Elang Timur

Elang Timur
51. Hampir.


__ADS_3

"Gii.. darah.. pelan-pelan...!!" Bang Danar menepis tangan Bang Giras karena melihat sela paha Nena mengeluarkan darah segar.


"Bang Danar.. tolong...!!" Ucap manja Nena berusaha meraih tangan Bang Danar.


Hanya ada rasa kemanusiaan di dalam pikiran Bang Danar karena mencemaskan bayi yang ada dalam kandungan Nena.


Bang Danar mencondongkan tubuhnya agar bisa mengangkat Nena namun tepat saat itu Nadine berdiri di depan pintu dan melihat suaminya tengah memberi perhatian pada Nena.


"Bantu saja dia dan jangan pernah lihat Nadine lagi seumur hidup Abang..!!!" Suara Nadine setengah mati membuat Bang Danar kaget dan mengurungkan niatnya karena Nadine sudah marah dan meninggalkan tempat.


"Nadine... Sayang. Bukan begitu kejadiannya" Sungguh Bang Danar tak menyangka bahwa Nadine akan mengikuti nya hingga sampai ke kantor Batalyon.


~


"Dek..!!"


"Kalau bukan begitu kejadiannya lalu apa?" Tanya Nadine kesal.


"Perut Nena sakit karena Giras menariknya. Ada darah dek. Abang hanya kasihan sama anaknya." Jawab Bang Danar.


"Sayang sama anaknya atau ibunya. Atau jangan-jangan Abang juga ingin menjadi penolong kesiangan untuk Nena?? Anak itu anak Abang??" Teriak Nadine.


"Ngawur kamu..!!!!!!!" Tak sadar Bang Danar membentak sang istri. Rasa cemasnya pada Nadine membuat emosinya ikut naik turun.


Nadine menangis kemudian berlari membawa perut besarnya.

__ADS_1


"Nadineee.. jangan lari..!!!" Teriak Bang Danar. "Astagaaaa..!!" Bang Danar segera mengejar Nadine yang sedang marah padanya.


Langkah Bang Danar yang lebar mudah saja untuk menggapai tangan Nadine. "Berhenti..!!"


Nadine berontak melepaskan genggaman tangan Bang Danar sampai akhirnya Bang Danar menjegal kaki Nadine hingga terpelanting dan Bang Danar segera mendekapnya.


cuupp..


Satu kecupan mendarat di bibir Nadine. Kecupan itu terus mendarat hingga Nadine luluh dan tenang.


"Kenapa menguji kesabaran Abang seperti ini??" Ucapnya lebih lembut.


"Nadine nggak suka Abang terlalu dekat dengan Nena." Jawab jujur Nadine.


"Abang manusia, Nena juga manusia meskipun hatinya seperti iblis. Dia sedang hamil.. dan Abang bukannya tidak punya hati melihatnya di seret Giras seperti tadi"


"Ada Bang Rey juga. Kenapa harus Abang??" Selidik Nadine masih ada rasa tidak puas.


"Ya sudah.. Abang salah. Abang tidak memikirkan perasaanmu.." hati-hati Bang Danar melunakan hati Nadine.


"Kenapa Abang marah sama Nadine? Abang kasar sama Nadine gara-gara Nena..!!!"


'Ya Tuhan.. sungguh besar efek Nena hadir dalam hidup kami semua. Tak hanya Giras.. aku pun sampai ribut sama istriku perkara satu wanita pembawa keributan.'


"Abang salah, Abang yang bodoh, Abang yang dungu. Maafin Abang ya sayang..!!"

__ADS_1


"Nggak" Jawab Nadine singkat.


Bang Danar hanya bisa mend*sah panjang jika sudah berhadapan dengan bumil. Sebenar-benarnya yang ia lakukan akan nampak salah di mata bumil.


Tak lama ada seekor lebah mendekati Nadine. "Iihh... Kok dekat-dekat..!!" Nadine duduk bergeser di dekat Bang Danar.


"Diam.. jangan gerak..!!" Bang Danar memasang wajah paniknya.


"Ada apa Bang?" Nadine berbisik di telinga Bang Danar.


"Ini.. tipe lebah penyerang. Kalau kamu di sengat. Kamu bisa bengkak, lemas, mual.. kadang keliyengan." kata Bang Danar.


"Yaaa... Apa ini karena Nadine pakai parfum baru? Nadine salah pencet olshop.. Nadine kira lima puluh ribu, ternyata lima ratus ribu" tangan Nadine sudah dingin memegang lengan Bang Danar.


"Ooohh.. ternyata bumil sudah pintar belanja online shop ya sekarang.. makanya satu minggu ini ada saja barang masuk di piketan. Belum Abang ambil.. Abang kira nyasar. Ternyata kamu????" Tegur Bang Danar. "Lalu siapa yang ambil parfum ini??"


"Om Lukman. Biar nggak ketahuan Abang" Jawab Nadine menjawab dengan polos. Seketika sorot mata itu membuat desir panas di dada Bang Danar.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2