Elang Timur

Elang Timur
52. Setengah hati menerima hadirnya.


__ADS_3

"Bagaimana kalau sampai kotak berisi benda berbahaya atau mungkin parahnya sampai meledak.. apa kamu mau mengganti nyawa istri saya??"


"Siap salah Dan."


"Seharusnya kamu tembusi ke saya juga hal sekecil apapun tentang Nadine." Omel Bang Danar masih tidak terima bahwa Nadine lebih memilih Om Lukman daripada dirinya.


"Siap salah Dan." Hanya itu kata yang bisa terucap dari mulut Om Lukman saat menghadapi komandan killer macam Bang Danar.


//


Bang Giras yang kalap hampir saja menghajar Nena yang notabene seorang wanita. Amarahnya memuncak setiap mengingat kepergian sang istri dengan cara yang tragis.


"Anakmu sudah hampir lahir, seharusnya kamu pikirkan anakmu.. bukan harta duniamu..!!!" Bentak Bang Giras.


"Aku akan melahirkannya, tapi aku akan membuangnya ke panti asuhan karena ayahnya tidak mau mengakuinya." Nena tak kalah penuh teriakan.


"Buanglah, aku tidak akan mengakuinyaaaa..!!!!!" Bang Giras sudah terlalu frustasi dengan keadaan dirinya.


"Kalau kamu tidak mau, tidak apa.. lahirkan dia, aku akan merawatnya..!!" Kata Mama Syahnaz.


"Kamu yakin dek?" Tanya Bang Galar.


"Iya Bang, Inaz yakin." Jawab Syahnaz mantap, ia tau sebenarnya hati suaminya pun tak tega dengan bayi yang terombang-ambing nasibnya.


Bang Galar langsung menarik Syahnaz ke dalam pelukannya. "Terima kasih banyak sayang. Jika Abang tidak bisa membalas segala kebaikanmu, biar Allah SWT yang membalasnya."

__ADS_1


"Iya Abang."


...


"Anak siaaaaalll.. kau sama sekali tidak bisa menguntungkan akuuu..!!!" Penuh perjuangan Nena melahirkannya hingga terdengar suara tangis kencang membahana di seluruh ruangan.


Bidan sampai menggeleng saat sang ibu terus saja mengumpat.


:


Bang Giras sama sekali tidak mau menggendong nya. Suara tangis bayi itu membuatnya trauma.


"Biar saya yang gendong..!!" Bang Galar meminta bayi mungil, wajahnya mirip dengan Bang Giras. "Ganteng le.. mau bagaimana pun. Kamu tetap ada darahku.. darah Papa Galar. Mulai sekarang namamu.. Senopati Rakit Paduhan.. karena untuk menjadi sosok pria tangguh harus di rakit sejak dini dan perjuangan hidupmu sudah di mulai sejak dalam kandungan." Papa Galar mencium pipi baby Rakit.


"Dia akan menjadi temannya Zeni Bang" kata Syahnaz.


"Rakit kesayanganku juga Bang" jawab Syahnaz. "Cepat tentukan.. siapa yang akan mengadzani Rakit..!!"


"Papanya yang akan mengadzani" Bang Galar menyerahkan Rakit tapi Bang Giras benar-benar tidak ingin memeluknya.


"Bencilah ibunya sesuka hatimu. Tapi hukum dunia dan akhirat ini, tidak ada mantan anak. Dia terlanjur ada untuk mewarnai hidupmu. Apa kesalahan yang kamu lakukan akan kamu limpahkan pada anakmu? Kamu yang tidak bisa mengontrol diri hingga dia ada. Apa salah bayi mungil ini??"


Bang Giras melirik putranya.


"Rudra sudah terlepas dari tanganmu dan tenang bersama Danar, apa kamu masih ingin melepaskan putramu yang satu lagi. Kau tidak akan merasakan akibatnya sekarang Gi, tapi nanti.. saat mereka telah menjadi 'orang', dunia akan berbalik tidak menerima mu..!!" Kata Bang Galar mengingatkan.

__ADS_1


Dengan tangan bergetar, Bang Giras menerima bayi tersebut lalu memeluk putra kecilnya dari rahim wanita yang sama sekali tidak ia inginkan. Lirih suara adzan mengalun di telinga baby Rakit meskipun sebenarnya Bang Galar sudah mengadzaninya lebih dulu.


:


Dengan penuh rasa sayang, Bang Giras langsung membawa baby Rakit pergi bersama Bang Galar dan Syahnaz setelah melunasi biaya persalinan. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan Nena dan Nena pun tak peduli dengan bayi yang baru di lahirkan.


...


Mata Bang Danar memicing melihat Bang Giras pulang dengan menggendong bayi kecil. "Gii.. itu anakmu??" Tanya Bang Danar.


"Iya.." jawab Bang Giras singkat.


"Syukur Alhamdulillah..!!"


"Nanti si Rakit akan Abang bawa pulang..!!" Kata Bang Galar usai menutup pintu mobilnya.


"Serius Bang?" Tak sampai hati Bang Danar mendengarnya.


"Iyaa.. Giras duda. Siapa yang akan menjaga bayinya. Biar saja Abang dan Syahnaz yang mengurusnya." Bang Galar mendekap lengan adiknya memberi kekuatan namun matanya menatap Bang Danar menyiratkan berbagai makna.


"Iya Bang, mungkin ini jalan yang terbaik. Saya do'akan Abang sekeluarga sehat..!!" Jawab Bang Danar melirik tatapan mata Bang Giras yang nampak kosong melompong.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2