
Hari Sabtu sudah datang. Diklatgab di mulai sore. Harap kalian bisa menjaga kesehatan dan menyiapkan segala keperluan dengan baik. Ketua sangker.
Subuh-subuh Nathan sudah mengirimkan chat di grup. Setelah beranjak dari ranjang, Nathan melanjutkan aktifitas biasanya. Dia mulai membuka pintu dapur. Selang beberapa menit, Pak Tarno tukang ayam yang setiap subuh mengantarkan ayam ke dapur restoran dia bekerja. Nathan memastikan jumlah ayam yang diterima dan menyerahkan uang ayam ke Pak Tarno sesuai dengan jumlah yang diminta.
Sebelum beranjak pergi, Pak Tarno mendadak ingin menawarkan motor bututnya, "Than, sekolahmu kan semakin jauh. Kamu gak pengen beli motor apa? Nih, ada motor cakep siap dibeli."
Nathan melihat sekilas motor butut Pak Tarno. "Kenapa dijual pak?"
"Biasa. Peningkatan gaya."
Sejenak dia berfikir, dia memang butuh transportasi untuk menempuh sekolahnya yang semakin jauh dari restoran dan basecamp Pramuka.
"Buat kamu tiga juta aja deh. Suratnya oke."
Nathan pun mulai mengecek motornya. Tarikan gas dan starternya juga masih berfungsi baik. Rem juga masih cakram. Oli tidak bocor. Untuk ukuran motor butut, dia masih terawat. "Boros bensin gak pak?" tanya Nathan.
"Ini motor irit sedunia. 1 liter bisa kamu buat ngantar cewekmu ke London, ke Amerika, ke ujung dunia sekalipun. Mau naik ke daerah tinggi dan menuruni tanjakan tajam pun tak masalah." hiperbolisnya.
"Kalau beli ini, aku doakan dapat cewek idaman." rayunya.
"Gombal pak." tawa Nathan. "Saya coba dulu pak motornya." Nathan mulai mencoba sepedanya berkeliling meski di bagian belakang masih ada keranjang ayam.
Seketika Nathan menyukainya. Tampilannya memang jadul tapi mesinnya benar-benar terawat. Onderdilnya juga tak ada yang bermasalah.
Setelah puas mencoba, tanpa basa-basi Nathan memberi keputusan. "Kebetulan saya ada rencana cari motor. Saya cek dulu tabungannya pak. Kalo pas langsung saya ambil."
"Oke beres. Sekarang aku buat ngantar ayam dulu ya. Nanti kalo uangnya pas, hubungi langsung. Gak usah nglirik-nglirik motor lainnya. Cukup ini aja. Gini-gini motor idaman cewek bro." Nathan cuma terkekeh. Pak Tarno melanjutkan mengantar ayamnya.
Nathan menuju kamarnya dan membuka uang tabungan di kaleng wafer. Uang itu ia dapat dari bekerja sampingan di restoran dan honor membantu mengajar Pramuka.
__ADS_1
Sebenarnya setiap dia mendapatkan uang Nathan berusaha keras memberikan kepada mamanya. Dengan halus mamanya selalu menolak dan menyarankan untuk ditabung agar bisa digunakan dikemudian hari. Dengan wajah yang belum tersentuh air, Nathan menghitung dengan seksama. Jumlahnya dua juta delapan ratus ribu di tambah beberapa uang koin yang tak sampai lima puluh ribu.
Segera dia menghubungi Pak Tarno, "Belum sepuluh menit sudah menghubungi, sudah kangen ya sama motor bututnya?" suara diseberang sana mendahului.
"Hellehh. Saya mau bilang kalo tabungan saya cuma ada uang dua juta delapan ratus pak. Bapak mau nunggu saya ngumpulin tiga juta atau dua juta delapan ratus saja pak. Hitung-hitung itu yang beli motor bapak masih anak SMA." nego halusnya.
"Haduh, baiklah. Tapi hari ini uangnya harus langsung ada ya. Aku sendiri juga gak sabar pengen cepet-cepet beli motor baru, Than."
"Saya bilang mama dulu. Kalau saya mau aja pak. Tapi kalau mama gak ngijini ya gak beli pak." canda Nathan.
"Ya udah, cepat bilang mama sana. Kalo dapat ijin beli motor langsung telpon. Aku ngantar ayam lagi."
tuut
Sambungan telepon terputus. Nathan menemui mamanya yang masih sibuk membuat sarapan untuk keluarga kecilnya. "Ma, Nathan boleh beli motornya Pak Tarno gak ma? Tabungan Nathan cukup buat beli motornya."
"Iya ma."
Ada perasaan bangga melihat putra semata wayangnya berjuang keras sendiri untuk membeli motor meski kondisinya butut. Namun kesedihan juga menyelimutinya tatkala dirinya tak mampu memberikan sesuatu yang layak seperti dulu masih bersama papanya. Tak terasa ada bulir kecil di matanya, segera dia menghapus, "Kamu suka?"
"Iya ma."
"Iya gak apa-apa Nathan beli. Jangan lupa kalau sudah dibeli dirawat yang baik ya."
"Pasti ma." jawab Nathan sungguh-sungguh.
Nathan seketika memeluk mamanya. Tangis mama pecah seketika. "Maafin mama, Nathan. Mama tak bisa berbuat banyak untukmu."
Nathan menatap mamanya dan berusaha menghapus air matanya. "Mama ngomong apa sih? Nathan sangat bahagia bersama mama. Mama selalu melakukan hal yang luar biasa untuk Nathan. Nathan minta maaf belum bisa membalas kebaikan mama."
__ADS_1
"Mama bangga kepadamu nak. Jangan berfikir untuk membalas kebaikan mama. Mama hanya ingin melihat Nathan bahagia. Terima kasih Nathan."
"Nathan yang harusnya berterima kasih. I love you, ma."
Mereka saling berpelukan dan saling menguatkan. "Ya sudah kamu siap-siap sekolah. Mama mau melanjutkan masak sarapannya. Nanti sepulang sekolah segera diurus pembayarannya."
"Iya ma. Oh ya ma, doain acara Diklatgabnya lancar ya ma. Doain juga Nathan bisa jadi ketua yang bertanggung jawab. Nanti Nathan langsung ke Gudep ya ma."
"Iya sayang. Mama selalu berdoa buat Nathan dan papa. Semoga Nathan dan papa bahagia selalu, sehat selalu. Aamiin. Nathan harus selalu hati-hati ya. Jangan buat mama khawatir."
"Iya ma." kecup Nathan di kening mamanya.
---
Sepulang sekolah, Nathan langsung bertemu Pak Tarno di dekat sekolahnya. Pak Tarno sudah menyiapkan dengan baik motornya. Nathan menyerahkan uang dua juta delapan ratus begitu juga Pak Tarno menyerahkan kunci dan kelengkapan motor. Bahkan Pak Tarno memberikan helm kepada Nathan. Nathan tak berfikir sama sekali tentang helm.
"Bisa-bisanya saya lupa sama helm." kekehnya.
"Jangan meniru anak-anak yang tidak memakai helm. Pakai helm biar punya otak." celetuk Pak Tarno.
Nathan tertawa lalu mengucapkan terima kasih banyak kepada Pak Tarno. Setelah kesepakatan selesai, Nathan langsung mencoba motornya. Motor butut Pak Tarno itu sudah menjadi milik Nathan. Pak Tarno menyerahkan motor itu dalam keadaan bersih dan bebas bau ayam. Joknya benar-benar licin.
Untuk pertama kalinya pula, Nathan akan membawanya ke Gudepnya. Nathan sudah mengatakan ke teman-temannya dia datang agak telat karena harus berurusan dengan motor.
Dengan perasaan penuh bangga memiliki motor baru, Nathan menuju Gudep Makoramil Mojosari. Hanya sepuluh menit, Nathan sudah tiba di Gudep. Bangunan penuh dengan ciri khas tentara. Di tiap temboknya terdapat ukiran-ukiran para tentara yang sedang berperang, membantu warga sekitar, dan kegiatan mengayomi lainnya. Semboyan-semboyan pun juga tertulis dimana-mana. Pejuang gagah berani dan rendah hati. Tampak bagian depan Koramil adalah lapangan untuk apel yang lengkap dengan tiang bendera. Di belakangnya adalah ruang untuk kegiatan tentara yang bertugas di Koramil. Setiba di Gudep, Nathan langsung menuju ruang check in peserta. Tak ada peserta, berarti mereka semua menuju lapangan di dalam Makoramil, lapangan untuk latihan ringan para tentara. Dari pintu ruang check in di dalam, Nathan melihat semua sudah berkumpul di lapangan. Nathan langsung mengambil langkah seribu.
Namun langkahnya mendadak terhenti hanya setelah tanpa sengaja dia menatap seseorang. Seketika itu Nathan merasakan ada yang berbeda. Pandangannya, fokusnya hanya terpusat pada seseorang.
Siapa dia?
__ADS_1