
Hari Sabtu yang dinanti telah tiba. Nathan menata penampilannya sebaik mungkin. Dia bergaya berkali-kali di depan cermin bak model yang akan melakukan pemotretan. Terakhir dia mulai memberi sentuhan acak kecil untuk rambutnya agar terlihat lebih santai. Selanjutnya dia membuka kotak kado yang berisi sepatu Elsa.
"Hai cantik, doakan kencanku sukses. Kamu sabar dulu cantik, belum hari ini aku pasangkan ke kaki Elsa." ucap Nathan tersenyum sembari menutup kembali kotak kadonya.
Nathan mulai keluar dari kamar dan disambut kaumnya.
"Wes, malam mingguan." ucap Rio sembari bergaya mengepaskan foto dengan dua tangannya. "Perfect tapi jaketnya jelek."
Nathan hanya cuek mendengar pernyataan Rio.
"Nih pake jaketku. Semoga kencannya nanti sukses." tawar Evan sambil melepas jaket yang sebenarnya itu produk endorse.
"Tak perlu." tolak Nathan. "Maaf aku harus cabut dulu gaes. Udah telat."
Seketika semua kaum itu mulai menghalangi Nathan sebelum beranjak pergi. "Hei, kamu kencan bro. Kamu lebih keren pake jaket ini." ucap Evan dengan nada sedikit tinggi.
"Aku udah tampil maksimal. Aku sudah keren dengan jaket ini."
Rio memanggil bibi Wulan yang kebetulan lewat di depan mereka. "Bibi, keren mana jaket ini apa jaket Nathan?"
"Tentu saja jaket ini." ucap Wulan menunjuk ke jaket yang dibawa Evan yang disambut senyum sukses Rio.
Seketika Nathan melepas jaketnya dan mengambil paksa jaket Evan.
"Dasar anak mama!" bisik Joe ke Eric.
"Mama, aku kencan dulu." ucap Nathan ke Wulan yang masih sibuk bekerja.
"Jaga Elsa baik-baik, sayang." ucap Wulan sembari sibuk menyiapkan bahan.
"Mamanya kenapa lebih sayang Elsa?" tanya Joe pelan.
"Namanya juga menantunya." sahut Evan.
"Siap, ma. Oke. Aku cabut dulu." Nathan pamit ke kaumnya dan segera melenggang pergi.
__ADS_1
"Sukses broo." ucap Rio menyemangati.
Setelah Nathan tak terlihat, Evan mulai mengkoordinir teamnya. "Oke, gaess. Ayok kita langsung ke pasar malam! Pastikan produk endorse kamu bawa!" ucap Evan ke Eric.
"Rio, kuminta kamu konsentrasi penuh untuk foto-foto nanti!"
"Beres."
~
Elsa masih sibuk merias dirinya. Dia sangat mengingat pesan Nathan untuk tampil cantik. Dia berdandan dengan riasan tipis tapi fresh. Dia mengenakan dress putih selutut tanpa lengan. Karena ini malam hari, dia melengkapi dengan dengan cardigan yang biasa dia kenakan. Perfect.
Pintu rumahnya diketuk, Elsa menebak itu sudah pasti Nathan. Dia segera membuka pintunya, mengabaikan paman dan bibi yang takjub melihat dirinya begitu cantik.
Elsa berhenti sejenak melihat Nathan yang begitu tampan malam ini. Begitu pula Nathan, matanya tak bisa teralihkan dari Elsa yang begitu cantik. Namun suara di belakang membuyarkan suasana mereka. "Ingat! Pulang jam 8, bukan jam 9!" pinta paman Andre.
"Iya paman." balas Nathan segera.
Elsa dan Nathan sama-sama berjalan menuju motornya. Mereka benar-benar kehilangan kata untuk basa basi ataupun menyapa. Elsa memilih duduk menyamping. Nathan tak menyoalkan hal itu, dia mulai meminta Elsa untuk berpegangan, "Pegangan, Elsa."
Hanya 5 menit, mereka sudah tiba. Nathan memarkirkan motornya segera. Elsa menundukkan kepala sembari mengikuti Nathan memarkirkan motornya. Sedari tadi Elsa terganggu dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Setelah motor terparkirkan dengan baik, Nathan dengan sigap memegang tangan Elsa. "Ayo." ucap Nathan sembari memandang Elsa.
Si pemilik tangan melihat ke arah tangannya. Kenapa jantungku seperti ini lagi sih? batinnya. Elsa mendadak berat menggerakkan badannya. Nathan pun melihat ke arah tangan Elsa. Dia mulai merasakan kehalusan tangan Elsa. Akhirnya mereka sama-sama berhenti sejenak merasakan desiran yang baru saja datang.
Tampak dari jauh, Rio fokus memotret mereka berdua. "Ingat! Brandnya harus kelihatan! Foto dari samping juga. Saku-saku jaketnya harus detai. Foto sebanyak-banyaknya." perintah Evan.
"Parfumnya mana?" tanya Rio untuk mulai memfoto produk endorse di atas bangku dengan background mereka.
Eric segera menyiapkan parfum dalam beberapa ukuran dan jenis di atas bangku dan menatanya dengan epic. Rio kembali melakukan aksi memotretnya.
"Belum apa-apa momennya udah pas banget." komen Joe sedikit tak suka aksi Rio.
"Kenapa Elsa pakai Cardi? Kan seharusnya ide kemarin Elsa kedinginan dan Nathan memberi jaketnya." protes Eric.
Setelah sukses memfoto, Rio mengamati hasilnya. Dia puas dengan hasil foto-foto parfum. "Jaketnya lumayan lah tapi kalo bisa seperti rencana awal buat bahan pertimbangan." imbuhnya.
__ADS_1
"Terus sekarang siapa yang nyuruh Elsa melepas cardinya?" tanya Eric. Bukan kaum leyeh-leyeh jika mereka tak punya ide. Evan segera mengeluarkan jurus jitunya. Dia membeli air Aqua dan es krim di penjual pinggir jalan.
"Hey, kamu mau es krim ini gak?" tanya Evan ke anak laki-laki yang lewat di depannya. Melihat es krim itu, anak kecil itu mengangguk berkali-kali. "Kamu bisa memberikan air ini ke cardigan kakak itu? Cardigannya kotor dan harus dibersihkan dengan air ini agar tidak kena penyakit. Kamu siram terus lari yang cepat ya." ucap Evan sembari memberikan air Aqua dan es krim itu ke anak kecil.
Seketika anak kecil itu langsung berlari menuju Elsa dan menyiram cardigannya dengan air Aqua. "Cardigan kakak kotor." ucapnya dan berlari segera.
Elsa membelalakkan mata melihat cardinya yang setengah basah. Nathan pun tak kalah terkejutnya melihat insiden ini. Dia segera melakukan tindakan bodoh dengan meniup baju Elsa dan berharap cepat kering.
Elsa benar-benar tak nyaman dan mood-nya rusak. Dia ingin segera pulang dan melupakan pasar malam. Nathan yang mengetahui kekesalan Elsa, segera mengajaknya duduk di bangku yang agak jauh dari tempat parkir.
"Tak apa, Elsa. Terkadang memang ada suatu hal yang tak bisa kita duga dan kita jangan berhenti hanya karena itu." nasihat Nathan sembari memegang kedua tangan Elsa.
"Sebaiknya lepaskan cardimu dan kenakan jaketku!" ucap Nathan sembari melepaskan jaketnya.
Elsa melepaskan cardinya dan hawa dingin mulai merasuk ke tubuhnya karena dress-nya yang tipis dan basah. Dia mulai memeluk dirinya. Nathan dengan hati-hati mengenakan jaket di pundak Elsa. Jarak mereka sangat dekat, bahkan Elsa bisa merasakan nafas Nathan dan jantungnya selalu seperti ini.
"Sudah lebih baik?" tanya Nathan.
Elsa tak menjawab karena konsentrasinya teralihkan kedekatan ini. Nathan melihat Elsa yang sibuk menatapnya. Mata Elsa benar-benar indah dengan tatapan yang begitu sahdu.
"Perfect!" ucap Rio dan disambut aplous lainnya.
"Lebih cepat dari rencana kita." komentar Evan sembari memukul punggung Eric.
"Mereka benar-benar serasi." sahut Eric.
"Keren dah. Elsa cantik baangeet." ucap Rio sembari memandang foto Elsa. Eric dan Evan pun mulai melihat ke hasil foto-fotonya.
Joe dari tadi tak bisa menikmati semuanya. "Udah cukup belum? Aku mau pulang nih."
"Belum, sayang. Tinggal satu produk lagi. Kosmetik." balas Eric dengan gaya Loretta yang memainkan rambutnya.
"Ih, jijik."
"Oke, kita mulai persiapan produk kosmetik." ucap Evan dan mulai mengajak teman-temannya masuk ke pasar malam. Mereka akan mencari spot yang bagus di dalam dan menyiapkan kejutan untuk kencan Elsa dan Nathan.
__ADS_1