Elang Timur

Elang Timur
26. Hidup baru.


__ADS_3

"Apa Papa bilang, kamu nggak mungkin bisa di percaya Danar..!!" Papa Farid akhirnya ikut pasrah karena akan mendapat cucu lagi dari Nadine.


"Jadi bagaimana ini Opa berdua? Senang nggak dapat cucu??" tanya Bang Danar.


"Ya senang lah, dapat cucu pasti senang. Cucu itu semangat hidup Papa. Papa jadi merasa sehat dan awet muda karena ada tujuan hidup" imbuh Papa Leo.


"Kamu harus jaga betul ya Danar.. Mama nggak mau cucu Mama ini ada apa-apa. Mbak Intan baru keguguran anak ke dua. Mama nggak mau dengar lagi Le" kata Mama Cher.


"Iya Ma, aku paham. Pasti aku jagain kok. Tenang aja" jawab Bang Danar.


"Kamu jangan nguber jatah preman terus Danar..!! Ingat anak..!!" pesan Papa Farid.


"Iya Papaa.. Ya Allah dah semuanya pada nggak percaya amat"


"Abang nggak bisa di percaya Ma. Minta jatah sudah seperti minum obat. Maksa lagi Pa" kata Nadine membelalakkan semua mata.


Refleks Bang Danar menutup mulut Nadine dengan senyum gugup salah tingkah. "Hahaha.. maklumin Pa, kadang suka ngelantur"


Papa Farid malu sendiri dengan tingkah putranya itu.


//


"Lamar??? kenapa terburu-buru sekali?"


"Manda hamil Pa" kata Bang Giras.


"Apa katamu????? Kurang ajar kamu Giraass..!!!!!" bentak Papa Huda begitu kaget merasakan ulah putra keduanya. "Apa Papa mengajarimu kelakuan seperti itu??? Kamu punya adik perempuan Giraass.. Kamu punya Niken"


"Aku ngerti Pa, aku salah..!!" Bang Giras pasrah jika memang Papa Huda akan menghajarnya. Sungguh memang dirinya yang salah karena tidak berusaha mencegah Amanda dan malah ikut mabuk bersama gadis itu.


"Papa tau kelemahan utama kita sebagai laki-laki adalah nafsu, tapi bukan berarti kamu harus di kalahkan oleh nafsu tersebut Giras..!! Kalau sudah begini bagaimana??? Mungkin kamu tidak akan merasakan dampaknya sekarang Gi, bagaimana kalau anakmu perempuan?? Bagaimana sakitnya hatimu saat ternyata kamu tidak bisa menikahkan putrimu sendiri??? Ya Allah Gi.. dosa papa sudah Papa lihat di diri kamu" Papa Huda duduk dengan kasar, kakinya terasa lemas mendengar kenyataan ini.


Mama Ayu memeluk suaminya itu. "Cepat lamarkan Manda untuk Giras Pa. Kasihan cucu kita" kata Mama Ayu menenangkan Papa Huda.


"Iya Ma.. sabar sebentar, rasanya bumi ini hancur. Sebesar apa dosaku sampai anak cucuku harus menanggung karma pahit dariku? Seberapa besar aku menyakitimu Ma" Papa Huda memijat pelipisnya yang terasa berat.


"Pa_paa, Ma_maa maafkan Manda yang sudah membuat semuanya jadi berantakan. Manda bukan perempuan yang baik" kata Manda menunduk dan terisak.


"Sudahlah sayang, tidak ada yang perlu di sesali. Mama pun tau bagaimana putra Mama. Mama minta maaf" Mama Ayu ikut terisak.


"Kamu carikan Mahar untuk Manda sekarang juga. Nggak ada lamar-lamaran... langsung nikah..!!" ucap tegas Papa Huda.

__ADS_1


"Baik Pa." jawab Bang Giras kemudian ia mengalihkan pandangan menatap Amanda. "Kamu mau mahar apa dari Mas dek?"


Setitik air mata Amanda menetes di pipi. Amanda yang tadinya menunduk, beralih menatap wajah Bang Giras. "Seberat apapun itu, apa Mas Gi sanggup?"


Bang Giras tersenyum karena ini pertama kalinya Amanda memanggilnya 'Mas Gi' sama persis seperti Nadine. "Apapun permintaan mu dek"


"Manda bukanlah gadis yang baik untuk Mas. Banyak kekurangan dalam diri Manda, terima kasih banyak jika memang Mas mau meninggikan derajat Manda" ucap itu seakan terkunci di tenggorokan Amanda. "Manda tidak bisa cara sholat yang baik dan benar, Mama tidak ada.. Papa sibuk kerja, Manda akui Manda kurang dalam beribadah. Jika boleh.. ajari Manda sholat, karena Manda akan jadi ibu.. Manda takut tidak bisa mendidik anak Manda dengan baik"


"Baiklah, Mas Gi akan penuhi semua.


-_-_-_-_-


Telah terjadi ketegangan.. malam di ruang VIP sebuah hotel. Papa Huda meminta ijin untuk bertemu dengan wakil panglima secara pribadi dan lebih mengarah pada suasana kekeluargaan, tapi malah amarah memuncak dari wakil panglima karena mengetahui putri kesayangan satu-satunya tengah berbadan dua.


"Papa menyayangimu Manda.. sangat menyayangimu. Nama pemberian Mama untukmu.. 'Bunga Alamanda' adalah sebagai lambang kesucian seorang wanita, tapi kenapa kamu merusaknya?"


"Ijin Komandan.. ini bukan salah Manda, ini salah saya."


"Keterlaluan..!!!!" Wakil Panglima sudah mengangkat tangannya hendak menghajar Manda tapi Bang Giras memeluknya.


"Jangan komandan.. calon bayinya masih sangat kecil, dia tidak salah"


"Kenapa kalian membuat posisi saya semakin sulit?? Saya amat sangat kecewa..!!" ucap keras wakil Panglima.


"Terserah kalian..!! Kalau mau menikah ya menikah saja. Tapi saya tidak peduli lagi. Mulai sekarang.. kamu Bunga Alamanda.. bukan putriku lagi..!!" wakil panglima pergi meninggalkan tempat dan kembali ke kamarnya di lantai atas membawa amarah yang memuncak.


Amanda berdiri dalam kesesakan batinnya. Ia mencoba menghapus air matanya dan tidak menangis.


Mama Ayu segera memeluknya. "Kamu punya Mama nak, kamu masih punya Mama..!!"


"Ayo cepat lakukan pernikahan malam ini juga, besok pagi kegiatan Papa sangat padat. Yang penting kalian sah dulu sambil Papa membujuk Papanya Manda..!!"


...


"Alhamdulillah sah" kata seorang penghulu.


Bang Danar yang malam itu ikut di seret dalam acara sakral tersebut ikut mengamini lepasnya status duda sahabatnya itu, jujur ada rasa tenang dalam hatinya karena sekarang ada seseorang yang menemani hidup Giras meskipun mereka mengawalinya dengan cara yang salah. "Selamat bro, semoga anakmu juga sehat, lancar menjalani kehamilan hingga waktunya melahirkan."


"Aamiin.. terima kasih"


Mereka berdua berpelukan ringan sebagai tanda persahabatan. Tak lama Bang Danar menoleh karena Nadine merasa mual dan lari keluar rumah Pak penghulu. Melihat Nadine merasa mual, Bang Danar mengikutinya. "Maaf, saya pamit keluar dulu..!!"

__ADS_1


~


Bang Danar sempat bingung merasakan dirinya, setiap dirinya merasa mual maka Nadine akan muntah, mabuk parah hingga nyaris kehilangan tenaga.. tapi anehnya saat Nadine sedang baik-baik saja atau merasa cemburu, maka dirinya yang akan di hantam habis-habisan oleh rasa mual. Kini ia mengerti arti dari sebuah ikatan batin.


"Owalaah.. ternyata kamu mau main sama Papa?" Bang Danar mengusap perut Nadine.


Nadine sudah sangat lemas bahkan untuk mengangkat sebelah tangan pun tak sanggup.


"Bagaimana Danar??" tanya Papa Huda melihat Nadine lemas.


"Ya lemas begini Pa kalau datang mualnya. Kalau saya yang mual Nadine sehat saja" jawab Bang Danar.


Para orang tua saling pandang, belum selesai mereka saling bertelepati bertukar pikiran masing-masing.. terdengar suara berisik dari dalam rumah pak penghulu.


"Mas Giii, Maas..!!!!!!" pekik Manda menangis membuat seisi ruangan panik.


Papa Huda dan Papa Farid kembali ke ruangan. "Ada apa?" tanya Papa Huda menanggapi pekikan Manda yang kini sudah menjadi menantunya.


"Mas Gi pingsan Pa" jawab Amanda.


"Laah.. kenapa lagi ini bocah?" gumam Papa Huda sambil membantu putranya untuk bangun.


"Tadi Mas Gi lihat foto profil Bang Danar di ponsel.. nggak tau kenapa Mas Gi jadi mual terus pingsan" Amanda menangis dan panik karena Bang Giras tak juga sadar.


"Foto apa sih yang buat pingsan?" Papa Farid mengambil ponsel Bang Danar yang tertinggal di dalam rumah karena mengikuti Nadine yang mual.


Papa Huda dan Papa Farid melihat foto yang sebenarnya sama sekali tidak bermasalah untuk di lihat. Foto Bang Danar bertelanjang dada, memakai celana loreng berkacamata dengan jambul kesayangan. "Salahnya dimana?" tanya Papa Huda bingung melihat putranya.


"Nggak tau Pa, katanya Mas Gi daritadi bilang jengkel lihat wajah Bang Danar yang tiba-tiba ganteng" jawab Amanda.


"Astagfirullah.. ini Nadine juga begitu Pa, jengkel banget lihat wajahku. Apa salahku?" gumam Bang Danar yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


"Kamu pakai make up penyamaran saja Dan, biar nggak di kira ganteng" kata Papa Farid.


"Aahh Papa.. Aku memang ganteng Pa. Kalau nggak ganteng mana mau Nadine aku buat hamil" kata Bang Danar santai.


"Danaaarr.. benar nggak punya malu kamu ya" Papa Farid menyepak kaki Bang Danar agar putranya itu diam.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2