
Dentuman music dan gendang memeriahkan lapangan di hari yang sudah merangkak siang.
Danyon meminta seluruh anggota untuk turun ke lapangan tak terkecuali para perwira.
"Ini.. jangan lupa nyawer..!!" kata Danyon membagikan segepok uang pada perwira.
"Anggota khan sudah Bang" kata Bang Danar.
"Perwira juga. Ini nominalnya lebih besar" Danyon terburu-buru mengambil gepok uang itu dari dalam tasnya. Tumpukan lembar uang berwarna hijau.
Mau tidak mau Bang Danar pasrah mengambilnya.
"Jangan lupa godain penyanyi nya ya Nar..!!" pesan Danyon.
"Waduuh Bang, saya nggak mau cari penyakit sama istri. Nadine sedang sensitif sekali belakangan ini" jawab Bang Danar.
"Alaaahh.. ini hanya pura-pura" Danyon segera pergi dan bergabung dengan para petinggi.
:
Bang Danar mulai berlenggak lenggok mengikuti irama.
"Maaf ya mbak, jangan terlalu semangat... istri saya ada di bawah" pinta Bang Danar masih menjaga Nadine, matanya sudah melirik Nadine yang sedari tadi mengawasinya dengan sorot mata membunuh.
Melihat tatap mata Nadine.. perutnya seakan di aduk kuat. Tak tau bagaimana awalnya, setiap Nadine marah padanya.. rasa mual selalu menyerangnya tanpa ampun.
Tanpa di duga penyanyi tersebut mengalungkan sehelai kain, Bang Danar pun bingung di buatnya. Ekor mata elang Bang Danar sudah melirik Bang Giras yang sudah agresif nakal menggoda sesuai perintah Danyon bersama anggota perwira lain, hanya dirinya yang masih terpaku hingga akhirnya salah seorang teman penyanyi itu meliuk semakin menggodanya karena dirinya tidak kunjung bereaksi. Refleks Bang Danar menarik senyumnya.
"Ayo Om.. lanjut goyangnya. Masa nggak bisa goyang Wina" tegur gadis itu.
"Bisa donk.. Mau di goyang bagaimana nih?" terdengar jawaban nakal Bang Danar karena mic kecil masih terpajang di kerah seragamnya dan celakanya Bang Danar melupakan hal itu.
Sorak sorai para anggota membahana menanggapi ucap nakal perwira Intel tersebut tapi tidak dengan Nadine yang meradang hingga ubun-ubunnya berasap.
Di atas sana Bang Danar masih sempat menggoda dan memainkan uang tersebut hingga penyanyi itu melompat-lompat menggapainya karena memang Bang Danar lumayan berpostur tinggi dan gagah.
"Jangan lah Om.. mana uangnya.. goyang saja yuk..!!" ajak penyanyi wanita itu bernada genit.
Danyon Jamal yang tadinya tertawa terbahak kini mengatupkan bibirnya melihat ekspresi wajah istri perwira Intel yang tidak bisa menerima candaan dari sebuah panggung hiburan, candaan yang sangat biasa di kalangan prajurit namun tidak biasa bagi Nadine yang hatinya selembut tepung.
deg..
Detak jantung Bang Danar terasa terhantam. Desir denyutnya tiba-tiba membuat perutnya mual, kepalanya terasa pusing dan pandangannya mulai kabur.
'Kenapa ini ya?' Bang Danar membatin.
Wina memegangi Bang Danar karena merasa pria tersebut memucat dan melemah. "Om Danar nggak apa-apa?" tanyanya.
Berusaha menyeimbangkan tubuhnya, Bang Danar malah tidak sengaja memeluk Wina, tapi ia berusaha kuat mengontrol tubuhnya dan menghindari Wina. "Iya, saya nggak apa-apa Wina" jawab Bang Danar.
Semakin kuat sorakan para anggota dan membuat hati Nadine semakin sakit, sedihnya sudah memuncak.
"Allahu Akbar.. lara tenan iki..!!" Bang Danar meremas perutnya yang terasa luar biasa mual.
"Heehh Danar.. kenapa kamu??" tegur Bang Giras.
Baru tangan itu berusaha untuk menggapai, tapi tubuh Bang Danar lemas dan lunglai meluncur dari atas panggung hingga ke tanah.
__ADS_1
bruugghh..
Suaranya begitu keras hingga Bang Giras ikut melompat cemas melihat keadaan littingnya itu. "Tolong bagian kesehatan lapangan donk..!! Cepat ya..!!!" pinta Bang Giras panik. "Dan.. Kamu kenapa bisa pingsan begini sih??" tangan Bang Giras sampai menampar pelan pipi Bang Danar hingga perlahan mata Bang Danar mengerjab terbuka tapi siapa sangka saat matanya terbuka, Nadine melayangkan tonjokan tepat di wajah dan menambahnya di bagian perut dengan kuat.
"Hhhggghhhh.." Bang Danar memercing hingga akhirnya pingsan dengan sempurna.
:
Bang Danar mual dan muntah hebat hingga pihak kesehatan lapangan harus memasang infus agar perwira Intel tersebut tidak dehidrasi.
"Kamu kenapa hajar suamimu sampai seperti ini??" tegur Papa Leo pada putrinya yang sedang duduk manis bersebrangan dengan Papa Leo sambil menghabiskan manisan mangga di depannya.
"Nggak apa-apa. Nadine malas lihat wajah Bang Danar." jawabnya ringan.
"Bisa-bisanya kamu bilang begitu. Bukannya Bang Danar sudah bilang kalau semua ini hanya perintah" Papa Leo membantu menantunya untuk berdamai dengan Nadine.
"Bang Danar pamit nyawer, bukan pamit goyang." ucap Nadine masih enggan menatap wajah Bang Danar.
"Tapi ndhuk............."
Bang Danar menyentuh tangan Papa Leo agar Papa Leo tak lagi berdebat dengan Nadine. "Oke.. Abang salah, Abang memang salah. Abang minta maaf sudah buat adek marah. Maafin Abang ya sayang..!!" bujuk Bang Danar. Suaranya lembut dan berusaha mengalah pada istrinya.
Mata Nadine berkaca-kaca, ia memalingkan wajahnya. "Nggak.. sana goyang sama penyanyi itu..!!"
Bang Danar mengulurkan tangan meraih Nadine lalu menarik Nadine ke dalam pelukannya. Nadine pun menurut meskipun hatinya masih kesal. "Sebenarnya istri Abang kenapa? Beberapa hari ini kamu benar-benar menguji kesabaran Abang. Bilang sama Abang, apa yang sudah Abang buat sampai kamu marah dan Abang di hukum seperti ini?"
"Nggak, tapi Nadine malas kalau lihat wajah Abang, lihat Abang pakai baju loreng rasanya mual" jawab Nadine.
Mama Geya dan Mama Cherry yang daritadi diam seribu bahasa seketika saling pandang dan kembali menatap Nadine.
"Nadine sayang.. bulan ini sudah haid?" tanya Mama Cher.
"Mungkin kamu hamil sayang"
"Nggak mungkin lah Ma, aku sudah pakai pengaman. Rudra masih kecil" sambar Bang Danar.
Nadine melepas pelukan Bang Danar. "Iya benar, Nadine hati-hati kok" jawab Nadine.
"Kamu hati-hati. Papa nggak yakin Danar hati-hati." Papa Farid akhirnya ikut bersuara.
"Aahh Papa ini nggak percaya banget."
"Ada baiknya kamu ke dokter kandungan. Papa benar-benar cemas" kata Papa Farid.
...
Setelah Bang Danar baikan, mereka pergi ke dokter kandungan di RST karena rumah sakit itu yang letaknya paling dekat. Tak disangka Bang Danar dan Nadine bertemu dengan Bang Giras yang sedang menggandeng seorang wanita sembari melihat hasil foto USG di tangannya. Wanita itu adalah Amanda Putri dari wakil Panglima.
"Kamu disini Gi?" tanya Bang Danar.
Amanda menunduk dan bergeser ke belakang punggung Bang Giras.
"Iya Dan"
"Kamu??????" Bang Danar sedikit kaget tapi ia tau batasan untuk tidak mencampuri urusan pribadi sahabatnya. "Ya sudah.. selamat ya. Cepat di halalkan bro, kasihan yang di perut."
"Thanks sob.. Ini ada apa kalian kesini?"
__ADS_1
"Biasalah perkara orang tua memaksa kesini. Mereka yakin Nadine hamil" jawab Bang Danar.
"Oohh.. Ya kalau jadi nggak apa-apa lah, biar Rudra punya adik" kata Bang Giras.
"Bukannya nggak mau Gi, Rudra masih kecil. Nadine juga pasti kecapekan kalau hamil sambil mengasuh Rudra yang mulai pintar"
"Yowes lanjut, ku tunggu saja kabarnya" senyum Bang Giras disana.
//
"Bang Danar terlihat sayang sekali sama istrinya ya Om?"
Bang Giras tersenyum kecut mendengarnya. "Nadine berhak bahagia. Selama jadi istri Mas. dia banyak menangis. Mas tidak bisa mengontrol emosi sampai kehilangan dia"
"Berarti Om masih mencintai Mbak Nadine????" tanya Amanda cukup terkejut mendengarnya.
"Tidak lagi.. kehidupan kami sudah berbeda. Nadine bahagia dengan Danar dan Mas sudah sangat bahagia dengan kehidupan Mas yang sekarang, karena ada kamu dan anak kita ini" jawab Bang Giras.
Manda menunduk dengan wajah memerah.
"Permisi.. pasien atas nama Bunga Alamanda.. ini Nona atau Nyonya?" tanya seorang perawat.
"Nyonya.." jawab Bang Giras.
"Ijin Pak.. istri dari siapa?"
"Lettu Giras Sabda Tinular, kesatuan Batalyon X, GRT" jawab tegas Bang Giras.
"Mohon ijin, data istri belum masuk tanggungan negara ya Pak.."
"Iya, sedang proses di pusat. Nggak apa-apa. Nanti saya lapor pihak personel" jawab Bang Giras.
"Baik Pak, saya catat. Terima kasih"
//
"Masa Bob???? Coba cek lagi..!!!!!" Bang Danar langsung sehat walafiat saat dokter Bobby menunjukan titik kecil hitam di layar USG.
"Masa aku bohong. Istrimu benar hamil nih"
"Aduuh Bob, kok bisa??? Saya pakai pengaman" tanya Bang Danar tidak percaya. "Masa bocor?????"
"Ya gimana?? Kamu merasa teledor nggak?" Bang Bobby balik bertanya.
"Aduuuhh.. nggak ingat lah. Mana anakku masih sekutil. Mati aku" Bang Danar menepak dahinya.
"Nadine khan sudah bilang, Abang kelepasan" kata Nadine pelan.
"Astagfirullah.." Bang Danar mengusap perut Nadine. "Pantas saja kamu ngamuk sama Papa. Dedek kasih kode lewat Mama saja Papa nggak tau. Maaf ya nak..!!" Bang Danar mencium sayang perut Nadine.
"Abang sayang dedek nggak?" tanya Nadine.
"Ya sayang lah. Nggak ada bedanya rasa sayang Abang untuk Rudra dan dedek" jawab Bang Danar mengukir senyum bahagia.
.
.
__ADS_1
.
.