Elang Timur

Elang Timur
40. Malam menjengkelkan.


__ADS_3

Wajah Bang Danar masih terlihat tegang apalagi saat mengopi di belakang rumah Bang Giras.


"Bagaimana Nadine?" Tanya Bang Giras kemudian mengambil rokok dan duduk di samping Bang Danar.


"Sudah nggak apa-apa, hanya masih ngambek saja" jawab Danar kemudian menghisap rokok di sela jarinya.


"Memangnya kau saja yang mengalami istri ngambek. Si Niken juga ngambek." Kata Bang Rey.


"Ya sama. Manda apalagi.. dia malah mengunci pintu kamar.


"Luar biasa bumil. Bukannya mengaku salah tapi malah semakin menjadi" Bang Danar tersenyum tapi wajahnya masih tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya. "Aku tidak habis pikir, bagaimana jadinya kalau tadi mereka jatuh membentur aspal jalan raya, tertelungkup atau sampai terjadi sesuatu dengan kandungan mereka"


Bang Rey membuang nafas panjang. "Aku juga masih memikirkannya" nafas Bang Rey terdengar begitu berat.


"Kita belum panggil dokter untuk memeriksa keadaan mereka. Apa mau nanti setelah acara saja kita ke rumah sakit?" Tanya Bang Giras.


"Iya, setelah acara saja ke rumah sakit. Mereka nggak fatal khan?"


"Iya, nggak kok"


...


Acara di kompi sudah di mulai. Tatanan kado sudah tersusun rapi di atas meja, bersebelahan dengan konsumsi seadanya yang telah di siapkan.


Acara sederhana namun penuh dengan keakraban sudah terjalin dan tercipta di antara para anggota.


"Ayo di mulai saja acara tukar kadonya. Acara antar bapak-bapak..!!" Kata Om Lukman yang menjadi MC malam itu. "Hadiah dari rekan langsung di pakai ya..!! Apapun yang di dapat harus di pakai..!!" serunya malam ini memegang kendali acara.


Para perwira pun pasrah dan mengikuti saja apapun yang di minta pembawa acara.


~


Sesi pertama para perwira mendapatkan kado yang normal. Bang Danar mendapatkan gelang tali, Bang Rey mendapatkan anting magnet sedangkan Bang Giras mendapatkan plester luka. Mereka pun segera memakainya.


"Oke fix, ini seru..!!" Kata Bang Rey begitu menikmati acara malam ini.


"Aku juga suka, tempel plester di atas alis buat aku jadi terlihat gahar. Ingat habis tawuran dulu" kata Bang Giras.

__ADS_1


"Aku berasa seperti ketua genk motor" imbuh Bang Danar dengan bangga.


"Naah.. sekarang ada kado di meja berwarna biru. Untuk memeriahkan suasana.. para perwira silahkan mengambil hadiah dan memakainya. Itu adalah hadiah pesanan dari hamba Allah yang tidak mau di sebutkan identitas nya demi tidak riya' amal baik." Om Lukman kembali mengarahkan.


Bang Danar, Bang Giras dan Bang Rey tidak menaruh curiga sedikitpun pada Om Lukman dan langsung berjalan bersama perwira Batalyon yang lain.


~


Tawa riuh membahana di lapangan tak terkecuali Om Lukman dan para istri cantik. Hanya ketiga perwira yang tidak tertawa. Bang Rey memakai jepit bunga matahari yang besar, Bang Giras memakai kerudung segitiga sedangkan Bang Danar memakai gaun tidur malam lengkap dengan bando kelinci. Pandangan mata mereka langsung mengarah pada ketiga bumil yang tertawa paling nyaring.


"Kau tidak curiga pada mereka??" Tanya Bang Giras.


"Masa mereka??" Bang Rey tidak percaya ucapan Bang Giras.


"Sekarang aku amat sangat percaya kalau ini adalah ulah Nadine. Karena hanya dia yang tega membuatku tersiksa seperti ini" jawab Bang Danar.


~


"Tiga perwira terlihat lentik sekali ya. Terima kasih banyak para donatur yang sudah memberi hadiah yang sangat bermanfaat ini" kata Om Lukman menahan tawanya. "Mungkin ada pesan untuk donatur malam ini?" Tanyanya sambil menyerahkan mic pada Bang Giras.


"Terima kasih banyak untuk jepitnya. Saya suka sekali" Bang Rey menyerahkan mic pada Bang Giras tanpa banyak bicara.


Bang Giras segera menyerahkan mic itu pada Bang Danar yang sedang membenahi bando nya. Entah bagaimana perasaan Bang Danar saat ini. Sahabatnya itu sampai harus melepas kaosnya hanya untuk bisa memakai baju umpan berwarna baby pink berenda magenta. "Jangan berpikir saya tidak tau siapa yang sudah mengirim baju dinas malam penggoda iman seperti ini" arah mata Bang Danar jelas mengarah pada Nadine dan itu sukses memecah gelak tawa anggota semakin kencang. "Malam ini, saya tunggu kamu di kamar rumah Jalan Tucano nomer dua belas. Kamar milik Lettu Danar..!! Lengkap dengan baju dinas malam dan bersenjata..!!!!!" Ancam Bang Danar tidak main-main, seketika itu juga tawa Nadine lenyap.


:


"Bang.. ayolah.. Nadine hanya bercanda..!!" Rengek Nadine yang berusaha keras membujuk Bang Danar.


"Sayangnya Abang nggak bercanda sayangku..!!" Jawab Bang Danar memang serius.


"Masa sama istri gitu sih Bang" rengek Nadine lagi.


"Laah.. kamu sendiri lho yang mancing perkara. Abang mah apa adanya. Sekarang Abang sudah benar-benar naik dan kamu nggak mau tanggung jawab???? Oohh nggak bisa sayangkuu.. pakai baju dinas malam ini dan pakai senjata perangnya..!!!!"


"Baaang..!!" Nadine menggoyang lengan Bang Danar.


"Semakin kamu merengek.. semakin cepat Abang membawamu pulang..!!"

__ADS_1


Nadine pun terdiam daripada harus berdebat dengan Bang Danar.


...


Malam semakin larut, Bang Danar tau Nadine pun sudah mulai lelah dengan kegiatan.. terlihat dari wajahnya juga berkali-kali Nadine mengusap perutnya dengan tidak nyaman.


"Pulang yuk..!!"


Nadine menggeleng, ia terlihat resah memperhatikan wajah Bang Danar yang sepertinya penuh dengan tuntutan.


"Kenapa? Masih betah disini??" Tanya Bang Danar.


"Nadine capek. Jangan minta jatah ya Bang" jawabnya jujur mengundang gelak tawa Bang Danar.


"Nggak bisa. Kamu keterlaluan sekali. Abang kedinginan nih pakai baju begini. Mana banyak ibu-ibu. Aurat Abang khan jadi terlihat semua" goda Bang Danar meskipun sebenarnya ia menahan rasa rindu untuk Nadine gara-gara pakaian sial itu.


"Memangnya Abang pikir Nadine nggak dingin kalau Abang minta Nadine pakai baju itu?"


Senyum Bang Danar tersungging manis mendengar protes sang istri. "Biar pun dingin khan tetap Abang hangatkan" jawab Bang Danar. Nadine memalingkan wajahnya menyembunyikan senyum geli.


"Pulang yuk..!!" Bisik Bang Danar.


Nadine mengangguk mengiyakan. Sebersit rasa rindu juga menggelitik perasaannya. Berhari-hari ribut saja dengan suaminya itu membuatnya ingin di belai manja.


:


Para tamu celingukan mencari keberadaan Bang Danar dan Nadine.


"Sudahlah paling Danki mu sudah kedinginan. Daritadi dia pakai baju umpan. Mungkin cari jaket di rumah" kata Bang Giras mengalihkan perhatian Om Lukman yang menanyakan keberadaan Dankinya.


Om Lukman pun paham. Ia pun menuju panggung kecil di lapangan tersebut. "Mohon ijin Komandan, senior, rekan sekalian dan juga ibu-ibu. Sepertinya Pak Danar sudah menepi. Mungkin masuk angin karena tidak biasa jadi model sampul malam. Harap di maklumi saja"..!!" Om Lukman berusaha mencairkan suasana. "Bagaimana kalau kita minta Pak Giras dan Pak Rey untuk mengiringi saya nyanyi??" Ide Om Lukman.


"Heeh Lukman.. saya saja yang nyanyi. Kamu yang pegang gendang. Bisa-bisa satu batalyon ini ayan dengar suaramu..!!" sambar Bang Rey karena menyadari suara emas Om Lukman yang meresahkan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2