Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
RENCANA


__ADS_3

Jam istirahat sudah berlangsung. Rio mengadakan rapat khusus dengan anggota leyeh-leyeh tanpa sepengetahuan Nathan. Dia ingin membahas kelanjutan endorse. Joe yang masih kebingungan karena telat info, mulai mengerti arah endorse ini setelah Rio menjelaskan dengan gamblang.


"Sumpah. Nathan bisa murka kalo sampai tau dan kalian bisa-bisanya berfikir seperti ini."


"Bentar Joe. Kita itu gak fokus endorsenya. Kita fokus menyatukan mereka. Nathan dan Elsa itu sebenarnya sama-sama suka. Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Ente gak kasihan?"


"Halah, modus kalian aja. Kalian bisa bayangin gak kalo foto kalian sama pasangan kalian jadi konsumsi publik tanpa kalian ketahui?" emosi Joe.


Mereka tak mempan dengan apa yang disampaikan Joe. Mereka menganggap ini misi menyatukan Nathan dan Elsa tapi juga bawa produk endorse.


"Dah. Dengerin konsep kita dulu. Kita mau menciptakan malam romantis sama mereka. Nanti mereka ke pasar malam jalan-jalan sampai Elsa mendadak kedinginan. Terus Nathan ngasih jaket untuk menghangatkan dia. Tentunya Nathan harus bawa jaket endorse ini." ucap Evan sambil menunjukkan jaket dengan biaya endorse senilai 5 juta.


"Nah, kita juga harus bikin Nathan dan Elsa berduaan menatap langit liat kembang api. Terus kita nyuri shoot buat foto produk kecantikan ini." Rio mengimbuhkan produk kecantikan dengan biaya endorse 5 juta juga.


"Sudah pasti ini perbuatan baik membantu kencan teman kita." imbuh Eric untuk meyakinkan Joe.


Joe menggeleng tak percaya akan kecerdasan kaumnya. Bisa-bisanya mereka melakukan dua hal sekaligus. Kejahatan dan kebaikan. "Ane gak yakin ini perbuatan baik."


"Oke, kalo kamu gak tertarik sama bisnis ini, kita kasih penawaran terakhir. Kamu mau gak kencanmu sama Loretta sukses dan romantis?" tawar Rio dengan soknya.


Joe menatap Rio seketika. Dia berfikir sejenak dengan apa yang di ucapkan Rio. Harus diakui Joe juga kesulitan menciptakan momen romantis dalam kencan yang akan dilakukan. "Ada jaminan?"


"BPKB, sertifikat tanah. Astagaa, gak percaya amat sama kemampuan ane." kesal Rio.


Evan dan Eric saling berpandangan melihat respon Joe. Mulus.


Mereka mulai mengatur strategi kencan Nathan dan Elsa. "Langkah pertama, harus ada yang ngasih tau Nathan kalo dekat sini ada pasar malam Sabtu besok." ucap Evan.


"Itu tugas ane." sahut Rio cepat.


"Oke."


Mereka melanjutkan berunding strategi ini dengan serius tanpa ada perasaan bersalah dengan Nathan.


~


Sedari tadi Elsa di toilet sambil menimang-nimang smartphonenya. Dia masih bingung untuk membalas chat Nathan. Belum sempat Elsa membalas, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Nathan. Elsa semakin gelagapan. Dia tak tahu bagaimana cara menghadapi panggilan ini. "Aduh bagaimana ini?"


"Angkat gak ya." Elsa masih membiarkan ponselnya berdering. "Oke angkat." ucap Elsa memberanikan diri.


"Halo, Elsa." suara Nathan dari sebrang mendahului.


"I-iya kak." ucap Elsa gugup.

__ADS_1


"Kenapa suaramu menggema. Kamu di toilet?"


Sukses Elsa membuka toilet dan segera berlari bersembunyi di belakang toilet yang sepi. "Tidak." bohong Elsa.


"Kenapa wa ku gak dibalas?" tanya Nathan dengan lembut.


"Aku. Aku tidak tahu harus membalas apa." Elsa keceplosan jujur.


Nathan tertawa mendengar pengakuan Elsa. "Jadi itu kenapa cuma di read saja. Balas aja sesukamu. Kalau kamu tak membalas, aku khawatir, Elsa." ucap Nathan yang sukses membuat Elsa meleleh.


"Baik, kak." jawab Elsa dengan nada lembut tanpa ada ketakutan.


"Anak pintar." puji Nathan.


Elsa hanya tersenyum mendengar ucapan Nathan. Dia menggigit ujung bibirnya karena benar-benar meleleh.


"Sebentar ya, Elsa. Ada Rio datang, nanti aku hubungi lagi." ucap Nathan tiba-tiba.


Seketika raut muka Elsa berubah masam. "Baik, kak." ucap Elsa dengan berat. Sambungan terputus seketika.


~


Di tempat berbeda, Nathan benar-benar ingin menelan Rio yang menghampirinya tiba-tiba. "Ganggu aja! Ada apa?" ucap Nathan dengan kesal.


"Maap, bung. Ane cuma mau bilang, tadi kan ente tanya tempat recommended dimana kan?"


"Sabtu besok ada pasar malam dekat sekolah kita. Itu tempat yang bagus banget buat ngungkapin perasaan."


"Di tempat seramai itu?"


"Gak semua spot rame kale. Nanti pasti ada spot yang baguslah buat privasi. Kamu tembak aja Elsa di situ."


Nathan berfikir sejenak apa yang disampaikan Rio. Itu memang cara yang bagus untuk mengungkapkan perasaannya ke Elsa. Meski demikian Nathan agak ragu mengajak Elsa ke sana. Apa diizinkan pamannya?


"Aku pikirkan dulu saranmu."


"Udah percaya aja. Itu tempat keren kok." ucap Rio meyakinkan sembari menepuk pundak Nathan.


"Ane cabut ke kelas." pamit Rio.


Nathan mulai berfikir bagaimana cara mengajak Elsa keluar ke pasar malam. "Baiklah, coba dulu." ucap Nathan sembari mengeluarkan smartphonenya lagi.


Elsa, kamu suka pasar malam gak?

__ADS_1


Nathan mencoba mengirim wa ke Elsa dan seketika mendapat balasan.


Suka


Balasan satu kata dari Elsa itu sukses membuat Nathan berbunga-bunga. "Oke." ucap Nathan sembari membalas chat.


Sabtu pukul 6 sore dandan cantik, aku jemput.


Nathan langsung to the point agar tahu segera keputusan Elsa.


Baik


Balas Elsa cepat. Hanya dengan satu kata itu sudah mampu membuat Nathan terombang-ambing ke dalam lautan bahagia. Bagaimana semudah ini mengajak Elsa keluar. Namun senyumnya pudar ketika mengingat raut muka pamannya. Apa *yakin akan diizinkan paman*, batin Nathan.


Nathan : 🤔 Kau sudah izin paman?


Elsa : Paman dan bibi selalu memberi izin tapi aku yang tidak mau keluar


Nathan : Kenapa tidak mau keluar?


Elsa : Aku tidak tahu mau kemana. Di luar juga terlalu ramai.


Nathan : Pasar malam juga pasti ramai. Kenapa mau keluar?


Elsa : Aku merindukan suasana pasar malam.


Nathan : Baiklah. Sabtu ya.


Elsa : Iya, kak.


Nathan melihat chat dengan Elsa terlalu sederhana tapi chat ini yang paling bikin dirinya bahagia. "Sabtu, Sabtu, Sabtu." ucap Nathan dengan ekspresi bahagia.


~


Elsa sedari tadi bahagia tak karuan. Entah karena chat dengan Nathan atau ajakan ke pasar malam. Elsa juga heran bagaimana bisa dia membalas chat Nathan tanpa beban bahkan tanpa berfikir seperti sebelumnya. Dia mematikan smartphonenya dan melangkahkan kakinya ringan ke ruang kelasnya.


Setiba di kelas, Hannan memukul kepala Elsa. "Aku tadi nyari kamu keliling toilet sekolah gak ada. Kamu di toilet manaaa?"


"Di toilet sekolah biasanya." ucap Elsa sembari mengusap kepalanya yang tak sakit.


"Bohong! Dari tadi aku nungguin kamu. Aku mau cerita ke kamu seorang. Ini tentang perasaanku, Elsa." ucap Hannah sok mellow.


Seperti biasa, Elsa mulai mendengarkan tanpa menyela dan memberi saran. "Eh, bentar. Katanya dekat sini akan ada pasar malam ya." ucap Hannah tiba-tiba.

__ADS_1


Elsa segera menelan saliva. Dia berharap Hannah tak memaksanya ikut. Dia sudah janji akan keluar dengan Nathan.


"Sebenarnya aku pengen ke sana tapi mama maksa ngajak aku ke rumah nenek. So, kamu gak usah ke sana. Belajar aja di rumah." ucap Hannah disambut Elsa dengan perasaan lega.


__ADS_2