Elang Timur

Elang Timur
23. Tidak sengaja.


__ADS_3

"Lama sekali Bang, ini juga kenapa jadi remuk?"


"Aahh sudahlah.. yang penting Abang sudah beli. Ayo cepat..!!" Bang Danar terlihat gelisah dan terburu-buru melepas pakaiannya.


"Sabar Bang.."


"Apa lagi??"


"Ya masa langsung saja. Nadine belum apa-apa" protes Nadine.


Bang Danar tersenyum mendengarnya, ternyata kali ini Nadine sudah lebih berani mengungkapkan inginnya padanya. "Oohh Bu Danar minta di senangkan macam apa?"


"Seperti tadi??"


Bang Danar mendekati Nadine, ia mengapit pinggangnya kemudian mengecup sekilas bibir manis Nadine. "Yang mana? Sedikit lembut atau butuh di paksa?"


Wajah Nadine memerah malu-malu. Ia berjinjit mendekat ke telinga Bang Danar. "Di paksa..!!"


"Siap.. sesuai perintah..!!"


***


Bang Danar terhuyung, rasanya sangat lelah dan mengantuk. Bang Giras yang melihatnya hanya tersenyum saja. "Capek bro?"


Hanya anggukan kepala Bang Danar membalasnya. Mengarahkan kurve hari ini pun rasanya tidak mampu. Tempurung lututnya terasa hilang, punggungnya mau patah, apalagi bagian tubuhnya terasa panas usai menikmati malam pertama yang panjang.


"Patah tulang, kau handle sementara ya tugasku. Beri aku waktu setengah jam saja untuk istirahat di pos. Aku nggak kuat Gi.. capek banget kurvenya"


Bang Giras tertawa, pasalnya berusaha seperti apapun.. sahabatnya itu tidak akan bisa membohongi dirinya yang sudah lebih dulu mengalaminya.


Belum sampai Bang Danar pindah di kamar pos, littingnya itu sudah tertidur, mengorok tak peduli keadaan sekitar.


Tak lama ada sebuah motor dengan kecepatan tinggi datang ke arah pos dan parahnya.. mengarah pada Bang Giras yang sedang duduk di depan pos.


"Heeeehh.. rem..!!!!!" teriak Bang Giras tapi tidak di indahkan wanita itu dan malah sibuk berteriak juga.


braaakk.. bruuuugghh..


"Aaawwhh.. Innailaihi" Bang Giras merasakan sakit akibat tertabrak motor.


"Alhamdulillah nggak sakit..!!" kata gadis itu.


"Kamu menimpa saya bodooh..!!!!!"


plaaakk..


"Jangan kurang ajar ya.. saya nggak bodoh..!!!" bentak perempuan itu.


"Ya Allah Mbak Manda.. Heeh kamu kenapa buat Mbak Manda kecelakaan??" tegur seorang Pratu pada Bang Giras yang saat itu sedang tidak memakai seragamnya. karena sedang kurve lapangan. "Ini lagi, bukannya jaga malah molor..!!"


"Kamu itu siapa?" Bang Giras balik bertanya.


Kemudian rombongan wakil panglima berhenti di tengah jalan dan berjalan masuk ke area batalyon.


"Manda.. Papa khan sudah bilang jangan kendarai motor, sepeda pancal saja kamu nggak bisa" gerutu wakil panglima.


Bang Giras menegakan punggung memberi hormat bersama anggota lain kecuali Bang Danar yang sudah KO kalah perang.


"Manda bisa kok Pa, Om ini saja yang nggak mau menyingkir" kata Manda.

__ADS_1


Mata Bang Giras melotot mendengar fitnah keji dari perempuan yang sama sekali tidak di kenalnya.


"Bagaimana kalau Om ini aja yang bantu Manda untuk cari bahan laporan."


Sekali lagi mata Bang Giras membulat dan di sana wakil panglima mengamati wajah Bang Giras baik-baik.


"Ini putranya Huda khan?" tanya wakil panglima.


"Siap..!!!!"


"Waahh.. ayo ngopi sebentar..!!" wakil panglima mengapit lengan Bang Giras dan mengajak ke kantin batalyon.


"Perintahkan adikmu ini untuk push up, ajari dia untuk tidak arogan pada siapapun..!!" perintah Bang Giras pada seorang anggota pos berpangkat Praka.


"Siap Dan..!!!"


...


"Oohh.. itu tadi Danar. Ya sudah biar saja. Kita prajurit hanya bisa korupsi waktu apalagi hanya untuk sekedar melepas lelah. Oya ngomong-ngomong saya titip Manda. Dia ada tugas akhir kampus."


"Ijin.. Bukannya Manda masih muda Dan..!!"


"Iya, mahasiswa termuda lulusan pariwisata. Makanya dia butuh banyak spot foto untuk bahan laporan. Saya titip ya..!!" pinta wakil Panglima.


"Siap Dan..!!"


...


Bang Danar baru membuka matanya dua jam kemudian, nyawanya belum genap saat melihat banyaknya mobil dan rombongan di area batalyon.


"Ada apa ini??"


"Sudah sadar Dan?" tegur wakil panglima.


"Buka matamu Danar. Itu wakil Panglima..!!" kata Bang Jamal.


"Siaap salah Dan..!!!!" ucapnya.


"Haduuuh le, bangun dulu. wajahmu masih penuh aura negatif" kata wakil panglima.


"Siaaapp..!!"


...


Bang Giras merasa malas menemani gadis yang sejak tadi bicara tanpa henti gadis berusia hampir dua puluh tahun sama seperti Nadine.


"Kalau di sana bagus nggak Om??" tanya Manda.


"Bagus" jawab Bang Giras.


"Tapi kalau mau foto rumah makan yang itu, spot nya nggak bagus.. banyak daun kering"


Kesabaran Bang Giras nyaris habis. ini sudah kali ke delapan Manda bertanya tapi meralat ucapannya sendiri.


"Terserah kamu saja lah, kau foto bibirmu yang banyak bicara itu sebagai bahan laporan juga bagus" kata Bang Giras mulai jengah.


"Manda bilang Papa nih..!!"


"Eeehh.. iyaa.. iyaaa.. dasar tukang ngadu" ejek Bang Giras. "Entah Mamanya dulu ngidam apa sampai punya anak secerewet ini, lagipula siapa laki-laki gila yang mau menikahi gadis dengan tingkah absurd sepertimu..!!"

__ADS_1


Mendengar kata-kata itu, wajah Manda berubah mendung. "Manda mau ke cafe..!!"


...


"Mandaaa.. sudah.. kamu ini kenapa?? Kamu sudah mabuk berat..!!" Bang Giras cemas melihat Manda sudah mabuk berat apalagi racaunya sudah tidak terkendali. "Aduuuhh.. aku nggak mungkin membawanya ke asrama. Bisa gempar ada anak wakil panglima.


"Aku mau nikah sama kamu Bang" lagi-lagi Manda meracau tak jelas.


...


"Mamaku sudah nggak ada, pacarku nikah sama perempuan lain..!!!" Isak tangis Manda di kamar hotel. "Apa Manda seburuk itu?? Manda juga punya perasaan..!!"


Bang Giras sungguh tak tau jika Manda sudah tidak lagi memiliki seorang ibu dan gadis itu baru saja mengalami putus cinta.


"Mandaa.. kamu harus kuat menjalani hidup ini. Kamu masih muda, jalan hidupmu masih panjang." kata Bang Giras, ia pun akhirnya kembali mengingat kepahitan dalam hidupnya saat Nadine sudah terlepas dan pergi dari hidupnya.


"Ayo kita mabuk..!! Lupakan semuanya..!!" ajak Manda sambil menyodorkan segelas minuman haram pada Bang Giras.


Sesungguhnya ada rasa rindu Bang Giras untuk Nadine. Lama sekali dirinya tidak mendekap hangat tubuh wanita. Berharap dapat mengalihkan rasa rindunya, ia mengambil gelas dari tangan Manda dan menegaknya.


~


Manda bersandar di bahu Bang Giras. Mereka berdua saling mengoceh tak jelas mengungkap kepahitan hati masing-masing.


"Mas merindukanmu dek. Rindu yang tidak akan pernah menjadi milikku lagi." ucap Bang Giras dalam sesak batinnya.


Amanda mendongak menatap nanar wajah Bang Giras. "Kamu rindu siapa? Manda juga rindu dia" bisiknya di sela leher Bang Giras.


Bang Giras mengecup kening Manda kemudian menyusuri hidung hingga sampai ke bibirnya. Tangan Bang Giras meraba sesuatu yang sangat di rindukannya. "Apa kamu nggak rindu Mas Gi?" ucapnya balas berbisik.


"Rindu Mas, rindu sekali" jawab Manda kemudian mengikuti arah tangan Bang Giras.


Bang Giras melucuti pakaian Manda kemudian pakaiannya sendiri. "Mas Gi sayang kamu Nadine. Rindu sekali sama kamu" ucapnya meneteskan air mata.


Manda mengangguk, ia membalas ciuman hangat Bang Giras sampai menahan pekikan saat Bang Giras menindih tubuhnya. Ia pun menangis saat Bang Giras menekan tubuhnya.


***


Waktu belum sampai subuh saat Bang Giras menggeliat terbangun dari tidurnya. Tangannya terasa pegal, ia pun merasa lelah. Saat ia menoleh ke arah tangannya.. ada seorang wanita tengah memeluknya, tanpa sehelai benangpun. Matanya melotot.. ia pun melihat keadaan dirinya yang juga polos sampai kepala gadis itu terbanting. "Astagfirullah.. apa yang aku lakukan semalam?????? Ampuni aku Tuhan..!!!!!" jantung Bang Giras seakan mau lepas melihat bercak noda di ranjang. "Bodohnya aku Ya Allah..!!" Bang Giras menepak dahinya sembari menutup tubuh Manda dengan selimut.


"Ada apa??" tanya Manda juga baru tersadar dari tidurnya. "Hwaaaaa.." Manda terpekik karena tidak sengaja melihat aset berharga seorang Giras yang tengah menegang sempurna karena hari masih pagi.


Menyadari hal itu, Bang Giras segera menutupnya dengan selimut yang sama. "Jangan teriak dek, jangan panik..!!" pinta Bang Giras yang tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya.


"Manda bisa di hajar Papa..!!" kata Manda cemas kemudian menangis.


"Sudah dek.. jangan nangis. Sudah kejadian seperti ini mau bagaimana lagi. Mas Gi salah.. Mas minta maaf"


Manda menunduk dan menangis sejadinya. "Apa kata orang, Manda sudah mempermalukan Papa"


"Iya dek.. Mas tau..!!"


"Lupakan kejadian ini..!! Anggap tidak pernah ada dan kita tidak saling kenal..!!" kata Manda kemudian menarik satu lapis sprei dan menutup tubuhnya mengambil pakaian yang tercecer untuk di bawa ke kamar mandi.


"Astagfirullah.. kenapa aku tidak bisa mengontrol diri sampai ada masalah seperti ini" gumam Bang Giras, tapi pikirannya itu samar mengingat sesuatu. "Kenapa wajahmu sekilas mirip Mamanya Rudra?" batin Bang Giras.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2