Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
MOS Elsa


__ADS_3

Pagi sekali, Elsa mulai menebarkan pandangan di luar sekolah baru. Dia sudah berdiri di depan pintu pagar yang menjadi pagar utama sekolah. Di atas pagar tertulis SMA NEGERI 3 MOJOKERTO. Elsa masih mengenakan seragam biru putih karena seragam putih abunya masih ditumpuk dalam antrean jahit.


Elsa mengepang kedua rambutnya dan memberikan poni lebat pada variasi rambut, memakai kacamata kanan minus 1.5 dan kiri minus 1. Tak ketinggalan sepatu tali bewarna hitam, kaus kaki putih setinggi lutut, tas ransel hitam di punggung, dan ikat pinggang hitam untuk menunjukkan dia anak taat peraturan. Namun anak-anak lain akan mengatakan si culun.


Sekolah Elsa tidak terlalu jauh dari rumah paman Andre. Cukup lima menit dengan jalan kaki dia sudah sampai. Setiba di depan sekolah Elsa memperhatikan seksama lingkungan sekolah itu. Pagar tembok biru muda mengelilingi bangunan bercat hijau lantai tiga. Disekitarnya banyak pohon rimbun yang mulai menyejukkan paru. Melalui pagar besi dengan ornamen klasik, dia melangkahkan kaki pertama ke gedung sekolah baru.


Elsa suka datang pagi di awal MOS ini lebih tepatnya pukul 5.10 WIB. Meski di sekitar belum tampak aktifitas sekolah, Elsa merasa tenang. Setidaknya dia bisa memilih dimana nanti dia akan sembunyi di suatu sudut sekolah agar tak ada yang melihatnya. Trauma di SMP membuat Elsa sulit menahan ketakutan dari orang yang memandang dirinya meski hanya untuk sekilas.


Dia memilih duduk di bangku taman dekat pos satpam. Lebih tepatnya di samping pohon mauni. Bangku itu tertutup pohon mauni dari samping, jadi tak terlalu nampak dari seberang jalanan masuk sekolah.


"Aku baik-baik saja. Di sini tidak ada orang yang akan mengolok-olok aku ataupun melukaiku." Elsa menguatkan diri.


Selang beberapa menit baru tampak bapak tua datang lalu masuk ke pos pengamanan. Dia mulai mengenakan seragam satpam. Dari pos satpam tampak jelas Elsa duduk di bangku itu karena bangunan pos satpam yang tertutup pohon mauni hanya bagian depan. Pak Satpam melihat ke Elsa lalu tersenyum, "Peserta ajaran baru ya? Harus semangat belajar ya." sapanya.


Elsa mengangguk sambil malu-malu dan menundukkan kepala. Dia tak mau berinteraksi lama dengan orang baru. Apalagi bertatap mata.


Seketika satpam itu mulai mengeluarkan atribut pengamanan dan memasang rambu-rambu di jalan raya. Rambu kurangi kecepatan, tiga buah marga sebagai pembatas arus jalan. Tak ketinggalan rambu stop di tangan kiri serta peluit yang berada di lengan kiri.


Tak berapa lama kemudian disusul siswa-siswi MOS mulai satu per satu datang. Tampak berbagai ekspresi dari siswa MOS. Ada yang ceria, bercerita sedunia, ada yang malu-malu tapi tak semalu dirinya, bahkan tak segan ada yang mengajak orang tuanya masuk ke sekolah. Melihat pemandangan terakhir itu, seketika ada perasaan sedih menyeruak. Namun Elsa menerima semua keadaan hari pertama sekolah tanpa sosok papa dan mama.


MOS


Pukul 5.35 WIB, Elsa dan peserta MOS bergabung menuju lapangan sekolah untuk mengikuti upacara pembukaan. Tak berbeda dari upacara umumnya, yang membedakan hanya dari pelepasan puluhan balon sebagai awal di mulainya MOS. Selanjutnya kakak OSIS mengintruksikan kepada peserta untuk mengenakan atribut MOS yang sudah diinformasikan melalui selebaran kertas saat registrasi ulang.


Topi toga kertas, tanda pengenal dengan foto hewan, gelang yang terbuat dari tutup botol gelas mulai dikenakan di kaki kiri dan menimbulkan suara krincing jika digerakkan. Belum lagi rok yang terbuat dari tali rafia yang mirip kostum penari Hawai. Ada gelak tawa dari beberapa peserta menyaksikan pemandangan MOS ini. "Kenapa kita jadi orang gila di MOS sih?" ucap salah satu siswa. Elsa hanya diam dan sudah mengenakan semuanya bahkan mendahului mereka, tanpa menunggu kakak OSIS mengucapkan perintah itu lagi.


Berbagai kegiatan pengenalan pun dibeberkan. Selama tiga hari ini, Elsa menganggap MOS hal yang benar-benar menakutkan. Jika melakukan kesalahan hukumannya langsung di depan kelas. Elsa benar-benar fokus pada setiap tantangan yang diberikan kakak OSIS. Elsa tak ingin mendapatkan hukuman.


Berbeda dengan peserta lainnya, terutama Hannah. Hannah, seorang gadis manis yang mempunyai lesung pipi kiri, rambutnya sebahu dengan poni, pipinya juga menggemaskan. Hannah yang paling sering mendapat hukuman. Elsa tak ingin melihatnya dipermalukan dengan melakukan hukuman gila seperti melompat mirip katak, menyanyikan lagu, merayu ketua osis, dan hukuman lainnya.

__ADS_1


Baginya itu benar-benar berlebihan. Andai dia punya keberanian, dia sudah pasti akan menegur bahkan melawan kakak OSIS. Tapi dia bukan gadis yang berani seperti keinginannya. Elsa memilih duduk di samping Hannah dan memberi jawaban kepada Hannah melalui secarik kertas yang dikepal kecil.


Hannah seketika terkejut. Dia melihat tulisan yang diberikan Elsa.


"Ayo jawab Hannah. Ayah Rumi memiliki lima anak, namanya Rara, Rere, Riri, Rani. Siapa anak kelima ayah Rumi?" ulang kakak OSIS.


Sontak Hannah menjawab, "Rani".


"Lho kok bisa?"


"Karena yang terakhir itu anak kelima."


Well, Hannah bebas dari hukuman yang dibuat kakak OSIS. Tampak wajah kakak OSIS tak puas melihat Hannah lolos hukuman. "Tumben dia bisa jawab dengan bener?" bisik kakak OSIS dengan temannya. Elsa benar-benar membantu.


Setelah itu bel istirahat berbunyi, semua berhamburan keluar kelas. "Terima kasih ya. Kamu pinter banget sih. Oh ya namamu siapa ? Jujur ya, aku baru liat kamu tadi." cerocos Hannah sambil mengulurkan tangannya.


"Ke kantin yuk. Kita ngobrol banyak." sela Hannah.


Kelemahan Elsa lainnya adalah tidak bisa menolak. Setiap ingin menolak, dia takut akan menyinggung, dimarahi, atau lebih dibully. Elsa langsung saja menuruti Hannah. Elsa tidak berjalan di samping Hannah melainkan di belakang seperti ekor Hannah. Hannah melihat Elsa heran namun dia tak terlalu memikirkan. "Suka-suka lah."


Sesampai di kantin, Hannah memesan jus melon dan Elsa memilih Aqua gelas. Hannah mulai bercerita banyak tentang dirinya.


"Aku dari SMP 1 Mojokerto lho. Kamu dari SMP mana?" tanya Hannah.


"Aku dari SMP 3 Jakarta." ucap Elsa malu-malu sembari menundukkan kepala.


"Jakarta? Waw. Anak kota. Pasti seru ya." ucap Hannah begitu semangat mendengar Jakarta.


Elsa hanya diam tak bereaksi. Sejatinya sekolah di sana seperti neraka, tak ada seru-serunya.

__ADS_1


"Eh, kamu tahu Kakak OSIS yang namanya Roy kan?"


Elsa menggeleng, "Itu lho kakak kelas 2 IPA 3." Elsa menggeleng lagi.


Tanpa aba-aba Hannah langsung menyeret Elsa ke ruang kelas 2 IPA 3. Elsa benar-benar sangat malu ditarik Hannah. Elsa selalu menundukkan kepalanya di sepanjang jalan antara kelas 2 IPA 3 dan kantin sekolah.


Di ruang kelas 2 IPA 3 ada seorang yang tampak tekun membaca novel. Hannah bersembunyi di jendela sambil menunjuk ke arah laki-laki tersebut. "Itu Kak Roy. Dia juga kakak OSIS." ucap Hannah sambil menahan degupan jantungnya. Elsa sama sekali tak peduli dengan siapa Kak Roy. Dia hanya melihat karena disuruh melihat.


Setelah memandang Kak Roy cukup lama, Hannah menarik Elsa kembali ke kantin dengan cepat dan duduk lagi di meja tadi.


"Kamu tahu gak sih? Aku menyukainya. Aku menyukai Kak Roy sejak daftar ulang. Aku berpapasan di lapangan basket saat itu. Dia lagi main basket sumpah keren banget." suaranya mengecil.


"Pas aku dapat hukuman merayu ketua OSIS itu sebenarnya aku berharap ketua OSIS itu Kak Roy." imbuh Hannah sembari memegang dadanya karena sesuatu yang sesak. "Aku sudah pasti senang dihukum terus." suaranya diiringi tawa gemas.


Elsa terkejut, namun dia tak menampakkan ekspresinya. Rupanya Hannah tidak merasa terintimidasi dengan hukuman yang terus diberikan. Jika dia tahu Hannah tak pernah keberatan, sudah pasti Elsa tak perlu memberikan jawaban yang ternyata membawanya dengan cerita Hannah di kantin.


Ingin rasanya Elsa pergi dari Hannah, tapi tidak pula dengan Hannah. Hannah mulai nyaman dengan Elsa. Elsa bisa jadi teman yang baik dan pasti bisa jaga rahasia. Itulah yang dipikirkan Hannah. Sejatinya Elsa tak pernah ingin terlibat dengan siapapun termasuk Hannah yang terpaksa dianggap teman pertamanya di SMA.


Bel masuk kelas setelah istirahat telah berbunyi. Ini adalah MOS terakhir. Elsa benar-benar sangat lega tapi tidak begitu dengan sebagian peserta. Hannah sendiri pun tampak kecewa. "Aku pengen MOS terus. Aku pengen dihukum terus agar Kak Roy terus melihat aku."


What ?? Are you okay ?? You are free**!!, kesal Elsa membatin. Untuk menyembunyikan kekesalannya Elsa hanya mampu menundukkan kepala lalu serta merta melepas atribut MOS. Harapannya satu, segera pulang dan mandi.


Akhirnya apa yang diimpikan Elsa pun terwujud, bel pulang pun berdering. Elsa bergegas pulang. Tangannya dicegah Hannah, "Pulang bareng yuk."


"Rumahku dekat sekali. Aku bisa jalan kaki." nampak Elsa sangat hati-hati menjelaskan ke Hannah.


"Oh kirain jauh." Hannah masih belum tahu alamat rumah Elsa. "Hati-hati Elsa."


"Ya." jawab Elsa sambil melenggang pergi meninggalkan Hannah. Dia berjalan sambil memainkan tali tasnya di pundak sambil sesekali menundukkan kepala. Hannah sering heran sendiri melihat Elsa. Elsa seperti sulit untuk mengekspresikan perasaannya bahkan cenderung mengabaikan dirinya. Kendati demikian, tetap saja berteman dengan Elsa tidaklah buruk.

__ADS_1


__ADS_2