Elang Timur

Elang Timur
45. Tidak siap.


__ADS_3

Pagi hari ada seorang wanita yang mengetuk rumah Bang Giras. Manda pun segera membukanya. Istri Letnan Giras sempat ternganga melihat wanita dengan membawa perut besarnya.


Kening Amanda berkerut karena seingatnya tidak pernah melihat sosok wanita tersebut di sekitar Batalyon. "Ibu siapa ya, istri dari siapa?" Tanya Amanda lembut.


Wanita itu menangis dan berlutut di kaki Amanda. "Saya Nena Bu" jawab wanita itu.


"Ayo masuk dulu, kita bicara di dalam..!!" Ajak Amanda.


~


"Astagfirullah hal adzim..!!" Dada Amanda bagai terhantam kuat, laju nafasnya sesak. Ia mencoba menata perasaan mendengar semua pengakuan Nena bahwa Bang Giras adalah ayah dari calon bayi yang di kandung oleh Nena. Namun ia juga membolak-balikkan perasaan sebab kejadian itu terjadi saat dirinya belum menjadi istri Bang Giras.


"Bang Giras memaksa saya, saya bisa berbuat apa saat Bang Giras berjanji akan menikahi saya. Tapi semua hanya angan karena ternyata Bang Giras malah menikahi ibu, lalu bagaimana dengan anak saya ini. Anak saya ini akan lahir lebih dulu, tapi tanpa kasih sayang dan tanggung jawab seorang ayah"


Bang Giras yang baru saja lagi pagi sengaja pulang ke rumah untuk melihat keadaan Amanda. Betapa terkejutnya Bang Giras saat melihat Amanda tersandar sesak sedangkan Nena duduk dengan raut wajah datar.


"Manda.. dek..!!" Bang Giras segera menolong Amanda. "Ada urusan apa kamu disini Nena????" Bentak Bang Giras pada Nena.


"Itu karena kamu ingkar Bang"


"Saya ingkar apa sama kamu Nena?????" Suara Bang Giras membahana sampai membuat Nadine menjatuhkan sapu di teras depan rumah, perutnya pun nyeri karena kaget.


Tepat saat itu Bang Danar dan Rey juga mendengar keributan yang terjadi, mereka pun mengarahkan anggotanya untuk lanjut berlari sedangkan mereka berdua belok dan menapi untuk pulang ke rumah.


"Ada apa dek??" Tanya Bang Danar membantu Nadine untuk duduk. Bang Rey pun berlari masuk ke dapur dan mengambilkan adiknya air minum karena wajah Nadine kini terlihat amat sangat pucat sekali"

__ADS_1


"Minum dulu dek..!!" Bang Rey mengangsurkan minuman pada Nadine dan Bang Danar segera membantunya.


Terdengar keributan semakin menjadi. Bang Danar segera memeluk Nadine untuk menenangkan nya.


"Nadine nggak bermaksud mengingat masa lalu Bang, Nadine hanya kaget saja, berarti saat masih bersama Nadine.. Mas Giras sudah tidur bersama perempuan lain?? Itu pun tidak hanya dengan Anne" Nadine meremas perutnya.


"Sudahlah, ini bukan urusanmu dek. Setiap rumah tangga punya masalahnya masing-masing. Ceritamu sama Giras sudah selesai dan Abang tidak akan membuatmu menangis, dan selamanya tidak akan pernah mengkhianati kamu" kata Bang Danar.


"Kenapa Mas Gi tega sekali Bang? Nadine sangat takut jika Rudra bertanya mengapa Nadine dan Papanya berpisah. Nadine sangat takut sifat Mas Gi akan turun ke tubuh Rudra."


Paham sang istri sangat cemas, ia segera membawa Nadine masuk ke dalam rumah. Hati-hati sekali Bang Danar menggendong Nadine lalu menurunkan perlahan dan duduk di sofa.


Bang Danar mengarahkan mata Nadine agar bisa menatapnya. "Sifat memang datang dari orang tua, tapi lingkungan, didikan dan ilmu agama masih bisa di kondisikan. Rudra anak Abang juga, Abang pun punya tanggung jawab untuk mendidiknya"


"Apa yang di katakan Danar itu benar dek. Kita tetap bisa mengusahakan. Ada Abang juga yang akan mendidik Rudra" imbuh Bang Rey.


Senyum Nadine mengembang.


"Istirahatlah dulu di kamar, Abang mau pantai keadaan Giras. Nggak apa-apa khan" pamit Bang Danar.


"Nggak apa-apa Bang, hati-hati..!!"


//


Bang Rey dan Bang Danar memutuskan untuk memanggil pihak POM Batalyon sebab sudah terdengar keributan yang semakin memanas apalagi terdapat dua wanita hamil di rumah Bang Giras.

__ADS_1


"Saya sudah memberimu uang Nena, dan kamu sudah berjanji untuk tidak mengatakan semuanya pada Amanda istri saya.


"Tapi aku juga harus berpikir rasional Bang, anakku harus punya status yang jelas. Aku memikirkan masa depannya..!!" Teriak Nena.


Sejenak Bang Giras terdiam. Memang benar, bagaimana pun keadaannya.. hubungan satu malam mereka sudah menghasilkan 'buah' yang tidak di inginkan.


"Jika anakmu laki-laki apa kau ingin dia menjadi gelandangan atau kriminal??? Atau jika dia perempuan apa kau ingin anakmu mel**ur sepertiku???"


Sesak juga mendera batin Bang Giras yang dilema. Tentu dirinya tidak menginginkan semua itu terjadi, ingin menolak tapi kenyataannya anak yang di kandung Nena adalah hasil perbuatannya.


"Menikahlah dengan Nena Bang, Manda ikhlas" ucap Manda terbata-bata karena kejadian ini juga menjadi pukulan berat untuknya.


"Kamu jangan memutuskan apapun, biar Abang yang memikirkan semuanya..!!" Kata Bang Giras padahal dirinya belum memiliki keputusan apapun.


Disana Bang Rey dan Bang Danar berdiri dan berjaga, khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


"Kalau kau tidak mau menikahiku.. pilihannya hanya ada dua. Gugurkan anak ini atau kau di pecat..!!" Nena memberikan pilihan yang sulit.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2