Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
PUZZLE


__ADS_3

Jika memaksakan ikatan tanpa cinta, kau hanya bahagia sendiri.


***


Joe membawa Loretta menjauh dari keramaian. Dia memilih taman yang tak terlalu ramai dan letaknya masih dekat dengan cafe & resto tempat Nathan bekerja. Joe tak bisa meninggalkan seseorang yang dicintainya terluka sendirian. Dia duduk di bangku taman bersama Loretta. Andai mereka jadi sepasang kekasih, sudah pasti tempat ini sangat romantis untuk berduaan.


Joe membiarkan Loretta menumpahkan emosinya. Joe tak sampai hati melihat Loretta menangis sesenggukan karena Nathan. Bukan salah Nathan pula tak bisa mencintai Loretta. Ini murni kesalahan Loretta yang memaksakan diri. Loretta masih beranggapan cinta Nathan akan tumbuh seiring waktu jika dia tetap berusaha mengejar Nathan. Kenyataannya Nathan mencintai orang lain dan itu sangat menyakitkan dirinya.


"Aku kurang apa, Nathan?! Aku kurang apa?!" ucap Loretta sembari menangis sesenggukan. Maskara Loretta juga sudah berantakan. Wajahnya benar-benar luntur karena bedak yang dia kenakan. Sayangnya Joe tak bisa tertawa melihat kondisi Loretta.


Terlepas dari bagaimana penampilan Loretta hari ini, Joe tetap memandang Loretta cantik. Dia mulai mendekap Loretta. Dia tahu gadis di depannya membutuhkan seseorang untuk menguatkan diri. Seketika Loretta menangis sejadi-jadinya di dekapan Joe. Dia tak bisa mempercayai usahanya untuk mendapatkan Nathan selama ini bisa hancur hanya karena seorang yang dicintai Nathan. "Apa aku kurang cantik, Joe?" ucapnya sambil terisak-isak.


"Kamu cantik Loretta. Tapi cinta bukan saja soal cantik atau apapun itu." ucap Joe yang berusaha menghibur Loretta. Sebenarnya Joe sangat terluka hari ini. Bagaimana tidak terluka? Seseorang yang sangat dia cintai sedang menangisi laki-laki lain. Bahkan Joe juga harus menghiburnya.


"Seharusnya aku yang mendapat cinta Nathan." ucap Loretta sembari memukul dada Joe. Seketika Joe merasakan pukulan Loretta begitu menyakitkan. Bahkan menyesakkan.


"Apa kau tak pernah berfikir tentang Nathan jika dia terpaksa menjalani suatu hubungan denganmu? Padahal Nathan berkali-kali bilang, hanya teman." ucap Joe sembari mulai memandang Loretta. "Jika kau tetap memaksa, hanya kau yang bahagia sedangkan Nathan tidak." tegas Joe agar Loretta segera tersadar.


"Kau belum mengerti tentang mate ya. Mate itu seperti puzzle yang harus dilengkapi dengan bentuk yang semestinya. Kau yang akan terluka sendiri jika kau memaksakan untuk melengkapi puzzle Nathan." ucap Joe sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Kau cantik dan sebenarnya kau juga baik. Belajarlah melepaskan meski tampak menyakitkan. Kau tidak sendiri menghadapi perasaan seperti ini. Aku juga. Mungkin saja kau puzzle dari seseorang yang benar-benar sangat mencintaimu." ucap Joe sambil menatap dalam-dalam netra Loretta.


Loretta mengamati Joe yang menatapnya. Dia melihat ada sorot luka yang sangat dalam di retina hitam Joe. Seolah-olah yang lebih butuh untuk dikuatkan adalah Joe, bukan dirinya.


Loretta tiba-tiba merasakan ada hal yang berbeda. Tapi dia sendiri juga tak tahu apa itu. Dia heran dengan dirinya. Kenapa dia dengan mudahnya menerima semua perkataan Joe. Bahkan Loretta merasakan perasaannya lebih tenang setelah mendengarkan kata-kata Joe barusan. Loretta kembali menyandarkan kepalanya di dada Joe. Perasaannya juga sedikit lebih baik. Bukan berarti dia sudah tak menangis. Dia masih menangis karena keadaan hari ini.


Bagaimana tidak menangis? Tadi sepulang latihan Pramuka, Loretta masih bisa tertawa bersama dengan teman-teman lainnya. Loretta memutuskan berkunjung ke resto untuk bertemu Nathan karena rindu tidak melihat laki-laki itu di Gudep hari ini. Tiba-tiba saja dia melihat status akun lain yang men-tag Nathan sedang mengirim foto-foto sosok yang dirindukan bersama perempuan yang bukan dirinya. Melihat foto itu, Loretta bagai disambar petir di siang hari.


"Apa kau tak ingin bercermin sebentar?" ucap Joe mengalihkan pikiran Loretta. Loretta mendadak gelagapan mendengar ucapan Joe. Dia mulai mengkhawatirkan riasannya. Segera dia mengambil cermin di tas dan menatapnya. Benar saja! Maskaranya sudah luluh berantakan. Make up nya juga mulai belang-belang. Seketika Loretta menjerit. "Make up kuuuuh!!"


Joe baru bisa tertawa melihat Loretta menjerit. Dia mengambilkan tisu basah untuk Loretta. Segera saja Loretta menyambar pemberian Joe. Dia memunggungi Joe untuk membersihkan make up wajahnya. "Kenapa jadi lupa segalanya sih. Padahal cantik itu harus." komen Loretta sambil melihat wajahnya ke cermin kecil di tangan.


Joe mulai berfikir sejenak tentang Nathan. Mungkinkah Nathan selalu melihat Elsa cantik sedari awal. Joe tertawa sendiri memikirkan Nathan. Bagaimana bisa awalnya Nathan menilai Elsa yang cupu itu tetap cantik. Sudah pasti matanya terlalu sakit.


Namun Joe menyadari sendiri ketika melihat Loretta. Ikatan itu memang sebuah puzzle. Tak peduli seperti apa pasangannya, dia akan selalu sempurna bersamanya. Dan mungkinkah Loretta benar-benar puzzle nya.


Kini wajah Loretta sudah bersih dari make up. Wajahnya benar-benar polos. Kelopak matanya terlihat sembam dan matanya memerah. Joe pun bisa melihat ada jerawat-jerawat kecil di kedua pipinya. Meski begitu Loretta tampak lebih imut dengan wajah tanpa make up.


"Mau kuantar pulang?" tawar Joe ketika Loretta sudah selesai membersihkan make up.

__ADS_1


Loretta hanyak memberi anggukan kecil. Dia memang dalam mood buruk untuk berkendara. Loretta menutup kepalanya dengan jaket yang dia kenakan. Joe tahu Loretta sangat malu tak mengenakan make up. "Dih, kamu kayak abis kena razia aja pake nutup kepala kayak gitu." ucap Joe ketus.


"Dih, kamu gak pernah tahu rasanya jadi cewek. Gak pake make up itu kayak gak pake celana. Aku juga gak pernah keluar rumah tanpa make up." ketus Loretta.


"Padahal aku suka lihat jerawat kamu." ucap Joe tiba-tiba.


Loretta menghentikan langkahnya. Dia mendadak menangis teringat jerawatnya yang sulit hilang. "Lah kenapa nangis?" tanya Joe heran.


"Aku harus pake skin care apa buat ngilangin jerawat ini?" ucap Loretta tetap menangis.


"Kenapa dihilangkan sih? Jerawat itu yang bikin kamu imut." ucap Joe yang sukses membuat Loretta berbunga-bunga tapi sedikit. Tapi Loretta belum punya kekuatan lebih untuk tak menutupi wajahnya. Dia masih mengenakan jaket di kepala. Joe mendengus kesal. Mereka pun melanjutkan perjalanan meninggalkan taman untuk menuju parkiran resto.


Setiba di parkiran Loretta langsung menyambar helm nya. Joe meminta kunci motor Loretta. Dia memakai motor Loretta untuk mengantar pulang. Loretta mengamati sejenak moge Joe. Bagaimana Joe pulang setelah dia mengantarku, batin Loretta.


Joe yang paham dengan tatapan Loretta menjawab suara batinnya, "Tak perlu pedulikan aku. Aku bisa naik gojek."


Mendengar ucapan Joe, Loretta ingin memukul jidatnya namun dia tak ingin ketahuan gapteknya. Padahal jaman sudah sangat mudah, bisa-bisanya dia membayangkan Joe jalan kaki dari rumahnya ke resto yang berjarak lumayan jauh.


Seketika Loretta naik ke motornya. "Pegangan dong." pinta Joe. Loretta tersenyum dan memukul kepalanya. "Dasar cowok." Joe tertawa dan mulai mengendarai motornya. "Jadilah petunjuk arah yang baik!" ucap Joe kepada Loretta. Loretta hanya memberi anggukan yang tak diketahui Joe.

__ADS_1


__ADS_2