
Bang Danar mencium bahu Nadine lalu melepas seragam luarnya dan memakaikan di pundak Nadine untuk menutupi bahu sang istri. Ia pun kemudian duduk membuka kaki di belakang Nadine untuk melepas pernak pernik di rambutnya satu persatu lalu menyisirnya dengan lembut.
"Ini pertama kalinya Abang menyisir rambut perempuan" kata Bang Danar.
"Ita?"
"Dia terlalu mandiri untuk Abang manjakan, sudahlah.. jangan bahas dia kalau kita sudah bersama dan kamu jangan mencari cara untuk kita bertengkar..!!"
"Nadine hanya penasaran" jawab Nadine.
"Untuk apa? Nanti kalau sudah ada jawaban satu, kamu ingin tau hal lain, kamu cemburu dan akhirnya kita ribut"
"Nggak Baang..!!" Nadine semakin jengkel saja.
"Dek, Abang mikir kamu sama Giras aja sakit hati. Lalu kenapa sekarang kamu tanya mantan Abang? Yang sudah selesai ya sudah.. kita punya kehidupan baru. Sebentar lagi juga punya anak lagi. Jangan cari masalah to sayang, nggak baik.. Sebenarnya kamu kenapa? Kalau mau di sayang tuh bilang.. Jangan cari ribut..!!" Kata Bang Danar.
"Iya, Nadine pengen di sayang" ucap jujur Nadine.
"Naahh.. begitu khan enak. Kenapa harus cari perkara dulu" Bang Danar mengecup kening Nadine.
Di sisi lain ada sepasang mata yang melihatnya. Ada senyum pahit tapi juga terbersit kelegaan.
'Bahagia terus ya dek..!! Maaf dulu Abang menyiakan kamu'.
Bang Giras pergi ke tempat perjamuan makan dan mengambilkan Amanda makanan. Ia ingin segalanya baik-baik saja dan seutuhnya belajar mencintai Amanda.
:
Amanda, Nadine dan Niken duduk bersama.
"Ngidamnya Mbak Nadine parah, tapi aku suka" kata Niken.
"Aku nggak tau, pokoknya kebayang begini aja." Jawab Nadine. "Eehh.. besok sore buat acara tukar kado yuk. Ajak om-om biar ramai. Budget maksimal dua puluh lima ribu tapi harus bermanfaat. Nanti barangnya kita pakai.. bagaimana??"
"Boleh tuh mbak, aku suka. Suami kita juga jangan tau hadiahnya apa, begitu juga sebaliknya." Amanda pun antusias.
:
"Busyet.. acara apalagi nih? Tukar kado??" Protes Bang Rey.
"Trio cempluk mana bisa di pisah. Sudahlah Rey. Kau pasrah saja. Jangan banyak protes" kata Bang Giras yang juga mendesah resah.
"Naah itu, kau mau pertaruhkan service body?" Tanya Bang Danar.
"Ya nggak lah, enak saja" ucap sengit Bang Rey.
"Makanya pasrahkan semua pada yang di atas. Kita ini cuma Lettu. Mereka Kapten. Atasan mutlak, beraninya kau lawan, the end nasibmu" imbuh Bang Danar.
Ketiganya pun saling pandang kemudian beristighfar. "Astagfirullah hal adzim.."
"Baang.." sapa Nadine menghampiri Bang Danar.
"Apa cintaku?" Bang Danar mengusap perut Nadine.
"Nadine nggak suka makanannya." Kata Nadine.
"Terus si dedek minta apa?"
"Ubi rebus" jawab Nadine.
"Lahdalaah.. Abang pesan makanan biar kamu senang makan kok malah pilih ubi iki piye critane ndhuk?"
"Anak Abang nih pengennya ubi.."
"Cckk.. ada saja kamu dek..!!" Bang Danar celingukan mencari ajudannya tapi kali ini tak mungkin ia meminta tolong Om Lukman pasalnya ajudannya itu sedang menikmati jamuan makan bersama rekannya.
__ADS_1
Tak lama Praka Yusuf melintas di hadapan Bang Danar.
"Yusuf.. kesini sebentar..!!"
"Siap.. Ijin arahan Komandan?" Tanya Om Yusuf tak segarang sebelumnya. Sejak kejadian kemarin dirinya menutup diri, hanya saja karena undangan kali ini dirinya terpaksa harus mengikuti kegiatan.
"Tolong belikan saya ubi rebus di pasar ya. Ini uangnya..!!" Bang Danar menyerahkan dua lembar uang ratusan ribu.
"Siap..!!" Om Yusuf pun berlalu.
"Ijin Dan.. kenapa tidak saya saja yang pergi?" Tanya Om Lukman saat melihat sudah Om Yusuf sudah berlalu.
"Nggak apa-apa. Kamu makan saja. Badanmu hijau begitu nanti di sangka kamu orang kurang setengah ons" jawab Bang Danar. "Sudah kembali ke mejamu sana..!!"
"Siap..!!" Om Lukman pun berlalu.
:
Para anggota sedang menikmati santapan dengan bahagianya seakan lelah terbayar sudah. Makan gratis dan dapat uang rokok dari PasInt.
"Dulu waktu ibu Danar hamil Bang Rudra, kita semua harus lomba dayung di sungai belakang Batalyon. Sekarang kita harus jadi penjahat karena Ibu Danar ngidam jadi Nyi Roro kidul" kata seorang anggota.
"Benar katamu, ngidamnya Bu Danar membawa berkah buat kita. Semoga Bu Danar segera hamil lagi, biar kita kecipratan berkah"
"Aamiin..!!!!" Jawab anggota yang lain.
"Kalian tau sendiri, Pak Danar berubah total sejak menikah. Beliau memang masih kaku, tapi tidak segalak dulu lagi. Apalagi kau lihat, senyumnya itu selalu ada setiap dekat dengan ibu, yang paling parah Pak Danar jadi ratusan kali lebih overprotektif setiap istrinya hamil. Ranting jatuh buat istrinya mengaduh saja pohonnya seketika langsung di tebang. Kau lihat contohnya itu pohon mahoni di depan lapangan bola" kata Om Lukman.
"Tidak ada ibu, kita semua tidak selamat dari amukan PasInt. Aku baru sadari itu." sambar Om Totok.
"Kelemahan Pak Danar hanya pada istrinya. Tidak ada yang di takuti selain Tuhan yang paling utama. Selanjutnya Ibu Nadine." Om Lukman menggigit klepon hingga gulanya masuk ke mulut Om Totok.
"Duuuhh Lukmaaann..!!!"
"Maaf.. maaf" Om Lukman tertawa terpingkal akhirnya gula itu tertelan juga di kerongkongan Om Totok.
...
"Siap Komandan..!!"
...
Malam harinya Nadine melihat hasil syutingnya tadi sore. Memang sangat bagus hasil gambarnya. Bang Danar patut mendapatkan acungan jempol tapi raut wajah Nadine menunjukan ekspresi wajah yang berbeda.
"Ada yang salah?" Tanya Bang Danar.
"Kenapa Nadine kelihatan gendut ya?"
jdeeerrr..
'Drama apalagi ini Ya Allah' batin Bang Danar.
"Kamu sudah kecapekan dek, makanya sampai begitu. Tidur sana..!! Besok kalau sudah fresh baru lihat filmnya lagi. Minulnya Abang mah seksi bohay nggak ada lawan" bujuk Bang Danar kemudian mengecup bibir Nadine sekilas.
"Iya Bang, mungkin Nadine capek"
Bang Danar tersenyum menyelimuti Nadine sebatas dada kemudian mengusap punggungnya hingga Nadine benar-benar tertidur.
Satu menit, dua menit... Enam menit kemudian Nadine tertidur. Bang Danar segera mengambil laptop di samping istrinya.
"Harus cepat di edit nih. Kalau tau badannya semakin berisi nanti malah semakin rewel. Padahal wajar saja kalau ibu hamil jadi padat berisi. Dasar.. istriku memang limited edition" kata Bang Danar bergumam sendiri. Ia pun memilih keluar kamar dan memulai dengan cepat aksi mengeditnya sebelum Nadine terbangun.
//
"Kamu cari apa dek? Kenapa seisi lemari kamu bongkar?" Tanya Bang Giras.
__ADS_1
"Baju lah Mas, masa tiba-tiba baju di dalam lemari jadi mengecil?" Protes Amanda.
"Ya Tuhanku, yang salah bukan bajunya dek.. badanmu yang semakin melebar" jawab Bang Giras tanpa sadar. Ia belum benar memahami rasanya menghadapi bumil maha sensitif.
"Amanda gemuk??"
"Yaa.. maksud Mas nggak gemuk juga sih, tapi......."
Air mata Amanda menetes, Bang Giras pun kelabakan.
"Mas tidur di luar sama tiang kanopi..!! Tiangnya lurus juga langsing. Nggak seperti Manda yang sekarang gemuk." Manda mendorong lengan Bang Giras yang akhirnya sampai keluar kamar.
"Dek, Maksud Mas nggak begitu" bujuk Bang Giras.
"Nih sarungnya mas..!!" Amanda melempar sarung Bang Giras di luar.
"Hahahaha.. di usir lu???" Bang Danar yang sejak tadi mengedit video Nadine di teras jadi tertawa terbahak.
"Baju Manda yang sempit, aku yang di salahkan" kata Bang Giras kesal.
"Abang tidur di luar saja. Di aspal lebih luas, Niken memang sudah gemuk. Abang jangan tidur di kasur lagi..!!" Tiba-tiba terdengar keributan dari rumah Bang Rey. Terlihat Niken sedang marah.
"Astaga dek, maksud Abang bukan begitu..!!" Bang Rey kebingungan karena Niken sudah melempar bantal dan sarung keluar pintu.
"Hahahaha.." tawa Bang Danar dan Bang Giras terdengar nyaring di telinga. "Rasain lu, gabung sini..!!" Ajak Bang Danar.
"Muke gile.. aku cuma bilang 'geser dek, Abang sempit nih tidurnya'. Eehh.. ngambek dia" ucap Bang Rey bertekanan tinggi.
"Wkwkwkwk.. melas sekali kalian. Aku masih untung bisa mengelabui Nadine. Video ini..........."
Belum sempat Bang Danar menjelaskan, Nadine sudah berdiri di belakang pintu tepat di belakang punggung Bang Danar.
"Abang mau edit videonya karena Nadine gemuk??" wajah Nadine mendung.
"Ng_gak dek.. bukan, tiba-tiba saja Bang Danar menjadi gugup.
"Abang tidur di luar saja. Nadine memang sudah nggak menarik lagi" Nadine mengambil barang Bang Danar dan memberinya uang lima ribu rupiah.
"Oke.. oke.. jangan nangis ya.. Abang tidur di luar, tapi uang ini untuk apa sayang?"
"Beli obat nyamuk, Nadine nggak mau Abang di gigit nyamuk perempuan" kata Nadine.
"Kalau nggak mau Abang di gigit nyamuk perempuan ya Abang tidur di dalam donk dek"
"Nggak, karena kumis tipis Abang nggak ada. Abang pengen buat Nadine mabuk karena nggak liat kumis, kalau Nadine mabuk, Abang bisa bebas lirik perempuan lain" Cerosos Nadine.
Bang Danar menepak dahinya. "Owalaah.. kenapa tadi aku sampai lupa, malah cukur kumis. Kumis aja jadi masalah. Abang nggak bakalan ngelirik perempuan lain"
"Bohong.. tadi kenapa Abang kedip mata sama Natasya?? Abang bilang Natasya secantik Nadine khan?"
"Ya Allah Tuhan, suwe-suwe aku migrain" gumam Bang Danar mengurut dada.
"Eehh Danar, Natasya iku sopo?" Tegur Bang Rey.
"Kucingnya Bang Jamal..!!" Jawab Bang Giras.
"Oohh.. hajar dia dek, suruh tidur di barak. Kucing Bang Jamal gemuk lho" kata Bang Rey memanasi Nadine agar mereka bertiga senasib seperjuangan.
"Setan tenan kowe Rey.." umpat kesal Bang Danar.
.
.
.
__ADS_1
.