
Pagi sekali setelah para anggota berangkat untuk apel pagi, Amanda pergi meninggalkan asrama. Tak ada yang tau kemana perginya istri Lettu Giras.
//
Bang Danar melihat Bang Giras sangat lesu. Merokok sebatang saja rasanya jadi begitu sangat lama berbeda dengan nya yang merokok sudah seperti cerobong kereta api.
"Kenapa lagi? Masih ribut dengan Manda?" Sapa Bang Danar.
"Nggak, tapi tiba-tiba saja perasaan ku tidak enak. Amanda jadi banyak diam pagi ini. Aku cemas sekali memikirkan Manda" jawab Bang Giras.
Bang Danar mengambil posisi duduk di samping sahabat nya. Asap rokok sudah mengepul ke segala arah. "Pertama, Amanda sedang sensitif karena kehamilan. Kedua, masalahmu ini bukan masalah ringan. Anggaplah ini kasus perselingkuhan meskipun kamu tidak melakukannya dalam garis pernikahan. Sama saja seperti kita para pria, tidak ada wanita yang kuat di duakan. Namun hati wanita berbeda cara dalam mengungkapkan emosi hatinya dan Amanda sama seperti Nadine.. hanya bisa memendam tanpa penyelesaian hingga akhirnya sakit sendiri."
"Menurutmu bagaimana aku harus menyelesaikan masalahku ini Dan. Aku sudah pusing. Pikiranku buntu" Tanya Bang Giras.
"Kamu yang harus putuskan segala yang terbaik. Kamu kepala rumah tanggamu.. bukan aku..!!" Jawab Bang Danar tegas.
Sejenak Bang Giras terdiam. Namun kemudian dirinya memutuskan sesuatu. "Aku akan mempertemukan Nena dan Manda, aku akan menegaskan kalau Manda adalah istriku. Biaya kehamilan, persalinan dan apapun tentang anak itu biar aku yang menanggung nya. Mudah-mudahan Amanda mau mengerti keadaan ini." Ucap Bang Giras.
"Iya.. begitu saja..!!"
-_-_-_-_-
Siang hari Nadine Nadine berniat ke rumah Amanda untuk mengantar bolu pisang yang baru saja ia buat. Nadine mengetuk pintu rumah Amanda tapi tak ada tanda-tanda Amanda berada di rumah dan ia pun berniat meninggalkan rumah Amanda. Saat kakinya baru saja melangkah terdengar suara samar yang aneh dari dalam rumah Amanda.
braaakk..
Nadine mendengar seperti ada benda terjatuh dan Nadine membuka pintu rumah Amanda. Ia melihat Amanda bergerak-gerak tercekik tali hingga kemudian tidak bergerak lagi bersamaan dengan cairan segar yang menetes dari bagian tubuh Amanda.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaaaaaa...!!!!!!!" Teriak Nadine sangat kencang mengagetkan Bang Danar dan Bang Giras yang baru saja tiba usai lepas dinas.
"Nadineee..!!!!!" Tanpa menunggu ijin dari si empunya rumah, Bang Danar menerobos masuk ke dalam rumah Bang Giras.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun" antara kaget dan bingung, Bang Danar segera mendekap Nadine lebih dulu sebab kaki Nadine sudah gemetar, bibir kelu, air matanya mengalir deras tanpa suara, wajahnya sudah teramat sangat pucat. "Jangan di lihat..!!" Bang Danar menyembunyikan wajah Nadine di bahunya.
"Mandaaaa..!!!!!" Bang Giras mencabut sangkur di pinggang dan setengah melompat naik ke atas meja, dengan sekali tebas akhirnya tapi pengikat yang menjerat leher Amanda pun terputus.
Disana tangan Bang Danar masih bisa menggapai Amanda namun karena Nadine sudah mulai tumbang, Bang Giras pun secepatnya menarik Amanda ke dalam pelukannya.
"Sayang.. dek..!!" Bagai mimpi Bang Giras melihat peristiwa ini. "Mandaaaaaaa.. mandaaaaaa"
"Ada apa Gi??" Sapa Bang Rey karena mendengar keributan di luar sana. "Astagfirullah hal adzim, Lailaha Illallah.. Innalilahi..!!" Bang Rey mundur selangkah, dirinya pun ikut syok.
"Kenapa Bang??" Niken ikut berlari dan istri Kapten Arjerio itu tak kalah syoknya dari Nadine. "Hwaaaaaaaaaaaa"
:
Kedua rumah para perwira sangat ramai. Di rumah Bang Rey sedang ada beberapa orang dokter yang memeriksa keadaan Nadine dan Niken yang sangat syok atas kejadian yang sempat mereka lihat tadi bahkan Nadine sampai pingsan berulang kali karena istri Kapten Danar melihat dengan jelas detik-detik tewasnya Amanda.
Suara jerit tangis pilu Lettu Giras menambah tingkat ketakutan Nadine.
"Bagaimana Bang?" Tanya Bang Danar.
"Wajar istrimu sampai seperti ini, karena istrimu melihat peristiwa pahit. Badannya demam karena psikisnya terguncang"
"Apa butuh psikiater Bang?" Dengan tanggap Bang Danar langsung mencari jalan terbaik untuk sang istri.
__ADS_1
"Jika kondisi istrimu masih bisa di kendalikan, maka tidak butuh psikiater. Tapi kalau reaksi istrimu berubah.. kamu bisa hubungi saya, biar saya bantu hubungkan dengan senior saya, beliau dokter psikiater terbaik" jawab dokter.
"Baik Bang, saya mengerti"
Tak jauh dari tempat Bang Danar berdiri ada seorang dokter lagi yang sedang memeriksa kondisi Niken. "Istrimu juga syok, tapi sudah sedikit lebih tenang"
"Oke thank's" lumayan lega Bang Rey mendengarnya.
Masih dalam kondisi tegang, ada seorang anggota POM datang ke rumah Bang Danar.
"Selamat malam, kami di minta DanPom untuk meminta keterangan pada Bu Nadine atas kejadian meninggalnya istri dari Lettu Giras."
Sontak kedatangan petugas POM memicu amarah Bang Danar.
"Nanti saja" tolak Bang Danar.
"Ijin Dan. DanPom meminta keterangan dari Bu Nadine sebagai bahan penyelidikan." Pinta anggota POM tersebut.
"Katakan sama DanPom untuk tidak mengusik istri saya..!!" Bentak Bang Danar nyaris tak bisa mengendalikan emosinya jika saja Bang Rey tidak menahan lengan Bang Danar.
"Pooot.. jangan marah-marah. Amankan dulu mental Nadine..!!" Kata Bang Rey mengingatkan sahabatnya. "Tolong para anggota POM kembali dulu ke Markas. Bu Danar belum siap memberi keterangan karena kondisinya belum stabil. Kami akan menghubungi pihak POM jika semua sudah siap..!!" Lanjut Bang Rey pada petugas POM.
.
.
.
__ADS_1
.