Elang Timur

Elang Timur
44. Mencari celah untuk tenang.


__ADS_3

Amanda tertidur pulas setelah Bang Giras memanjakannya. Meskipun dirinya sedang tidak seratus persen menikmatinya, tapi melihat Amanda terbuai dengan permainan nya.. itu sudah cukup melegakan bagi Bang Giras.


Kini Bang Giras menikmati kesendirian nya. Sembari merokok, ia berpikir keras bagaimana caranya membuat Nena tidak kembali masuk dalam kehidupan nya.


"Iyaaaa.. nggak lama dek, kalau Abang di dalam nanti asapnya masuk ke dalam rumah" kata Bang Rey yang jarak rumahnya tidak jauh dari rumah Bang Giras.


"Bumil rewel?" Sapa Bang Giras.


Bang Rey menoleh mendapati sapaan dari Bang Giras.


"Sudah biasa dia mah. Nggak hamil aja manja, rewelnya minta ampun. Apalagi sekarang.. malah berkali lipat super manja" jawab Bang Rey kemudian menghampiri Bang Giras dan duduk di sampingnya. "Aku tau masalahmu sangat berat. Tapi jangan sampai semua mempengaruhi kualitas pernikahanmu. Kalau aku boleh memberimu saran.. apa tidak sebaiknya kamu jujur saja sama Amanda.. lagipula kejadian ini juga terjadi saat kalian belum menikah."


"Sebisa mungkin aku akan menyimpan rapat masalah ini meskipun kejadian ini terjadi sebelum aku dan Manda menikah. Tidak ada istri yang kuat menghadapi kenyataan bahwa suaminya sudah menyentuh wanita lain" kata Bang Giras. "Aku takut mental Manda down"


Bang Rey terdiam sejenak. Memang ada benarnya ucapan Bang Giras. Tidak semua wanita sanggup menerima kenyataan pahit bahwa pasangan hidupnya telah menghamili wanita lain.


Bang Giras dan Bang Rey menoleh, mendengar suara berisik dari rumah Bang Danar.


"Tidur duluan saja dek..!! Abang ngopi sebentar ya..!!" Pamit Bang Danar kemudian keluar membawa secangkir kopi dan ternyata kedua sahabatnya sudah duduk di teras belakang rumah Bang Giras sudah dengan cangkir kopi masing-masing.


"Kenapa Nadine?" Sapa Bang Rey.


"Biasa lah, adikmu itu kalau belum lihat dan di sembur jampi dan mantra suaminya yang ganteng ini, belum bisa tidur" jawab Bang Danar kemudian bergabung dengan kedua sahabat nya.


Bang Rey dan Bang Giras tertawa saja mendengarnya.

__ADS_1


"Kurasa.. aku harus menemui Nena dan berbicara berdua dari hati ke hati. Aku cemas sekali dia akan bertingkah sampai menemui Manda."


"Apa kami perlu mendampingi mu?" Tanya Bang Danar.


"Nggak usah, biar aku selesaikan masalahku sendiri. Aku mohon tolong tutup masalah ini baik-baik, biar nanti aku saja yang mengatakannya sama Manda." Pinta Bang Giras.


***


Nadine senang sekali melihat tumpukan buah cokelat yang ada di rumahnya. Entah berapa kali sejak buah tersebut di panen dan tiba di rumahnya, mungkin setiap sejam atau dua jam istri Bang Danar itu akan menghitung nya.


"Buah itu nggak akan hilang. Hanya kamu dan musang saja yang doyan" tegur Bang Danar melihat tingkah istrinya.


"Nadine tau Abang pengen buah cokelat ini" jawab Nadine.


"Abang lihat buah itu sambil mikir, buah sebanyak itu mau di apakan biar nggak mubadzir. Masa iya mau kamu hitung dan di lihat saja setiap jam??" Kata Bang Danar. Bagaimana kalau di olah saja jadi makanan. Nanti minta bantuan sama ibu-ibu yang lain untuk bantu kamu mengolah"


"Ya nanti Abang bantu."


...


Siang itu Bang Danar sibuk mengarahkan beberapa istri anggota untuk mengolah buah cokelat 'milik Nadine.'


Para ibu-ibu sangat senang mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari Bang Danar tentang pengolahan Cacao. Karena keterbatasan alat, mereka pun menggunakan alat seadanya untuk proses pengolahan biji Cacao tersebut.


Saat Nadine membuka kulit Cacao tersebut, senyum cantiknya hilang dan memudar apalagi saat mengincipnya, raut wajah Nadine seketika menjadi mendung dan kecewa. "Nadine maunya cokelat yang kotak Bang"

__ADS_1


"Owalaah Gustii.." Bang Danar menepuk dahinya kemudian mengusap dadanya melebarkan sayap kesabaran seluas-luasnya. "Nadineku tersayang, istri Abang yang cantik. Kenapa sejak hamil pikiranmu jadi tumpul sekali. Apa kamu pikir bentuknya coklat akan langsung kotak seperti cokelat kemasan??"


"Bukan begitu Bang, Nadine kira buahnya sudah berwarna coklat, bukan warna putih begini, rasa buahnya pun manis.. nggak seperti cokelat" kata Nadine.


"Ya makanya ini kita olah dulu biar bisa jadi seperti yang kamu mau dek."


"Ya sudah, ayo kita buat sekarang..!!"


"Memangnya kita lagi apa? Ini juga lagi proses buat cokelatnya" jawab Bang Danar dan hanya mendapatkan tawa renyah dari ibu-ibu dan para anggota sebab Bang Danar berusaha keras menjadi makhluk yang sabar padahal dirinya bukan seorang penyabar.


//


"Uang darimu belum tentu cukup untuk membesarkan anak kita"


"Kalau harus menikahi mu, semua tidak mungkin Nena. Istri saya hanya Amanda seorang."


"Aku sudah memberimu tawaran terbaik ku Bang. Aku ingin sebagian hartamu juga untukku dan juga menikah siri denganmu" pinta Nena.


"Kamu bekerja dan saat itu saya datang padamu. Saya mabuk berat dan kamu malah memanfaatkan kesempatan itu"


"Apa saat ini adalah waktu yang tepat untuk saling menyalahkan? Semua sudah terjadi Bang, aku hamil anakmu..!! Tidak bisakah kamu berlapang dada menerima kenyataan itu?" Kata Nena tenang namun cukup menekan batin seorang Giras.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2