
Bang Danar menggandeng tangan Nadine dan mengarahkan langkah wanita itu di belakang punggungnya agar tidak tersenggol arus pejalan kaki di supermarket yang memang ramai.
"Ini saja susunya. Banyak rasa" tunjuk Bang Danar saat melihat etalase susu hamil.
Nadine terus memperhatikan Bang Danar yang lebih aktif bertanya tentang hal apapun pada mbak sales susu di supermarket.
"Yang penting nggak eneg mbak, istri saya harus bisa minum.. kasihan kalau mual terus" kata Bang Danar yang selalu menyebut Nadine sebagai istrinya.
"Ini nggak eneg Pak, saya jamin ibu pasti doyan" kata sales tersebut.
"Oke saya ambil merk ini. Semua rasa tolong di masukkan mbak..!!" kata Bang Danar.
"Oya dek, tolong pilihkan Abang sandal donk..!! Harga diri Abang bisa anjlok nih..!!" pinta Bang Danar pada Nadine.
"Iya Bang, Nadine Carikan..!!"
:
Nadine gelisah saat sudah berada di kasir supermarket. Bagaimana tidak, ia hampir pingsan melihat nominal yang berbunyi juta rupiah dan banyaknya barang serta kebutuhan yang Bang Danar ambil tanpa memikirkan isi dompetnya yang hanya punya uang sejumlah lima ratus ribu saja, itu pun uangnya dari sang Papa yang awet dari sebelum menikah dengan Bang Giras.
"Bang, Nadine nggak punya uang segitu. Nadine hutang dulu ya, pasti Nadine bayar" bisik Nadine dengan takut.
"Tenang saja, Abang sudah menghitung dengan bunganya sekalian" Bang Danar balik berbisik.
Wajah Nadine semakin cemas dan takut mendengarnya.
~
Bang Danar menutup pintu mobilnya dan berjalan memutar, duduk di kursi kemudi dan memasang sabuk pengamannya.
"Bang, berapa bunga hutangnya?" tanya Nadine.
Bang Danar melongo karena ternyata Nadine masih memikirkan candaannya. "Memangnya kenapa?" canda Bang Danar lagi.
"Kalau bunganya tinggi.. mana bisa Nadine bayarnya Bang"
"Bayar dengan tubuhmu..!!" kata Bang Danar serius.
Air mata Nadine menggenang, ia sedih sekali saat Bang Danar mengatakannya. Nadine membuka kancing bajunya dan pasrah karena dia memang tidak memiliki uang untuk membayar semuanya.
Bang Danar memegang tangan Nadine kemudian mengancingkan baju Nadine kembali. "Bekerja keraslah sedikit, tolong masak untuk Abang..!! Telur ceplok juga nggak apa-apa. Asalkan ada makanan. Abang sudah malas di sayang ibu kantin, pengen ada yang perhatian sama Abang meskipun hanya delapan bulan atau sembilan bulan saja kita bersama" Bang Danar kembali bersandar dan mengatur nafasnya. "Abang akan berusaha sekuatnya untuk tidak menyentuhmu seberapa pun besarnya godaan yang datang menghampiri.. karena ada anak yang harus Abang jaga dan Abang lindungi martabat ibunya, meskipun dengan cara yang kurang patut"
Nadine meremas pakaiannya dengan kuat, akhirnya ia pun menangis.
"Abang membawamu bukan untuk membuatmu menangis. Abang ingin melihatmu tenang dan melupakan kepahitan hidupmu..!!" kata Bang Danar. Lamat ia memperhatikan paras Ayu Nadine, jantungnya berdesir kencang.
'Tuhan, ampuni desiran rasa yang tidak pantas ini. Aku hanya perantara untuk menyatukan sahabatku dengan istrinya. Tolong jauhkan rasa ini, karena aku tau.. aku tak sanggup menahan sakitnya rasa jika telah kehilangan.'
"Abang harap selama kebersamaan kita, kamu akan bahagia. Biarkan segala apapun yang ada di antara kita nanti.. akan menjadi kenangan yang indah. Jika Giras cinta pertama yang menyakitkan hatimu, biarkan Abang menjadi senyum bahagiamu meskipun hanya sekejap saja cerita di antara kita"
Entah kenapa ada rasa sakit di hati Nadine saat mendengarnya.
"Aahh.. iki opo to, Ojo nangis. Kita happy disini sayangku.. kamu istriku to. Hahahaha.." tawa Bang Danar memecah sepi di dalam mobil itu.
Nadine pun memaksakan senyumnya. Sekuat-kuatnya ia menepis kesedihan dalam hatinya.
...
"Ini ada seafood nya nggak mas?" tanya Bang Danar selalu mengoreksi makanan yang ada di hadapan Nadine.
"Nggak ada Pak" jawab pelayan warung makan.
__ADS_1
"Ya sudah, terima kasih mas."
Nadine tau sudah banyak keajaiban yang bisa Bang Danar lakukan, hingga apapun yang ia sukai pun.. Bang Danar bisa tau.
"Berapa banyak lagi yang Abang tau tentang Nadine?" tanya Nadine yang kini sudah mau berinteraksi dengan Bang Danar.
Bang Danar pun tersenyum merasakan usaha kerasnya tidak sia-sia.
"Banyak lah, Abang ini punya indera ke enam. Ilmunya sudah tembus sampai langit ke tujuh" kata Bang Danar dengan kesombongannya membuat Nadine tertawa lepas.
"Aduuuhh.. sudah Bang, perut Nadine sakit tertawa terus" Nadine tak sadar Bang Danar sudah menyuapi nasi bakar sampai beberapa suap.
Bualan demi bualan terlontar hingga nasi bakar itu habis. Nadine ingin menolak tapi tidak ada lagi bahan untuk di tolak karena nasi suapan terakhirnya sudah masuk ke dalam mulut.
"Alhamdulillah.. habis juga makan malamnya. Mau tambah nggak?" tanya Bang Danar.
"Nggak Bang. Sudah kenyang." jawab Nadine.
"Pintar ya anak Papa. Cepat besar ya nak..!!" kata Bang Danar kemudian menyuap nasi bakar untuk dirinya sendiri. "Waahh.. enak nih dek, nasinya ada jamur sama oncom. Suka oncom nggak?" Bang Danar langsung menyuap nasi itu tanpa persetujuan Nadine dan Nadine melahapnya hingga untuk kesekian kalinya mereka makan bersama lagi.
:
Nadine sudah mengantuk, rasanya kapok sekali karena Bang Danar terus menjejalinya dengan banyak makanan. Pulang pun masih membawa makanan dengan alasan takut dirinya kelaparan di tengah malam.
~
"Saya pulang ke rumdis nomer dua belas ya. Bawa istri..!!" Bang Danar menyalakan lampu sekilas agar petugas piket bisa melihatnya. Baru saja seorang anggota berpangkat Pratu membungkuk untuk melihat dan memastikan tapi Bang Danar sudah mendorong wajah anggota tersebut dengan telapak tangannya. "Jangan lama-lama lihatnya..!!!!!"
"Siap salah Danton.!!"
"Saya sudah lapor Danyon ya, awas saja kalau satu regu ini salah informasi. Saya jungkir kalian sampai kejang. Ini istri saya..!!!" ucap tegas Bang Danar.
~
"Kamu suka?"
"Suka sekali Bang, terima kasih banyak" Nadine sangat bahagia melihat kamar barunya. Nadine melirik melihat kamar sebelah yang hanya terlihat biasa saja dengan wallpaper warna kuning gading bermotif kayu. "Kamar Abang kenapa biasa saja?" tanya Nadine.
"Yang penting kamu itu senang dan nyaman di kamarmu. Abang mah tidur nyangkut di pohon juga nyenyak." jawab Bang Danar. "Sudah sana, cepat bersih-bersih dan istirahat. Kasihan si dedek sudah capek pengen rebahan"
Nadine tersenyum dan menurut.
~
"Nadine aman Gi, dia sudah tidur. Tadi aku membawanya jalan-jalan."
"Apa dia menangis?" tanya Bang Giras dalam sambungan telepon.
"Tadinya masih menangis. Lama-lama tidak lagi"
"Aku mau kirim uang untuk kebutuhan Nadine. Aku minta tolong belikan dia susu dan baju. Nadine pasti butuh banyak baju." kata Bang Giras. "Besok aku transfer ya, disini jaringan M Banking sedang bermasalah semua"
"Aku ikhlas membantu Nadine. Kamu jangan pikirkan hal itu..!!" kata Bang Danar.
"Masih ada nafkah yang wajib aku berikan."
"Sebaiknya kamu katakan sendiri sama Nadine. Aku nggak berhak menjawabnya meskipun kamu benar" jawab Bang Danar.
***
Pagi ini tersaji nasi goreng di meja makan. Nadine benar-benar memasak untuk Bang Danar. "Alhamdulillah.. sekarang Abang ada yang ngurus."
__ADS_1
Nadine tersenyum mendengarnya. "Siang mau di masakin apa Bang?" tanya Nadine.
"Apa saja. Pokoknya sayur asem, tempe, tahu, ikan asin dan sambal"
Senyum Nadine pun berubah menjadi tawa. "Siap Pak boss. Nadine pasti masak" jawab Nadine masih terus tertawa.
...
tok.. tok..tok..
"Ijin Ibu..!!"
Nadine bergegas membuka pintu, ada sebuah bucket bunga uang dan boneka orang utan berbaju loreng.
"Selamat siang.. saya Pratu Lukman, ajudan Lettu Danar.. mengirim hadiah untuk Ibu"
Nadine pun menerimanya dengan susah payah.
"Dalam rangka apa ya Om?" tanya Nadine.
"Ijin ibu, tidak tau. Danton hanya menulis di kertas memo kecil di bucket uang" jawab Om Lukman.
Nadine pun membacanya.
Untuk Nadine ku.
Selamat menjalani kehamilanmu dengan bahagia. Anak adalah berkah karena sebentuk cinta. Walau ada tangis di dalamnya, ingatlah Tuhan menitipkan dia padamu karena percaya kamu mampu, jangan pernah ada lagi tangis dan sedih. Kamu adalah seuntai cahaya yang begitu di harapkan makhluk Tuhan yang mencintaimu.
Rudra Pasa.
Mata Nadine berkaca-kaca membacanya. "Kenapa namanya Rudra Pasa Om?" tanya Nadine.
"Ijin ibu.. Danton adalah salah satu perwira Intel yang di takuti. Gaungnya terdengar gahar di kalangan militer"
"Masa si Om? Abang nggak sebegitu menakutkan"
"Siap.. Ijin.. Danton bersikap seperti itu hanya pada orang tertentu. Karena beliau sangat kaku dan dingin"
"Sekarang Abang dimana Om?"
"Ijin.. melatih tembak senapan di lapangan.."
Nadine mengangguk. "Terima kasih ya Om. Tolong sampaikan pada beliau. Saya suka..!! Saya minta beliau untuk cepat pulang. Sayur asemnya sudah siap."
"Siap ibu.. di sampaikan"
:
"Apa katanya?" tanya Bang Danar memicingkan mata sembari membidik papan di depan sana.
"Siap.. Ijin.. kata ibu.. Ibu suka dan minta Danton cepat pulang karena sayur asem sudah siap"
Bang Danar menurunkan senjatanya. Ia tersenyum penuh arti. "Saya pulang dulu, mau nengok sayur asem"
Om Lukman menggaruk kepalanya dengan senyum salah tingkah.
"Kenapa kamu itu senyum sendiri.. saya benar mau makan sayur asem. Ngeres aja..!!" kata Bang Danar sambil melangkah menjauh dari Lukman. Tak lama senyumnya juga tersungging. "Kenapa pikiranku ikutan ngeres. Astagfirullah.. Lukman ngajakin dosa"
.
.
__ADS_1
.
.