lalu bagaimana anakmu ini..!! Aku juga ingin kau nikahi..!!"


"Besarkan dia.. aku akan memberimu uang..!!" Kata Bang Giras.


"Nikah siri saja..!!" Tawar Nena.


"Nggak Nena. Aku punya istri. Aku nggak mau Amanda tau masalah ini. Aku tidak ingin mentalnya terganggu karena masalah ini. Berapa uang yang kamu minta untuk anak ini??"


"Ternyata sekarang perutku yang terisi akan menghasilkan uang, dulu aku mati-matian untuk mengisi perut" jawab Nena tak ada rasa prihatin sedikit pun dengan kejadian ini. "Aku mau uang muka seratus lima puluh juta. Aku juga mau satu kali gajimu mengalir di rekening ku..!!"


"Kamu mau memeras????" Bentak Bang Rey.


"Ini nyawa manusia, apa harus aku yang menemui Amanda untuk meminta semua uang itu???" Ancam Nena lembut. "Ini hasil perbuatan suaminya yang sedang berhasrat padaku. Atau kalian berdua mau denganku juga??"


"B******n.. wanita sampah" imbuh Bang Danar malas melihat wajah Nena. Tak hentinya dalam hatinya beristighfar karena sang istri di rumah juga tengah mengandung buah hati nya.


"Sudahi perdebatan kalian..!! Jangan sampai Amanda tau masalah ini.. oke.. aku setuju. Mana nomer rekening mu..!!" Pinta Bang Giras.


Bang Danar bukannya tak peduli dengan kesulitan Bang Giras atau pun ingin masa bodoh, tapi ia pun memiliki masalah rumah tangganya sendiri, ada batas privasi dan kesopanan yang harus ia ingat.


Nena membuka tas kecilnya lalu mengeluarkan bolpoin dan secarik kertas. "Ini nomer rekening saya. Cepat ya Bang Giras..!!" Senyum Nena mengembang. Tak terlihat wajah pucat atau pun badan lemas layaknya wanita yang sedang mengandung. Nena terlihat sehat Wal Afiat tanpa hambatan apapun.


Bang Giras mengambil ponselnya dan mengetik angka, satu persatu dengan teliti agar tidak ada yang salah. "Sudah.. kamu bisa cek sendiri. Nominal seratus lima puluh juta rupiah sudah masuk ke dalam rekening mu" Bang Giras menunjukan buktinya langsung di depan mata Nena.


Nena tersenyum melihatnya. "Tau begitu aku minta lebih Bang, plus bonus kehangatan buat mu"


...


Bang Rey mengendarai mobil, Bang Giras memijat pangkal hidungnya.. kepalanya terasa berat. Pikirannya sudah penuh sesak dengan banyaknya masalah dalam hidupnya sedangkan Bang Danar memasang wajah dingin penuh dengan amarah yang ia tahan karena ulah Bang Giras.


"Mau kemana dulu?" Tanya Bang Rey.


"Ke penjual tanaman hias dan buah-buahan. Siapa tau disana ada pohon cokelat" jawab Bang Danar.

__ADS_1


"Kamu masih mau beli pohonnya?" Bang Giras tak percaya sahabatnya itu masih mengingat pesanan Nadine.


"Aku setia, tidak pernah ingkar janji, apalagi sampai menyentuh wanita lain" Bang Danar masih terbawa suasana sampai mengucapkan kata tersebut di hadapan Bang Giras.


"Apa maksudmu?? Apa kamu pernah mengalami kehancuran seperti pada posisiku saat itu????" Bang Giras terpancing geram dan hampir melompat ke bangku belakang jika Bang Rey tidak menahannya.


"Diaam kaliaaan..!!!!!!" Suara itu mengisi ruang mobil Bang Giras. "Kamu memang salah Gi. Bisa-bisanya kau kehilangan akal tidak bisa mengendalikan diri sampai membuat kesalahan sebesar ini. Dan kau Danar.. stop berbicara kalau hatimu sedang panas. Kata-kata mu itu terlalu tajam. Aku tau masalah ini terjadi karena Giras frustasi kehilangan Nadine, tapi kau tidak perlu se cemburu ini Dan.. Nadine sudah jadi istrimu."


"Tapi otaknya masih memikirkan istriku" ucap Bang Danar masih dengan emosinya yang sulit di redakan.


"Aku sudah nggak memikirkan Nadine lagi"


"Halaah.. b******n kau. Kau bisa membodohi semua orang tapi tidak denganku. Tatapan mata mu kalau melihat Nadine sangat berbeda..!!!!!!" Suara Bang Danar semakin meninggi.


"Cukuup.. diaam..!!! Kalian mau kita semua meeting dadakan sama malaikat??????" Bang Rey benar-benar terbakar emosi dengan perdebatan Bang Danar dan Bang Giras.


"Sorry Ting..!!"


"Maaf" jawab Bang Danar.


:


Tak berapa lama sampailah mereka pada tempat pedagang tanaman hias dan tanaman buah. Ternyata Tuhan masih mengabulkan do'a Bang Danar. Ada pohon cokelat disana.


"Pak, berapa harga pohon cokelat ini?" Tunjuk Bang Danar pada pada sebatang pohon cokelat berbuah lumayan lebat.


"Lima ratus ribu Pak, pohonnya sudah berbuah. Tinggi pohon nya hampir dua meter. Kamu juga harus bongkar akar pohonnya." Jawab pedagang tanaman buah. "Bapak butuh berapa banyak? Ini buahnya juga sudah masak"


Bang Danar menepuk dahinya. "Ya salam.. demi jabang bayi koceknya dalam amat" gumam Bang Danar pelan. "Saya ambil tiga"


"Banyak amat bro"


"Biar Nadine senang panennya. Puas-puasin dah panen cokelat, yang penting anak ku anteng" jawab Bang Danar.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2