
Bulan telah berganti. Sejak kejadian itu Bang Giras lebih banyak diam. Ia lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan, selain untuk menenangkan hati dan pikiran, ia juga ingin sedikit menekan hasrat yang terkadang merangkak naik karena sekarang dirinya tak lagi memiliki pelampiasan.
Jika sedang kesepian, ia terkadang lebih memilih membawa Rudra ke rumahnya agar perhatiannya teralihkan.
"Besok siang Panglima dan wakil akan datang. Aku nggak mungkin mengantar putrinya bersama ajudan seharian besok karena Nadine sedang cemburuan" kata Bang Danar.
"Oya.. kenapa?" tanya Bang Giras menanggapi padahal ia lumayan takut mengingat kejadian tidak sengaja yang menimpanya bulan lalu.
"Nggak tau. Aku telat menanggapinya saja, dia sudah marah-marah." jawab Bang Danar.
"Hamil kali Nar..!!"
"Nggak lah, aku pakai pengaman. Nggak mungkin Nadine hamil" kata Bang Danar sembari bersendawa, agaknya sejak semalam perutnya kembung hingga merasa kepalanya sedikit pusing.
Bang Giras manggut-manggut saja karena ia terbayang wajah Amanda. Sejak kejadian itu sekalipun tak lepas do'anya untuk gadis itu. Gadis yang telah ia renggut kesuciannya tanpa sengaja.
ddrrtt.. dddrrttt.. dddrrttt..
"Abang dimana?" tanya di seberang sana setelah Bang Danar mengangkat ponselnya yang berbunyi.
"Ya di kantor, masa di kolam renang. Ada apa sayang?"
"Tolong Nadine Bang, Nadine baru kesetrum..!!"
"Astagfirullah.. iya.. Abang pulang..!!"
:
Bang Danar melihat sekeliling dinding dapurnya penuh dengan adonan kue dan mendapati Nadine duduk di lantai dengan lemas.
"Ya Allah.. sebenarnya ada apa dek?" Bang Danar memindahkan Nadine duduk di kursi makan kemudian mendengar suara bising dari alat yang sangat familiar di telinga nya. "Allahu Akbar.. kamu main bor????" tegur Bang Danar.
Bang Giras pun ikut melongo sembari langsung menggendong Rudra yang sedang menangis lalu dengan cepat ia memberinya susu botol.
"Mixer Nadine mati, jadi Nadine aduk adonan pakai bor nya Abang" jawab Nadine dengan polosnya.
"Ya Allah Ya Rabb.. Ide brilian. Luar biasa istri Lettu Danar ya..!!!!" Kalau bor ini sampai meledak, bagaimana jadinya kamu tadi?????" suara Bang Danar sampai meninggi saking cemasnya.
"Maaf Bang, akal Nadine hanya bor nya Abang"
"Ya ampun dek.. kalau ada apa-apa bagaimana.. sayang khan bor nya Abang.. Eehh maksud Abang.. sayang kalau kamu kenapa-napa" kata Bang Danar melihat bor nya yang sudah rusak.
"Danaar.. Aduuh mulutmu..!!" Bang Giras sudah nyengir dan memilih untuk keluar dari rumah Bang Danar bersama Rudra daripada harus melihat pertikaian suami istri.
"Ini pasti karena Abang kebanyakan milih penyanyi untuk panggung hiburan besok khan? Dari seminggu ini Abang memandangi wajah mereka."
"Ya Allah, apa hubungannya sama bor sih dek?" tanya Bang Danar.
"Kemarin Abang hubungi perempuan itu khan?"
"Iya.. memang Abang dapat tugas untuk undang mereka dalam acara" jawab Bang Danar. Kepala Bang Danar pusing tujuh keliling menghadapi sikap Nadine yang hampir seminggu ini membuat kepalanya seakan mau pecah karena cemburu. Jangankan seorang wanita.. dirinya mengejar seekor tikus di dapur pun di cemburuinya. "Kamu kenapa sih sih sayang, belakangan ini marah terus. Abang kerja dek, buat kamu sama Rudra.. Abang nggak niat macam-macam" kata Bang Danar.
Nadine meninggalkan Bang Danar dan tidak mau mendengar apapun. Bang Danar pun mendesah panjang. "Istriku kenapa Ya Tuhan. Belakangan ini sikapnya berubah" gumamnya memijat pangkal hidungnya. "Hhhkkk" Bang Danar berlari ke kamar mandi saat tiba-tiba merasa asam lambungnya naik.
***
Bang Danar mengecup kening Nadine usai mengga**hi istri cantiknya itu. Ia berusaha keras membujuk Nadine agar tidak marah saat nanti dirinya naik ke atas panggung.
"Kamu sudah janji nggak marah ya, pasti perwira juga di kerjain sama komandan. Di suruh nyawer penyanyi. Uangnya juga bukan uang pribadi. Hanya formalitas saja biar ramai" kata Bang Danar kemudian mengangkat tubuhnya pelan dan bergeser dari Nadine.
"Tergantung, kalau Abang ngelunjak ya jangan harap stik kasti Abang masih baik-baik saja..!!" ancam Nadine.
"Yakin kamu nggak rugi, kalau rusak.. nangis kejer kamu dek" kata Bang Danar.
__ADS_1
Nadine memutar bola matanya malas.
"Iyaaa sayangkuu.. cintakuu.. Abang janji nggak akan buat masalah" Bang Danar mengecup sayang kening Nadine. "Nanti Lukman jemput kamu dek. Abang tunggu disana"
...
Papa Langsang, Papa Leo, Papa Huda yang termasuk dalam staff perwira tinggi ikut masuk dalam jajaran rombongan. Entah siapa nantinya yang akan menjadi panglima dan perwira tinggi sejajar panglima.
"Ini acara bebas saja ya..!!" kata Bu Andin yang notabene adalah juga seorang tentara wanita menyapa para ibu-ibu dengan ramah. Papa Huda bersama Bu Ayu yang juga sangat ramah pada semuanya.
"Nadine..!!" Mama Ayu menyapa Nadine. Mata Mama Ayu penuh kesedihan menatap wajah mantan menantunya itu.
"Mama apa kabar?" hingga saat ini Nadine masih tetap menyayangi mertuanya yang sangat baik.
"Baik sayang.. Mana cucu Mama?" tanya Mama Ayu.
"Rudra sama ibu-ibu disana Ma" tunjuk Nadine pada Rudra putranya.
Mama Ayu sungguh terharu sampai memeluk Nadine dengan erat. "Mama minta maaf ya sayang, kalau saja Mas Giras nggak melakukan kesalahan itu, pasti tidak akan pernah ada hal seperti ini"
"Nadine sudah ikhlas Ma. Nadine nggak apa-apa dan sudah bahagia dengan kehidupan Nadine yang sekarang." jawab Nadine yang memang sangat bahagia dengan kehidupannya. "Ayo kesana Ma, panggung hiburan mau mulai..!!"
"Kamu jadi ikut Nak?"
"Jadi Ma" jawab Nadine.
:
Mama Ayu dan Mama Andin sedang asyik bermain dengan Rudra. Sedangkan para bapak-bapak sibuk menyaksikan atraksi dari para anggota.
"Perwiranya mana ini?? Masa hanya anggota saja yang punya talenta??" tegur Panglima.
"Siaap.. Ijin.. perwira saya juga bertalenta." kata Bang Jamal menjawab pertanyaan Panglima. "Naaahh.. ini dia Lettu Danar dan Lettu Giras. Keduanya perwira di Batalyon kami Dan."
"Ya sudah nanti tunjukan..!!" perintah panglima.
Bang Danar dan Bang Giras saling pandang dengan wajah syoknya.
~
"Astaga Bang, kami bisa apa????" tanya Bang Giras panik.
"Apa saja lah yang kalian bisa" kata Bang Jamal.
"Kalau jadi banci bagaimana Bang?" ucap Bang Danar.
"Matamu.. kau sendiri saja lah yang jadi banci. Aku nggak mau..!!"
"Jaran kepang saja..!!" perintah Bang Jamal.
"Siaaapp..!!"
...
Nadine seperti mengenali gesture tubuh penari jaran kepang di hadapannya. Jaran kepang bertopeng yang terus saja mengganggunya sampai membuatnya kesal.
"Waaahh.. jaran kepangnya sudah kesurupan nih tapi tau saja ibu-ibu yang cantik" ledek seorang anggota yang cukup senior dalam usia sudah berpangkat Serma.
"Hajaaarr teruuuuss..!!" imbuh bapak-bapak yang lain.
Panglima sampai ikut turun ke lapangan karena menikmati jaran kepang yang sangat asyik.
"Eehh Let.. kenapa kamu sedari tadi mengganggu ibu muda itu? Apa dia penakut??" tegur Panglima penasaran.
__ADS_1
"Ijin Panglima, dia istri saya. Jangankan takut, setiap bertemu saya bawaannya jengkel dan cemburuan..!!" Jawab Bang Danar sedikit kencang karena suaranya tenggelam oleh bunyi gendang dan musik.
"Hwuuu...pantas. Ya sudah sana goda lagi..!!"
"Siaapp..!!"
~
Nadine merasa jengah anggota tersebut terus mengganggunya bahkan berani mencolek dagunya.
"Kalau tidak minggir saya laporkan Letnan Danar."
"Ijin Ibu, ibu cantik sekali" dengam nakalnya Bang Danar menjauh dan tertawa.
Nadine mengedarkan pandangan kesana kemari mencari sosok Bang Danar yang sama sekali tidak terlihat. Ia mengambil ponselnya berniat mengadu tapi Bang Danar sangat sulit di hubungi.
:
"Abang darimana?? ada anggota yang ganggu Nadine"
"Masa?? mana orangnya??" tanya Bang Danar sok membela dengan wajah seriusnya.
"Itu lho Bang, yang tadi jadi jaran kepang" jawab Nadine berbisik-bisik.
"Ciri-cirinya??"
"Ya seperti Abang. Tinggi, gagah, jantan, aroma tubuhnya sewangi Abang bahkan sampai jarinya mirip Abang" kata Nadine bersemangat melaporkan hal yang di alaminya barusan.
"Kenapa nggak kamu hajar?"
"Karena mirip sama Abang"
"Oooohh.. jadi kalau kamu di goda laki-laki yang hampir serupa ciri-cirinya seperti Abang.. kamu terima saja begitu???"
Nadine refleks mengangguk dengan polosnya kemudian meralat segera menggeleng dengan pasti karena melihat raut wajah tajam Bang Danar.
"Hmm.. okee.. lihat aja kamu ya, benar-benar minta kaki di angkat di pundak..!!" omel Bang Danar.
//
braaakk..
Bang Giras melihat benda yang familiar dengannya tercecer dari tas kecil milik Amanda yang selalu ikut papanya kemana-mana.
"Ini punyamu?" tanya Bang Giras mengambil dan mengangkat benda itu di depan wajah Amanda.
"Bukan urusan Om"
"Bilang yang jelas Manda..!!"
"Manda bisa mengatasinya sendiri" jawab Manda.
Disana Bang Giras melihat sebotol obat penggugur kandungan. Bang Giras segera mengambil dan membuang butiran isi dari botol tersebut. "Jangan macam-macam kamu Manda. Dia nggak salah..!!"
"Manda bilang Manda bisa mengatasinya sendiri." wajah Amanda mulai mendung.
"Anak itu sudah terlanjur ada dek..!!" suara Bang Giras mulai meninggi tapi ia masih sempat mengingat kesalahannya pada Nadine. "Salahkan bapaknya kalau memang kamu marah, dia nggak salah" Bang Giras memeluk Amanda dan menenangkan gadis itu. "Saya akan menghadap Papamu, saya juga akan menikahimu..!!"
.
.
.
__ADS_1
.