
Telaten Bang Danar mengusap punggung dan kadang bergantian mengusap perut besar Nadine. Sedari tadi perut Nadine kencang, Nadine pun tak hentinya merintih.
Di kamar sebelah Niken sudah bisa minum tapi sesekali mual karena masih merasa syok.
"Rey, apa tidak sebaiknya kita menginap saja di hotel dan ajak anakmu. Kasihan sekali keadaan dua bumil ini" ajak Bang Danar.
"Biar nanti aku beritahu bibi untuk siapkan pakaian anak ku. Aku juga nggak tega lihat keadaan Niken" Bang Rey menyetujui ajakan Bang Danar.
"Niken saja sampai begitu, apalagi Nadine. Sampai nggak bangun. Nggak mau makan, terus nangis." Ucap Bang Danar tak kalah prihatin. "Aku bukannya tidak simpati dengan keadaan Giras, tapi Nadine juga sangat butuh aku."
"Iya Dan, aku paham"
//
bruugghh....
"Astagfirullah.." para pelayat terkejut melihat Bang Giras ambruk.
Tubuh Bang Giras begitu lemas. Sungguh dirinya belum bisa menerima kepergian Amanda dengan cara seperti itu hingga dirinya kembali tak sadarkan diri.
Rasa sakit dalam hatinya semakin bertambah karena Amanda pergi dengan membawa calon bayi perempuan di dalam perutnya.
"Mandaaa.." tak hentinya bibir itu memanggil nama Manda yang telah tiada.
__ADS_1
"Giraaaass..!!" Mbak Ghania memeluk adiknya yang belum sadarkan diri. "Kenapa kamu selalu membuat nerakamu sendiri?? Kenapa nasibmu begini???"
Tangis histeris mbak Ghania semakin menambah rasa pilu di hadapan jenazah almarhumah Amanda. "Mandaaa.. maafin mbak ya. Selama ini mbak belum bisa jadi saudara terbaikmu"
"Maaa.. sudah.." ucap suami mbak Ghania.
:
Pandangan mata Bang Giras sangat kosong. Papa Huda yang baru datang langsung mengambil duduk di samping putranya.
Sebagai orang tua Bang Giras tentu saja ada rasa jengkel melihat tingkah polah sang putra, sejak kecil Giras memang sangat sesuai dengan namanya. Banyak tingkah dan selalu menonjol dalam hal apapun namun sayang bukan prestasi yang menonjol dalam hidup putranya melainkan permasalahan yang berhubungan dengan wanita.
Apapun tinta merah dalam hidup Bang Giras, tentu saja rasa tidak tega tetap melekat kuat dalam hati Papa Huda, beliau pun memeluk Bang Giras.
"Aku penyebab semua ini, aku tidak pernah menyangka Nena akan datang dalam hidupku seperti ini. Kisah satu malam ku sudah merenggut nyawa Amanda dan menyakiti hati Nadine."
Papa Huda menepuk bahu Bang Giras.
Mata Bang Giras terpejam sesaat namun saat itu si kecil Rudra masuk ke dalam rumah dan lolos dari pengawasan pengasuhnya.
Rudra mendekati Bang Giras kemudian mencium pipinya. "Jangan nangis Papa. Mama Manda hanya tidur."
Ucap Rudra semakin membuat batin Bang Giras tersayat perih apalagi saat kaki Rudra menuju ke arah Amanda kemudian duduk di samping Amanda.
__ADS_1
"Mama tidur ya, Rudra jaga Papa. Mama jaga adik" dengan polosnya Rudra mengecup kening Amanda tanpa bisa di cegah. Ucap Rudra pun memiliki banyak makna tanpa ia pahami.
Untuk kesekian kalinya Bang Giras benar-benar terpukul. "Mandaaaa.. hati Mas Gi sakit sekali. Hukuman ini Mas terima lunas Mandaaa.. Mas sangat menyesal."
Dengan penuh kasih Papa dan Mama memeluk Bang Giras dengan erat.
"Papaaaaa... Rasanya sakit sekali" Bang Giras meronta-ronta merasakan sakitnya perasaan tanpa ada seorang pun yang bisa menyembuhkan rasa sakitnya.
-_-_-_-
Beberapa orang sampai harus memapah langkah Bang Giras yang tak sanggup menyangga dirinya sendiri. Terlalu berat ia rasakan hingga rasanya ingin mati saja daripada harus merasakan kehilangan seperti ini.
~
"Mas Gi titip anak kita ya sayang. Katakan ribuan maaf untuk si kuncup mawar yang belum sempat mekar, papanya sangat menyayanginya melebihi apapun. Dan untukmu bidadari surga... terima kasih atas cinta dan pengorbananmu untuk Mas Gi. Sungguh separuh hatiku ini hanya milikmu, hatiku yang kini telah mati, bersama kepergianmu." Bang Giras mencoba menguatkan batin meskipun tak pernah siap ia rasakan. "Jika kurindu kamu, akan kusematkan bait do'a hanya untuk kamu sayangku"
.
.
.
.
__ADS_1