Elang Timur

Elang Timur
41. Panas.


__ADS_3

Bang Rey melantunkan lagu. Niken sampai terpana mendengarnya hingga pipinya semerah tomat.


Masih dalam suasana indah tersebut seorang anggota menghampiri Bang Rey. "Ijin Dan. Ada seorang wanita hamil besar mencari Pak Giras"


Bang Rey mengangguk. "Oke..!!" Lalu menyuruhnya beralih dari tempat itu


:


Kening Bang Rey berkerut mengintip wanita membawa perut besar sekitar lima bulan yang masih duduk di ruangan nya. Ia pun sudah menghubungi Bang Danar agar mereka berdua lebih dulu menyelesaikan masalah mengingat Giras adalah pria yang lumayan gegabah.


"Dimana perempuan itu?" Tanya Bang Danar yang baru saja tiba setelah membuat Nadine kelelahan.


"Ada di ruangan ku" jawab Bang Rey.


~


"Apa benar Mbak Nena ini mengandung janin, benih dari Lettu Giras?" Tanya Bang Danar.


"Benar Pak, saya tidak bohong. Ini bukti kehamilan saja" jawab wanita bernama Nena itu.


"Apakah Mbak tau saat ini Lettu Giras sudah beristri?" Tanya Bang Rey.


"Saya tidak tau Pak. Yang saya tau saat kami melakukan nya adalah atas dasar suka sama suka" jawab Nena tegas.


"Sekarang Lettu Giras sudah menikah dan istrinya sedang hamil. Apa yang anda inginkan Mbak Nena?" Bang Danar menatap mata Nena dengan lekat.


"Saya mau tanggung jawab Pak Giras"


Bang Danar menarik nafas panjang. Ia tidak mungkin menginterogasi Nena lebih jauh apalagi jika ini tentang aib sahabatnya sendiri.


"Saya akan menghubungi Pak Giras" kata Bang Rey.


...


"Saya jauh datang dari sana untuk menemui mu Mas"


"Nena, saat itu saya membayarmu. Kalau kamu tau saya mabuk berat kenapa kamu tidak melindungi dirimu???" Kepala Bang Giras rasanya mau pecah. Ia cemas setengah mati takut Amanda akan mengetahui kisahnya dengan Nena.


"Karena kamu tentara Mas. Itu sudah cukup alasan bagiku" jawab Nena tanpa rasa malu.


"Nena.. ini sudah malam. Kami akan menemuimu di luar jam kantor untuk membicarakan hal ini" Bujuk Bang Danar menengahi semua pasalnya bumil sedang hamil muda terutama Amanda istri Bang Giras.


"Baiklah, ini saya tinggalkan nomer telepon agar kita bisa bicara besok." Nena pergi meninggalkan ruangan dan setelah Nena pergi.. mata Bang Rey dan Bang Danar menatap Bang Giras dengan tajam tak terkecuali Bang Danar. Darahnya seakan mendidih menatap Bang Giras.

__ADS_1


"Berapa banyak masalah lagi yang akan kamu buat?? Apa kamu tidak kasihan dengan semua wanita di sekitarmu. Dulu Nadine sampai terpuruk karena Anne dan sekarang Amanda karena kamu menghamili Nena. Sebenarnya dimana isi kepala mu sebelum kau melakukan sesuatu?? Apa kau tidak punya otak untuk berpikir?????" Omel Bang Danar sudah terlalu geram.


"Saat itu aku sangat frustasi dan terpuruk karena kehilangan Nadine. Duniaku terasa hilang Dan" jawab Bang Giras membuat Bang Danar sedikit merasa cemburu.


"Tapi apakah lantas membuatmu bodoh dan tidak bisa berpikir Gi. Aku tau saat itu mungkin kamu rindu, aku juga laki-laki Gi.. aku paham rasane kangen tapi nggak g****k ngene" bentak Bang Danar. Untung saja Nadine sudah tidak lagi merasakannya. Andai saat itu dia kembali padamu dan merasakan hal ini.. aku akan menghentikan jalan nafas mu saat ini juga"


"Apa sih maksudmu???? Kenapa bawa-bawa Nadine?????" Bang Giras tak kalah emosi.


"Diam kalian..!! Kita ini disini mau menyelesaikan masalah.. bukan mau menambahi masalah" tegur Bang Rey.


"Sorry aku kelepasan" Bang Danar mengarahkan tinjunya tanda perdamaian dan Bang Giras menyambutnya dengan hati tak karuan.


"Masalah ini aku mohon Manda jangan sampai tau. Kasihan anak ku" pinta Bang Giras.


"Aman.. kami bisa di percaya" Jawab Bang Rey.


"Lalu bagaimana rencana kita?" Tanya Bang Danar.


Ketiga pasang bola mata itu saling memandang seakan memiliki jalan keluar padahal di kepala masih kosong melompong tak memiliki ide apapun.


***


Amanda melihat Bang Giras banyak diam. Perasaan Amanda sebagai seorang wanita pun tidak lantas tinggal diam. Ia memberanikan diri untuk memeluk Bang Giras dari belakang saat suaminya itu sedang menyeruput teh buatan nya pagi itu.


"Nggak ada apa-apa dek. Mungkin Mas hanya sedikit capek saja" jawab Bang Giras yang tidak mungkin mengungkapkan masalah nya pada Amanda apalagi masalah seperti saat ini.


"Manda pijat ya Mas?" Manda mulai memijat punggung Bang Giras tapi Bang Giras menolaknya. Bukan karena tidak enak tapi lebih pada hatinya yang semrawut tak karuan.


"Nggak usah dek. Mas berangkat kerja saja sekarang" tolak Bang Giras.


Manda memeluk Bang Giras lagi. Beberapa waktu ini dirinya sangat merindukan suaminya itu. Suami yang memang sangat dingin padanya.


"Mas terlambat dek. Lebih baik kamu sarapan. Kalau mau istirahat lagi terserah kamu." Ucapnya sedikit ketus.


Ucap itu begitu membekas lara dalam hati Manda. Air mata Manda menggenang, ia berlari masuk ke dalam kamar.


"Dek.. sayang..!!" Bang Giras ingin menggapainya namun Amanda sudah terlanjur sakit hati. "Mas minta maaf dek"


Braaakk..


Manda menutup pintu dengan kencang lalu menguncinya.


"Astagfirullah.. sakit sekali kepalaku memikirkan semua nya."

__ADS_1


...


"Kalau caramu seperti itu jelas saja Manda marah. Wanita yang tidak hamil saja kecewa apalagi wanita yang sedang hamil" tegur Bang Rey.


"Perempuan kalau kurang di sayang pasti ngambek bos. Bagaimana sih kamu. Belum di belai manja ya??" Bang Danar berusaha lurus saja meskipun dalam hatinya meletup geram dengan ulah sahabatnya.


"Aku hanya membelainya saja. Nggak sampai aku ajak. Rasanya pikiran ku sudah penuh dengan masalah. Mana bisa mikir kesana?"


"Alasan saja kau ini. Jangan sampai kamu merindukan Nadine" celetuk Bang Danar tidak tertahan. Entah kenapa kata itu yang terlepas dari bibir pria tampan itu.


"Oohh begitu?? Kalau dalam hatiku masih ada Nadine kau mau apa??" Jawab Bang Giras tak kalah ketus.


"B*****t..!!!!!!!!"


Bang Danar melayangkan tinjunya dan Bang Giras menangkisnya dengan cepat. Di dalam ruang sempit milik Bang Rey itu terjadilah perkelahian sengit yang tak terhindarkan.


"Heeehh.. kalian berdua ini sadar atau tidak.. ini di kantor. Nggak enak di lihat yang lain..!!!!!!" Bentak Bang Rey sambil menyergap dan menarik bahu Bang Danar. Sungguh pria itu sangat marah atas ucapan Bang Giras.


"Dengar baik-baik kau Gi.. hilangkan pikiran kotor di kepala mu untuk Nadine. Dia istri ku, hanya pecahan cerita dari masa lalu mu. Cukup sudah kamu membuat nya menderita..!!!" Suara Bang Danar menggelegar penuh penekanan.


"Maaf..!!" Ucap Bang Giras memang merasa sangat bersalah.


"Kau urus masalahmu dengan Nena. Yang di dalam rahimnya anak mu juga" Bang Danar memilih keluar dari ruangan untuk menenangkan hati yang sedang panas.


Saat melangkah, ponsel Bang Danar berdering. Ia melihat Nadine menghubungi nya. "Assalamualaikum sayang.. ada apa cantik?" Suara Bang Danar begitu lembut seakan tak terjadi apapun. Emosinya seakan turun drastis.


"Wa'alaikumsalam.. Nadine pengen petik buah coklat" jawab di seberang sana.


"Aduuuhh.. m****s. Mana ada pohon coklat disini" gumamnya pelan, ia sampai memijat pangkal hidungnya. "Iya sayang.. nanti Abang carikan info. Sabar sebentar ya. Abang masih ada pekerjaan"


"I love you Abang"


"I love you too ma" jawab Bang Danar kemudian menunggu sampai panggilan telepon itu benar-benar mati.


'Deehh.. kalau nggak dapat pohon coklat bisa-bisa ada serial bersambung nih.' ucapnya menggerutu tapi hatinya tetap bahagia demi sang istri.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2