
Nathan sudah sampai di pos keempat. Dia ingin menjahili Elsa dengan menyembunyikan sepatunya. Dia membungkus sepatunya dengan kertas koran, lalu dibungkus lagi dengan kertas kado, terakhir dibungkus dengan kresek hitam dan meletakkannya di tong sampah. Dia menutup sepatu itu dengan sampah plastik yang dikumpulkan peserta.
Setelah itu, Nathan membangunkan senior lainnya. "Hey bro, sudah jam 6 pagi. Aku sudah sangat lelah berjaga semalaman dan belum istirahat sehari. Kau bangunkan peserta. Nanti setiba di lapangan kau atur pelantikan dan kepulangan peserta. Aku ingin kembali ke Koramil untuk menyiapkan pelantikan dan istirahat sebentar. Sampah-sampah itu biar aku yang membuangnya nanti setelah aku istirahat." pesan Nathan ke Andi. Sekali-kali Nathan menguap. Nathan meninggalkan pos empat untuk menuju Koramil Pacet yang sekitar lima belas menit dengan jalan kaki.
Andi mengambil alih tugas Nathan. Dia bangun diikuti senior lainnya. Tanpa menunggu cuci muka, dia langsung memerintahkan peserta segera bangun. Satu per satu peserta mulai menggeliat. Mereka benar-benar kelelahan sampai tak menyadari tidur di hutan. Elsa yang baru saja tertidur kembali merasa terganggu dengan tangan Hannah yang berusaha membangunkan.
"Elsa, cepat bangun. Awas kena push up." mendengar itu Elsa langsung duduk dan mengusap-usap matanya.
"Eh, kamu abis nangis?" tanya Hannah melihat mata Elsa sedikit sembab.
Elsa menatap Hannah dan menggeleng seketika. Dia berdiri dan membuang muka untuk menyembunyikan bekas tangisannya. Saat berdiri Elsa baru menyadari dia tak mengenakan sepatu. Dia langsung berlari menuju sungai tanpa izin ke senior. Hannah membuntuti, "Kenapa tiba-tiba lari sih? Kebiasaan jelek tau gak?" tanya Hannah setiba di sungai.
Yang ditanya hanya fokus mencari sepatunya. Elsa berdiri di tepi sungai di tempat dia meletakkan sepatunya. "Tadi di sini."
"Apanya?"
"Sepatuku." Elsa baru menjawab pertanyaan Hannah.
"Loh kok bisa? Kamu abis ngapain ke sungai?" tanya Hannah yang membuat Elsa terkejut. Dia tak mungkin menjelaskan insiden dirinya memeluk Nathan. Elsa berusaha mencari jawaban agar tak mencurigakan.
"Aku tak tahan buang air kecil. Aku langsung ke sungai. Sepatunya aku taruh baik-baik di sini agar tidak hanyut. Lalu ada orang yang akan datang ke sungai juga. Dia Kak Nathan. Aku berlari karena takut ketahuan. Aku lupa sepatuku." jelas Elsa dengan nada ketakutan.
"Ya udah kita tanya Kak Nathan. Mungkin dia yang bawa sepatumu."
__ADS_1
Elsa menggeleng cepat. Dia takut kebohongan kecilnya terbongkar. Selain itu, dia tak punya keberanian untuk bertemu Nathan.
"Aku tau kamu penakut. Aku nanti yang jelasin. Udah kamu tenang aja."
Elsa menarik tangan Hannah dan mencegah agar tidak memberi tahu Nathan. Dia memang sangat membutuhkan sepatunya. Karena sepatu itu hanya satu-satunya yang dia punya. Namun bertemu Nathan juga hal yang tidak diinginkan. Dia benar-benar takut bertemu dengannya. Dia tak bisa mengontrol diri ketika dekat dengan Nathan.
"Tapi kita tetap harus kembali ke pos empat." kata Hannah. Elsa dan Hannah berjalan kembali ke pos empat. Semua peserta sudah berbaris rapi di tiap-tiap kelompok. Mereka bersiap kembali ke Koramil Pacet. Elsa dan Hannah mengambil tas yang masih berada di belakang barisan lalu menuju kelompok dua.
Setelah semua berada di barisan, senior meminta mereka mulai memilih saka apa yang ingin diikuti. Karena setiba di Koramil, mereka akan dilantik sesuai saka yang dipilih. Setelah menyampaikan informasi, mereka melanjutkan perjalanan ke Koramil. Elsa pun melanjutkan perjalanan ke Koramil tanpa mengenakan sepatu. Beruntung tak ada duri dan matahari masih di pagi hari sehingga kaki mungil Elsa tak terbakar aspal.
---
Nathan baru saja tiba di Koramil Pacet. Dia izin menggunakan telepon kantor untuk menghubungi Kak Herman. Kak Herman adalah pembina Pramuka Gudep Makoramil Nathan mengharapkan kedatangannya segera karena pelantikan SAKA akan segera di mulai.
Melalui HT, Nathan berkoordinasi dengan seksi konsumsi. Devan sudah mengatur pesanan nasi bungkusnya akan tiba setelah pelantikan. Setelah mendengarkan penjelasan Devan, Nathan langsung mencari tempat untuk menuntaskan lelahnya. Dia tidur di ruangan yang dijadikan ruang UKS sementara untuk kegiatan diklat. Sebelum terlelap dia membayangkan kejadian subuh tadi. Dia tersenyum dan menutup wajahnya dengan bantal.
Semua peserta sudah menuju lapangan Koramil. Mereka langsung melakukan upacara pelantikan SAKA. Upacara selesai dengan lancar dan ditutup dengan pembagian badge saka dan sertifikat pelatihan yang dikerjakan ngebut semalam oleh Nathan.
Devan dan senior lainnya mulai menyiapkan sarapan pagi. Masing-masing dua kelompok berbaris saling bertatapan dan menyuruh duduk bersila. Setelah peserta duduk bersila, senior mulai membagikan nasi bungkus satu per satu. Melihat nasi bungkus di depannya, Elsa kehilangan kecemasan sepatunya. Dia mulai membuka bungkusan nasi itu dan memakan dengan lahap. Hannah bengong melihat Elsa. Rupanya dia bisa makan banyak juga, Hannah membatin. Dia pun ikut melanjutkan makan paginya seperti Elsa.
Setelah sarapan selesai, Elsa mulai panik lagi soal sepatunya. Rupanya sarapan tak menumbuhkan ide di kepalanya. Bahkan tak menenangkan dirinya sama sekali. Elsa mulai mencari sosok Nathan. Dia harus bertemu Nathan dulu baru berfikir. Dia memberanikan diri masuk ke ruangan UKS. Seketika dia bertemu Loretta di depan pintu. "Ngapain kamu ke sini?" tanya Loretta yang melihat Elsa hendak masuk ruangan. "Dia mau tanya sepatunya sama Kak Nathan. Sepatunya ketinggalan di sungai, Kak Nathan mungkin yang menemukannya." jelas Hannah yang baru tiba di belakang Elsa.
Loretta melihat kaki Elsa yang mulai kotor karena tanah, "Ih jorok banget. Kak Nathan baru saja tidur. Dia gak tidur semalaman ngebut sertifikat sama jaga malam. Jangan bangunin dia." geram Loretta.
__ADS_1
"Kalo gak dibangunin, kamu cariin sepatunya Elsa dong." balas Hannah.
Loretta membuang muka. "Cari aja sendiri."
"Ya udah kita bangunin Nathan." Hannah masuk ke ruang UKS. Hannah tak sampai hati membangunkan Nathan ketika melihat Nathan begitu terlelap. Benar kata Loretta Nathan sepertinya butuh tidur.
Niken dan Rani menuju ruang UKS. "Kalian ngapain kumpul di sini? Kalian harus segera ke lapangan!" ucap Niken pelan ke Elsa dan Hannah. "Kegiatan diklat sudah selesai dan kita akan meninggalkan Koramil ini. Itu mobil angkutan sudah datang. Seharusnya kalian berdua bersiap-siap kembali ke sekolah kalian. Kalian akan pulang." Niken mengingatkan.
Mendengar penjelasan Niken, seketika terlintas ketakutan Loretta dibonceng Nathan. Nathan benar-benar gila mengendarai motor barunya. Loretta tak ingin berboncengan dengan Nathan. Dia ingin naik mobil angkutan menggantikan posisi Elsa.
"Eh, bentar. Elsa gak ada sepatunya lho. Kalo dia pulang sekarang dia gak pake sepatu dong." kata Loretta. Elsa mengangguk menyetujui pernyataan Loretta.
"Jadi kita harus ninggalin Elsa di sini untuk nunggu Nathan bangun dan Elsa baru bisa mencari sepatunya. Sementara itu aku yang duduk di mobil." kata Loretta yang sukses membuat Elsa menggeleng seketika.
Hannah langsung meraih tangan Elsa. "Aku gak mau duduk dekat lampir." Loretta melotot tak terima dipanggil lampir.
"Niken, kamu juga harus bertanggung jawab bawa kita ke sini." tegas Hannah. Niken mengakui memang harus bertanggung jawab atas kesalahannya dengan mendengarkan Loretta. Dia harus membantu Elsa menemukan sepatunya. "Baiklah, kita cari bersama sepatu Elsa."
"Woy woy woy, durasi." decak Loretta kesal. Mereka bertiga mencari sepatu Elsa tanpa menggangu Nathan yang tertidur sangat pulas. Sepatu itu tak ada di ruangan Nathan, mereka pindah ke ruang lainnya. Tak ditemukan. Seterusnya mereka pindah ke ruangan lagi. Namun hasilnya masih nihil.
Mereka akhirnya mulai mendengarkan saran Loretta yang harus meninggalkan Elsa di sini bersama Nathan. "Kita sudah mencari di semua tempat tapi tidak ada. Kamu memang harus menunggu Nathan bangun dan bertanya kepadanya. Kita sudah telat untuk kembali ke sekolah masing-masing. Maafkan aku Elsa." Niken sangat menyesal tak bisa menemukan sepatunya. Loretta tampak kegirangan menggantikan Elsa duduk di mobil angkutan. "Uhuy."
"Elsa, aku duluan." kata Hannah menggenggam tangan Elsa dan tak tega meninggalkan sendiri. Elsa tak membalas genggamannya. Elsa benar-benar marah dengan dirinya karena kecerobohan meninggalkan sepatu di sungai.
__ADS_1
Dari depan ruang UKS, Elsa melihat mereka menuju lapangan. Satu per satu mereka mulai meninggalkan lapangan dan menaiki mobil angkutan. Hannah dengan muka masam menaiki mobil angkutan dan Loretta sangat kegirangan masuk mobil angkutan menggantikan dirinya. Setelah itu, mobil melaju meninggalkan Koramil Pacet.