Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
ANEH


__ADS_3

Revan menunjuk ke arah pintu toilet saat Loretta menanyakan Nathan. Loretta segera menuju toilet dan mengetuk pintu. Di Makoramil hanya ada satu toilet dan digunakan untuk umum. Jadi tak segan Loretta mengetuk toilet itu. "Than, kamu di dalam?"


Di dalam toilet Nathan hanya membasuh muka untuk membangun kesadaran. Mendengar Loretta dari luar, Nathan kembali pada sosok sebelumnya, dingin. "Iya. Ada apa?" jawabnya datar. Dari luar toilet, Loretta berkata, "Hari ini kamu aneh."


Nathan membenarkan perkataan Loretta. Memang benar dirinya aneh dan perlukah Loretta tahu. Nathan berusaha menghilangkan kecurigaannya, "Iya. Aneh. Aneh sekali karena kamu tak ada segannya mengetuk pintu toilet."


Tak puas dengan jawaban Nathan, Loretta menimpali lagi. "Kamu tadi kayak bukan kamu. Kamu kenapa tadi mendadak senyum? Kamu senyum sama siapa?" pertanyaan Loretta membuat Nathan semakin nyata bahwa cewek itu membuat Nathan aneh. Sangat aneh. Nathan keluar dari toilet. "Itu caraku menyapa junior." Nathan melewati Loretta yang masih ingin bertanya banyak.


Loretta tak puas mendengar jawaban Nathan. Dia sangat ingin bertanya banyak kepada sosok yang dingin tadi. Loretta mengikuti langkah Nathan sampai berhenti d depan ruang UKS. "Kamu kenapa?"


"Tidak ada apa-apa. Hanya telat makan. Kembalilah ke sana." Loretta berat meninggalkan Nathan tapi dia tahu Nathan benci pembangkang.


Nathan segera beraktivitas kembali setelah dia mengontrol dirinya di ruang UKS. Dia siap memimpin Diklatgab ini meski dia masih penasaran siapa cewek itu. Tapi kini fokusnya ke pelatihan lebih dari tadi. Diklatgab bukan untuk main-main, harus berjalan sesuai rencana itulah komitmen Nathan.


Mobil yang akan membawa mereka ke tujuan selanjutnya sudah tiba di lapangan apel. Dua mobil angkutan orang itu sudah di depan dekat area parkir motor. Andi mulai memanggil satu per satu nama peserta cewek untuk masuk ke dalam mobil khusus cewek.


Sampai tibalah urutan nama gadis itu dipanggil.


"Elsa Safira."

__ADS_1


Seketika jantung Nathan berdegup sangat kencang. Desiran itu datang kembali. Hanya nama itu yang membuatnya bahagia dengan sekali mendengarnya. Elsa, namanya dingin seperti Queen Elsa di Frozen. Nathan melihat Elsa mulai masuk ke mobil itu. Gerakan Elsa tampak indah di mata Nathan terlebih ketika dia membenarkan kaca matanya. Padahal gerakannya malu-malu bahkan malu-maluin. Pandangan Nathan berpindah setelah Elsa mengambil tempat duduk dan melihat Elsa menundukkan kepalanya.


Nathan mulai mengambil alih untuk mengatur junior cowok. Rio, salah satu cowok leyeh-leyeh menghampiri Nathan, "Kamu benar sekali. Banyak cewek yang lebih menarik bahkan cewek anime sekalipun. Sepertinya jombloku akan berakhir. Jika itu terjadi, aku akan berhutang banyak padamu Nathaaan." katanya sembari menahan dirinya untuk memukul bahu Nathan. Dia tahu Nathan butuh untuk disegani sekarang. Sejatinya Rio cowok pengertian.


Nathan tersenyum lalu dia masuk ke ruang yang digunakan check in peserta tadi. Di sana dia melihat semua perlengkapan termasuk 2 kotak P3K, senter, lampu untuk jalan, HT, dan perlengkapan lainnya. Nathan menginstruksikan seksi perlengkapan yaitu Natalia untuk memberikan perlengkapan itu sesuai kebutuhan seksi di kegiatan ini.


Setelah masing-masing seksi atau kakak senior mendapatkan perlengkapan, mereka juga bersiap untuk berangkat menuju lokasi selanjutnya. Para senior tak ikut masuk ke mobil angkutan orang. Mereka mengendarai motor masing-masing. Revan membonceng Natalia, kekasihnya. Devan berboncengan dengan Rani, Andi dengan Niken, Nathan dengan Loretta. Tujuan mereka berbonceng dengan lawan jenis adalah alasan keselamatan. Karena jalan menuju pelatihan sangat berbahaya jika cewek berkendara. Jalannya naik dan terkadang mendadak turun, ditambah minim pencahayaan.


Biasanya Loretta yang membawa motor dan Nathan pula yang memboncengnya. Mendengar Nathan baru saja membeli motor dia berinisiatif numpang motor Niken ke Makoramil dan nantinya dia akan berboncengan dengan Nathan. Namun dia tak berfikir bahwa Nathan membeli motor bekas pengangkut kandang ayam. Sebenarnya motor ini kurang layak untuk tumpangannya tapi jika memeluk Nathan tak akan jadi masalah.


Loretta begitu erat memeluk Nathan. Jok sepedanya memang diberi pelicin oleh Pak Tarno sehingga Loretta tanpa perlu beralasan untuk memeluknya lebih dekat. Nathan dari tadi berusaha marah. Marah pada pelicin. Nathan mendapatkan petunjuk untuk menghilangkan marahnya. Dia mulai menarik kencang gasnya agar segera sampai di tujuan. Nathan mendahului para senior. Mobil angkutan pertama pun juga di dahului. Nathan membunyikan motornya sebagai kode dia harus sampai dahulu. Sejenak dia melambat ketika dekat dengan mobil angkutan cewek. Nathan ingin melihat Elsa sekali lagi. Namun karena sudah malam dan lampu juga tak dinyalakan, Nathan tak bisa melihat Elsa yang duduk agak ke dalam. Nathan pun kembali menarik gas agar segera sampai ke Koramil Pacet, tujuan kegiatan diklat selanjutnya.


"Toh kamu juga pegangan erat." jawabnya acuh.


"Stop Nathaaan. Stooooppp." teriak Loretta menjadi. Nathan semakin mempercepat laju motornya. Loretta semakin kesal. Dia memang ingin memeluk erat Nathan tapi sayangnya bukan untuk kedekatan melainkan ketakutan. Nathan tersenyum bangga untuk motor bututnya. Kecepatan sesuai ekspektasi.


Setiba di Koramil Pacet, Nathan bergegas melaporkan kedatangan peserta Diklatgab SAKA ke petugas Koramil. Petugas piket menerima laporannya dan mempersilahkan masuk ke dalam untuk menyiapkan tempat penyambutan. Sesuai jadwal, lapangan latihan yang terletak di samping bangunan utama Koramil akan dibuat untuk penyambutan dan pembagian kelompok.


Nathan mengamati seksama untuk memastikan lapangan itu sudah siap digunakan. Lapangan itu sunyi. Tak ada penerangan utama untuk lapangan yang luasnya sekitar lapangan basket. Sisi terangnya hanya di sebelah jalan saja dan hanya mengandalkan penerangan dari lampu tepi jalan raya namun tetap tak begitu jelas untuk memperhatikan wajah orang yang berada di lapangan. Lapangan itu dikelilingi pagar besi setinggi tiga meter dan ujungnya

__ADS_1


diberi motif duri untuk pengaman. Di bagian pojok kanan ada pintu pagar yang digembok rapat sehingga tak memudahkan orang untuk keluar dari lapangan dan markas ini. Semua tak jadi masalah karena lapangan ini hanya untuk pemberhentian sementara.


Loretta masih di atas motor Nathan dengan badan gemetar. "Jika ternyata kondisiku jadi begini lebih baik aku bawa motor sendiri." Pelan-pelan dia mulai turun dari motor Nathan. Luapan kesal ditumpahkan pada motor Nathan. Dia menendang ban motor itu berkali-kali. Setelah itu, para senior mulai berdatangan. Mereka semua juga mempercepat lajunya mengikuti Nathan. "Wah, mentang-mentang punya motor baru, Nathan unjuk kebolehan." komentar Andi turun dari motornya diiringi gelak tawa.


"Eh kamu kenapa? Kok tadi nendang motornya Nathan? Tubuh kamu juga kenapa gemetaran?" tanya Natalia.


"Gak apa-apa." cuek Loretta sambil membuang mukanya sebisa mungkin.


Niken menebak mungkin Loretta ketakutan dibonceng Nathan mulai menimpali, "Yakin kamu pulang nanti bareng Nathan lagi?"


"Diam." bentak Loretta sembari menatap tajam ke arah Niken.


Mengerti akan maksud Niken, Natalia berkomentar, "Kita sudah bilang berkali-kali ya. Kamu itu di friend zone sama Nathan. Bukannya kita malah iba sama kamu, kita mulai kasihan sama Nathan. Kamu gak perlu tersinggung juga kita ngomong gini. Kita ngomong gini itu karena kita peduli sama kamu. Gak sama Nathan bukan akhir segalanya kok. Kamu juga cantik. Tuh Devan gak bakal nolak kamu." nasihatnya. Loretta memainkan matanya dan menunjukkan wajah tak suka.


Masih di atas motor Devan, Rani mengambil kesempatan meluapkan kekesalan pribadi. "Andi juga gak nolak kamu." Sorot Andi seketika menatap tajam ke Rani. Ada nada marah mendengar kalimat Rani. Rani pun demikian, dia membalas tatapan tajamnya lebih berani. Dia benar-benar marah terhadap Andi. Karena Devan ngebut agar bisa mengikuti Nathan dia terpaksa memeluk Devan erat. Bahkan Andi juga sempat mendahuluinya. Seperti memang tak begitu penting apa yang dilakukan Rani. Padahal Andi mendahuluinya karena tak tahan melihat Rani memeluk Devan erat.


"Aku mau kamu aja Rani cantik. Loretta belum sadar soalnya. Kalo sadar baru aku sama Loretta." celetuk Devan yang sukses membuat Andi semakin menahan amarah mendengar nama Rani disebut. Segera Andi meninggalkan tempat parkir dan menyusul Nathan.


"Dah, fokus ke diklat. Sebentar lagi peserta akan datang. Kita kembali ke tugas masing-masing." Revan mengingatkan kembali tujuannya dan menyusul langkah Andi.

__ADS_1


__ADS_2