
Bang Danar sedang memberikan arahannya. Seberat apapun beban hatinya, tetap ia tidak akan mencampur adukan masalah pribadi dan pekerjaan.
"Latihan fisik untuk halang rintang saja. Maaf saya belum bisa bergabung karena istri baru saja melahirkan..!!" ucapnya di depan para anggota.
"Selamat Komandan..!!" ucap seorang anggota kemudian di ikuti oleh anggota yang lain.
Senyum Bang Danar mengembang. "Terima kasih banyak semua..!!"
"Siaaapp..!!"
//
Setelah beberapa saat menenangkan diri di kantin barulah Bang Giras masuk ke ruang rawat Nadine.
"Hai dek.. sudah baikan?" sapa Bang Giras.
"Sudah.." jawab Nadine ketus.
Bang Giras menarik senyumnya, ia tau Nadine sudah menolaknya. "Ini ada titipan bunga dari Danar"
Kening Nadine berkerut, ia merasa ada yang janggal. Bukan karena ada sesuatu yang ia tunggu.. tapi Bang Danar terbiasa mengirim dua bucket uang untuk nya dan bukan bucket bunga biasa sekaligus untuknya.
"Letakan saja di meja. Nadine nggak suka"
Bang Giras kembali tersenyum. "Apa jagoan Mas Gi sudah punya nama?" tanya Bang Giras.
"Belum.. nanti tunggu Bang Danar juga" jawab Nadine.
"Kalau boleh.. berilah dia nama yang sesuai seperti Papanya.. yang pemberani, bijaksana, tegas dan sangat berwibawa." kata Bang Giras.
Nadine tersenyum sinis mendengarnya.
"Seperti Papa Denawa Danar Puraka.. Beri nama dia dengan nama panggungnya. Rudra Pasa.." ucapnya di hadapan Nadine. "Puraka adalah python penyerang. Tapi dunia kami mengenalnya sebagai Aligator yang berbahaya."
Tak lama pintu terbuka. "Assalamu'alaikum.." sapanya. Bang Danar melihat sudah ada Bang Giras dan bunga di atas meja.
"Wa'alaikumsalam.." jawab Nadine dan Bang Giras.
"Sudah selesai kegiatan?" tanya Bang Giras.
"Sudah, aku titip Nadine sama si kecil.. mau urus administrasi Nadine." pamit Bang Danar merasa tidak enak.
"Sudah kulunasi. Duduk saja dulu disini.. atur nafas..!!" Bang Giras tau sahabatnya itu pasti merasa tidak enak berada di kamar ini.
Bang Danar mengangguk lalu mengambil kursi dan duduk di sebelah kiri Nadine. "Sudah makan dek?" tanya Bang Danar.
Nadine menggeleng.
Agaknya Bang Danar paham Nadine pasti tidak mau makan jika sedang marah. Tak peduli sikap Bang Giras nantinya.. ia menghubungi ajudannya. "Lukman.. tolong ke ruang rawat istri saya, ambil uang. Kamu belikan soto ayam kampung ya..!!"
...
Dengan tenangnya Nadine menerima suapan dari Bang Danar meskipun sedang ngambek. "Kalau nggak mau makan bagaimana ASI nya bisa lancar.." omel Bang Danar dan Bang Giras hanya bisa diam dan melihat pemandangan menyakitkan di depan matanya.
"Sudah kenyang Bang" tolak Nadine.
"Habiskan.. jagoan butuh energi buat nangis..!!"
Nadine tak berani bersuara dan kembali membuka mulutnya.
:
__ADS_1
"Kenapa pakai nama itu??" tanya Bang Danar.
"Dia cocok pakai nama itu" jawab Bang Giras. "Aku mau bicara serius..!!"
"Apa?"
"Bagaimana jika aku memaksa mengambil Nadine darimu?"
"Ya nggak apa-apa. Itu memang tujuanmu sejak awal." kata Bang Danar tanpa menatap mata sahabatnya.
"Apa hatimu tidak sakit kalau aku mengambilnya?"
Untuk sejenak Bang Danar terdiam. Ia menghembuskan asap rokok dengan perasaan tidak menentu. "Tidak.. tujuanku hanya membantumu" jawab Bang Danar.
"Cepat nikahi Nadine setelah nifasnya selesai..!! dan lakukan kewajibanmu..!!"
"Hmm..!!" Hati Bang Danar tak karuan, sesak dan terasa sakit.
"Bahagiakan Nadine.. aku ikhlas melepasnya, asal dia bahagia bersamamu..!! Ceritaku dan Nadine telah usai, gantikan aku menjaganya.. bantu aku mendidik jagoanku."
"Kau ini bicara apa?" Bang Danar menyembunyikan wajahnya yang sudah menahan runtuhnya hujan.
"Aku tau kamu mencintai Nadine. Terima kasih sudah membantuku menjaganya. Keputusan mu membawanya ke asrama sudah benar.. Nadine dan jagoanku aman dalam penjagaanmu."
"Kamu jangan salah paham Gi..!!" ada rasa tidak enak dalam hati Bang Danar.
"Aku yakin nggak salah paham. Di dalam hatimu ada Nadine"
"Aku tidak bermaksud begitu Gi..!!"
"Sudahlah.. tidak apa-apa. Inilah hidup. Mungkin harus seperti ini yang kita jalani. Aku hanya berpesan.. jangan pernah kamu lakukan hal bodoh sepertiku. Mentalmu akan di serang habis-habisan." Bang Giras merangkul bahu sahabatnya. "Ayo semangat.. perjuangkan cintamu..!!"
Bang Danar tersenyum getir.
Empat bulan kemudian.
Plaaakk..
"Apa-apaan kamu menikah nggak bilang sama Papa dan Mama. Jadi selama ini kalian tinggal bersama?????" bentak Papa Farid.
"Sudah Pa, jangan marah lagi. Nadine takut dengar suara Papa..!!" Tegur Mama Cher karena calon menantunya sudah menangis. "Sudah ndhuk.. jangan nangis. Kasihan Rudra ikut nangis" Mama mengusap air mata Nadine.
"Mau itu janda sekalipun Papa nggak masalah, tapi kamu bilang sama Papa. Ini anak orang Danaarr..!! Apalagi Papa kenal siapa orang tuanya. Bikin malu aja kamu..!!"
"Sudahlah Bang, saya memang sedikit kecewa karena Danar sudah berani mengambil keputusan untuk membawa Nadine tinggal di asrama, tidak sesuai dengan kesepakatan awal.. tapi jujur saya akui Nadine lebih aman"
"Saya takut sesuatu Leo.."
"Saya bukan laki-laki yang tidak punya pikiran Pa. Demi Allah Nadine masih suci dari saya..!!" ucap Bang Danar.
"Hhhhh.. ya sudah lah, cepat di mulai saja..!!" perintah Papa Farid.
~
Bang Giras menggendong Rudra. Bang Giras mencium pipi putranya kanan dan kiri. "Do'a kan Papa dan Mama bahagia. Abang pengen lihat Mama bahagia khan? Papa Danar pria yang baik nak.." tetes air mata itu mengurai perasaan hatinya. Karena mulai detik ini.. ia kehilangan Nadine.
Sah.. Alhamdulillah..!!" ucap para saksi. Pernikahan di gelar secara tertutup. Tidak ada yang menyangka bahwa di rumah Lettu Danar sedang di adakan akad nikah.
Nadine menangis sejadi-jadinya. Semua orang tidak tau apa yang terjadi pada Nadine. "Jangan Bang.. jangaaaan..!!" pinta Nadine.
"Dek.. nanti Abang jelaskan. Kamu jangan terus larut dalam pikiranmu..!!" bujuk Bang Danar hingga akhirnya Nadine pingsan menimpa Bang Danar.
__ADS_1
"Aduuhh Danaarr.. cepat di bawa ke kamarmu..!!!" perintah Papa Farid.
~
"Selesaikan jika kalian ada masalah. Papa harus segera berangkat ke Sulawesi sama Papa Leo..!!" kata Papa Farid kemudian meninggalkan Bang Danar.
Mama Cher mencium kening menantunya dengan sayang. "Kalau Bang Danar membuatmu marah.. Mama minta maaf, tapi Mama yakin Bang Danar nggak jahat. Hanya usil saja"
Nadine mengangguk meskipun hatinya sedang di landa prahara.
"Langsung selesaikan dengan kepala dingin. Jangan buat Nadine nangis terus..!!"
...
"Pernikahan kita ini aman dek..!! Abang sudah bicara sama Giras..!!"
"Aman untuk Abang, tapi Nadine nggak mau." Nadine sangat emosi dan membereskan pakaiannya lalu mengambil pakaian Rudra.
"Kamu mau kemana dek??"
"Lebih baik Nadine pergi. Nadine nggak mau kembali sama Mas Gi lagi..!!"
Di luar rumah Bang Giras mendengar suara keributan di antara Danar dan Nadine. "Apa Danar belum bilang tentang kesepakatan yang batal? Apalah dia itu, buat masalah saja." gumam Bang Giras lalu membawa Rudra kembali ke rumahnya yang hanya tinggal melangkah pagar saja. "Kita pergi Bang, biar Papa Danar lega dulu. Sudah pusing dia gara-gara Mamamu..!!"
~
"Dengar Abang dulu dek..!!" Bang Danar mencoba menenangkan Nadine tapi Nadine tetap marah dan berontak hingga Bang Danar terpaksa mendekapnya dan menekan curuk belakang leher Nadine kemudian menyambar bibirnya. Satu kecupan terasa kurang hingga Bang Danar menambah sekali lagi kecupannya.
Nadine semakin berontak, ini pertama kalinya Bang Danar bersikap seperti itu. Ia menghindari ciuman dari Bang Danar.
"Abang suamimu dek..!!!!!!!"
"Nadine nggak mau Bang, Nadine mohon.. jangan paksa Nadine..!! Nadine akan jadi istri yang baik.. tapi jangan sentuh Nadine..!!" teriak Nadine terus ingin melepaskan diri dari Bang Danar.
Bang Danar pun sudah kewalahan mengatasi tingkah Nadine, ia mendorong Nadine hingga ke ranjang lalu menindihnya. "Sepuluh bulan kita bersama dan selama itu Abang menekan hasrat untuk menjagamu dek. Apa kamu pikir tidak berat setiap hari harus perang batin melihat kamu mondar-mandir di rumah ini?? Abang mau bicara baik-baik tapi kamu tidak mau dengar, Giras.........."
"Jangan sebut namanya lagiiii..!!!!!!!!!"
"Astagfirullah Ya Allah ya Rabb.. kamu ini memang kudu di hmmmmmm..!!!!" Bang Danar sudah gemas tidak sanggup lagi menahan hasratnya yang memuncak menekan ubun-ubun kepala. Tingkah penolakan Nadine malah semakin membuatnya tertantang, Ia pun mengangkat sarungnya dan membebaskan tawanan kemudian melucuti pakaian Nadine.
Mata Nadine terbuka, setengah mati ia kaget dan takut melihat sesuatu yang sudah sekian lama tidak pernah ia lihat lagi.
"Abaaang.. Jangaaaann..!!"
Dengan hati-hati Bang Danar mulai menekan, sesuatu yang belum pernah ia rasakan. "Ini suamimu dek, jangan takut. Lepaskan.. jangan ditahan..!!"
Entah kenapa Nadine yang semula berontak menjadi menurut dan pasrah dengan perlakuan Bang Danar yang begitu lembut.
"Jangan katakan Abang tidak cinta. Abang sangat mencintaimu.. Abang me**g****i kamu bukan untuk merelakanmu menikah kembali bersama Giras, tapi untuk jejak kepemilikan dan Abang akan mati-matian mempertahankan kamu..!!"
Bibir Nadine terasa terbungkam dan terlena dengan perlakuan Bang Danar bahkan merespon alur gerak Bang Danar.
~
"Tenanglah sedikit. Abang memang belum pernah melakukan dan merasakannya, tapi Abang janji kamu tidak akan kecewa. Abang pastikan kamu terus mengingat Rudra Pasa..!!" ucap Bang Danar selembut-lembutnya seorang pria.
.
.
.
__ADS_1
.