
Sudah hampir sejam Elsa menangis sesenggukan di kamar mandi. Dia benar-benar bingung dengan dirinya. Kenapa hanya melihat Nathan dipeluk erat Loretta bisa sesakit ini. Dia benar-benar kesulitan mencerna semuanya sendiri.
Namun segera dia mengusap wajahnya yang tampak payah dengan air sebanyak mungkin. Matanya mulai tampak sembam. Ada apa ini? Kenapa dia bisa menangis seperti ini? Elsa mulai sadar dari tangisan yang sudah menguras banyak sekali air mata. Dia keluar toilet dan berjalan mencari Hannah. Hannah juga masih berlari mencari Elsa. Mereka berpapasan di depan kelas.
"Elsa, iiih kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba nangis terus lari ngilang. Gak suka liat aku bahagia? Kamu iri kalo aku bahagia?" omel Hannah. Elsa berusaha tersenyum dan menggeleng. "Aku tak enak badan. Aku ingin pulang." kata Elsa pelan.
"Hmmmm baiklah. Aku antar ya." pinta Hannah. Elsa menggeleng pelan dan melepaskan genggaman tangan Hannah. Mendadak Nathan sudah berada di depan Elsa. Moodnya yang tadi mulai membaik kembali buruk. Tak jelas dengan apa yang dirasakan, Elsa benar-benar marah kepada Nathan. Elsa berusaha membuang muka. Dia melewati Nathan begitu saja.
Nathan hanya diam. Dia benar-benar tak sanggup berbicara apapun dan tak sanggup pula menggapai tangan Elsa. Hari ini benar-benar kacau. Dia sungguh tak ingin bertemu dalam keadaan seperti ini.
Melihat Nathan yang kesal, Hannah memberanikan diri mendekati. "Kak Nathan juga ikut lihat turnamen ini?" Nathan beralih memandang datar ke Hannah.
"Ya." hanya itu kata yang bisa dia ucapkan ke Hannah selebihnya dia frustasi dengan sikap acuh Elsa.
"Maafkan Elsa tidak sempat tegur sapa dan langsung pulang. Dia bilang sedang tak enak badan." jelas Hannah agar Nathan tak tersinggung dengan sikap acuh Elsa.
Nathan hanya merespon dengan anggukan dan berusaha ramah. Dia pergi meninggalkan Hannah. Entah kenapa dia begitu merasa sakit terlebih melihat sikap Elsa kepadanya. Dia ingin berbicara dengan Elsa dan jika perlu menjelaskan tentang Loretta. Dia juga ingin bertanya banyak hal pada Elsa kenapa dia menangis, kenapa dia mengacuhkan dirinya. Sayangnya dia tak tahu cara menghubungi Elsa.
Ada apa denganmu Elsa? Apa kamu cemburu? Itulah yang dipikirkan Nathan. Dia hanya bisa menebak saja apa yang sedang terjadi baru saja. Dia mengacak rambutnya dan berdecak frustasi.
__ADS_1
Nathan berjalan kembali ke tempat kaum leyeh-leyeh. Mereka sedari tadi menunggu dirinya. Nathan menatap amarah Joe. Dia baru menyadari apa yang telah dilakukan tadi. Mungkin dia akan semarah itu jika Elsa dilukai orang. Dia pantas mendapatkan pukulan dari Joe. "Pukul aku!" perintah Nathan. Seketika Joe mengepalkan tangannya dan membuang muka.
Eric yang merasakan aura dingin di antara mereka berusaha mencairkan. "Bro, kita baru saja memenangkan turnamen. Seharusnya sekarang kita sibuk merayakan."
"Sudahlah bro. Kita manusia biasa. Gak luput dari salah dan dosa." nasihat Rio dengan kata yang sangat bijak untuk ukuran Rio.
"Jangan nunggu lebaran untuk saling memaafkan. Ayolah damai sekarang." Evan mengimbuhkan.
Joe menatap Nathan tajam. "Satu pukulan dan kita damai."
Nathan mengangguk dan bersiap-siap mendapatkan pukulan dari Joe. Joe memukul sangat keras sekali sampai Nathan membungkukkan badan merintih sakit. "Oke. Damai." Nathan mengangkat tangan kanannya dan mulai tertawa.
"Gila kau Joe!" Rio memegang kepalanya dengan kedua tangan ketika melihat apa yang barusan dilakukan Joe.
"Oke. Cabut." mereka berjalan menuju motor mereka yang terparkir di depan sekolah.
~
Hari mulai petang. Elsa sudah menyelesaikan tugas rumah. Dia kembali ke kamar dan bercermin cukup lama. Matanya masih terlihat sembab dan hidungnya juga memerah. Dia heran dengan dirinya. Bisa-bisanya dia merasakan sakit yang benar-benar dalam. Dia tidak sedang dipermalukan ataupun dihukum. Dia hanya menyaksikan Nathan dipeluk erat oleh Loretta.
__ADS_1
Seketika dadanya kembali sakit. Elsa mengingat saat itu dia melihat Nathan seolah-olah akan menghampiri dia. Perasaan berbunga-bunga datang seketika. Dia begitu sangat bahagia seperti mendapat obat atas kehampaan dirinya. Tapi Loretta merusak semua kebahagiaan Elsa. Dia benar-benar tak bisa menerima apa yang dilihatnya tadi. Dia tak tahu apa yang sedang dideritanya.
Elsa hanya sakit, sangat sakit. Padahal dia hanya melihat Loretta memeluk Nathan dari belakang. Ada perasaan tak terima dan ingin memiliki Nathan seorang. Dia juga tak ingin mengizinkan siapapun memeluk Nathan. Termasuk Loretta sekalipun yang sudah lama mengenal Nathan.
Elsa tak tahu apa dirinya memang sakit atau sedang mengalami gejala depresi karena dia menangis tak jelas, marah tak jelas, dan sakit tak jelas. Dia memberanikan diri mengetikkan kata yang sedari awal sepulang diklat sudah menghantuinya.
'Definisi cinta'
Elsa menekan icon pencarian. Artikel-artikel mulai bermunculan menjelaskan cinta. Elsa membaca dengan seksama. Dia selalu membenarkan semua artikel ini dengan kondisi dirinya. Sayup-sayup Elsa mulai meletakkan smartphonenya. Dia kembali menatap dirinya ke cermin. Tanpa ada keraguan, Elsa kini tahu dirinya sedang jatuh cinta kepada Nathan.
Air matanya kembali jatuh. Bagaimana bisa cewek payah di cermin itu bisa jatuh cinta dengan sosok yang sempurna. Dia sendiri baru merasakan sakit yang terdalam hanya dengan melihat Loretta memeluk Nathan. Elsa benar-benar sakit mengetahui dirinya mencintai Nathan. Bahkan Elsa juga tak sanggup jika Nathan mengabaikan dia. Tapi dia pantas diabaikan karena banyak kekurangan dalam dirinya.
Elsa juga tak seberani Hannah yang mulai menulis perasaan cintanya ke Kak Roy. Elsa juga tak seberani Loretta yang selalu mendekati Nathan. Elsa segera berhenti menatap dirinya. Dia merebahkan dirinya di kasur dan menangis sesenggukan lagi. Dia memeluk bantal sangat erat karena dirinya sedang terluka berat. Dia benar-benar tak bisa menerima semuanya.
"Tuhan, kenapa aku harus mencintai Nathan?" jerit Elsa menumpahkan air matanya di bantal yang didekap. Sejenak dia ingin menghilang dari dunia. Dia benar-benar tak sanggup jika Nathan mengabaikan dirinya. Rasanya benar-benar sakit. Bahkan dia rela dibully Nathan dari pada mencintai Nathan. Seketika Elsa terlelap dengan air mata yang membasahi bantal. Dia mulai menyambut mimpi apapun itu asal bukan sosok Nathan.
~
Nathan baru saja membersihkan restoran. Dia masih membawa sapu dan lap. Dia terduduk di kursi depan cafe. Ingatannya kembali pada peristiwa sore tadi. Kenapa Elsa menangis? Apa dia sangat terluka melihat Loretta memeluk dirinya? Jika benar, apa artinya Elsa juga mencintai dirinya? Pertanyaan-pertanyaan yang sangat masuk akal membuat dirinya sangat runyam pada malam itu.
__ADS_1
Dia ingin bertanya dan mendengar sendiri dari mulut Elsa. Tapi Nathan sendiri sangat kesulitan menemui Elsa. Dia tak bisa menghampiri Elsa ke sekolah bahkan sepulang sekolah. Itu karena Elsa pulang terlebih dahulu selisih dua jam dengan sekolah Nathan karena kebijakan sekolah menambahkan pelajaran asing di sekolah Nathan.
Sampai hari ini pun, Nathan juga tak bisa mengakses sosmed Elsa. Berbagai kata yang berhubungan dengan Elsa diketik tapi tak ada satupun tanda Elsa memiliki sosmed. Nathan mengacak-acak rambutnya. Nathan mengambil smartphone di saku dan mengamati. Dia berusaha mencari ide untuk mendapatkan akses Elsa. Sosmed tak didapat, wa tak dia punya, alamat pun juga tak ada. "Baiklah, bukan cara stalking lagi. Aku akan datang ke rumahmu ataupun kemana kamu berada, Elsa. Tunggu saja." kesalnya memandangi foto Elsa.