
*Di mana pun karya Nara.. tolong perbaiki tata bahasa, tidak mengumpat dan membuat blur untuk membuat kata yang tidak pantas di baca seperti Nara menggunakan tanda ' * ' jika ada bahasa yang kurang pantas. Menulis membutuhkan ketenangan meskipun karya tersebut receh dan tidak berarti. Skip bagi yang tidak suka dengan karya Nara di bagian novel manapun milik Nara. 🙏🙏🙏*.
🌹🌹🌹
"Pegang dada Abang" jawab Nadine.
"Hmm.. habiskan nih..!!" Bang Danar membuka kancing seragamnya lalu melonggarkan ikat pinggangnya untuk menaikan kaos lorengnya.
Mata Nadine terpejam meraba dada bidang Bang Danar. Suami yang gagah membuatnya tergila-gila. Ia hampir tertidur masih merasa mengambang, nge-fly akibat pengaruh bunga kecubung yang belum sepenuhnya hilang.
Bang Danar pun mengijinkan, kapan lagi meladeni istrinya yang sedang merasakan setengah mabuk. Mulut Nadine yang kadang masih meracau dengan tingkah absurdnya.
Tangan Nadine berkelana menjelajah kesana kemari dan Bang Danar tidak menolak kelakuan nakal Nadine yang membuat tubuhnya menegang.
"Kamu ini sadar apa nggak sih dek, kalau sadar.. keterlaluan sekali tingkahmu buat Abang puyeng" suara desah kecil Bang Danar sampai terlepas bebas merasa nyaman dengan service nakal sang istri.
Tak lama Om Lukman masuk kamar dan membuat Bang Danar kaget setengah mati. Secepatnya Bang Danar menarik diri dan berbalik badan membenahi pakaiannya.
"Kenapa nggak ketuk pintu dulu Man??" Tegur Bang Danar merasa kesal dan sakit kepala karena fantasinya harus terputus begitu saja.
"Siap.. sudah tiga kali komandan..!!" Jawab Om Lukman sambil mengantar bubur ayam. Ia tadi sekilas melihat wajah memerah PasiInt nya dan itu membuatnya sedikit merasa tidak enak.
"Ya sudah mana buburnya? Kamu nanti standby di depan sama Khoirudin ya..!!" Perintah Bang Danar.
"Siap Komandan..!!"
"Nadine belum selesai tanam jagung Bang" kata Nadine meracau sendiri.
"Haiisshh.." Bang Danar membungkam mulut Nadine. "Ngomong apalah kamu ini, di kasih yang enak malah cari jagung" Bang Danar baru menyadari jika Nadine belum benar-benar sadar.
Om Lukman sudah berusaha mengendalikan diri tapi Ibu PasInt yang sedang nge-fly sungguh membuatnya tidak bisa menahan tawa.
"Ijin Komandan, panen bibit jagung kurang lebih tujuh bulan lagi?"
"Kamu mau tau saja urusan bibit jagung. Sudah sana istirahat ke kantin.. ini uangmu..!!" Bang Danar menyerahkan tiga lembar uang kertas berwarna merah. Ia menyadari ajudannya itu memang selalu ia repotkan.
"Ijin Dan.. ini kebanyakan" kata Om Lukman.
"Bawa saja, saya hanya bisa traktir es teh untuk modalmu kencan. Lain kali baru sekalian mie ayam" jawab Bang Danar.
"Siap, Terima kasih banyak komandan..!!" senyum Om Lukman merekah. Sebenarnya membantu komandannya itu pun dirinya sudah ikhlas. Tapi siapa yang bisa menolak rejeki dari PasInt yang kaku, dingin tapi tidak pernah pelit pada anggota terutama ajudannya.
"Yo wes sana, saya mau pacaran sama istri."
"Siap.. biar jagungnya cepat besar ya Dan.. harus di siram pupuk dulu" kata Om Lukman yang terdengar seperti sindiran dan ejekan.
"Lukmaaann.. jungkir balik kamu besok di lapangan..!!" Perintah Bang Danar.
__ADS_1
"Siap laksanakan Dan..!!!" Om Lukman tertawa terbahak melihat wajah kesal Bang Danar
"Ada-ada saja" gumam Bang Danar tapi kemudian tersenyum.
Bang Danar mengusap pipi Nadine kemudian menciumnya dengan sayang. "Ayo cepat sehat sayang.. kita nge-fly bareng..!!" Ucapnya bergumam nakal.
//
"Habiskan makannya dek, untung kamu nggak parah seperti Nadine."
"Terlalu banyak Mas, Manda sudah mual" tolak Manda.
"Kamu juga banyak muntah dek. Tenagamu harus diisi lagi" bujuk Bang Giras membelai rambut Amanda.
"Manda nggak tau Bang, setelah makan sayur turi sama Mbak Nadine, kepala Manda pusing, nafas jadi sesak sampai Manda nggak ingat apa-apa lagi" Manda masih mengingat hal yang membuatnya sangat takut. "Manda kira, Manda mau mati Bang"
"Huusshh.. nggak baik bicara begitu. Allah masih memberimu umur panjang karena percaya kamu mampu menjaga buah hati kita dan Allah percaya kamu akan menjadi ibu yang baik buat anak kita" kata Bang Giras. "Sekarang makan dulu ya cantik.. kasihan dedek sudah lapar"
Manda memperhatikan raut wajah Bang Giras. Pria itu memperlakukan dia dengan baik dan tidak pernah sekalipun kasar padanya.
Bang Giras menyodorkan sendok ke depan mulut Amanda, dan akhirnya Amanda mau makan bubur ayam dari tangan Bang Giras.
***
Hari ini Nadine dan Amanda sudah boleh pulang ke rumah. Amanda sedikit banyak sudah bisa mengontrol tubuhnya namun tidak dengan Nadine yang sesekali masih nge-fly dan bicara yang tidak-tidak.
"Artis apa?"
"Ya artis film lah Bang" jawab Nadine dengan tenang dan bernada sangat serius.
"Artis panasnya Abang?" Bang Danar pun menanggapi Nadine dengan biasa saja karena tau sang istri tidak sungguh mengatakannya.
"Nadine cukup cantik khan Bang meskipun hanya masuk film panas??"
"Iya donk.. istri Abang paling cantik, nggak ada lawan."
"Tapi semalam Mas Giras bilang.. Manda yang cantik" sambar Amanda.
"Abang bohong sama Nadine??" Sela Nadine memprotes
Kedua bumil saling menatap. Membuat para suami bingung dan kelabakan di buatnya.
"Heehh Danar, kamu yakin efek kecubung nya sudah hilang?" Bisik Bang Giras.
"Kalau melihat tingkah dan ucapan mereka, sepertinya belum Gi"
"Kamu selingkuhan Mas Gi??" Tanya Amanda.
__ADS_1
"Aku nggak selingkuh, Mas Gi yang menceraikan aku gara-gara Anne."
"Lalu kenapa fotomu masih ada di galeri dan dompet Mas Gi??" Amanda bertanya sekaligus membongkar apa yang selama ini terjadi dalam rumah tangga mereka.
"Aku nggak tau.. pokoknya kata Bang Danar, aku yang tercantik" ucap Nadine antara sadar dan tidak berbicara dengan Amanda.
"Kamu masih menyimpan foto Nadine?" Tanya Bang Danar datar sambil memeluk dan menenagkan Nadine.
Bang Giras melihat raut wajah dan tatap Bang Danar yang datar namun sarat dengan aura panas yang menusuk.
"Aku menyimpannya hanya untuk mengingat kalau Nadine pernah menjadi bagian dari hidupku. Bagaimanapun Nadine tetap Mamanya Rudra."
"Kamu bisa membohongi semua orang tapi tidak denganku Giras. Kamu masih mencintai Nadine khan??" Ucap Bang Danar.
"Nggak Dan. Demi Allah..!!"
"Aku sudah bilang, kau bisa membohongi semua orang tapi tidak dengan aku..!!!" Mata Bang Danar menatap tajam dan kejam. Ia sungguh marah pada sahabatnya itu.
Disana Om Lukman dan Om Khoirudin hanya bisa diam merasakan aura panas di balik dinginnya AC mobil.
Bang Danar memasukan sebutir obat ke mulut Nadine lalu memberi istrinya itu minum. Setelah memastikan Nadine bisa menelannya, ia memeluk Nadine dengan sayang seakan takut kehilangan, bahkan sesekali Bang Danar mendaratkan ciuman hangat di kening Nadine.
...
Nadine sudah benar-benar sadar dan mencari Bang Danar namun suaminya itu tidak ada di dalam kamar.
"Bang..!!"
"Iya sayang.. Abang duduk di belakang." Jawab Bang Danar.
"Abang masih marah sama Nadine gara-gara kecubung itu ya?" Tanya Nadine melihat Bang Danar duduk sendirian sambil merokok berteman secangkir kopi hitam panas.
"Nggak dek, kenapa mikir begitu. Kamu juga nggak sengaja melakukannya"
"Oohh.. Nadine mimpi Abang ribut sama Mas Gi" jawab Nadine.
Bang Danar hanya tersenyum kecut menanggapinya. "Apa di dalam hati kecilmu masih mencintai Giras?"
"Kenapa Abang tanya begitu?" Nadine cukup kaget karena tidak biasanya Bang Danar bertanya seperti itu.
"Ingin tau saja" jawabnya sembari menghisap rokok kemudian menghembuskan ke arah berlawanan agar tidak mengenai Nadine. "Katakan saja dek.. Abang akan dengarkan..!!"
.
.
.
__ADS_1
.