
"Kalau begini terus, Rudra nggak ada yang urus Pa. Nadine mabuk, Danar sibuk"
"Manda bisa ngasuh Rudra Ma" kata Manda pada Mama Ayu. "Rudra anak Manda juga"
"Bukannya nggak boleh sayang, kamu sendiri juga sedang hamil muda." jawab Mama Ayu.
Manda terdiam, entah apa yang sedang di pikirkan Amanda.
"Nanti ada saatnya kalian merawat Rudra. Sekarang fokuslah pada kehamilan dulu, biar para Oma turun tangan merawat cucu. Lagipula para Opa sangat senang dengan kehadiran cucu di sekitar mereka. Kerja juga jadi semangat" kata Mama Cher.
Nadine hanya bisa terdiam karena tidak ada yang salah juga dari ucapan para Oma.
"Papa akan sering membawa Rudra bertemu denganmu..!!" kata Papa Huda.
"Papa.. jangan di paksa. Kami para ayah yang akan menjaganya" Bang Danar seakan tau perasaan Nadine.
"Danar.. jangan ngeyel. Paling tidak sampai mereka tidak lemas lagi. Kasihan bumil-bumil ini...!!" nada suara Papa Huda pun meninggi.
"Kalau lemas.. aku juga lemas Pa" sambar Bang Danar.
"Mau kamu terlempar dari genteng sekalipun Papa nggak peduli" jawab Papa Huda.
***
Dua hari sudah Amanda tinggal di rumah dinas bersama Bang Giras. Sekalipun ia belum pernah menampakkan batang hidungnya untuk bertemu dengan Nadine lagi. Hingga saat dirinya sedang mengepel lantai, ia bertemu lagi dengan Nadine. Sebagai istri Bang Giras, ia pun harus tau diri untuk menyapa.
"Mbak Nadine? Masih mual mbak?" sapa Amanda.
"Eehh iya nih, tapi hanya sekedar mual saja kok"
"Oohh iya, sama Mbak. Hmm.. mbak, kita ke kebun belakang kantor yuk, kemarin aku lihat ada durian. Sepertinya enak mbak" ajak Amanda.
"Ayoo.. jangan ketahuan Abang. Nanti bisa marah tuh" jawab Nadine. "Sekalian nanti aku mau ambil bunga turi, Abang minta di masakin tumis bunga turi"
"Okee mbak, aku ganti baju dulu"
//
Bang Danar dan Bang Giras sedang mual hebat di toilet yang berbeda. Suaranya bersahutan seperti lomba paduan suara.
"Tolong bagian kesehatan lapangan agar bawa tandu ke sini. Ini Danki dan PasInt sedang nge drop." kata Om Lukman meminta pada juniornya yang melintas dekat toilet.
"Siap..!!"
"Ini bagaimana Bang, Danki juga lemas" kata Pratu Khoirudin saat membantu Bang Giras di toilet samping.
"Ya ini makanya saya minta tolong ambil tandu" jawab Om Lukman.
"Heehh Lukman, kamu kira saya ini lumpuh.. nggak bisa jalan sampai harus di tandu..!!" omel Bang Danar yang berusaha berdiri sekuatnya.
__ADS_1
"Aku nggak kuat, nyerah..!! Bawa dokter kesini, dukun atau apa saja lah. Aku nggak kuat mabuknya" Bang Giras sempoyongan dan terpaksa harus di sangga Om Khoirudin.
"Dukun beranak mau lu? masa mual begini saja nggak kuat, cemen lu Gi" ledek Bang Danar sesumbar. Tak berapa lama Bang Danar mengendus bau parfum yang aneh dari tubuh Om Lukman. "Heehh Lukman.. kamu pakai parfum apa??" tegur Bang Danar kembali mual.
"Ijin Komandan.. ini bukan parfum, tapi saya baru gosok bensin di tangan karena ketumpahan cat kayu" jawab Om Lukman.
"Aaiiisshh.. minggir kamu, saya semakin mual saja" Bang Danar mendorong Om Lukman dengan kesal.
Bang Danar dan Bang Giras sama-sama keluar dari toilet dan bertemu wajah. Seketika itu juga keduanya sama-sama kesal. "Sumpah aku tidak senang melihat wajahmu" kata Bang Giras.
"Kau pikir aku senang haahh??" Bang Danar pun tak kalah kesal.
"Oohh Tuhan.. pusingnya kepalaku menghadapi dua perwira mabuk ini" gerutu Om Lukman menyergap dan menjauhkan PasInt dari Danki.
"Sebenarnya kedua komandan mabuk apa sih Bang?" tanya Om Khoirudin.
"Ya mabuk ngidam. Bu Nadine dan Bu Manda sama-sama hamil, tapi mabuknya pindah ke Komandan"
"Owalaah.. ada yang begitu ya Bang" Om Khoirudin mengangguk paham meskipun ada rasa tidak percaya dalam hatinya.
"Lepas, saya bisa jalan sendiri." Bang Danar melepas sergapan Om Lukman kemudian meninggalkan tempat.
Sejenak mendapat empat langkah, Bang Danar terdiam dan tiba-tiba tubuhnya tumbang, beruntung petugas kesehatan lapangan datang dan dengan sigap menahan tubuh Bang Danar.
"Hwuuuuu.. mual begini saja nggak kuat, cemen lu..!!" Bang Giras balik meledek Bang Danar yang sudah ambruk dan di gotong menggunakan tandu.
//
"Nggak bilang Mbak, nanti kalau kita bilang malah Abang mau minta duriannya" jawab Nadine dan Amanda malah mengangguk membenarkan sifat kikir Nadine.
Seketika Bu Jamal terbahak mendengarnya tapi tetap menghubungi Bang Danar dan Bang Giras karena istrinya telah melahap durian di kebun Batalyon, tidak masalah mereka melahapnya, masalahnya kedua istri perwira muda ini sedang hamil muda.
~
"Apa Mbak, Manda makan durian?" saat itu juga mata Bang Giras terbuka lebar. "Ini Danar masih muntah sampai lemas, makanya nggak bisa angkat telepon"
"Ada apa Gi?" tanya Bang Danar merasa namanya di sebut, ia pun masih meremas perutnya setelah Bang Giras menutup panggilan teleponnya.
"Manda sama Nadine ngeriung di bawah pohon. Makan durian habis enam biji" jawab Bang Giras.
"Haaaaaaahh.. beraninya mereka makan durian nggak ijin"
"Mana kutahu. Nadine makan paling banyak" imbuh Bang Giras.
"Ya Tuhan.. Ayo kesana..!!!!" seketika rasa mual dan mabuk Bang Danar juga hilang berganti rasa resah memikirkan bumilnya.
~
"Siapa yang ijinkan kalian makan durian??" tegur Bang Giras dengan intonasi suara tinggi sembari mengumpulkan kulit durian yang kini sudah berjumlah delapan buah."
__ADS_1
"Nggak ada." jawab Nadine dan Amanda bersamaan.
"Apa kalian nggak tau kalau durian panas di perut? Sadar nggak kalian kalau lagi hamil??" Bang Danar pun ikut memarahi keduanya.
"Nadine hanya coba sedikit Bang" jawab Nadine pelan. Wajahnya terlihat takut melihat ekspresi wajah Bang Danar.
"Abang getok kepalamu ya..!! Kalau delapan kamu bilang sedikit, terus banyaknya seberapa??" antara sabar dan tidak, Bang Danar mencoba menekan emosinya.
"Tapi kata dokter, nggak apa-apa kok Mas makan durian, aman" Amanda pun mencoba membela diri.
"Dokter mana yang bilang aman???? Aman kalau hanya mengincip sedikit.. kalau ini namanya makan."
"Aduuduuuhh.. perut Manda sakit Mas..!!"
"Lailaha Illallah.." Bang Giras langsung meletakan kembali karung di tangannya dengan kasar sampai tak sengaja melompati durian yang baru di panen, masih utuh dan belum sempat terbuka. "Kita ke rumah sakit sekarang..!!" Bang Giras sudah berniat menggendong Manda tapi istrinya itu menepak tangannya.
"Mas mau apa?" tanya Manda.
"Mau gendong kamu lah" kata Bang Giras.
"Manda lapar Maas..!!"
"Eealaaah ndhuk, bilang donk..!!" Bang Giras membuang nafas kasar melepas panik dalam hatinya.
"Kamu juga lapar??" tegur Bang Danar berkacak pinggang melihat Nadine. Mabuk yang tadinya membuatnya nyaris mangkat kini raib entah kemana.
"Perut Nadine panas Bang, sakit sekali.. Aahh.. seperti di remas" kata Nadine dengan wajah perlahan memucat.
"Weehh, tenan opo ora to iki?" Bang Danar berjongkok di depan Nadine dan memperhatikan ekspresi wajah Nadine. "Yang benar dek. Abang nggak mau panik gara-gara kamu bohongi lho"
"Na_dine, mau pingsan Bang"
"Lahdalaah.. Maann.... Lukmaaann..!!!!!!" teriak Bang Danar memanggil Om Lukman.
"Siap Komandan.. arahan..!!"
"Tolong bawakan mobil saya kesini..!! Cepat..!! Istri saya mau pingsan..!!"
"Bang.. Nadine kebelet.."
"Alaaaah.. opo maneh sih iki dek??" Rasanya Bang Danar ingin melompat ke dalam sumur saking bingungnya.
.
.
.
.
__ADS_1