
Bang Giras melihat Anne menyusul Bang Rey dan membawakan suaminya makan siang tapi Bang Rey cuek saja tak ingin peduli dengan apapun yang di lakukan Anne padanya.
"Apa perlu Nadine antar Mas Gi menemui Anne?? Apa dia terlalu cantik?" tegur Nadine yang menyiapkan makan siang untuk Bang Giras karena dirinya juga ada kegiatan di kantor. Saking jengkelnya, Nadine sampai menyuapi Bang Giras yang terus memperhatikan ke arah Bang Rey.
"Bukan itu sayang. Mas rasa ada yang aneh dari Abangmu. Sikapnya tidak seperti saat awal pernikahan mereka. Sekarang mereka seperti tidak bahagia" jawab Bang Giras.
"Lalu apa Mas Gi mau membahagiakan Anne???"
'Duuuhh.. tamat aku kalau begini caranya. Aku mikir kesinii... Nadine mikir kesanaaa'
"Bisa-bisanya kamu mikir begitu dek, yang dulu ya dulu. Mas sudah nggak ada cerita dengan perempuan mana pun."
~
"Pulang sana, Abang sudah makan" Bang Rey menolak makanan yang di bawakan Anne.
"Kenapa Abang jahat sekali sama Anne? Anne tulus mencintai Abang" Anne mencoba menyentuh tangan Bang Rey.
"Abang sudah katakan sama kamu baik-baik Anne. Pulanglah agar hatimu tidak semakin sakit mendengar penolakan Abang."
Mendengar itu Anne berlari pulang, ada sedikit rasa cemas di dalam hati Bang Rey karena Anne mengandung buah hatinya tapi jujur ia tidak bisa menerima cara Anne untuk mendapatkan dirinya. Cara kotor yang membuatnya seketika kehilangan rasa.
'Maafin Papa ya nak. Semoga kamu sehat di dalam perut Mama' batin Bang Rey yang terasa sesak.
-_-_-_-_-
Hari ini kegiatan kantor begitu sibuk. Hingga malam pun tiba.
Bang Rey masih duduk di masjid Batalyon sedangkan Bang Giras segera menemui Nadine di ruang kantor ibu pengurus cabang.
"Aku duluan ya Rey.. mau nyusul Nadine. Sepertinya tadi dia sudah kecapekan" pamit Bang Giras.
"Iya sana..!!" jawab Bang Rey malas.
"Sebenarnya kamu kenapa? Aku bukannya mau ikut campur dalam urusan rumah tanggamu, tapi kamu terlalu banyak berubah Rey"
"Aku belum siap cerita sekarang Gi. Kapan-kapan pasti aku akan cerita" hanya jawaban itu saja yang keluar dari mulutnya setiap kali Bang Giras bertanya padanya.
"Baiklah.. semoga masalahmu segera selesai" Bang Giras beranjak dari duduknya.
"Hmm Rey, bisa aku minta tolong..!!"
"Apa?" kening Bang Giras berkerut, tak biasanya littingnya itu bernada seperti ini.
"Kalau aku tidak di tempat, bisa tolong kabari aku soal pergerakan Anne?"
"Aahh kau ini mau buat aku ribut sama Nadine??? Adikmu itu kalau sudah cemburu.. rumahku saja bisa terbalik" jawab Bang Giras.
"Aku yang tanggung jawab. Tolong aku bro"
Melihat wajah Bang Rey begitu memelas, Bang Giras pun akhirnya menyanggupi. "Ya sudah, tapi aku tetap meminimalkan resiko."
...
Bang Giras memijati badan Nadine. Sejak pulang tadi Nadine terus saja mual. Mungkin terlalu lelah dengan banyaknya kegiatan.
"Kalau besok kamu nggak hadir juga nggak apa-apa kok dek. Mereka pasti paham keadaan mu yang sedang hamil" kata Bang Giras.
"Nadine kuat Mas, hanya sedikit capek saja" jawab Nadine.
"Si dedek masih terlalu kecil untuk di ajak ikut kegiatan. Kamu juga butuh banyak istirahat"
"Besok kalau sudah terasa capek, Nadine pasti istirahat"
***
'Selamat datang.. Danyon tercinta.. lama kami rindukan engkau..........'. Bunyi yel menyambut kedatangan Danyon yang baru.
__ADS_1
Bang Sano sebagai Danyon baru menerima sambutan tersebut dengan senang hati. Ia menggandeng gagah tangan cantik istrinya yang terlihat anggun dan kalem.
"Kurang keras.. Mana suaramu Danton..!!!!" ucapnya sengaja menegur Bang Giras yang notabene adalah adik iparnya.
"Siaaapp..!!!"
Bang Giras berbalik badan kemudian menyerukan yel sekali lagi. "Lebih keraass..!!!!!!!"
~
"Terima kasih banyak atas sambutannya, untuk WaDan, seluruh jajaran pimpinan dan rekan semuanya atas sambutannya yang begitu meriah, tapi Dantonnya mengecewakan ya, suaranya lemas sekali.. tidak bertenaga. Mungkin sedang sakit tenggorokan" Bang Sano meledek Bang Giras.
"Siap salah..!!"
"Mana nih Bu Giras, kenapa tidak terlihat?" tegur Danyon yang baru saat tidak melihat Nadine di barisan istri perwira.
"Siap.. ijin.. istri sedang tidak enak badan" jawab Bang Giras.
"Kenapa?"
"Ijin.. mual Komandan"
"Waahh.. saya ini ganteng lho. Istri saya saja sampai hamil karena terpikat kegantengan saya..!!" goda Bang Sano.
"Siap.. Ijin komandan. Istri juga sedang berbadan dua" jawab Bang Giras dengan senyumnya.
Mbak Ghania melebarkan senyumnya.
"Selamat ya Danton.. selamat mumet bersama saya..!!" kata Danyon tersenyum licik melihat ke arah Bang Giras.
"Siap..!!"
~
"Mbak nggak tau lho dek kalau kamu lagi hamil" kata mbak Ghania yang sedang hamil anak keduanya. Usia kandungannya sudah berusia empat bulan. "Sudah berapa bulan dek?"
"Ijin Mbak, sudah jalan lima minggu"
"Mas Gi nggak usil kok mbak, sayang banget sama Nadine" jawab Nadine.
"Ciyeeeee.. Mas Gi.. manis sekaleee..!!" ejek Bang Sano. "Tumben panggilannya Mas, biasanya pacar-pacar mu panggilnya Bang Giras"
Nadine terdiam tapi wajahnya pun datar dan kaku.
"Bang, bisa diam nggak sih?? Nadine ini lagi cemburuan banget.." bisik Bang Giras.
"Tau nih Abang kadang-kadang suka bikin kesal" imbuh Mbak Ghania ikut berbisik. "Bang Sano hanya bercanda dek. Nggak usah di ambil hati." ucap Mbak Ghania kemudian menenangkan Nadine.
"Iya Mbak, Nadine tau kok."
Tak lama pandangan Mbak Ghania mengarah pada sosok yang duduk membelakangi punggungnya, sosok Bang Rey yang dulu pernah sempat singgah di hatinya.
Bang Sano menyenggol kaki istrinya. "Di sapa dek..!!"
"Abang saja.!! Lebih pantas" kata Mbak Ghania.
Bang Sano pun mengangguk. "Apa kabar Rey?"
Bang Rey menoleh melebarkan senyumnya walaupun hanya terpaksa. "Siap.. ijin.. Alhamdulillah baik Dan. Abang apa kabar?" tanya Bang Rey berbasa-basi karena tidak mungkin dirinya tak perduli dengan Danyonnya sendiri.
"Alhamdulillah baik juga. Istrimu mana Rey?"
"Ijin Bang, tidak ikut kegiatan."
Bang Giras menyenggol kaki Bang Sano. "Ijin.. sedang hamil muda juga Dan" kata Bang Giras menengahi.
Tapi melihat raut wajah Bang Rey yang penuh dengan tekanan sudah menunjukan bahwa pria tersebut sedang menyimpan banyak masalah.
__ADS_1
"Ya sudah, lain kali khan masih bisa bertemu" kata Mbak Ghania ikut menemani. "Salam untuk istrinya ya Om Rey..!!"
"Siap Ibu..!! Di sampaikan..!!" jawab Bang Rey dengan formal karena mereka sedang berada dalam acara resmi.
\=\=\=
Satu bulan berlalu.
Rumah tangga Bang Rey dan Anne semakin memanas. Terkadang Bang Rey tidak pulang dan tidak tau suaminya itu pergi kemana. Hatinya masih terus berpositif thinking jika Bang Rey hanya menenangkan diri dan mengatakan pulang ke rumah Niken hanya sekedar gertakan karena dirinya dulu pernah berbohong pada suaminya itu.
"Apa mungkin Bang Rey berani mengkhianatimu?" gumamnya sembari mondar-mandir di dalam kamar. "Nggak mungkin Bang Rey berani berkhianat di belakangku. Abang sangat mencintaiku.. dia hanya sedang menghukumku saja"
Anne berjalan menuju depan rumah dan melihat Bang Giras sedang mengintip dari dalam rumahnya. "Bang Giras saja masih memendam perasaannya padaku, mana mungkin Bang Rey macam-macam di belakangku. Apa aku minta tolong Bang Giras untuk menemani ku mencari Bang Rey ya..!!"
~
"Maaf An, Nadine nggak enak badan.. mual terus dia" tolak Bang Giras.
"Tolong lah Bang, pakai motor saja biar cepat..!!"
"Abang bukannya nggak mau nolong, tapi kadang Nadine suka pingsan bawaan hamil, Abang khawatir meninggalkan dia sendirian" alasan Bang Giras tapi memang benar kehamilan Nadine terkadang suka membuat istrinya itu pingsan karena darah rendah.
Nadine mendengar permintaan manja Anne dari dalam kamarnya. Sudah jam sebelas malam saat Anne mengetuk pintu rumah nya.
"Baiklah Bang, Anne pulang dulu" pamit Anne.
Baru beberapa langkah Anne pergi, Anne ambruk di depan mata Bang Giras mengagetkan pria itu. "Ya ampun An.. kamu sakit??" Bang Giras segera membawa Anne ke ruang tamunya.
"Deekk.. tolong Mas dulu..!!" teriak Bang Giras dengan paniknya, bingung bagaimana caranya menyadarkan Anne karena tidak mungkin dirinya memberi pertolongan pada istri sahabatnya itu.
Dengan tenang Nadine melangkah melihat Anne. "Dia pura-pura Mas..!!"
"Pura-pura apa sih dek. Anne lemas begini masa pura-pura"
"Iya Mas, Nadine tau dia pura-pura."
"Jadi selama ini kalau kamu pingsan lemas berarti juga pura-pura. Kamu ini juga hamil dek, masa kamu tega biarkan Anne sakit begini. Cemburu ya cemburu tapi jangan kelewatan..!!" tegur Bang Giras dengan cemas kemudian menyambar minyak kayu putih di tangan Nadine.
Bang Giras sedikit mengoles minyak kayu putih di hidung Anne sampai beberapa saat kemudian ia sadar. Anne menangis kemudian memeluk Bang Giras.
Bang Giras hanya bisa menjauhkan tangan dan dadanya dari istri sahabatnya itu. "Tolong bantu Anne Bang, Anne rindu Bang Rey" alasan Anne sampai sesenggukan.
Bang Giras mencoba melepaskan pelukan Anne karena ia juga masih memikirkan perasaan Nadine istrinya.
Nadine sudah kesal setengah mati menatap keduanya. "Berani Mas Gi bantu dia.. jangan harap Mas lihat Nadine dan anak ini..!!" kata Nadine tak main-main.
"Hhkk.." Anne menutup mulutnya karena merasa mual, ia semakin bersandar di dada Bang Giras.
"Dekk.. dimana sih perasaanmu..!!" tegur Bang Giras.
Tak banyak bicara, Nadine masuk ke dalam kamar dan mengambil beberapa buah pakaiannya.
"Mau kemana kamu?? Jangan keluar rumah tanpa ijin suami..!!" kata Bang Giras masih tanpa sadar memegangi Anne yang kini bersandar di sofa.
Tak ada kata dari Nadine. Ia pergi membawa tasnya keluar dari rumah.
Bang Giras berdiri dan mencekal tangan Nadine. "Jangan hanya karena emosi dan cemburu tidak jelas lantas kamu pergi dari rumah..!! Kamu bisa di atur suami atau tidak??" bentak Bang Giras.
Nadine mengangkat tangannya dan menampar Bang Giras.
plaaaakk...
"Benar-benar pembangkang, manja, cemburuan..!!!!!!" suara Bang Giras benar-benar melukai hati Nadine.
.
.
__ADS_1
.
.