Elang Timur

Elang Timur
32. Bang Danar yang kaku.


__ADS_3

"Dimana Nadine?"


"Di rumah, dia sama sibuknya seperti Danar" jawab Bang Giras.


"Bagaimana kandungannya?" Tanya Bang Rey sambil menggendong putri kecilnya yang sudah berusia tujuh bulan.


"Mana kutau. Kau tanyakan saja sama Danar atau adikmu sekalian"


"Hhkkkk.." Niken berlari menepi di samping rerumputan. Ia tiba-tiba muntah padahal tadinya tidak merasakan apapun.


"Kamu kenapa dek? Sudah tiga hari begini terus." Bang Rey merasa perutnya di aduk berputar-putar kembali tapi akhirnya Niken yang harus kembali muntah.


"Niken telat Bang?"


"Telat kemana? Ini baru saja sampai" kata Bang Rey memijat tengkuk Niken sambil memegangi botol susu Chila.


"Bulan ini Niken telat haid Bang" jawab Niken.


"Lahdalaah.. Chila mau punya adik??"


Niken mengangguk takut.


"Ya sudah nggak apa-apa lah, kita asuh Chila sama-sama. Sudah kejadian begini masa mau nolak rejeki" jawab Bang Rey.


...


Nadine cukup kaget saat melihat tamu yang datang ke ruang gedung untuk pengajuan nikah adalah Anne dan Om Yusuf.


"Silakan duduk Om Yusuf dan Ibu..!!" Ucap Nadine mempersilakan.


"Siap.. Terima kasih ibu" jawab Om Yusuf.


"Terima kasih" jawab Anne lembut tapi sarat wajah peperangan.


"Baik Bu Yusuf, saya Nadine Danar..  istri dari Lettu Danar. Ibu-ibu yang lain biasa menyapa saya Bu Danar." Kata Nadine mengawali kegiatan kali ini. "Arahan dari ibu ketua agar istri dari anggota memahami betul arti lambang dalam lencana serta penerapannya. Jika Bu Yusuf sudah memahami.. mohon untuk di jabarkan ya Bu..!!"


Anne menunduk sedih kemudian memeluk dan menangis di pelukan Om Yusuf. "Bu Danar ini Bang, dulu istri Pak Giras.. yang buat Anne di ceraikan Bang Rey"


Mata Om Yusuf menatap mata Nadine dengan tajam. "Kecantikan tidak mencerminkan kepribadian dan sifat yang terpuji. Percuma menjadi istri seorang perwira kalau bersifat licik dan tamak."


Nadine cukup kaget karena Om Yusuf mengatakan hal itu di depan ibu penilik yang lain tapi ia masih bisa menarik senyumnya di hadapan Om Yusuf dan Anne. "Benar sekali Om Yusuf, kecantikan tidak mencerminkan kepribadian seseorang. Saya mau tanya.. sudah berapa lama Om Yusuf mengenal calon istri?"


"Ijin ibu, tidak penting berapa lama kami mengenal, yang saya tau.. sifat Anne tidak seperti yang di tuduhkan orang padanya" jawab tegas Om Yusuf.

__ADS_1


"Baiklah Om Yusuf, tapi sesuai prosedur Batalyon.. kami berhak melaksanakan tugas yang seharusnya untuk meloloskan pengajuan nikah Om dan.. Ibu Anne" ucap Nadine tegas sesuai dengan tugasnya.


"Sudah Bang, nggak apa-apa. Jangan marah disini..!! Nggak enak sama yang lain. Ini semua hanya masa lalu. Anne sudah ikhlas" Anne memasang wajah lugu membuat Om Yusuf semakin kesal saja.


"Bu Danar istirahat saja, biar saya yang lanjutkan.. nanti saat tanda tangan kepengurusan biar pasi yang mengurusi..!!" Saran ibu Wadanyon yang tau sifat Nadine. Ia tidak ingin Nadine stress dalam menjalani masa kehamilannya.


"Baiklah Bu, saya keluar ruangan dulu" kata Nadine menyetujui sambil berdiri kemudian keluar ruangan.


"Perkenalkan saya Ibu Erni Dadang.. istri dari Mayor Dadang.. WaDan Batalyon..!!" Ucap tegas ibu Dadang. "Bisa kita mulai dengan baik ringkas pengajuan nikahnya Bu Yusuf???"


Anne sedikit takut dengan raut wajah Bu Dadang. "I_ya.. bisa Bu"


:


Bu Danyon memberi Nadine segelas teh hangat. Istri Pasi memang tidak mengatakan apapun, tapi wajahnya pucat dan begitu banyak tekanan. "Sudahlah dek, buang pikiran yang tidak penting. Kami ini tau jalan cerita hidupmu, tidak ada yang menyalahkanmu karena semua ini memang takdir Tuhan yang harus kamu jalani. Jodohmu sekarang sudah sama Om Danar." Bu Jamal membelai rambut Nadine bagai adiknya sendiri. "Om Danar sangat sayang padamu, kami saksinya bagaimana Om Danar sangat ketakutan dan cemas saat kamu sakit.. berkali-kali beliau ucapkan kata sayang dan memintamu segera sadar karena kecubung itu"


"Masa sih mbak?"


"Iyaa.. kalau Bang Jamal nggak ikut menenangkan Om Danar di rumah sakit, mungkin rumah sakit tentara itu sudah di labrak dan di hancurkannya karena tidak bisa menyadarkan kamu akibat efek bunga kecubung itu." Kata Bu Jamal.


"Astagaaaa.. sebegitunya Abang?????" Tanya Nadine tidak percaya.


"Iya, buat apa Mbak bohong sama kamu"


:


"Duuuhh.. join macam apa ini, nggak enak sekali rasanya" gumamnya mengeluh.


"Bang Danar" sapa Anne yang juga sedang berada di sekitar toilet batalyon.


"hmm.." Bang Danar malas menanggapi Anne yang mulai sok akrab dengannya. Wanita yang dulu pernah menyakiti hati Nadine istrinya hingga membutakan mata Giras sahabatnya.


"Aahh.." Anne berjalan dan jatuh karena kakinya keseleo. Berharap Bang Danar akan memegangi dirinya, justru Bang Danar malah pergi menghindar.


Bersamaan dengan itu, datang Praka Yusuf melihat Anne terjatuh di samping toilet tanpa ada yang menolongnya sama sekali.


"Jadi benar apa kata Anne, tidak semua perwira bersikap seperti perwira dan kesatria. Mereka hanya bisa meremehkan anggota dan membuang wanita yang tidak memiliki apa-apa" sindir Om Yusuf.


"Maksudmu apa Yusuf?" Tentu Bang Danar merasa tersindir dengan ucapan Praka Yusuf.


"Ijin Komandan, saya hanya bicara dengan calon istri saya, tapi kalau komandan tersinggung ya maaf"


Tangan Bang Danar mengepal kuat, sudah sejak tadi dirinya lelah dengan banyaknya kegiatan, ingat manjanya bumil yang sedang merajuk tapi ia belum bisa mengatasinya.. sekarang malah harus di hadapkan masalah baru tentang Anne yang diam-diam lembut menusuk.

__ADS_1


"Lepas seragammu..!! Karena pejantan tidak menyindir, tapi bertarung..!!" Bang Danar melepas seragam luarnya lebih dulu.


Bak gayung bersambut, Praka Yusuf menerima tantangan Komandannya tersebut. "Baik Komandan.. saya terima..!!"


Terjadilah perkelahian sengit di antara Lettu Danar berhadapan dengan Praka Yusuf. Para anggota berlarian memisahkan mereka hingga Lettu Giras dan Lettu Arjerio ikut tiba disana.


"Loohh.. Danar kenapa gelud??" Tanya Bang Rey panik.


"Ayo cepat kita pisahkan. Kalau khodamnya keluar, si Yusuf bisa tamat" jawab Bang Giras.


~


"Istrimu perusak segalanya..!! b******n..!!!" Umpat Praka Yusuf.


Buugghh..


Kaki Bang Danar masih sempat menggapai rahang Praka Yusuf. "Kau yang b******n, beraninya kau menghina istri saya tanpa bukti..!!"


"Sabar dulu Danar.. kamu jangan emosian..!!" Kata Bang Rey masih menerka alur dan duduk permasalahannya.


"Bagaimana aku tidak emosi?? Dia terus menyindir dan menghina istriku. Aku tidak terima, aku yang menafkahi Nadine, aku yang membimbingnya dan aku juga yang hidup dengan wanita pilihanku itu setiap harinya. Lalu siapa dia? Datang entah darimana dan menghina istriku. Sini kuhantam bibirnya yang seperti perempuan itu..!!!!" Bang Danar sangat emosi sampai Bang Giras dan Bang Rey tak sanggup menghadangnya hingga akhirnya kedua pria itu melepas Bang Danar dan membiarkan Bang Danar menghajar Praka Yusuf dengan brutal.


"Stop Danaaaarr..!! Ya Allah..!!" Bang Jamal sebagai Danyon berusaha memisahkan keributan itu tapi akhirnya Danyon sampai harus terpental karena tak sanggup menghadapi sang Aligator macam Danar.


"Baang.. Nadine lapar..!!" Ucap Nadine berdiri di belakang Bang Danar.


Seketika Bang Danar menoleh, tangan yang bersiap melayangkan bogem mentah ke arah wajah Praka Yusuf pun ia urungkan.


"Lapar ya sayang? Mau makan apa?" wajah garang itu berubah drastis dan suaranya lembut. "Mie ayam mau nggak?"


"Iya mau."


Danyon dan para anggota ternganga melihat perubahan sikap Bang Danar pada istrinya tapi tidak dengan Bang Rey dan Bang Giras yang paham dengan Bang Giras dan Bang Rey.


"Luar biasa. Kenapa Danar bisa berubah begitu?" Tanya Danyon.


"Ya begitu Danar. Di luar garang tapi kalau sama perempuan melempem.. apalagi kalau sudah cinta, sendiko dawuh manut nggak berkutik" jawab Bang Giras.


"Sama perempuan yang buat dia gila aja.. kalau dia nggak mau ya kaku, galak, pahiiiiitt" imbuh Bang Rey.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2