Elang Timur

Elang Timur
43. Menyimpan rasa yang terdalam.


__ADS_3

Pohon cokelat pesanan Bang Danar sudah tiba di Batalyon. Para anggota membantu Bang Danar menurunkan pohon cokelat di sudut kebun sayur.


Disana Nadine sudah menunggu karena Bang Danar memintanya untuk menunggu di Batalyon.


Mata Nadine terbelalak melihat Bang Danar mengabulkan segala inginnya. Ia melangkahkan kakinya dan mendekati ketiga pohon tersebut.


Di pohon pertama, melingkar sebuah pita bertuliskan :


'UNTUK ISTRIKU YANG SEDANG MENGIDAM BUAH COKELAT'


Tersemat rapi pada secarik kertas di masing-masing pita yang melingkar.


Demi kamu.. sang pujaan hati yang tengah membawa jati diriku, susah payah Mas Danar mencari buah cokelat ini demi dirimu.. demi dia yang ada di rahim mu.


Di pohon kedua, melingkar sebuah pita bertuliskan :


'UNTUK ISTRIKU YANG SEDANG MENGGODA IMANKU'


Hanya kamu.. satu-satunya wanita yang membuat Mas Danar kocar-kacir memikirkan dirimu. Aku ikhlas.. demi kamu dan si buah hati.


Di pohon ketiga, melingkar sebuah pita bertuliskan :


'UNTUK ISTRIKU YANG SEDANG MENJAGA MALAIKAT KECIL'


Selama jantung ini masih berdetak, nafas ini masih terhela dan nyawa ini masih ada.. Nadine di dada, Rudra Pasha di jiwa. Dia adalah nyawa keluarga adalah surga.


Nadine menutup mulut yang ternganga dengan kedua tangan karena tak menyangka suaminya sampai melakukan semua ini untuk dirinya.


Masih belum hilang rasa terkejutnya, Bang Rey dan Bang Giras membentangkan pita besar.


'SEMOGA SELALU SEHAT ISTRI KESAYANGAN MAS DANAR'


Sebenarnya Bang Giras masih sedikit malas apalagi merasa tingkah Bang Danar sangat konyol. Urusannya dengan Nena hanya memakan waktu kurang lebih satu jam saja namun urusan membahagiakan Nadine memakan waktu hingga tiga jam lebih.


Ada sedikit rasa tidak nyaman pasalnya littingnya itu begitu memanjakan Nadine sedangkan dirinya menyadari dulu belum sempat memanjakan Nadine.


Yang lebih membuat perasaannya panas terbakar adalah kata 'Mas' yang biasa Nadine pakai hanya untuk dirinya kini justru Bang Danar juga memakainya, entah ini sebuah sindiran atau hanya perasaannya saja yang terlalu sensitif karena sedang tertimpa banyak masalah.

__ADS_1


Disana Nadine tidak bisa menyembunyikan rasa harunya, ia berlari memeluk Bang Danar. "Terima kasih banyak Bang, Nadine senang sekali."


"Sama-sama, kamu dan Rudra adalah harta yang paling berharga. Juga si kecil kita" Jawab Bang Danar. "Sudah, sekarang cepat panen cokelatnya. Selamat bersenang-senang sayang..!!"


:


Nadine senang sekali bisa panen cokelat. Rasanya begitu puas dan tidak penasaran lagi.


Di samping gedung bengkel truk yang tidak jauh dari kebun, tak hentinya mata Bang Danar mengawasi sang istri.


"Nadine senang sekali Dan" kata Bang Rey yang ikut menemani Bang Rey.


Bang Danar hanya tersenyum sembari menghembuskan asap rokok. "Biarkan dia bersenang-senang dan menikmati masa kehamilannya" senyum Bang Danar menguraikan bahwa dirinya pun sangat bahagia jika melihat sang istri bahagia.


Bang Rey pun ikut melebarkan garis senyumnya. "Terima kasih banyak, kamu sudah memanjakan dan menyayangi adikku sampai seperti ini. Terus terang Abangnya ini selalu mencemaskan keadaannya"


"Kau tidak percaya padaku?"


"Percaya.. tapi sebagai Abangnya, aku tetap mencemaskan adik kecilku. Dia yang ku jaga sejak kecil, ku sayangi dan ku manjakan.. hingga dia bisa menjadi istrimu. Aku sempat down dan hancur saat adik ku berpisah dengan Giras."


"Biarkan semua menjadi masa lalu. Aku tidak akan mengkhianati ataupun menyiksa fisik dan mental istriku. Tidak perlu aku dengar rasa terima kasih mu. Aku mencintai Nadine dan Rudra bukan untuk ucapan terima kasih. Aku tulus menyayangi mereka" jawab Bang Danar tegas dan lugas.


"Kenapa sayang??" Tak menunggu waktu lama, Bang Danar segera berdiri dan menghampiri sang istri yang tengah kerepotan mengatur banyaknya buah cokelat di tangan. "Sudah selesai panennya? Mau bagaimana lagi ini?" Bang Danar membuka karung beras berukuran sedang agar Nadine bisa menyimpan hasil panennya di dalam karung.


"Mau Nadine bawa pulang, mau buat kue cokelat" jawab Nadine.


"Mau tahun apa kamu buat kue cokelat. Ini saja harus di proses biar jadi pasta cokelat yang enak" kata Bang Danar.


"Masa sih Bang??" Tanya Nadine tidak percaya begitu saja.


"Naah ini nih, di pelajaran sekolah khan ada pelajaran seperti ini. Kamu sih, sekolah hanya sampai pintu gerbang" ledek Bang Danar.


"Nadine selalu juara satu lho Bang" jawab Nadine menyombongkan diri.


"Jelas, gurunya sungkan sama bapakmu" kata Bang Danar sembari berjongkok memungut beberapa buah cokelat yang jatuh ke tanah.


//

__ADS_1


Bang Giras bersandar di sofa rumahnya. Ia merasakan tubuhnya lelah tak bertenaga. Entah karena memang tubuhnya yang lelah ataukah perasaannya karena banyaknya beban pikiran yang ia rasakan.


"Manda pijat ya Mas"


"Nggak usah dek, Abang nggak apa-apa" tolak Bang Giras.


Bang Giras merasa nada bicaranya masih wajar saja tapi Amanda merasa beberapa waktu ini suaminya selalu bersikap kasar padanya.


Amanda ikut duduk bersama Bang Giras dan bersandar di bahunya tapi Bang Giras pun sedikit mendorong Amanda. "Nanti dulu lah dek. Mas capek sekali." Tolak Bang Giras.


Hati Amanda terasa begitu sakit, ia tak tau apa kesalahannya sampai Bang Giras berubah manjadi sangat dingin padanya seperti ini.


"Kalau Manda salah, tolong bilang dimana letak salah Manda.. biar Manda bisa perbaiki hal apa saja yang Mas Gi nggak suka" kata Manda.


"Lebih baik kamu ke kamar dek. Mas lagi pengen sendiri, capek.. nggak ada waktu untuk menanggapi rengekanmu yang mendayu-dayu" jawab Bang Giras. Matanya terpejam memikirkan bagaimana caranya bisa menyelesaikan masalah dengan Nena. Tak di pungkiri hatinya sedikit terganggu melihat romantisme Danar dan Nadine. Bukannya iri hati yang ia rasakan, tapi beribu penyesalan tidak bisa membahagiakan Nadine seperti apa yang Danar lakukan untuk membahagiakan Nadine.


Mendengar ucapan itu, air mata Amanda meleleh. Istri Giras itu segera pergi ke kamar setengah berlari dan Bang Giras cukup mencemaskan hal itu. "Pelan-pelan dek.. gimana sih kamu..!!" Tegurnya pada Amanda.


'Apa aku terlalu keras pada Amanda, belakangan ini dia lebih banyak menangis, tidak seperti biasanya.'


Hati Bang Giras pun tergerak, tak sampai hati melihat tangis sang istri. Ia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar dan disana ia melihat Amanda sudah tertelungkup dan menangis dengan suara yang tertahan bantal.


Bang Giras membelai rambut Amanda dengan sayang. "Dek.. Mas Gi minta maaf"


Amanda menepis tangan Bang Giras dengan kesal.


Bang Giras membalik tubuh Amanda agar mereka bisa saling berhadapan. "Mas tau.. Mas salah. Tapi sungguh Mas Gi tidak sadar bicara sekasar itu sama kamu. Pekerjaan Mas di kantor sangat banyak dan menuntut harus segera di selesaikan. Maaf ya sayang..!!" Dengan lembut Bang Giras tetap berusaha membujuk Amanda.


"Mas Gi jahat" kata Amanda masih tidak terima dengan sikap kasar Bang Giras.


"Iyaa Mas jahat. Maaf ya..!!" Bang Giras mengecup kening Amanda. "Nengokin si kecil yuk.. Mas kangen..!!" Bujuknya meskipun sebenarnya dalam hati Bang Giras tak begitu bersemangat melakukannya karena banyaknya beban batin yang ia rasakan, tapi dirinya masih punya kewajiban untuk memberi Amanda kesenangan dan ketenangan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2