Elang Timur

Elang Timur
38. Masih marah.


__ADS_3

Nara menulis bagi yang tidak bosan membaca tokoh dan kisah Nara. Terima kasih..!!.


.


.


"Aduuhh kakiku..!!!" Bang Danar memercing nyeri. Ia menatap hantu yang tawa riangnya begitu ia kenal. "Dek.. kamu kerjain Abang????" Tanya Bang Danar.


"Salah sendiri Abang buat Nadine kesal" jawab Nadine.


"Darimana kamu dapat rambut gimbal itu????" Bang Danar masih memercing kesakitan merasakan sakit kakinya tidak seperti biasanya.


"Tadinya semua ini di pakai Om Lukman, tapi Nadine minta. Nadine mau balas dendam sama Abang" kata Nadine.


"Ya wes balas dendam mu berhasil. Sekarang tolong panggilkan Rey sama Giras. Kaki Abang keseleo dek..!!" Pinta Bang Danar


"Iya Bang..!!" Nadine segera berlari meninggalkan Bang Danar.


"Jangan lari minuuull..!!!!!!!" Teriak Bang Danar mengingatkan Nadine yang berlari kencang.


~


"Astagfirullah....!!!!!!" Pekik Bang Rey melihat ada sundel bolong di depan rumahnya.


"Bang, jangan melotot saja.. bantuin Nadine donk.. Bang Danar sakit. Kakinya keseleo.


"Mana Lukman??? Abang khan suruh dia kerjain Danar" tanya Bang Rey.


"Pingsan di depan rumah waktu lihat Nadine keluar tadi." Jawab Nadine.


"Gimana nggak pingsan, sundel bolong yang asli aja kalah seram sama kamu dek" pekik Bang Rey jengkel.


:


Bang Giras tak bisa menahan tawa meskipun ada rasa kaget dan seram. Ia membantu Bang Rey memapah Bang Danar ke dalam ruang tengah.


"Lukman.. bangun Man, sundel bolong nya sudah pergi" kata Bang Giras membangunkan Om Lukman.


Mendengar suara itu mata Om Lukman mengerjap tapi sesaat kemudian ia melihat bayang sundel bolong itu lagi. "Gusti betari kala, mboten pareng nggudo kulo, Kulo niki putune Adam." Ucapnya dengan gugup.


"Hahahaha.. lihat baik-baik Lukman, itu Bu Danar.. lihat baik-baik donk" Bang Rey pun tak bisa menahan tawanya.


Om Lukman memperhatikan sosok di hadapannya. Ada sisa paras wajah cantik di balik rias yang amat sangat mengerikan. "Ya Allah Bu Danar, saya kaget Bu"


"Om Lukman ini. Masa sebegitu takutnya lihat saya? Kalian juga sama saja" tegur Nadine sudah setengah ngambek.


"Siap salah..!!!!!" Ucap keempat pria tersebut secara bersamaan.

__ADS_1


***


Esok harinya Bang Danar memaksa masuk kerja meskipun langkah kakinya harus tertatih karena terkilir, kakinya pun mulai bengkak dan membiru.


"Aduuuhh lara Giii..!!" Bang Danar sampai mengepal tangan menggeliat tak karuan saat Bang Giras membantu melepas sepatu PDL nya.


"Mau ku pijat.. semalam kamu tolak. Sekarang semakin bengkak tuh Dan" kata Bang Giras melihat kaki Bang Danar.


"Kamu khan tau aku nggak kuat di pijat."


"Tapi kalau di pijat Nadine kuat khan?


Ledek Bang Giras.


"Kalau itu mah lain cerita Gi. Pijatan Nadine nggak begitu terasa, hanya geli doank meraba kulit. Urat bukannya sembuh malah jadi tegak lurus" Jawab Bang Danar.


"Hahaha.. setan kowe Dan" Bang Giras terkikik mendengarnya.


Bukan tanpa alasan Bang Danar mengatakannya. Ia ingin menegaskan kepemilikan nya pada Bang Giras agar pria itu mengerti untuk tidak menyimpan sisa rasa pada istrinya.


"Sini kakimu.. betis model batang mahoni saja pakai acara bengkak, cemen lu" Bang Giras pun memahami maksud dari sahabatnya itu yang kemungkinan masih sedikit menyimpan rasa cemburu karena sebenarnya dalam hal perasaan, pria juga memiliki kepekaan.


~


"Aaaaaaahh sakiiit Giiii..!!" Bang Danar berteriak tak karuan, tapi harus ia akui memang bengkak di kakinya berkurang dan urat yang sempat terkilir pun sudah mereda.


Bang Danar meneguk air minum pemberian Bang Rey. Nafasnya pun berangsur lega.


"Mau ku bawakan penyangga?" Tanya Bang Giras.


"Nggak, aku langsung belajar jalan saja. Kalau di sangga segala kakiku manja" jawab Bang Danar kemudian berdiri dan mulai melangkah. Bang Giras pun ikut berdiri mengawasi sahabatnya itu.


Baru melangkah, kaki Bang Danar rasanya tidak kuat dan ia pun ambruk tapi Bang Giras menyangganya. Mata keduanya juga saling menatap.


"Piye Dan? Nganggo penyangga wae ya..!!" Bang Giras cukup mencemaskan sahabatnya itu.


"Eheemm.." Om Lukman berdehem membawa senyumnya yang terasa aneh untuk dirasakan. Entah sejak kapan pria itu berdiri di antara ketiga perwira.


"Kenapa kamu senyum nggak jelas begitu?" Tegur Bang Danar.


"Siap tidak Komandan..!! Ini perban krep yang di minta..!!" Om Lukman menyerahkan perban krep tersebut pada Bang Giras.


"Waaahh nggak beres nih. Kamu mikir macam-macam ya?? Saya ini nggak ada hubungan apa-apa sama Giras kecuali murni pertemanan saja" kata Bang Danar jengkel.


Tapi kemudian Bang Giras mencegah ucap Bang Danar. "Dan.. Rey.. sudahlah kita akui saja kalau kita memang punya hubungan."


Bang Danar dan Bang Rey saling pandang tapi sesaat kemudian mereka paham maksud Bang Giras.

__ADS_1


Bang Danar mengulurkan tangan pada Bang Rey dan Bang Rey menyambutnya dengan senyum. "Kalau kita ajak Lukman, kamu marah nggak?" Tanya Bang Danar menatap mata Bang Rey penuh cinta.


"Ya sudah nggak apa-apa. Asalkan kamu masih cinta sama aku." Jawab Bang Rey.


Om Lukman sungguh kaget sampai mundur beberapa langkah tapi Bang Giras meraih tangannya. "Sini ganteng, kamu nggak akan nyesel gabung sama kita"


Bang Danar pun ikut berkedip nakal.


"Iihh.. Astagfirullah.. saya laki-laki normal Dan..!!" Jawab Om Lukman dengan susah payah melepas cengkeraman tangan Bang Giras.


"Abaaaaang..!!!!!!!!!!!!" Tak di sangka Nadine sudah berdiri bersama Niken dan Amanda tak jauh disana.


Seketika Bang Giras melepaskan genggaman tangannya, ekspresi wajah Bang Danar berubah dan Bang Rey menunduk cemas.


"Sejak kapan kalian punya hubungan?" Tanya Niken.


"Manda nggak nyangka Mas Gi juga suka sama laki-laki" imbuh Amanda dengan sedihnya.


"Nadine sedih Abang seperti ini? Apa Nadine sebagai istri Abang tidak cukup menyenangkan Abang???" Nadine pun tak kalah sedihnya dari Amanda.


:


"Ini gara-gara kamu Gi, kalau kamu nggak bertingkah.. istri kita nggak bakalan marah." Protes Bang Danar.


"Eehh cucuk ayam.. kamu yang melanjutkan omonganku. Kenapa sekarang kamu jadi menyalahkan ku??? Kau juga Rey, bisa-bisanya kau ikut marah"


"Terus bagaimana ini? Bumil ngambek??" Tanya Bang Danar.


"Kau pikir bumilku nggak ngambek??? Ranjau sudah di tebar dimana-mana kalau bumil ngambek." Jawab Bang Giras.


"Aseemm.. selesailah sudah"


Ketiga pria hanya bisa menggaruk kepala sedangkan Om Lukman tersenyum simpul karena dirinya satu-satunya makhluk yang terbebas dari prahara rumah tangga.


"Kenapa senyum?? Push up kamu..!!" Perintah Bang Giras melihat Om Lukman tersenyum.


"Guling botol sampai ujung lapangan..!!" Perintah Bang Rey.


"Sikap tobat..!!" Imbuh Bang Danar sembari menghisap rokoknya lalu membuangnya kasar.


"Siap komandan..!!!!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2