Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
PROLOG


__ADS_3

Elsa


---


"Topi toga."


"Rok rumbai tali."


"Gelang krincing."


"Tanda pengenal."


Elsa, gadis cantik berkacamata dengan gaya barunya yang dibuat secupu mungkin masih sibuk menyiapkan semua peralatan untuk mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa). Sedari tadi dia mengerjakan semuanya di kamar tanpa seorang teman.


"Sudah selesai." ucap Elsa sembari tepuk tangan sendiri.


Besok adalah hari pertama dia menjadi anak SMA. Tak seperti lainnya yang mulai berandai-andai masa SMA penuh kisah, Elsa hanya punya harapan yang sederhana. Dia ingin mengubur masa SMP agar masa SMA nya tenang.


Elsa bukanlah gadis yang mengeluh dan tak banyak meminta. Dia selalu bersyukur dalam keadaan apapun itu, terlebih ketika ada mereka yang baik hati merawat Elsa, Paman dan Bibi Andre.


---


Elsa anak broken home. Keluarganya hancur setelah papanya menerima surat PHK dari perusahaan dan ditambah susahnya mencari pekerjaan baru. Dia sering menyaksikan orang tuanya marah-marah. Bahkan papanya berubah menjadi sosok tempramen.


"Laki-laki gak berguna! Kamu pengen kita mati hah?" hardik mamanya setelah menjual beberapa aset lagi.


"Kamu juga perempuan gak becus! Bantu suami kerja atau meringankan beban kek! Seharusnya uang hasil penjualan aset kemarin cukup untuk 3 bulan ke depan. Kamu ngolahnya gimana? Bodoh!" Vas bunga pun dihancurkan seketika. Elsa benar-benar takut melihat papanya bereaksi seperti itu. Dia segera berlari ke kamarnya.


Elsa selalu mengunci diri di kamar sambil menangisi keadaan orang tuanya yang setiap harinya saling menghardik. Mereka sudah bahkan tak pernah bertanya lagi tentang Elsa. Bagaimana perasaan Elsa melihat orang tuanya.


Tak ingin berlarut-larut, Gunawan, papanya berusaha memperbaiki kembali keluarganya mulai dari finansial.


"Aku akan kerja ke luar pulau. Kalian jaga diri baik-baik di sini." ucap Gunawan sungguh-sungguh.


Seketika kondisi keluarganya mulai membaik. Tak ada pertengkaran seperti sebelumnya, yang ada mulai merindukan sosok papa.

__ADS_1


Namun itu semua hanya sebentar. Tujuh bulan setelah menjelaskan ke mereka dirinya akan pulang, Gunawan tak ada kabar sama sekali. Anne, mama Elsa mulai kebingungan. Dia berusaha menghubungi perusahaan dimana suaminya bekerja, hasilnya pun nihil.


Rasa kecewanya begitu besar kepada Gunawan. Di tengah frustasi itu Anne mengambil keputusan gegabah. Dia tak ingin lama-lama terpuruk akhirnya memutuskan menikah lagi. Anne menikah dengan Hans. Namun keadaannya semakin memburuk.


Awalnya Hans baik namun seiring berjalannya waktu dia menunjukkan taringnya. Elsa mulai mendapatkan kekerasan dari ayah barunya. Di rumah dia selalu mendapat pukulan keras karena kesalahan-kesalahan kecil yang dia lakukan. Hardikan juga tak pernah luput di telinganya.


"Dasar bodoh! Disuruh membersihkan sepatu saja tidak bisa?!" bentak Hans melihat semir sepatu belum rata. Seketika tubuh Elsa dipukul dengan sepatu.


Tak cukup di situ. Keadaannya semakin diperburuk di sekolah. Dulu sekali setelah papa Gunawan menganggur dia mulai menjadi bahan olok-olokan temannya.


"Ups, sorry. Kenapa duduk di sini sih?" seseorang sengaja menuangkan saos di rambut Elsa. Kepala Elsa benar benar panas, tapi dia tak berani melawan.


Elsa pernah melawan temannya. Tanpa diduga orang tua gadis itu datang memberi ancaman kepadanya sedangkan saat itu Elsa hanya sendiri. Papa dan mamanya hanya mengabaikan. Mereka terlalu sibuk dengan kondisi keuangan. Kini dia tahu yang perlu segera dia lakukan hanya membersihkan diri dan menjeritkan mama papanya di toilet sepi.


Elsa sudah tak peduli lagi dengan pendidikannya. Setelah UN berakhir, Elsa bertekad ingin kabur dari rumah. Dia sudah tak tahan lagi dengan semua.


Anne kebingungan. Hans mencegahnya untuk mencari Elsa. Dia mulai mengeluarkan ancaman kepadanya. Tak hanya menceraikan, tapi juga akan menjual dirinya.


Anne tidak bisa berbuat banyak untuk mencari Elsa. Bahkan Anne harus segera meninggalkan rumahnya karena pindah tugas Hans. Dengan terpaksa Anne mengabaikan Elsa.


"Elsa, ada apa denganmu? Kenapa seperti ini sayang?" Bibi Andre meraih Elsa dalam pelukannya. Elsa tak berbicara namun tangisnya pecah.


Hari itu Paman Andre berusaha mencari Anne dan Gunawan. Namun semua nihil, sampai akhirnya Paman dan Bibi Andre memutuskan membawa Elsa ke rumah barunya di Mojokerto.


Hidup Elsa mulai tenang kembali, meski masih banyak ketakutan yang terus menghantui. Namun dia tahu, Tuhan selalu menyayanginya. Kini dia tidak sendiri lagi. Dia akan baik-baik saja. Dan jika sudah kuat nanti dia akan mencari papa dan mamanya.


---


Sebelum menyambut hari esok, seperti biasanya sebelum tidur, dia berdoa. "Tuhan, tolong jangan kirim orang jahat lagi. Aku hanya ingin sekolah seperti mereka. Aku janji aku akan selalu membantu Paman dan bibi. Jika aku sudah bertemu mama nanti, aku janji akan minta maaf. Aku juga ingin bertemu papa. Tuhan, tolong jauhkan aku dari orang jahat lagi."


Seketika Elsa terlelap dengan harapannya dan berdoa agar mimpi indah menemani malam-malamnya.


~


Nathan

__ADS_1


---


Di tempat yang berbeda, seorang anak laki-laki juga baru menyelesaikan perlengkapan MOS. Dia baru bisa mengerjakan perlengkapan MOS setelah mencuci piring, gelas, blender, mixer, dan semua perabotan dapur di cafe & resto orang tua temannya.


Namanya Nathan, dia cowok tampan, tingginya 175 cm, kulitnya putih mulus, matanya seperti tatapan elang, badannya pun mulai berotot. Dia sudah menjadi sosok idaman meski usianya baru 17 tahun tapi syarat kedewasaan sudah menghampirinya.


Dia bekerja baru 1 tahun setelah orang tuanya berpisah tepat disaat dia baru naik kelas 3 SMP. Dia memilih ikut dengan mamanya untuk pindah di tempat yang jauh dari papanya, Smith. Mereka mulai hidup baru tanpa ada rasa benci.


Beruntung orang tua Alex, sahabatnya di SMP dulu, baru saja membuka cafe & resto di sekitar tempat tujuan Nathan. Alex langsung menelpon Nathan dan meminta mereka tinggal d restoran itu. Nathan juga meminta ke orang tua Alex untuk memberikan pekerjaan paruh waktu di restoran.


"Baiklah. Kau bisa membantu restoran dengan menjadi buruh cuci. Apa kau keberatan?"


"Saya sangat senang mengerjakannya." ucap Nathan sungguh-sungguh. Mamanya juga menjadi pegawai di cafe dan restoran tersebut.


Hari-hari sebelumnya, setiap sepulang sekolah Nathan segera belajar dan menyelesaikan tugas sekolah. Pukul tiga sore Nathan memulai bekerja mencuci perabotan dapur. Selanjutnya dia membersihkan ruangan agar esoknya sudah tampak rapi. Dia baru bisa istirahat pukul sepuluh malam.


Meski melakukan kerja sampingan, Nathan tak pernah melupakan pendidikan. Dia selalu mengikuti aturan sekolahnya termasuk diharuskan mengikuti 1 ekstra. Nathan memilih ekstra Pramuka. Alasannya sederhana, karena Pramuka hanya di hari Sabtu sore dan Minggu siang. Nathan juga bisa memperluas pergaulannya dengan teman-teman dari sekolah lain.


Tak butuh waktu lama Nathan bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Sebenarnya Nathan anak yang mudah sekali bergaul dan ceria. Tidak hanya tampan, dia juga cerdas. Hanya saja setelah perceraian orang tuanya menjadikan dirinya sedikit tertutup. Nathan lebih fokus dan perhatian ke mamanya.


Meskipun perpisahan ini sangat menyakitkan Nathan, bukan berarti dia menjadi benci papanya. Wulan, mama Nathan selalu berkata, "Percayalah papa selalu berusaha melindungimu dan selalu menyayangimu. Sekarang tetap lanjutkan pendidikanmu demi mama. Mama dan papa menyayangimu."


Sebenarnya alasan Nathan tak membenci papanya karena permintaan mama. Sampai sekarang pun Nathan sendiri juga tidak tahu kenapa papa serta merta berpisah dengan mama.


Nathan sangat bersyukur memiliki mama yang tetap menanamkan cinta dan sayang di keluarga kecilnya apalagi untuk papa. Impiannya pun sederhana, dia ingin keluarga yang dulu kembali utuh bersama lagi.


---


Karena padatnya pengunjung di hari ini, membuat Nathan baru bisa menyiapkan perlengkapan MOS untuk malam selarut ini. Setelah dipastikan semua sudah siap, Nathan merebahkan diri sejenak di sofa dan berharap ada hal yang menyenangkan di masa barunya esok.


Sebelum ke kamar, Nathan menemui mamanya yang terlelap dulu.


"Mama, Nathan tidur dulu. Nathan sayang mama. Nathan juga selalu sayang papa. I love you." satu kecupan manis mendarat di dahi mama. Nathan memandang mamanya dengan senyum bahagia.


"Terima kasih, Tuhan. Lindungi selalu mama dan papaku." Nathan kemudian bergegas menuju kamar untuk menuntaskan rasa kantuk yang sedari tadi menunggu.

__ADS_1


 


__ADS_2