
Bang Giras kembali ke rumah dinasnya dengan di papah rekan-rekannya. Kakinya seakan tak sanggup melangkah. Rumah yang biasanya terasa sejuk kini tak akan lagi tersentuh tangan lembut Amanda.
Tangisnya kembali terdengar, tenda bekas keramaian tadi masih terasa menusuk batinnya. "Mandaa.. maafin mas ya sayang..!!"
//
Suasana hotel di daerah pegunungan sengaja menjadi pilihan Bang Danar untuk Nadine. "Bagaimana suasana disini? Kamu suka?"
Nadine tak menjawabnya. Pikirannya masih melayang dan terbayang jenazah Amanda. Tubuhnya kembali bergetar. "Bang.. Amanda bergerak-gerak, tercekik, kakinya berdarah..."
"Uushhss.. sudah ya sayang.. jangan di ingat lagi. Sekarang Amanda sudah tenang, tidak sakit lagi." Lagi-lagi Bang Danar harus berusaha keras untuk membujuk Nadine. "Kamu harus mendo'akan dia. Do'a adalah caramu menyayangi sahabatmu..!!"
"Bang.. apakah suatu saat nanti Abang akan menduakan Nindy? Bang Rey pernah mendua, Bang Giras pun pernah" tanya Nadine.
"Dalam hati Abang tidak pernah terbersit dan terlintas pikiran untuk menduakan kamu. Rey mendua karena suatu hal dan Giras mendua karena khilafnya. Tidak bisa di samakan."
Sekilas ada rasa sakit dalam benak Bang Danar namun ia memahami rasa takut Nadine. Trauma sang istri begitu berat hingga pemulihannya pun tidak semudah yang di bayangkan.
"Nadine takut, suatu saat ada wanita yang menarik perhatian Abang dan Abang meninggalkan Nadine." Nadine sampai tak sanggup menahan beban tubuhnya karena terlalu sedih.
"Bunuhlah Abang jika Abang mengkhianati kamu. Jika kata-kata Abang tak sanggup menenangkan hatimu, coba rasakan.. apa selama ini Abang pernah bertindak di luar batas hingga menyakitimu? Percayalah selamanya.. seluruh hati Abang hanya untukmu..!!"
Nadine memeluk Bang Danar, perlahan hatinya merasa tenang. Papa Huda yang melihatnya pun akhirnya ikut merasa tenang. "Rudra sama Opa dulu ya.. Mama sama Papa masih bicara..!!" Sengaja Opa Huda dan Oma Ayu ikut bersama Nadine untuk mengalihkan perhatian Rudra dari kejadian menyesakan yang bisa saja mempengaruhi mental Rudra.
//
__ADS_1
"Niken nggak menyangka Amanda pergi secepat ini dan dengan cara yang sangat menakutkan Bang"
"Jangan di ingat sayang.. buang jauh semua ingatan burukmu. Fokus saja pada rumah tangga kita. Amanda sudah terlepas dari beban dunia" kata Bang Rey sembari mengusap perut Niken. "Sejujurnya hati Abang juga sangat takut dengan kejadian tadi. Sudah biasa jika musuh yang Abang hadapi, tapi ini wanita hamil. Hati Abang rasanya nyeri sekali.
Niken mengangguk. "Kita sama-sama lupakan ya Bang..!!"
:
Bang Danar dan Bang Rey duduk sembari mengopi setelah sang permaisuri hari telah masuk ke alam mimpi.
"Aku sampai tidak enak makan, apalagi kondisi Nadine sangat memprihatinkan."
"Alhamdulillah Niken sudah lumayan stabil"
"Hmm.. menurutmu jika aku pindah rumdis apakah akan menyinggung perasaan Giras??" Tanya Bang Danar.
"Aku hanya menjaga mental Nadine. Kau tau sendiri tak hentinya Nadine menangis. Aku cemas sekali Rey..!!"
"Ya sudah.. pindah saja. Giras pasti juga akan mengerti."
Bang Danar menyulut rokok nya kembali.
"Kurangi to pot ngebul nya. Aku saja sudah mengurangi rokok. Khawatir bumilku nempel.. kasihan yang di perut..!!" Tegur Bang Rey.
"Aku panik sekali Rey.. biarkan aku merokok beberapa batang lagi. Pikiranku buntu, aku takut dengan keadaan Nadine"
__ADS_1
Bang Rey menyampaikan tangannya di pundak Bang Danar, ia pun tidak bisa menahan senyum geli. "Kau bucin sekali Dan.. Kapten Danar sayang sekali dengan istrinya."
"Kau ini bod*h atau to*ol. Namanya suami pasti sayang dengan istri. Ucapanmu itu sangat menjengkelkan..!!" Jawab Bang Danar.
Tak lama ada panggilan telepon dari Om Lukman di ponsel Bang Danar.
"Iya Man.. ada apa?"
"Ijin.. kami hanya sekedar memberi kabar. Lettu Giras di larikan ke rumah sakit..!!" Laporan dari Om Lukman.
"Memangnya kenapa Man, apa keadaan Giras semakin memburuk??" Tanya Bang Danar.
"Siap.. tidak Komandan.. Lettu Giras hanya menelan obat tidur terlalu banyak"
"Duuuh Man, itu sama saja memburuk. Ngomong jangan mencla mencle..!!!" Tiba-tiba saja Bang Rey naik darah.
"Siap salah Dan..!!"
"Bagaimana ini?? Giras di rawat, tapi istri kita juga tidak bisa di tinggal" gumam Bang Danar.
"Papa saja yang berangkat melihat keadaan Giras. Kalian jaga para istri. Semua sama penting nya tapi istri kalian juga penting untuk di tenangkan..!!" Kata Papa Huda akhirnya melihat keadaan putranya dan meninggalkan Rudra bersama bibi dan Oma.
.
.
__ADS_1
.
.