
"Satu lagi Baang..!!" Nadine sungguh ceria dan tertawa tanpa beban.
Melihat sang istri begitu bahagia, tentu saja hatinya tidak tega. Ia melahap bakso terakhirnya meskipun perutnya sudah panas tersiksa.
"Habis..!!" Bang Danar mengangkat tangannya. Peluh bercucuran tak di rasakannya. "Susu yank..!! Cepaaatt..!!"
"Iisshh komandan.. saya bujangan. mau minta siapa??"
plaaaakk..
"Ini susu murni Man, biar nggak pedas." Bang Danar terbawa emosi. "Sempat-sempatnya kamu ngeres ya. Saya sudah nyaris mati nggak kuat pedas..!!" Kata Bang Danar.
Om Lukman merosot lemas hingga ke lantai. "Saya juga Dan..!!"
Nadine kaget melihat Bang Danar berwajah pucat. "Abaang.. ini susunya..!!"
Bang Danar seakan tak mendengarnya lagi, ia mengambil ponsel dan menghubungi bagian kesehatan lapangan. "Tolong saya.. saya keracunan..!!"
...
Bang Danar duduk memakai sarung dan berbaring di sofa bersama Om Lukman.
Para anggota ingin tertawa tapi semua ini ulah ibu Pasi yang sedang ngidam.
"Abang mau salahin Nadine? Kalau Abang tau nggak kuat makannya, kenapa Abang makan juga? Setengah saja khan bisa" kata Nadine bernada kesal.
"Sudah dek, Abang nyerah.. iya Abang yang salah, sama baksonya.. plus di Lukman biang salahnya. Kamu mah nggak salah cantikku" jawab Bang Danar.
"Siap salah ibu, memang saya yang salah" Om Lukman pun pasrah tidak ingin bersengketa dengan ibu Pasi. Cukup ia paham untuk mengaku salah dan masalah usai dengan sempurna.
"Lain kali kalau tau sakit perut jangan memaksa. Khan Nadine jadi cemas di kira minta Abang habiskan semua."
Bang Danar hanya nyengir kuda tak ingin berdebat. "Aduuh perutku sakit sekali"
"Ijin Dan.. minta minyak angin lagi..!!" Kata Om Lukman ikut nyengir.
***
Pagi ini Danyon benar membuat ijin untuk Pasint yang sedang sakit bersama seorang ajudannya. Danyon menertawai Bang Danar yang sedang sakit.
"Kalau ada yang sakit minimal di amplopin Bang, ada rasa prihatin gitu Bang.. ini malah ketawa. Saya ini ngenes Abaang" protes Bang Danar.
__ADS_1
"Kamu itu butuh amplop yang bagaimana lagi, dompetmu saja sudah tebal" jawab Bang Jamal tertawa terbahak karena melihat anak buahnya yang biasanya gagah perkasa menenteng senjata kini harus terbaring berbalut sarung. "Kalau Lukman boleh lah ada amplop dukacita dari saya. Saya ikhlas.. hahahaha.."
"Siap.. Terima kasih banyak untuk dukacita nya Danyon" jawab Om Lukman memelas.
Petugas lapangan sejak semalam sungguh di sibukan oleh dua orang diare yang sangat merepotkan dan mendadak rumah PasInt di jaga ketat karena takut sakitnya akan semakin parah.
"Ngomong-ngomong mana Bu Danar?" Tanya Danyon.
"Masak untuk kita di dapur."
Seketika itu juga tawa Danyon hilang dan berganti menjadi wajah pucat pasi. "Nggak usah repot-repot. Saya tadi baru saja makan" kata Danyon menolak secara halus.
"Maaf ya Bang, istri saya ngidamnya lagi senang masak. Apapun yang berhubungan dengan makanan dan kompor, dia senang sekali. Saran saya lebih baik kita perbanyak istighfar dan tawakal" jawab Bang Danar.
"Begitu ya.. kalau begitu petugas lapangan tolong siapkan saya obat kuat donk..!!" Pinta Bang Jamal.
"Ijin Danyon.. kuat dalam artian apa? Ijin arahan??" Tanya petugas bagian lapangan.
"Astaga.. kita ini pasukan yang sedang di serang. Istri PasInt punya misi berbahaya buat kita. Cepat cari obat yang buat saya kuat dan kebal makan apapun" perintah Danyon.
...
Bang Giras tetap melahap masakan Nadine meskipun mungkin akan sangat menyiksa. Ia pun baru bisa keluar rumah dan bertandang ke rumah sahabatnya itu setelah semalaman membujuk Amanda yang sangat sedih karena ulah Anne.
"Bagaimana Amanda?" Tanya Bang Rey.
"Ya salah paham, tapi sudah selesai. Dia sudah ku beri pengertian." Jawab Bang Giras.
"Aku nggak bermaksud membela adikku Gi. Tapi Nadine juga sangat kasihan berada di posisi ini. Mungkin kalau semalam dia tau masalah ini.. kita tidak akan bisa makan dan akrab dengan anggota seperti ini"
"Iya Rey. Danar juga lebih memilih tersiksa daripada Nadine jadi korban. Demi Nadine para anggota ikut menanggung beban" kata Bang Giras mengundang tawa anggota lain yang rata-rata mengerti duduk persoalannya.
"Obatku mana?? Aku harus cepat di tolong" Danyon mulai ribut sendiri takut diare seperti Bang Danar.
//
Om Yusuf duduk berhadapan dengan Anne di sebuah rumah makan. Mereka sedang ribut padahal pengajuan nikah mereka belum usai.
"Abang nggak nyangka kelakuanmu seperti ini Anne"
"Terus Abang mau apa? Batalkan pernikahan kita?? Nggak ingat sama anak di perut Anne??" Tanya Anne menekan Om Yusuf.
__ADS_1
"Kamu keterlaluan Anne. Kamu merusak hubungan orang lain demi mengejar ego dan bahagiamu sendiri. Kamu licik Anne" bentak Om Yusuf.
"Apa salah kalau Anne ingin bahagia? Apa salah kalau Anne juga ingin di manja seperti perempuan lain dan di cintai sepenuh hati? Anne menggunakan akal dan pikiran untuk bisa bahagia. Kenapa Abang datang dalam kehidupan Anne lalu memaki saat keinginan Anne tidak sejalan dengan harapan Abang?" Anne tidak kalah membentak.
"Caramu salah Anne. Kita batalkan pernikahan kita, anak itu tetap menjadi tanggung jawab Abang" Om Yusuf mengeluarkan uang dari sakunya lalu meletakan di atas meja makan kemudian meninggalkan Anne yang duduk dengan wajah datar seorang diri. "Pulanglah ke kontrakan. Kasihan Key sendirian di rumah sama bibi."
//
Om Lukman memilih tidur di barak. Ia tidak ingin terus melihat kemesraan komandannya yang terkadang membuatnya sangat iri. Di antara wajah datarnya.. Lettu Danar sangat lembut memanjakan sang istri bahkan suaranya berubah semanis madu berbeda dengan seperti saat berada di lapangan seperti ketegasan seorang pemimpin pada umumnya.
"Kapan aku punya pacar? Bosan rasanya sendirian. Pengen seperti Pak Danar. Enak sekali melihat istri manja di rumah. Apapun sudah di siapkan, nggak pernah lapar meskipun ujung-ujungnya hampir mati" Gumamnya sampai akhirnya tertidur.
//
"Naahh begitu, jadi istri yang sholehah. Pijat Abang, biar semangat cari recehan buat kamu sama anak-anak"
"Iya Bang" Nadine terus memijat Bang Danar meskipun matanya sudah berat tersisa lima Watt. "Hmm Bang, Nadine pengen sesuatu deh"
Mata Bang Danar langsung terbuka lebar. "Pengen apa? Lihat Abang makan pedas lagi??" Tanya Bang Danar cemas.
"Nggak Bang, Nadine pengen jadi artis"
"Walah.. artis opo to dek?" Bang Danar kembali memejamkan mata menganggap ucap Nadine hanya keinginan biasa.
"Nadine pengen syuting di Batalyon." Nadine merengek menggoyang lengan Bang Danar.
"Mau jadi apa kamu? Tentara wanita?" Tanya Bang Danar.
"Nggak.. Nadine mau jadi Nyi Roro kidul"
Mata Bang Danar kembali terbuka. "Nyi Roro kidul nggak bawa senapan dek. Mana ada Nyi Roro kidul main senapan"
Mata Nadine berkaca-kaca. Ia keluar dari kamar tanpa kata membuat Bang Danar pusing di buatnya. "Deehh.. aku harus bilang apa sama anggotaku. Ini khan masalah pribadi. Masa iya aku minta bantuan nurutin istri ngidam, tapi kalau nggak di turutin.. bisa amblas jatah ganti oli samping" gumam Bang Danar penuh dilema.
.
.
.
.
__ADS_1