Elang Timur

Elang Timur
33. Pedas di rasakan.


__ADS_3

"Tambah lagi ya?" Bang Danar menawari Nadine karena istrinya itu sedang enak makan.


"Iya" jawab Nadine.


"Satu lagi mas..!!" Pinta Bang Danar pada pedagang mie ayam padahal Nadine juga belum menghabiskan bakso di hadapannya.


"Makan yang banyak..!!"


Nadine mengangguk sambil menghabiskan mie ayamnya. "Kenapa Abang pukuli Om Yusuf?"


"Ya karena Abang nggak suka?" Jawab Bang Danar ringan.


"Apa Om Yusuf menghina Nadine?" Tanya Nadine menerka keributan yang terjadi di lapangan tadi. Ia pun datang karena Bang Giras memberinya pesan suara.


"Trouble urusan kerjaan" Bang Danar sangat malas jika harus membahas tentang keributan tadi apalagi tentang ucapan Praka Yusuf pada Nadine.


Nadine kembali mengangguk kemudian melanjutkan lagi acara makannya.


Bang Danar tau Nadine pasti sedang banyak pikiran, banyak hal yang membuat Nadine tidak tenang karena secara tidak langsung Anne kembali masuk dalam hidupnya lagi.


"Kamu di larang berpikir yang tidak-tidak. Kamu hanya perlu pikirkan anak kita, selebihnya biar Abang yang pikirkan..!!" Pesan Bang Danar karena ia pun mencemaskan Nadine. "Ini Danar, bukan Giras yang terbawa emosi sampai membuat istri terlepas. Abang akan mati-matian mempertahankan kamu"


Baru setelahnya, Nadine menitikan air mata. "Dulu juga Mas Gi janji seperti itu"


"Kamu harus pahami.. Abang dan Giras bukan orang yang sama. Sudah jangan menangis lagi..!!" Bang Danar menghapus air mata Nadine.


...


Duduk beberapa orang perwira yang telah di tunjuk sebagai perwakilan atas pertikaian Lettu Danar dan Praka Yusuf tadi siang.


Kali ini Bang Danar tidak ingin Nadine ikut karena ia mencemaskan mental Nadine yang sedang mengandung.


"Ini sudah menjadi bukti bahwa Ibu Danar memang salah pada calon istri saya. Jika memang beliau tidak salah lantas kenapa harus takut?" Kata Praka Yusuf membela Anne.


"Kau tidak perlu banyak bicara, di selesaikan sekarang atau tidak?" Bang Danar sudah begitu geram menghadapi Om Yusuf.

__ADS_1


Praka Yusuf senyum mencibir. "Ijin Danyon. Tentunya kami memilih calon istri sudah dengan mempertimbangkan baik dan buruknya, termasuk saya yang memilih calon istri. Kebetulan saya disini bertemu dengan Bu Nadine yang membuat Pak Rey akhirnya harus menceraikan Anne dan akhirnya Anne tidak menerima nafkah yang seharusnya dia dapatkan"


"Anne bilang begitu?" Mata Bang Rey berkilat mendengar keberanian Praka Yusuf dalam membela Anne. Wajar memang jika pria membela wanita yang ia sayangi namun tidak pada wanita yang salah. "Coba katakan dengan jelas, nafkah apa yang tidak saya berikan? Sampai detik ini saya masih menafkahi anak saya bahkan lebih sebagai tanda terima kasih saya untuk Anne karena bersedia melahirkan anak perempuan untuk saya"


Kening Om Yusuf berkerut, mulutnya bagai terbungkam, matanya melirik Anne yang duduk terdiam dengan wajah datar.


"Apa mau mu? Apa seperti permintaan mu dalam pesan singkat?" Tanya Bang Danar.


"Iya"


Seringai tajam tersungging dari sela bibir Bang Danar. "Jangan mimpi kamu"


Seluruhnya yang berada di sana terdiam tidak memahami apa yang terjadi di sana.


"Aku berasal dari pedalaman, tak punya sanak saudara dan dulu sempat di paksa oleh tetangga untuk menikah dengan pria tua beristri banyak. Sejak kecil hidupku tidak banyak pilihan hingga aku kabur dan bertemu dengan Bang Rey dan Bang Giras, mereka berdua baik padaku, mereka memberikan perhatian padaku.. tapi sayang Niken dan Nadine merusak semuanya. Bang Rey menceraikan aku hanya karena aku mengakui perhatian Niken adalah usahaku dan Nadine membuat Bang Giras tidak punya rasa untuk ku lagi" kata Anne membuka suara. "Kini setelah aku bercerai dari Papanya Keyla.. dia semakin mencintai Niken dan Nadine bahagia bersama Bang Danar, lebih parahnya Bang Giras menyusul kesini demi mereka berdua."


Tak tau apa yang di rasakan para hadirin seisi ruangan. Tak tau pula apa yang sedang mereka hadapi saat ini tak terkecuali Om Yusuf yang cukup kaget melihat perubahan sikap calon istrinya.


"Praka Yusuf.. inilah sosok wanita yang kau puja dan kau puji. Menceraikan seorang wanita tentu memiliki alasan yang kuat." Kata Bang Rey.


"Terus terang penyesalan terdalam saya saat itu adalah percaya bibir manis wanita ular ini hingga saya kehilangan Nadine" imbuh Bang Giras.


"Astagfirullah hal adzim.." Bang Jamal dan Bu Jamal sampai mengurut dada melihatnya sedangkan Om Yusuf terdiam dan bersandar membanting punggung di sofa sampai akhirnya Bang Danar menghitamkan layar ponselnya karena foto tersebut tidak pantas untuk di lihat. "Lalu bagaimana ini??" Tanya Bang Jamal.


"Kamu tidak membawa istrimu sudah hal yang benar Danar, takut Nadine syok.. masalahnya dia sedang hamil muda" kata Wadanyon.


"Mohon ijin Komandan.. mohon maaf saya minta waktu bicara berdua dengan Anne..!!" Tanpa menunggu jawaban dari komandan, Om Yusuf menarik tangan Anne keluar.


Saat itu Niken lemas bersandar di bahu Bang Rey sedangkan tak di sangka, Amanda pingsan mengagetkan semua orang.


"Astagaaaa.. inilah yang aku takutkan kalau bumil dengar. Mau gila rasanya aku lihat istri pingsan" Bang Danar hanya bisa nggedumel kesal melihat kedua sahabatnya bingung dengan istri masing-masing.


Ponsel Bang Danar bergetar di dalam sakunya.


"Iya Man.. ada apa?" tanya Bang Danar mengangkat panggilan telepon dari ajudannya.. Lukman.

__ADS_1


"Ijin Dan.. Ibu minta bakso isi cabe tapi komandan yang makan. Ini sudah siap, hanya tinggal menunggu Komandan pulang. Ijin arahan"


"Ya Allah Man, kenapa kamu nggak konfirmasi dulu sama saya? Kalau saya makan semua bakso isi cabe.. Yo knalpot saya bisa moncoor Lukmaan..!! Pokoknya kamu harus bantu saya makan..!!!!!!!" Ucap Bang Danar tak mau tau.


"Kenapa Dan?" Tanya Wadanyon.


"Biasa lah Bang, Nadine ngidam lihat saya makan bakso isi cabe. Tadi sempat saya ajak makan mie ayam di warung tikungan. Mana saya tau dia punya ngidam manis seperti ini" Jawab Bang Danar. "Ini masalah belum selesai, masih harus urus bakso isi cabe" Bang Danar menepuk dahinya.


"Biar saja Dan, mending urus yang begini saja daripada kamu berurusan dengan Anne" sambar Danyon. "Sudah.. pulang sana..!! Kalau kamu diare saya kasih ijin khusus"


...


Nadine menyiapkan dua mangkok bakso di hadapan Bang Danar dan Om Lukman.


"Makan saja, jangan malu-malu" kata Nadine mempersilakan.


"Malu sih nggak dek, hanya cemas aja kalau perutnya pusing" jawab Bang Danar membujuk Nadine secara halus.


"Ijin ibu.. apa tidak ada pilihan lain. Merayap dari sini sampai ujung gang misalnya?" Tanya Om Lukman mencoba tawar menawar.


"Hmm gitu ya, tapi saya pengen lihat Om Lukman temani suami saya makan" jawab Nadine.


"M****s lu, makanya nggak usah lancang pakai tawar menawar. Mulut saya saja segan nawarnya" bisik Bang Danar.


"Oke deh ini Nadine tambahin, sepertinya baksonya kurang banyak. Biar kenyang deh bapak-bapak ini" tanpa rasa bersalah, Nadine menambah dua butir bakso pada mangkok Bang Danar dan Om Lukman.


"Ayo kita salaman dulu Man, barangkali setelah ini kita nggak saling sapa karena beda alam" Bang Danar menyodorkan tangannya.


"Ijin Dan, kalau saya lahir kembali.. saya pinjam pangkatnya untuk jungkir komandan di lapangan"


"Woooo.. semprul.." Bang Danar menusuk sebutir bakso dari mangkok Om Lukman lalu menjejalkan bakso pedas itu di mulut ajudannya. "Kita nggak usah saling sapa lah..!!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2