
Satu per satu moge itu datang ke parkiran resto. Kaum leyeh-leyeh yang masih mengenakan seragam Pramuka itu turun dari mogenya dan bergegas menuju resto yang padat pengunjung itu. Mereka langsung menuju belakang dekat dapur. Mereka tak melihat Nathan di tempat cucian. Lalu bersama-sama mencari mama Nathan. "Bibi, Nathan kemana Bi?"
Wulan melihat tempat cucian dan tak mendapati Nathan di sana. "Tadi dia mencuci di sini."
"Tidak ada, Bi. Kita mau tanya kenapa Nathan gak masuk pramuka." tanya Rio tak sabaran.
"Oh, tadi dia ke toko sepatu. Coba cari saja di sekitar. Dia tidak izin bibi keluar resto." ucap Wulan sebelum meninggalkan mereka karena banyaknya pekerjaan.
Mereka langsung mencari Nathan di kamar barangkali ada. "Toko sepatu?" tanya Evan heran. "Setauku sepatu Nathan masih masih bagus. Dia juga bukan anggota klub dari ekstra apapun. Dia butuh sepatu apa?"
"Sudah kita cari Nathan dulu. Bisa-bisanya dia tidak memberi tahu kita absen pramuka." ucap Joe sembari keluar kamar ketika tak mendapati Nathan di sini.
Mereka mulai mencari di belakang cafe dan tampaklah yang dicari ketemu juga. Mereka menemukan Nathan sedang bersama cewek cakep pake banget.
Rio menggeleng seketika,"Eh ternyata, eh ternyataaa. Ayok kita samperin sekarang."
Kompak lainnya segera menghadang Rio. "Kesel ya kesel. Tapi kita ya harus pengertian dikit lah sama Nathan. Dia lagi kencan masak kita merusak suasananya. Gak etis lah bro. Mending kita intip dari jauh model pacaran Nathan kayak gimana. Kalo cocok kita praktekkan." gumam Eric.
Rio memanggut mendengar alasan Eric. Dia hampir saja menjadi orang yang tak punya perasaan. Sejenak mereka melupakan soal absen Nathan. Mereka mulai mencari tempat strategis untuk menyaksikan pertunjukan. Mereka memilih bersembunyi agak menjauh di pohon yang letaknya di depan mereka.
"Eh buset cakep banget cewek Nathan. Pantes aja belain absen." ucap Evan yang begitu terpesona dengan kecantikan Elsa.
"Rio, foto, foto, cepet!" perintah Eric sembari memukul pundak Rio berkali-kali. Rio segera mengeluarkan smartphone-nya dan mulai beraksi.
"Sumpah, ane kayak nonton Drakor." komen Joe menyaksikan mereka berdua. "Rejeki Nathan dapat cewek cakep gitu."
"Bener-bener nih. Kenapa kita selalu kalah sama Nathan sih guys." sungut Evan.
"Dah, nanti aja breaknya. Kita liat Drakornya udah main nih." ucap Joe.
Semua mulai menatap serius ke arah mereka.
Nathan dan Elsa kini duduk dalam satu kursi. Tak ada jarak diantara mereka. Mereka sama-sama gugup, bahagia campur aduk. Elsa menutupi gugupnya dengan membenarkan rambut panjang cantiknya ke telinga berkali-kali. Dia benar-benar bahagia dan takut. Bahagia bisa bersama Nathan di satu kursi. Takut semakin memikirkan Nathan karena hari ini.
__ADS_1
Nathan tak jauh beda dengan Elsa. Dia sempat kehilangan ribuan kata di dekat Elsa. Jantungnya bernyanyi kencang seperti rocker. Dia juga berkali-kali memandang ke atas untuk menyembunyikan bahagianya.
"Nyari pelangi gak ada. Taunya lagi duduk di samping." gombal Nathan yang begitu garing.
Sayangnya Elsa sudah berbunga-bunga dengan gombalan Nathan yang tawar. Pipinya merona dan dia menjadi semakin salah tingkah. Elsa membuang muka sembari menggigit ujung jari untuk menyembunyikan senyum manisnya. Nathan pun tersenyum bahagia melihat Elsa yang salah tingkah. Dia menjadi semakin berani untuk berbicara dengan Elsa.
"Emmm, hari ini kamu merasakan ada perasaan yang aneh gak? Kayak angin lewat tiba-tiba atau apa gitu?" kata Nathan yang berusaha mengungkapkan perasaannya pelan-pelan.
Elsa menoleh ke Nathan dengan pipinya yang masih merona. Tanpa diduga Elsa memberanikan menjawab. "Maksud kamu seperti ada hantu lewat?" jawab Elsa polos dengan ekspresi yang imut.
Sontak saja kaum leyeh-leyeh yang sedari tadi asik mengawasi mereka tertawa cekikikan mendengar jawaban dari cewek yang masih belum mereka ketahui namanya itu.
"Bisa-bisanya nebak hantu lewat di siang bolong." ucap Eric sembari ketawa kecil.
Mendengar jawaban Elsa yang diluar dugaan, Nathan menjadi bingung untuk mengutarakan perasaannya. Dia khawatir apa dirinya sedang membuat prolog yang salah.
"Iya." jawab Nathan asal karena kebingungan.
Tanpa diduga, Elsa mendekatkan dirinya ke Nathan. Reflek dia memegang tangan Nathan dengan erat. Elsa begitu percaya apa yang dikatakan Nathan meski soal hantu di siang hari. Namun tak berlaku untuk Hannah yang berkata sungguhan soal kuntilanak.
Tak dapat dipungkiri, Nathan sangat merindukan kedekatan ini. Elsa hari ini ataupun kemarin, baginya tetap sama. Dia tetap selalu ingin didekatnya dan selalu ingin melindungi pula. Hanya Elsa yang bisa membuat dirinya sebahagia ini. Nathan tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Elsa yang ketakutan.
Elsa menebarkan pandangan ke sekitar. Dia melihat tanaman mawar di sekitarnya, lalu melihat semak-semak di depannya. Taman ini terlalu cantik untuk dihuni hantu.
Seketika Elsa teringat tentang hantu di taman cantik Gedung Putih AS yang konon dijaga mendiang seorang istri presiden AS terdahulu. "Apa hantunya pemilik taman seperti cerita tentang Dolley Maddison?"
Nathan tak menjawab pertanyaan Elsa. Seketika Elsa menyadari ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Dadanya mendadak bergemuruh dan desiran yang sudah hilang beberapa hari itu kembali datang. Elsa melihat ke lengan Nathan yang tanpa dia sadari telah dia pegang erat. Elsa menatap Nathan yang juga menatap dirinya. Kemudian tersadar dan melepaskan tangannya.
Baru saja Elsa melepaskan tangannya, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak di semak-semak depan mereka.
"Aaaaa. Dia dataang?"
Sontak Elsa berteriak dan memeluk Nathan karena terkejut akan kehadiran hantu yang sedang bersembunyi di semak-semak. Benarkah hantu?
__ADS_1
Rupanya itu ulah usil kaum leyeh-leyeh yang melempari semak-semak dengan botol.
"Berhasil broo." teriak kecil Rio sambil mengguncang tubuh Joe di sampingnya.
"Gak nyangka cuma bualan hantu siang bisa jadi rejeki." ucap Eric yang tak melepaskan pandangan dari pertunjukan.
Nathan memeluk Elsa yang ketakutan. Elsa semakin menyembunyikan wajahnya di dada Nathan.
"Tolong usir dia." pintanya dengan lembut.
Nathan hanya tertawa kecil. Dia ingin berterima kasih dengan semak-semak yang mendadak bergerak.
"Hantunya seram sekali. Tetaplah seperti ini! Akan kubacakan mantra pengusir hantu." ucap Nathan. Elsa mengangguk pelan di dada Nathan.
"Dasar moduuuusss." ucap Evan dari kejauhan. Mereka sama-sama memuji kecerdikan Nathan dalam urusan mencari kesempatan.
Sesuatu yang tak diinginkan datang. Belum sempat Nathan membaca mantra, bibi Andre menghampiri mereka dari belakang. "Wah, bibi gak sengaja ganggu kalian nih." ucapnya yang sukses menggegerkan suasana mereka.
Elsa yang mendengar suara bibinya langsung melepaskan pelukan. Nathan kini juga bingung mau bersikap bagaimana.
"Tadi ada hantu bibi." ucap Elsa yang berusaha menjelaskan kesalahpahaman.
"Hantu?" kata bibi sembari melirik Nathan. Bisa-bisanya Elsa berfikir ada hantu di siang hari.
Nathan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Dia tak tahu harus menjelaskan apa.
"Baiklah, bibi sudah selesai bertemu client. Kalian mau melanjutkan pelukan lagi atau bagaimana?" tawar bibi.
Elsa langsung menjauh dari Nathan dan bersiap-siap pulang. Bibi Andre berusaha menahan tawanya melihat pasangan anak muda ini.
"Mampirlah ke rumah!" pinta Bibi Andre sambil memberi Nathan kartu nama. Bibi Andre tahu Elsa tak pernah memberi alamat rumahnya sembarangan. Maka dari itu, Bibi Andre berinisiatif memberi kartu namanya ke Nathan.
Nathan menerima kartu nama itu sembari berusaha menahan ungkapan bahagianya. "Terima kasih. Pasti, bibi." ucap Nathan.
__ADS_1
Elsa hendak ingin mengucapkan selamat tinggal tapi gagal. Dengan reaksi senyum malu-malu dia mulai meninggalkan Nathan. Nathan menganggukkan sedikit badan. Tapi matanya tak bisa mengalihkan diri dari Elsa. Dilihatnya pipi Elsa yang masih merona. Entah dia sedang bahagia atau malu, yang pasti Nathan menyukainya. Hari ini dia sedang sangat beruntung meski kencannya sesingkat kilat.
"Yes, dapaaaat!" luapan bahagia Nathan sembari menciumi kartu nama pemberian Bibi Andre.