Elang Timur

Elang Timur
29. Tragedi kecubung.


__ADS_3

Nadine meliuk berjoged mengikut irama lagu sambil memasak bunga turi berwarna oranye pudar pesanan Bang Danar. Suaminya itu memang pria sederhana yang tidak sulit dalam hal makan. Apa pun yang di masaknya selalu habis tanpa sisa.


Tak lama Nadine melihat pesan singkat di ponselnya. 'Kamu makan duluan dek, jangan tunggu Abang. Abang masih mau koordinasi dulu dengan Danyon masalah dinas luar' pesannya.


Nadine pun meletakan ponselnya.


tok..tok..tok..


"Mbak Nadine..!!" sapa seseorang di luar sana dan pasti lah itu Amanda.


"Masuk sini.. ayo kita sarapan bersama"


"Waaahh.. mbak Nadine masak apa?" tanya Amanda antusias mencium bau tumisan.


"Ini Abang minta pecel Turi, tapi karena warna bunganya bagus, aku masak tumis saja" jawab Nadine dengan percaya diri. "Sudahlah ayo makan..!!" ajak Nadine.


:


Usai makan, Nadine merasa kepalanya pusing dan perutnya mual. Hal yang sama pun terjadi pada Amanda.


Masih dalam keadaan sadar Nadine berusaha keras meraih ponselnya, tapi ponsel itu terjatuh bersamaan dengan dirinya yang ambruk.


//


deg..


Bang Danar meraba dadanya. "Perasaanku kenapa nggak enak ya" gumamnya.


"Aku juga nih." jawab Bang Giras juga jadi kehilangan konsentrasi.


Tiba-tiba ponsel Bang Danar berdering. Ia melihat nama 'Peri Malam'. "Nadine??" hatinya semakin bergemuruh resah.


Bang Danar mengangkatnya. "Sayang..!!" sapanya.


"A_bang.. to_long Na_dine..!!" ucap Nadine terbata, di sana juga terdengar suara rintih seorang wanita.


"Ya Allah.. dek..!!! Kamu kenapaaa?" Bang Danar panik tak menghiraukan Bang Jamal yang sedang memberikan arahan. Bang Giras yang mendengar nya jadi ikut panik.


"Nadine kenapa Dan?"


"Nggak tau, apa Nadine sama Amanda di rumah??"


Mata Bang Danar dan Bang Giras seketika saling pandang.


"Ijin pamit mendahului Komandan..!!!" Ia berlari pulang tanpa pamit diikuti Bang Giras yang lari di belakangnya.


"Lho Komandan mau kemana?" tanya Om Lukman saat baru kembali sarapan di kantin bersama Om Khoirudin.


"Kamu ikut saya ke rumah sekarang..!!" perintah Bang Danar.


"Kamu juga Din..!!" ajak Bang Giras.


"Siap Komandan..!!"

__ADS_1


:


"Astagfirullah hal adzim.. ada apa ini????" jantung Bang Danar seakan melompat dari raga melihat Nadine kejang di area dapur bersama Amanda yang juga kejang. "Dekk.. sadar.. ini Abang..!!!"


"Ya Allah Manda.. kamu kenapa dek????" tak kalah kaget Bang Giras melihat keadaan Amanda. "Apa mereka makan sesuatu??" tanya Bang Giras menanyai Bang Danar.


Mendengar pertanyaan sahabatnya, Bang Danar yang masih panik celingukan dan menyisir memantau keadaan sekitar sampai mata elangnya tertuju pada satu titik. "Itu masakan apa warna oranye????" sambil memegangi Nadine ia melongok dan melihat isi dalam piring tersebut. "Lailaha Illallah.. bunga kecubung Gi..!!!"


"Lukmaaann.. siapkan mobil..!!!!"


Bang Danar dan Bang Giras sigap menggendong istri mereka masing-masing.


...


Kedua pria itu mondar mandir tidak tenang menunggu kabar dari dokter yang sedang menangani Nadine dan Amanda.


"Kau bodoh sekali Dan, kenapa membiarkan Nadine memasak kecubung??????"


"Kamu jangan sembarang bicara. Aku nggak mungkin mencelakai istriku sendiri..!!!!!" Jawab Bang Danar jadi emosi.


"Lalu darimana Nadine dapat bunga kecubung itu?????"


Bang Danar terpejam sejenak sampai akhirnya ia mengingat sesuatu. "Ya Tuhan Giii.. aku meminta Nadine memasak pecel turi"


"Apa kamu sudah memastikan kalau Nadine tau yang seperti itu?? Jenis tanaman yang bisa di makan atau tidak??" tanya Bang Giras. "Nadine nggak paham hal seperti itu Danar"


"Kau pikir aku bodoh.. aku sudah menunjukan gambar dan ukurannya, tapi mana aku tau kalau Nadine malah mengambil bunga kecubung"


"Aahh.. kau ini..!!"


"Bagaimana istri saya Bang?" tanya Bang Danar.


"Amanda istrimu Dan?"


"Ijin Bang, istri saya" jawab Bang Giras.


"Amanda sehat, Nadine parah" jawab Bang Dwiki.


"Apa Bang??" Bang Danar sampai mundur beberapa langkah saking syoknya.


"Parah sekali dalam merepotkan saya" kata Bang Dwiki.


"Maksud Abang??"


Bang Dwiki mempersilahkan kedua juniornya untuk masuk ke dalam ruang observasi.


~


Bang Giras melihat Amanda memang sudah baik-baik saja namun tidak dengan Nadine yang banyak mengigau.


"Saya nggak bermaksud mendengarkan aib ya Dan, tapi yaaa.. kamu lihat dan dengar sendiri. Ya begitulah kondisi istrimu." Kata Bang Dwiki.


Nadine mengoceh tidak bisa diam. Segalanya keluar dari bibir Nadine begitu saja tanpa sekat dan hambatan. Apalagi Nadine tak hentinya mengumbar masalah kamar tentang diri Bang Danar. Sebagai seorang suami, Bang Danar tentu merasa tidak enak hati dengan Bang Giras, tapi mau bagaimana lagi.. tidak ada yang bisa mencegah bumilnya untuk berbicara sekalipun dirinya.

__ADS_1


"Ya ini salah satu akibat dari menelan bunga kecubung. Kalian pasti tau lah. Awalnya Nadine sesak hingga merasakan jantung berdebar lalu hilang kesadaran, untung saja Amanda dan Nadine kuat, benar-benar istri prajurit sejati." Imbuh Bang Dwiki.


"Nadine mau kumisnya Abang" Nadine mulai bernada manja sampai Bang Danar harus sedikit menjepit bibir istrinya itu dengan telunjuk dan ibu jarinya.


"Ini kumisnya Abang..!!" Bang Danar menyentuhkan telapak tangan Nadine agar bisa meraba kumis tipisnya yang kebetulan hari ini belum sempat ia cukur.


Antara lucu dan sedih Bang Danar menyentuh pipi Nadine. "Kok iso koyo ngene sih dek?? Kalau tadi sampai ada apa-apa sama kamu, terutama anak kita.. Abang lebih pilih mati. Bisa-bisanya kamu nggak bisa bedakan mana turi dan mana kecubung. Iki ati wes nggak kuat, jantung juga hanya satu."


"Bukan maiiin.. Bang Danar romantis sekalee" ledek Bang Giras mendengar Nadine terus merengek dan bercerita ngalor ngidul.


"Jelas lah, kalau nggak romantis mana bisa jadi anak" kata Bang Danar menanggapi ledekan sahabatnya. 


...


Nadine mulai sadar dan masuk di kamar perawatan, sesekali dirinya masih mual dan muntah tapi dengan sabar Bang Danar merawatnya. "Tenggorokan Nadine rasanya nggak enak Bang, pahit" 


"Siapa suruh kamu terlalu pintar. Abang khan sudah kirim gambar bunga turi dalam pesan singkat di ponselmu. Kenapa bisa nggak tau?" Tegur Bang Danar.


"Gambarnya hilang. Terhapus waktu Nadine memasak kemarin" jawab Nadine.


"Kalau memang kamu itu pintar, pasti sudah kamu ingat baik-baik bentuknya atau minimal kamu tanya lagi. Coba kamu pikir, kalau respon tubuhmu nggak kuat, kamu bisa.. amit-amit dah.. bisa hilang nyawa dek."


"Memangnya Nadine nggak pintar??" Tanya Nadine memasang wajah kesal.


"Bukannya nggak pintar, Oneng aja sih kamu itu" ledek Bang Danar.


"iiih Abaaaanngg.. jahat banget sih..!!" Nadine memalingkan wajahnya, Bang Danar pun mengerti sifat manja sang istri. Ia yang tadinya sedang duduk di kursi kemudian berdiri dan sedikit membungkuk mencium kening dan pipi Nadine. 


"Wes cukup ya ndhuk..!! Hati Abang sudah nggak karuan lihat kamu seperti tadi, kejang sampai muntah gara-gara kecubung. Demi Allah Papa takut ada apa-apa sama kamu Ma" Bang Danar memeluk dan kembali menciumi Nadine dan bersembunyi di belakang sela lehernya, ada tangis dan ketakutan yang ia tahan. 


"Iya Pa, maafin Mama ya..!!" 


"Selalu ada maaf untuk kamu, sayangku" jawab Bang Danar dengan suara beratnya.


"Iihh.. Abang nangis ya??" Tanya Nadine.


"Gimana nggak nangis ngerasain kamu sakit seperti ini."


Nadine tersenyum. Ia tau Bang Danar sangat menyayanginya lebih dari apapun bahkan jika dirinya berjalan terantuk kursi.. maka kursinya yang akan di salahkan. "Bang, sini..!!"


"Apa sayang?" 


"Nadine mau pegang..!!" Pinta Nadine menarik Nadine ke dalam pelukannya.


"Apa?"


.


.


.


.

__ADS_1


 


__ADS_2