
Sudah dua minggu lebih setelah insiden di turnamen, Elsa dan Nathan tak saling bertemu hingga sekarang.
***
Hari ini, Nathan pergi ke toko sepatu tempat dimana dirinya pernah berjanji untuk mengambil sepatu Elsa. Dia benar-benar terlambat dari hari yang dijanjikan karena uangnya baru terkumpul untuk mendapatkan sepatu Elsa. Terlepas nanti Elsa mau menerima atau tidak, dia tetap ingin membeli flatshoes pink nude itu. Nathan langsung menuju petugas kasir dengan penuh harapan semoga sepatu itu masih disimpan. Dia menunjukkan foto sepatunya barangkali petugas kasir lupa akan titipan yang sudah dua minggu lebih.
Petugas kasir mengangguk dan mengambil sepatunya. Rupanya petugas kasir juga tak sampai hati menaruh kembali ke rak. Dia juga percaya Nathan akan membelinya mungkin agak terlambat. Nathan begitu bahagia mendapati sepatu Elsa yang masih disimpan di ruang pesanan. Tak henti-hentinya Nathan mengucapkan terima kasih kepada petugas kasir. Dia segera membayar sepatu cantik itu dan membawanya pulang.
Setiba di restoran, Nathan menuju kamar segera. Wulan yang melihat Nathan melewatinya mulai heran. Anak itu dari mana sih? Kok kelihatan bahagia sekali? Wulan jadi ingin bertanya banyak hal. Dia menuju kamar Nathan yang masih terbuka sebagian.
"Wah, cantik sekali sepatunya." mata Wulan begitu terkejut melihat Nathan hendak memasukkan sepatu ke kotak kado. Dia meminta Nathan untuk menyentuh sepatunya sebentar. Wulan begitu takjub melihat flatshoes pink nude itu. Kakinya pasti mungil, batin Wulan.
"Ehem, anak mama lagi jatuh cinta ya. Pantas saja akhir-akhir ini semangat sekali kerjanya. Rupanya mau beli kado buat yang tercinta." ledek Wulan yang sukses membuat Nathan tak berhenti tersenyum. "Kenapa Nathan tidak cerita soal cewek Nathan ke mama?" tanya Wulan sembari mengusap rambut Nathan.
"Nathan juga bingung mau cerita dari mana." ucap Nathan sembari meletakkan sepatu itu ke kotak kado. "Lho kok bingung. Tinggal bilang Nathan lagi jatuh cinta aja pakai bingung." ucap Wulan.
Nathan menatap mata Wulan dalam-dalam. Dia ingin bercerita banyak kepada mamanya. "Nathan jatuh cinta sama Elsa, ma. Tapi Nathan gak tau sama sekali soal Elsa. Nathan gak tau kesukaan Elsa apa, hal yang dia benci apa. Nathan juga gak tahu alamat rumahnya, nomor wa nya, semua. Nathan juga gak tau apa Elsa juga mencintai Nathan. Nathan cuma tau kalo dekat Elsa Nathan merasa nyaman sekali, Nathan ingin menjaganya, membuat dirinya tertawa bahkan Nathan rela melakukan apapun untuk Elsa." curahnya.
"Hemmmm. Jadi namanya Elsa ya. Terus Nathan bisa tau dari mana nomor sepatunya?" tanya Wulan sembari tersenyum.
__ADS_1
"Pas Diklat dia ninggalin sepatunya di sungai. Jadi Nathan liat nomor sepatunya."
"Terus Nathan pengen belikan sepatu?"
"Nathan merasa sepatu ini cocok di kaki Elsa. Makanya Nathan beli."
"Ooh begitu. Terus Nathan sekarang bingung lagi soal Elsa?"
"Sudah dua minggu ini setelah kejadian di turnamen Nathan gak liat Elsa. Nathan rindu Elsa tapi Nathan gak tau Elsa dimana."
"Hemmmm. Beli sepatu cantik itu untuk mengobati rindu ternyata." kata Wulan mengartikan kebingungan Nathan. Nathan seperti mengiyakan ucapan mamanya. Memang benar sepatu Elsa ini sedikit mengobati kerinduannya.
"Jika Nathan bingung tentang sesuatu hal, dengarkan kata nurani Nathan. Dia pasti akan memberi jawaban."
"Nurani?"
"Ya. Orang bilang nurani adalah kata hati yang jernih. Dia yang akan menuntunmu ke arah kemenangan meski terkadang tampak kalah di depan orang. Dia yang akan memberi kebahagiaan meski terkadang tampak menyakitkan di depan orang." jelas Wulan dengan lembut.
"Nathan, tak ada manusia yang tak punya nurani. Nurani itu tulus dan tak akan pernah salah. Sayangnya banyak orang yang mengabaikan. Pesan mama, Nathan hanya perlu mengikuti kata nurani. Dan jangan memaksakan orang untuk mengikuti nurani, tapi tetaplah ikuti nurani Nathan. Pasti Nathan akan menemukan jalannya dan Nathan tak akan pernah merasa kalah ataupun gagal."
__ADS_1
"Nathan, jika Nathan sudah tak tahu lagi cara bertemu Elsa, jangan khawatir. Terkadang ada ikatan yang akan menemukan jalannya sendiri. Mungkin saja karena kekuatan cinta." Wulan mengusap halus rambut Nathan.
Sulit untuk mencerna apa yang disampaikan mamanya. Wulan kembali menjelaskan, "Hari ini Nathan telah mengikuti kata hatinya. Nathan membeli sepatu cantik Elsa. Apa yang Nathan rasakan setelah mendapatkan sepatu Elsa?"
"Kemenangan." sahut Nathan segera lalu bingung. Dia memang merasakan kemenangan yang tak tahu dari mana datangnya setelah membeli sepatu Elsa.
"Apa Nathan akan sangat kecewa seandainya Elsa menolak sepatu ini?"
Nathan berfikir sejenak. Dia menggeleng. Semakin Wulan menjelaskan, ada perasaan baru yang tak dimengerti Nathan. Tapi dia mulai menyadari tentang kata hati atau nurani yang disampaikan mamanya.
Wulan memeluk anaknya bangga. Dia baru saja melihat sendiri anaknya mengikuti kata hatinya. Meski orang lain akan melihat kelakuan ini seperti seorang anak kecil, tapi percayalah anak kecil selalu bahagia mendapatkan sesuatu bahkan yang sederhana sekalipun.
"Jika Nathan benar-benar mencintai Elsa, tetaplah jadi diri Nathan. Itu tak akan melukai siapapun. Begitu pula jika Elsa mencintai Nathan. Jangan menyuruh Elsa berubah jadi yang bukan dirinya. Ajaklah dia mengikuti nuraninya." pesan Wulan sembari memeluk Nathan kemudian meninggalkan anaknya sendiri di kamar.
Ucapan Wulan menyimpan semangat tersendiri untuk Nathan. Seolah-olah Elsa juga mencintainya. Nathan tak ragu lagi mencintai Elsa. Dia akan menemui Elsa dan mengatakan semua perasaannya. Dia juga tak akan memaksakan perasaannya ke Elsa. Dia menikmati cinta ini tanpa mengharapkan apapun dari Elsa.
Meski Nathan tak tau apapun soal Elsa, kini Nathan hanya menunggu cintalah yang akan menunjukkan jalannya. Nathan memandang sepatu Elsa lagi sebelum dia memasukkan ke kotak kado. Nathan tersenyum. Benar mamanya, sepatu ini jadi obat rindu Nathan ke Elsa yang sudah tak ditemuinya dua minggu lebih.
Nathan memasukkan sepatunya ke dalam kotak kado dan meletakkan di almari. Nathan beranjak dari kamarnya dan memulai lagi aktifitasnya di restoran. Dia mengenakan celemek untuk mencuci piring dan perabotan dapur lainnya. Hari ini pengunjung juga mulai ramai karena akhir pekan. Porsi tumpukan juga lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Meski begitu, dia semangat mengerjakan semuanya.
__ADS_1
Wulan tersenyum melihat Nathan bahagia menjalani hari-harinya dengan semangat yang terbaharukan. Wulan pun juga sibuk dengan menyiapkan bahan makanan sesuai daftar menu pesanan yang tak kunjung berhenti datang. Dia tak kalah semangatnya seperti Nathan. Seseorang pernah berkata, hidup terasa lebih bermakna jika kau mendengarkan kata hati.