Elang Timur

Elang Timur
39. Bumilku meresahkan.


__ADS_3

Nadine, Amanda dan Niken sedang menikmati seblak mereka di rumah Nadine.


"Menurut kalian.. apa Bang Danar sanggup berbuat hal seburuk itu?"


"Aku nggak begitu mengenal Bang Danar, hanya pernah bertemu beberapa kali saja tapi Bang Giras mungkin saja bisa belok" kata Niken.


"Nggak, Mas Giras itu fokus sama perempuan. Sampai kejadian itu pun Mas Giras tetap terfokus pada perempuan" jawab Nadine sampai kemudian ia menyadari ucapannya. "Ehmm.. maaf Manda.. aku nggak bermaksud bicara begitu." sungguh saat ini Nadine merasa tidak enak dengan Amanda yang sudah sedikit menunduk.


"Aku maklumi mbak, bagaimana pun dulu mbak dan Mas Gi pernah bersama, tidak ada yang bisa mengubah takdir itu"


"Tidak sampai tiga bulan Manda, dan selesai sampai disitu jodohku dengan Mas Gi." Senyum Nadine sungguh menunjukan bahwa istri Lettu Danar itu benar-benar sudah melupakannya Bang Giras. "Sekarang kamu istri Mas Gi dan dia sangat sayang padamu"


Amanda pun tersenyum tulus menanggapi ucapan Nadine.


"Sudah.. jangan saling cemburu. Sekarang kita habiskan seblaknya terus belanja hadiah untuk nanti sore. Apa kalian sudah ada ide?" Tanya Niken.


//


"Kalian sudah beli hadiah?" Tanya Bang Giras.


"Belum. Apa mau beli sekarang?" Bang Danar bertanya balik.


"Iya belum. Ajak saja Lukman untuk mengawal istri kita dan Khoirudin sama kita..!!" Saran Bang Rey.


Bang Danar mengambil ponsel di sakunya lalu mencoba menghubungi Om Lukman.


"Selamat siang.. ijin arahan Dan..!!" Jawab Om Lukman di seberang sana.


"Selamat siang.. saya minta tolong kamu kawal istri saya, istri Rey dan istri Giras ya ke swalayan tengah kota..!!" Perintah Bang Danar pada ajudannya, tak lupa ia menyalakan speaker ponselnya.


"Saya Dan??" Tanya Om Lukman seakan bingung mendengarnya.


"Iya kamu. Siapa lagi?"


"Ijin Dan, sekitar sepuluh menit yang lalu ibu bersama Bu Giras dan Bu Rey sudah keluar kesatrian berboncengan motor bertiga."


"Apa?? Kenapa kalian ijinkan????" Bentak Bang Danar membuat Bang Rey dan Bang Giras ikut kaget.


"Kata Bu Amanda sudah ijin dengan komandan" jawab Om Lukman.


"Astagfirullah Mandaa.. lalu siapa yang membonceng?" Sambar Bang Giras terbawa emosi.


"Siap.. ijin.. Ibu Rey..!!"


"Ya Tuhanku.. Niken nggak bisa kendarai motor dengan tegas" imbuh Bang Rey cemas.


"Manda pun nggak bisa."

__ADS_1


"Sama saja dengan Nadine. Sejak kapan dia lihai kendarai motor" jawab Bang Danar.


Sesaat kemudian ketika pria saling pandang. "Masya Allah.. terus bagaimana mereka?????" Pekik Bang Giras.


"Innalilahi.. bojoku..!!!!" Tanpa peduli apapun lagi Bang Danar berlari mengambil mobil Jeep di parkiran mobil, ia mematikan panggilan sepihak. Langkahnya diikuti Bang Giras dan Bang Rey hingga bersamaan masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan


"Cepat Dan.. ngebut..!!" Kata Bang Rey ikut memegang kemudi yang sedang di kendalikan Bang Danar.


"Heh Rey.. kamu mau kita mengulang kedunguan mereka?? Percayakan padaku..!! Aku ini mantan raja jalanan" suara Bang Danar sampai meninggi.


"Kalian jangan ribut. Kau diam Rey.. dan kau kemudikan mobil dengan benar" tegur Bang Giras ikut panik plus cemas memikirkan Amanda istrinya.


:


Beberapa menit perjalanan terlihat kerumunan orang. Ketiga suami waspada ini melihat baik-baik keributan yang terjadi di tepi jalan, lebih tepatnya pinggir sawah.


"Eehh.. itu motormu apa bukan Dan?" Tunjuk Bang Rey pada motor berwarna abu-abu.


"Cepat menepi, perasaanku nggak enak nih" kata Bang Giras.


Dengan cepat Bang Danar menepikan mobil. Ia pun segera turun dan menerobos kerumunan.


"Mandaaa??"


"Dek, Allahu Akbar.. mukamu lumpur semua..!!" Bang Rey segera menarik tangan Niken karena ia terjungkal ke dalam sawah.


"Maaf pak, bapak-bapak tentara ini siapanya korban ya?" Tanya seorang pria disana.


"Kami ini suami dari para korban Pak" jawab Bang Danar. "Dimana korban satu lagi Pak, dia istri saya."


"Itu Pak, yang sedang di tolong.. tergulung di lumpur sawah." Tunjuk pria tersebut.


"Astagfirullah.. Iki piye to ndhuk...!!" Bang Danar berjalan dengan cepat dan segera menolong Nadine.


"Tunggu pak..!!!!" Cegah seseorang lagi disana. "Kami minta ganti rugi. Sawah saya rusak..!!" Kata pria tersebut.


"Sabar ya Pak, nanti saya urus" jawab Bang Danar kemudian menggantikan warga disana untuk mengurus Nadine.


"Terima kasih banyak ibu-ibu, sudah membantu istri saya" ucap Bang Danar pada ibu-ibu di sana.


"Sama-sama Pak. Lain kali istrinya di antar saja pak, bahaya jalan disini ramai" saran seorang ibu.


"Baik Bu" jawab Bang Danar masih berusaha mengurai senyum.


"Ini gimana Pak, Saya minta ganti rugi sekarang juga..!!!!!!" Bentak pria tersebut membuat Nadine ketakutan, ia sampai meremas perutnya membuat Bang Danar naik pitam.


"Sebentar sayang..!!" Bang Danar mengusap perut Nadine lalu menyandarkan Nadine setelah mengusap wajah istrinya dengan lengan seragamnya kemudian berdiri dan berhadapan dengan pria tersebut. "Saya sudah bilang saya akan urus. Kalau kamu tidak percaya dengan ucapan saya.. silakan kamu temui saya si batalyon.. cari Lettu Danar Puraka"

__ADS_1


"Aaahh.. ini pasti mau bohong, pasti mau lari dari tanggung jawab karena nggak punya uang" kata pria tersebut kemudian ingin menarik lengan Nadine.


"Sebenarnya kamu mau di ganti rugi atau tidak? Jangan mengusik istri saya..!!" Suara keras Bang Danar sudah terdengar sangat menakutkan.


"Tetap dia harus bertanggung jawab karena sudah membuat sawah saya rusak. Saya gagal panen..!!!!" Teriak pria tersebut.


Emosi Bang Danar merangkak naik apalagi yang menyangkut tentang Nadine. Seketika Bang Danar memiting leher orang itu dan menyergapnya. "Mau saya ganti atau saya ratakan sawahmu?????"


"Kau ini salah masih mengancam. Kau ini aparat. Pokoknya saya mau di ganti seluruhnya..!!!!" Bentak pria tersebut.


"Abaaaanngg.. perut Nadine sakit..!!" Pekik Nadine. Bang Danar segera membantu Nadine namun pria tersebut mencegahnya.


"Ganti sekarang juga..!!!!!!!!"


Tangan Bang Danar menyambar dan menyergap leher pria itu lagi lalu membantingnya masuk ke dalam lumpur. Tak cukup dengan itu, Bang Danar masih menghantam dan terus menekannya.


"Heeehh Danar...!!!! Bang Giras melompat dan berlari menghadang sahabatnya itu agar tidak semakin kalap dan brutal sedangkan Bang Rey menyeret pria tersebut agar tidak semakin tenggelam di dalam lumpur.


~


Pria tersebut merangkak dan memeluk kaki Bang Danar saking takutnya.


"Saya mau bayar apa yang di rusak istri saya, tapi nanti..!! Saya urus istri saya dulu, istri saya sedang hamil muda. Saya takut kandungannya celaka." Kata Bang Danar masih dengan emosinya.


"Iya Pak, saya minta maaf..!!"


"Besok pagi kamu ke kantor saya, saya bayar cash disana saja. kamu sangat menjengkelkan..!!" Ucap tegas Bang Danar.


"Baik pak, saya yang akan datang ke kantor bapak. Terima kasih..!!" Kata orang tersebut.


:


Bang Danar menyemprot tubuh Nadine di belakang rumahnya.


"Sudah menuduh Abang yang tidak-tidak, pergi dari rumah tanpa ijin dan akhirnya malah celaka seperti ini. Masih untung kamu nyemplung di sawah, bagaimana kalau tadi di cium aspal??????" Bentak Bang Danar meradang, sungguh ia marah besar bukan karena tak sayang, tapi karena terlalu sayang pada istrinya itu.


"Yang mau marah itu Nadine.. bukan Abang..!!" Kata Nadine masih menangis sesenggukan.


Meskipun sedang marah pada istrinya tapi melihat ekspresi wajah Nadine tadi jelas membuatnya ingin tertawa, namun ia harus tetap memberi syok terapy pada sang istri agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Berboncengan tiga tanpa helm dan lagi ketiganya tidak pandai mengendarai motor. "Belum kapok juga rupanya ya.. minta di apakan istri begini?? Abang stempel lunas baru tau rasa kamu..!!


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2