
Demi keadilan untuk kita semua. Respon pembaca pada karya ini tidak begitu baik, Nara hanya menaikan cerita apa adanya. 'Up' menyesuaikan respon pembaca. Terima kasih ☺️ 🥰
🌹🌹🌹
Gubraaakk..
"Mandaaa.." setengah mati Bang Giras panik melihat Amanda pingsan. Tangannya dingin dan mengepal.
"Cepat bawa istrimu ke rumah sakit Gi..!!" Saran Bang Rey melihat Amanda tak sadarkan diri.
"Panggil dokter saja. Jangan sampai berita ini terdengar sampai luar" sambar Bang Danar.
...
Dengan berbagai alasan akhirnya Bang Giras memanggil dokter agar memeriksa Amanda di rumah saja.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Bang Giras yang sengaja memanggil dokter dari luar rumah sakit tentara.
"Bu Amanda sangat lemas, syok sekali.. terlihat jelas dari raut wajahnya" jawab dokter.
"Apa perlu di rawat di rumah sakit?" Bang Giras begitu mencemaskan Manda.
"Sementara biar di rawat di rumah saja pak.. tapi kalau keadaan ibu tidak membaik, bapak harus segera membawanya ke rumah sakit" kata dokter.
//
Bang Danar sampai ikut tidak bisa tidur, keadaan Amanda juga cukup mencambuk dirinya. Jauh di dalam lubuk hatinya sangat ketakutan.
"Bang" sapa Nadine yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Ada apa sayang, tidur lagi..!!"
"Bagaimana keadaan Amanda Bang?" Tanya Nadine.
"Abang nggak tau dek. Tadi masih belum sadar saat dokter memeriksa Amanda. Kamu tidur lagi saja. Cemaskan kesehatanmu sendiri, jangan cemaskan keadaan orang lain..!!" Bujuk Bang Danar.
"Bang, Nadine pengen jalan-jalan sebentar"
Bang Danar melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan malam tapi Bang Danar pun tau Nadine butuh suasana teduh untuk menenangkan hati dan pikiran. "Ya sudah ayo..!! Mana jaketmu. Kita pacaran dulu. Jarang juga khan kita punya waktu untuk pacaran"
:
Nadine cemberut karena Bang Danar mengajaknya jalan-jalan menggunakan motor padahal dirinya sangat menginginkan berjalan kaki hingga keluar asrama Batalyon.
"Lain kali kita jalan kaki, kalau badanmu fit. Sekarang kamu sedang tidak sehat, jadi kita naik motor dulu. Ini Abang tarik gasnya pelan kok" Bang Danar kembali membujuk sang istri yang susah di bujuk. "Ngomong-ngomong kita mau kemana nih?" Tanya Bang Danar.
"Kejauhan sayang.. keliling tembok Batalyon saja ya, sampai kampung belakang..!! Nanti pulangnya Abang belikan nasi goreng. Atau.. sate mau nggak?"
Meskipun Nadine tidak puas tapi dirinya tetap mengangguk mengiyakan tawaran Bang Danar.
Para anggota yang sedang makan di warung tenda dekat Batalyon hanya tersenyum melihat komandan mereka berkeliling memutari Batalyon. Dengan kecepatan amat sangat pelan sekali Bang Danar menyenangkan hati sang istri.
:
"Sudah nih, mau makan apa sayang?" Bang Danar menawari Nadine saat sudah tiba di warung tenda depan batalyon.
"Semua" jawab Nadine.
Bang Danar membuang nafas kasar. "Yakin di habiskan?" Tanya Bang Danar.
__ADS_1
Nadine mengangguk yakin.
"Ya sudah, Abang pesan semua. Nasi goreng, bakso, sate dan syomai." Bang Danar menegaskan.
"Iya Bang" jawab Nadine. Raga Nadine berada di sana namun hatinya entah pergi kemana.
Bang Danar segera memesan makan malam mereka. Sebenarnya Bang Danar sudah makan malam tapi mengingat pesanan Nadine sangat banyak, ia sudah bisa menebak hasil akhirnya dengan pasti.
"Abang sudah bilang jangan memikirkan masalah orang lain. Kamu bukan Amanda yang akan Abang perlakukan seperti itu." Kata Bang Danar terus mengingatkan dan membesarkan hati Nadine yang tengah ketakutan.
"Bang, bisakah katakakan pada Mas Gi untuk mempertimbangkan keduanya." Pinta Nadine.
"Maksudmu apa dek? Jadi kalau kamu ada di posisi Manda, apa yang akan kamu lakukan?"
"Semua terlanjur salah Bang. Tapi ada anak yang tidak salah. Maka... Jika posisi Nadine saat ini adalah Manda, Nadine akan mengijinkan Mas Gi menikah lagi"
Bang Danar tersenyum kecut. "Ucapanmu ini tidak sesuai dengan kata hati dan pikiran mu. Kalau kamu sekuat itu, perceraian mu dengan Giras tidak akan pernah terjadi." Jawab Bang Danar.
Tangan Nadine gemetar tak sanggup menjawab.
"Sudahlah, kamu jangan ikut mikir. Ini masalah Giras dan Amanda" kata Bang Danar. Ia pahami rasa trauma Nadine melekat erat dalam pikirannya.
.
.
.
.
__ADS_1