
"Sudah selesai??" panik Bang Danar menyelidik raut wajah Nadine.
"Sudah Bang?" Nadine mengurai nafas kelegaan usai Nadine keluar dari toilet di Batalyon.
"Keterlaluan..!!!!!! Apa bagus sudah buat suami panik sampai seperti itu?? Apa bangga kalau sudah lihat suami jantungan??" tegur Bang Danar.
"Jewer aja telinganya Nar, aku juga gemas sekali lihat tingkah Manda.. bisa-bisanya buat onar nggak kira-kira" suara Bang Giras pun tak kalah kesal.
"Kalian jaga baik-baik ini anak keceplosan. Berani sekali lagi kalian bertingkah.. tau rasa akibatnya..!!!!!" ancam Bang Danar dengan suara tegasnya sama persis seperti dirinya mengarahkan anggotanya.
"Kenapa Abang marah-marah terus? Yang mau khan anak Abang?" Nadine kesal sekali karena tak hentinya Bang Danar marah. "Nadine mau pulang ke rumah Papa" Nadine berjalan meninggalkan tempat sambil menitikkan air mata dan berjalan pulang ke rumah lewat kebun belakang.
"Deekk..!!!! Piye sih, sing nesu khan aku" Bang Danar terbawa emosi tapi kemudian ia menyadari sedang berhadapan dengan makhluk macam apa. "Sayaaaaang.. Nadineku sayang..!!" Bang Danar melembutkan suaranya lalu mengikuti langkah Nadine.
"M****s.. ya itu rasanya kalau terserang emosi" gumam Bang Giras tertawa melihat Bang Danar kelabakan menenangkan Nadine.
"Mas, pulang yuk..!!" ajak Manda saat tak lagi melihat Nadine dan Bang Danar.
Kening Bang Giras berkerut sesaat tapi kemudian ia memahami sesuatu dan tersenyum kecil sambil berjalan menyusul Amanda.
Tangan Bang Giras merangkul istrinya kemudian mengecup keningnya. "Nggak usah cemburu, sudah tidak ada lagi rasa di hati Mas Gi untuk Nadine. Mas hanya menghormati dia sebagai ibunya Rudra, tidak lebih dari itu."
"Benarkah itu Mas?"
"Iya donk.." Bang Giras mencolek dagu Amanda dengan gemas.
Amanda menunduk tersipu malu membuat Bang Giras terpancing nafsu lelaki nya. "Nengokin dedek yuk..!!"
"Kita mau jemput Rudra Mas?" tanya Amanda.
"Rudra itu Abang. Ini khan nengok dedek" kata Bang Giras memainkan alis memberi tanda, barulah Amanda tersenyum mengerti maksudnya.
"Ayo Mas"
~
"Cantiiikk..!!" Bang Danar masih berusaha keras membujuk Nadine yang begitu sensitif karena omelannya tadi.
"Nggak usah ngerayu, Nadine nggak mau di rayu." kata Nadine.
Bang Danar sampai duduk melantai dan bersandar di samping pintu kamar memikirkan cara apa yang sekiranya baik untuk membujuk Nadine.
Nadine pun menangis sejadinya di dalam kamar, sebenarnya ia mengerti Bang Danar hanya mencemaskan dirinya saja tapi entah kenapa air matanya tidak mau bekerjasama dengannya. Ia tetap kesal dengan segala ucapan Bang Danar padanya dan terus menangis.
__ADS_1
"Dek, jangan hanya perkara durian kamu jadi semarah ini sayang. Abang hanya cemas sama kamu dan anak kita. Abang nggak mau ada apa-apa sama kamu. Abang minta maaf ya sudah buat kamu marah."
Sampai beberapa saat tidak lagi terdengar suara Nadine dan itu membuat Bang Danar gelisah.
'Aduh.. buat macam apa dia di dalam sana?' Bang Danar membatin.
kreek..
Mata Bang Danar membulat melihat penampilan Nadine. "Kamu sudah nggak marah sama Abang?"
"Masih"
"Kenapa pakai baju umpan?" tanya Bang Danar sembari menelan ludah dengan kasar.
"Biar Abang tersiksa" jawab Nadine.
"Astagfirullah hal adzim jooo.. bojoooo" Bang Danar mengusap wajahnya dengan gusar, ia tergoda dengan penampilan Nadine tapi ternyata sang istri hanya sekedar ingin membalas dendam saja padanya. "Karepmu piye sih dek. Jangan ganggu ular yang lagi anteng kalau nggak mau di sembur" kata Bang Danar mengingatkan sebelum dirinya benar-benar tidak bisa mengontrol perasaan.
Nadine tidak peduli dan melenggang melewati Bang Danar menuju dapur untuk minum. Dengan langkah pasti, Nadine sengaja berjalan dengan gaya yang begitu menggoda naluri kelelakian Bang Danar dan sama sekali tidak tergoda dengan sandal bulu kesayangan Nadine.
"Waaoo.. gitar Mongol" gumam Bang Danar. "Memang lapis legit selalu menggigit" Bang Danar mengikuti Nadine kemanapun istrinya itu melangkah. Wangi tubuh Nadine menyeruak mengusik perang dalam batinnya.
Nadine kembali melangkah duduk di sofa melihat tugas kampusnya. Wajahnya tenang seakan tak ada apapun yang terjadi padahal liuk bahasa tubuhnya sudah menunjukkan jika dia memang sedang menggoda Bang Danar.
"Ehemm.." Bang Danar berdehem lalu duduk di samping Nadine dengan gelisah. "Capek nggak dek? Abang pijatin yuk di kamar" kata Bang Danar sembari mengusap lembut paha Nadine.
"Nanti Abang bantu kerjakan. Sekarang kerjakan tugas yang ini dulu" Bang Danar mengarahkan tangan Nadine agar memanjakan bukti kejantanan miliknya yang sudah siap tempur tegak menantang tanpa takut. Nyalinya sudah maju tak gentar membela yang benar. Suara lenguhan kecil dari bibirnya tidak bisa ia tahan. Perlakuan Nadine membuatnya menerawang dan terbuai. "Ayo dek..!!" ajak Bang Danar.
"Ng_gak ma_u" jawab Nadine lagi.
Ubun-ubun Bang Danar sudah memanas dan hampir terbelah. Bisa-bisanya Nadine tetap bersikap cuek. Ia tau Nadine tidak serius tapi sikap nakal Nadine yang terus menggodanya tanpa ampun sudah membuatnya nyaris kehilangan kesabaran. "Mau cara baik-baik atau di paksa??" suara Bang Danar menggeram gemas.
"Di paksa" jawab Nadine santai.
Bang Danar tersenyum geli mendengarnya, istrinya itu memang luar biasa mengoyak batinnya. "Sini mana yang minta di paksa..!!" Bang Danar menubruk Nadine dan menciumi wajah Nadine di sana-sini kemudian turun hingga ke sela leher. Tangannya menggelitik dan menjelajah kesana kemari. "Ini baju sudah buat Abang gila"
"Aaahh.. Abaaang.. nggak mau, geliii..!!" pekik Nadine tertawa kecil.
"Harus mau.. tanggung jawab kalau sudah berani ganggu Om-om..!!" Bang Danar melempar sandal bulu milik Nadine untuk mematikan lampu kemudian mengangkat sarungnya.
"Nggak mauu Ooomm..!!" Ucap Nadine seakan meledek.
"Apa kakimu harus naik ke pundak Abang supaya kamu diam??"
__ADS_1
"Naikan saja.."
"Astagaaaa.. nakalnya. Istri siapa nih??"
Bang Giras yang saat itu merokok di teras hanya bisa diam berwajah datar. Sekelebat bayang Nadine begitu kuat berputar dalam pikirannya, ada pula seberkas rindu tapi segera ia sirnakan dari pikirannya. "Ya Allah, jangan buat aku seperti ini. Kasihan istriku, dia sedang mengandung buah hatiku. Kuatkanlah imanku" gumamnya meredakan kegundahan hati.
***
Pagi ini Bang Danar menyembunyikan senyum bahagia. Ia memasang wajah penuh penyesalan. Bagaimana tidak, sang istri sudah sangat pintar memuaskan hasratnya.
"Itu balasan untuk Abang karena sudah membuat Nadine kesal" kata Nadine dengan nada penuh kemenangan berharap Bang Danar kapok karena sudah berani berjoged di atas panggung hiburan bersama seorang penyanyi seksi.
"Maaf.. maaf sayang, Abang nggak sengaja. Besok Abang ulang lagi" ucapnya melirihkan kata terakhirnya.
"Apaa Baaang??????"
"Nggak.. nggak.. nggak nolak" jawab Bang Danar terus menggoda Nadine.
"Abaaaanngg.. cepat berangkat..!!!!!" Nadine sudah kesal mengangkat sandalnya.
"Iyaaaa.." Bang Danar berlari sembari menyambar tahu goreng di atas piring.
...
Para anggota sedang membersihkan senjata tak terkecuali Bang Danar dan Bang Giras. Mata Bang Giras sedang terfokus pada benda di tangannya tapi tidak dengan hatinya sedangkan Bang Danar sedang tersenyum penuh arti membayangkan Nadine, istri yang sungguh membuatnya terpesona.
"Kamu kenapa senyum begitu?" sapa Bang Giras melihat senyum sahabatnya.
"Senyum apa? Nggak aahh" jawab Bang Danar menyadari tingkahnya.
"Ingat jatah semalam ya?" ledek Bang Giras.
Bang Danar semakin menunduk tersipu malu. "Apa sih kamu ini?"
"Laahh.. malu-malu, tumben Danar malu begini." Bang Giras semakin meledek sahabatnya.
"Diamlah mulutmu itu, aku jadi kepikiran Nadine terus nih"
"Wes.. angel.. kurang ajar iki..!!!!" tak hentinya Bang Giras meledek Bang Danar hanya sekedar berharap melunakan hatinya.
.
.
__ADS_1
.
.