Elang Timur

Elang Timur
22. Gaduh.


__ADS_3

Bang Danar tak sanggup menguasai diri, pikirannya berniat mengangkat tubuh, tapi respon diri berkata lain. "Aaahh.. hmmpphh.. Ya Tuhan..... eegghhh.."


Bang Danar ambruk menimpa Nadine. Tangannya masih mengepal kuat merasakan sisa-sisa pelepasan. "Alhamdulillah.." bisiknya bergumam terdengar sangat pelan di telinga Nadine. Tak lupa Bang Danar mengecup kening dan bibir Nadine. "Terima kasih banyak dek." ucapnya.


Nadine ingin menangis tapi ia juga mengijinkan Bang Danar melakukannya. Ia takut kata-kata Bang Danar hanya rayuan semata dan sebentar lagi dirinya akan menjadi janda.


Mungkin karena kali pertama dan terlalu menggebu, Bang Danar langsung tertidur dan mendengkur seakan tanpa beban.


:


"Maksudmu apa dek? Mas Gi sungguh nggak minta Danar menceraikan kamu"


"Bohong..!!"


"Demi Allah.. memangnya Danar bilang apa?"


"Nggak bilang apa-apa. Nadine hanya takut Mas Gi mengancam Bang Danar..!!!" jawab Nadine penuh emosi.


"Astagaaaa.. yang ada malah Mas yang terancam karena suamimu yang suka mengancam dan tidak bisa di ancam..!!" kata Bang Giras. "Dimana Danar?? Mas mau bicara..!!" kata Bang Giras sambil menggendong Rudra.


"Tidur" jawab Nadine singkat.


"Dia pasti capek sekali. Banyak tugas di Batalyon. Tempur dadakan sama kamu pasti juga nggak persiapan" gumam Bang Giras.


"Apa Mas Gi berniat meracuni Bang Danar?? Nadine nggak mau kembali lagi sama Mas Gi" pekik Nadine.


"Mas Gi ngerti dek. Maka dari itu Mas sudah batalkan perjanjian waktu itu. Apa Danar nggak bilang sama kamu?" tanya Bang Giras.


Nadine masih termangu mendengarnya. Itu berarti apa yang di katakan pria yang baru saja menjadi suaminya adalah benar.


Tak lama Bang Danar keluar dengan rambut acak-acakan bercelana pendek dan bertelanjang dada. "Dek.. kamu dimana sayang??" Bang Danar kebingungan mencari Nadine. Ia takut Nadine kabur dari rumah karena dirinya telah memper***a istrinya itu. "Dek..!!!!" Bang Danar terus mencari Nadine sampai memencet HTnya. "Apa istri saya keluar kesatrian?" tanya Bang Danar panik.


"Istrimu disini..!!"


Bang Danar mematikan HTnya sebelum pos kesatrian sempat menjawabnya.


"Ada apa kamu temui Giras?" tanpa sadar wajah Bang Danar sedikit kesal.


"Aku di labrak" jawab Bang Giras.


"Di labrak kenapa??"


"Kamu tidur, aku di tuduh meracunimu dan Nadine marah karena mengira kita masih melanjutkan perjanjian" kata Bang Giras.


"Duuhh dek, makanya kalau ada orang mau ngomong tuh di dengarkan..!! Kamu marah, nangis.. Abang jadi nggak bisa jelaskan apapun" tegur Bang Danar.


"Abang yang nggak cerita dari awal kalau semuanya sudah selesai. Nadine kepikiran, setiap hari menangis hanya karena hal ini" ucap Nadine sempat terlupa karena Bang Giras masih ada di sana.

__ADS_1


"Kalian bicaralah, aku mau berduaan dengan Rudra." pamit Bang Giras mengurai senyumnya.


~


"Bisa-bisanya kamu bicara begitu. Bagaimana pun juga kalian pernah bersama. Kasihan Giras lah dek..!! Mengertilah sedikit perasaan Giras..!!" tegur Bang Danar.


"Lalu siapa yang akan mengerti perasaan Nadine? Mas Gi lebih percaya dengan perempuan lain dan malah membiarkan Nadine pergi.. Mas Gi tidak berusaha membujuk Nadine. Selama Nadine di sini.. Mas Gi hanya mengirim uang untuk anaknya dan tidak sedikitpun berusaha menemui Nadine padahal Nadine tau ada beberapa kali cuti untuk bisa sekedar bertemu.. sampai akhirnya sisa cinta Nadine untuk Mas Gi benar-benar hilang tidak berbekas" ucap Nadine dengan jelas.


"Meskipun Giras hanya mantan.. Abang luruskan dek. Saat dapat tugas cuti itu, Giras hanya bisa di hitung dinas dalam karena kasus sama kamu. Itu kebijakan suami Mbak Ghania.. kebijakan Bang Sano sebagai Danyon. Dia benar-benar marah karena ulah Giras.. Mbak Ghania jadi stress" kata Bang Danar. "Abang juga menunda bilang sama kamu karena takut kamu terserang baby blues. "Tolong mengertilah posisi Abang yang serba sulit. Kalau kamu tertekan dan ikut stress, bagaimana dengan Rudra. Kamu tau sendiri.. satu bulan pertama Abang jarang tidur karena cemas memikirkan kamu."


Nadine tak bisa menjawab lagi, tapi apapun itu rasa cinta untuk Bang Giras sudah benar-benar hilang. Ada seorang pria yang telah mengisi relung hatinya.


"Sekarang tutup kisah lama dan mulai lembaran baru. Kisahmu di masa lalu sudah usai.. sekarang yang ada hanya kamu, Abang dan Rudra" imbuh Bang Danar.


"Apa Abang berniat punya anak?" tanya Nadine.


"Itu jelas dek, hanya saja tidak dalam waktu dekat. Rudra masih sangat kecil dan butuh kasih sayang penuh"


"Abang yakin? Nadine rasa tadi Abang kelepasan" tanya Nadine.


"Iya dek.. Abang minta maaf ya. Lain kali Abang yang pakai pengaman kalau kamu nggak mau pakai"


Nadine menunduk tersipu malu, pipinya merona semerah tomat matang. Bang Danar yang baru saja sembuh malah harus kembali terpancing naluri lelakinya.


"Ehmm.. kamu sudah nggak takut sama Abang khan?" tanya Bang Danar.


Nadine menggeleng begitu imut membuat Bang Danar kelabakan menata arus denyut nadinya. Bang Danar mendekati Nadine "Abang ke minimarket sebentar ya..!!" bisik Bang Danar di telinga Nadine.


"Apa mau ikut Abang?" goda Bang Danar.


"Nadine di rumah saja" jawab Nadine malu-malu.


"Oke cantik.. Abang hanya pergi sepuluh menit"


:


Bang Danar terpaku melihat banyaknya varian karet pengaman di hadapannya. Ia melirik ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada kasir perempuan yang nanti akan menghitung total belanjanya.


Bang Danar menyentuh salah satu benda tersebut sampai seorang kasir wanita menegurnya. "Bapak mau bayar?" tanya kasir wanita tersebut.


Bang Danar terkejut sampai menurunkan letak topinya untuk menutupi wajah dan refleks menggenggam kuat benda tersebut di belakang punggungnya.


"Bapak mau mencuri??" kasir itu menangkap gelagat aneh dari pelanggannya. "Maass.. tolong.. ada maling..!!"


"Heehh.. jangan sembarangan ya, saya mau bayar. Mbak saja yang mengagetkan saya..!!" Bang Danar malu setengah mati hanya karena sebuah karet pengaman.


"Pak.. tolong.. Mas ini mau mencuri."

__ADS_1


Mendengar teguran kasir tersebut pria itu mendongak. "Selamat malam. Ijin Komandan..!!" sapa Om Lukman.


"Malam.." jawab Bang Danar dengan malas.


"Maaf mbak, ini Komandan saya. Memangnya ada alasan apa Mbak menuduh komandan saya mencuri?" tanya Om Lukman.


"Itu.. Mas ini menyimpan benda di belakangnya" tunjuk kasir wanita tersebut.


Kepalang tanggung terlanjur malu, Bang Danar pun melempar kasar benda tersebut di atas meja. "Saya khan tadi sudah bilang, saya kaget karena mbak negur saya. Saya mau beli itu" kata Bang Danar.


Om Lukman menahan tawanya. Ia paham pasti komandannya sudah malu setengah mati. "Lain kali jangan begitu Mbak, di tanyakan baik-baik khan bisa"


"Iya Pak, saya minta maaf"


~


"Ijin.. Komandan mau tempur??" tanya Om Lukman tanpa sungkan.


"Belikan kucing saya" jawab Bang Danar.


"Benar itu Dan.. harus di amankan biar nggak sembarang tebar bibit. Kasihan betinanya"


"Kamu pikir saya nggak pintar jaga diri??" Bang Danar terpancing kesal.


"Oohh maaf Dan, saya pikir kucing beneran.. ternyata kucing garong"


"Lukmaaann..!!! Guling botol kamu besok..!!!!!!!!" ucap tegas Bang Danar.


"Siap Dan..!!!"


"Dasar manusia sabun..!!"


.


.


.


.


Luk \= Sabun.


Man \= Manusia.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2