Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
CINTA


__ADS_3

Bel pulang sekolah berbunyi. Siswa tak sabar berhamburan keluar kelas seperti citah. Hanya beberapa saja yang masih di ruang kelas. Termasuk Nathan yang harus mengulang kembali pelajaran barusan. Dia ingin mengerjakan pekerjaan rumahnya sekarang. Kebetulan moodnya mulai membaik setelah memandang foto Elsa. Bahkan mengerjakan pelajaran matematika pun jadi sangat mudah jika sambil memandang foto Elsa.


Rio sedang berjalan menuju ruang kelas Nathan dan mulai curhat bombay. "Bro, ane agak sedih nih hari ini."


Nathan menghentikan sejenak menyelesaikan matematikanya. "Kenapa?"


"Besaran. Tadi jam pertama ulangan fisika. Bukunya udah kubaca sampek lecek ngapalin tuh besaran pokok tapi pas tiba soal keluar, yang aku hafalin ilang berceceran nyisahkan panjang saja."


Nathan tertawa mendengar perkataan Rio. "Menghafal juga ada strateginya bro. Yang harus kamu tahu, besaran pokok itu sudah pasti dasarnya besaran. Padahal cuma tujuh doang. Kan, di SMP juga pernah diajarin."


"Iya tapi ane gak hafal. Emang ente hafal?" ejek Rio.


"PMWSJKI." jawab Nathan cepat.


"Eh buset. Apaan itu?"


"Panjang, Massa, Waktu, Suhu, Jumlah zat, Kuat arus, Intensitas cahaya." jawab Nathan yang membuat Rio membelalakkan mata.


"Itu besaran pokok. Kalo besaran pokok digabungkan nanti jadi besaran turunan, misalnya Kecepatan. Itu gabungan dari besaran pokok panjang dan waktu. Makanya satuan kecepatan pasti ada meter dan sekon." imbuh Nathan.


Rio membuka buku fisikanya untuk mengecek besaran pokok dan mencari rumus kecepatan. Benar saja apa yang dikatakan Nathan. Rio juga baru paham dengan besaran pokok dan turunan. Kecepatan atau v kecil yang dimaksud Nathan tadi satuannya juga m/s yaitu meter/sekon, dari besaran pokok panjang/waktu. "Ampun otakmu, Nathaan. Boleh tukar gak?" takjub Rio.


"Maaf, bung. Aku sudah nyaman dengan otakku." jawab Nathan sambil tersenyum kecil. "Btw, yang lain kok gak nongol?"


"Eric sama Joe lagi rapat kecil buat persiapan turnamen. Evan masih ada tugas kelompok di kelasnya. Bentar lagi mereka juga selesai." kata Rio.

__ADS_1


"Panjang umuurr." Sambut Rio kepada Eric, Joe, dan Evan yang mulai masuk kelas Nathan.


"Bro, kita butuh support kalian dalam turnamen ini. Rabu lusa, kita akan ikut turnamen di SMA 3." jelas Eric.


"Wah, rejekinya Joe bakal ketemu Loretta." Evan mengimbuhkan. Joe tak bisa menyembunyikan raut bahagianya. Dia memilih diam saja seperti kucing malu-maluin.


Nathan juga tertarik ke SMA 3. Tujuannya agar dia bisa melihat Elsa. "Demi turnamen kalian, aku rela bolos." ucap Nathan dengan semangat Elsa.


"Kamu serius besoknya mau keliling lapangan sepuluh kali?! Catat panjang lebar lapangannya, woi. Biar kamu tau keliling lapangannya." Rio berusaha menyadarkan Nathan.


Mau keliling sepuluh kali atau ratusan kali tak masalah buat Nathan asal bertemu Elsa. Dia pasti akan ngelakuin apa aja untuk Elsa. Hanya saja Nathan terpaksa mempertimbangkan peryataan Rio karena Evan dan Rio nantinya ikut-ikutan lari keliling lapangan.


"Gak perlu pake bolos segala. Kalian udah aku masukkan sebagai supporter. Nanti kalian bawa banner dan properti untuk menyemangati tim kita." jelas Joe mencarikan solusinya.


"Wokeh." sahut Rio seketika mendengar aroma-aroma tidak ikut pelajaran sekolah.


"Maaf Nathan, apa aku salah mencintai Loretta?" Joe menjelaskan perasaannya.


Nathan menatap ke arah Joe. Tadi pagi dia sudah menjelaskan dirinya tak pernah ada hubungan khusus dengan Loretta. "Kenapa minta maaf? Kau tidak salah jika mencintai Loretta. Loretta hanya temanku di Gudep."


"Terima kasih Nathan. Lantas, kalo bukan Loretta, siapa cewek yang benar-benar kamu suka?" tanya Joe.


"Maafkan aku, Joe. Aku tidak bisa mengatakannya. Karena aku sendiri juga bingung tidak tahu seperti apa dirinya. Aku hanya merasakan jantungku berdetak kencang dan sangat nyaman di dekat dia. Bahkan aku baru saja mengenalnya kemarin lusa."


"Joe juga baru mengenal Loretta kemarin lusa. Tapi Joe berani mengatakan perasaannya tentang Loretta kepada kita."

__ADS_1


Nathan seketika tersenyum kecil. "Bung, bagaimana rasanya kamu menyukai seseorang yang kau sendiri tak tahu banyak hal tentang dia? Kau hanya tau kau ingin selalu melindunginya."


"Tunggu dulu! Cinta buta?" tebak Eric.


Nathan memandang mereka dengan tatapan sayup. Dia mengangguk sangat pelan membenarkan pernyataan Eric. Dia memang sedang cinta buta dan jatuh cinta pula pada pandangan pertama.


Seketika mereka kompak tak percaya jika untuk urusan cinta Nathan tak punya kriteria.


"Nathan, setidaknya gunakan otak cerdasmu untuk berfikir sejenak soal cewek idaman!" saran Rio.


Nathan menggeleng dan tertawa. "Aku benar-benar tidak bisa berfikir jernih. Aku seperti bukan aku jika di dekatnya. Yang aku tahu dia seperti melengkapi ruangan yang kosong dalam diriku."


"Setidaknya kita juga pikirkan bibit, bebet, bobot. Kita boleh cinta buta asal bibit, bebet, bobot oke. Siapa tau aja cewek kita jadi istri kita. Kan butuh dinilai juga sama keluarga." Eric menimpali.


"Bro, kita ini masih bocah. Napa ngomong bibit, bebet, bobot. Duit aja masih minta napa mikir jadi suami." guman Evan. "Cinta itu emang gak bisa ditebak. Bahkan gak bisa dipaksa. Kalo kita sudah cinta ya cinta. Ingat kita masih muda, gak usah banyak pikiran. Yang penting uang saku lancar, masuk sekolah biar gak bodoh-bodoh amat, syukur-syukur punya cewek biar gak jomblo."


"Ya kale itu ente. Beda sama Nathan. Beli motor sendiri, kerja sampingan, kudu belajar ekstra biar gak bayar sekolah. Kan kudu harus hati-hati cari calon bini." Eric menjelaskan perbedaan Nathan dengan mereka termasuk Eric sendiri.


"Thanks masukannya. Tapi ane lebih nyaman denger kata-kata Evan." jelas Nathan ke Eric.


"Lha kamu gak punya masa depan?" protes Eric.


"Cinta ya cinta." balas Nathan mengulang kata Evan.


"Emang cinta itu kadang aneh. Papaku tuh bule katanya demen olahraga selancar tapi kenapa suka mamaku yang dulunya jualan rujak cingur. Terus bisa ngelairin aku jadi anak tampan dan bahagia sampai sekarang." Joe menjelaskan cinta memang bisa buta.

__ADS_1


"Cinta memang aneh. Mamaku cakep papaku tak kalah cakep. Mereka saling jatuh cinta karena sama-sama cakep. Pas nikah terus ngelairin ane papa mulai bingung sama kulit hitamku. Mama baru bilang punya bibit dari kakekku orang kulit hitam yang baik hati. Jadilah aku si hitam manis seperti Malika kedelai hitam berkualitas." jelas Eric. Kompak saja mereka tertawa mendengar sejarah kulit hitam Eric. Tak heran dia begitu sangat menganjurkan agar Nathan memperhatikan bibit bebet bobot dalam mencari cewek. Dia sudah menyaksikan sendiri dari kedua orangtuanya dan jangan sampai orang lain mengalami hal yang sama dengannya.


"Tuh cewek pasti beruntung banget dapat cintamu." Evan menepuk bahu Nathan. Nathan menanggapi dengan senyum sembari mengingat Elsa.


__ADS_2