Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
POSTINGAN


__ADS_3

"Yes, dapaaat!" luapan bahagia Nathan sembari menciumi kartu nama pemberian Bibi Andre.


Nathan meloncat kegirangan, dia masih tak percaya begitu mudahnya mendapatkan alamat Elsa. Dia mengamati seksama tulisan demi tulisan yang tercetak di kartu nama bewarna biru.


Maria Andre, Graphic Designer, Bougenville Street 79, Mojokerto. 085 123 456 789


"I'm coming, Elsa." ucapnya lalu mengecup kartu nama itu.


Sedari tadi Rio sudah tak sabar menemui Nathan. Setelah memastikan kondisi sudah tenang, Rio dan lainnya akhirnya keluar dari persembunyian. Mereka bergegas menghampiri Nathan yang sibuk menciumi kartu nama yang dipegang.


"Duduk! Ayo cepat duduk!" perintah Eric tiba-tiba. "Jelasin ke kita semua! Cewek itu siapa? Datang dari mana? Kok cantik?"


"Baaanget." sahut Rio. "Kira-kira masih ada stok banyak gak yang model gitu?" sela Rio.


Meskipun terkejut dengan kedatangan mereka, Nathan tetap sibuk tersenyum sambil mendengarkan pertanyaan-pertanyaan mereka. "Senyaaam senyuum. Mentang-mentang si doi sudah pulang, gilanya kambuh." ejek Evan.


"Dia siapa?" Eric mengulang lagi karena tak sabaran.


Lagi-lagi Nathan tersenyum. "Dia Elsa." ucap Nathan sambil menerawang tak karuan.


"Elsa? Elsa siapa?" tanya Evan sembari meletakkan telunjuknya di dagu dan berusaha mengingat-ingat adakah teman atau kenalannya yang bernama Elsa.


"Elsa Safira. Dia pernah menjadi anggota Diklat SAKA di Pacet." jelas Nathan tenang dan damai.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Nathan, semuanya langsung berusaha mengingat wajah cewek-cewek yang pernah ikut diklat. Tak satupun dari mereka mengingat wajah Elsa. Rio menggeleng berkali-kali. "Kita gak pernah lihat ratu bidadari di kegiatan kemarin."


Nathan menatap Rio sembari senyum kecil, "Dia satu kelompok dengan kamu." Nathan mengingatkan. Rio mulai mengingat cewek yang sekelompok dengan dirinya. Pandangannya menerawang pada sosok Elsa yang cupu. "Ada sih yang namanya Elsa. Tapi gak mungkin dia." ucap Rio sembari menertawakan terawangannya.


"Memang dia orangnya. Dia Elsa, Elsa Safira." jelas Nathan penuh dengan kebahagiaan.


Joe bereaksi segera ketika mengingat penampilan Elsa di Diklat kemarin. "Elsa cupu yang berkali-kali membenarkan kacamatanya melorot di hidung?! Sumpah?!" teriak Joe tak percaya.


Nathan tersenyum lebih damai lagi mendengar perkataan Joe. Dia membenarkan sosok Elsa sesuai gambaran Joe sembari menunjukkan dua jari kanannya.


Joe mendelikkan matanya sembari menggeleng tak percaya. Dia merasa sial karena terlalu sombong waktu itu tapi tak terlalu menyesal karena hatinya sudah berlabuh ke Loretta.


Berbeda dengan Rio, dia orang yang sangat terpukul mendengar pernyataan Nathan. Rio juga sampai tak bisa menutup mulutnya. Dirinya terlalu menganga menerima penjelasan Nathan soal Elsa. Jika tahu Elsa secantik tadi sudah pasti hari itu sepulang diklat langsung menjadikan permaisuri.


Evan menepuk-nepuk punggung Rio untuk menguatkan dirinya, "Sabar. Ini ujian." ucap Evan menyemangati dirinya dan mereka agar bisa menerima takdir.


Rio benar-benar sangat terpukul. Dia menepis pukulan Evan dan segera berdiri di hadapan Nathan dengan berlagak sok jagoan. "Nathan, aku gak jadi ingin tukar otakmu. Aku ingin tukar matamu. Biar aku bisa liat berlian dalam lumpur seperti kamu." ucap Rio sembari ngos-ngosan tak jelas seperti jagoan yang terkena sinar laser.


Nathan tersenyum dan menggeleng pelan. "Maaf, bung. Tidak bisa. Aku sudah nyaman." ucap Nathan yang tak hentinya memberikan senyuman yang bisa melelehkan kaum hawa.


Rio mengacak-acak rambutnya. Bisa-bisanya dia meloloskan Elsa dari gombalan mautnya kala itu. Di hari itu kaum leyeh-leyeh, minus Nathan, menyadari bahwa matanya perlu diperiksa kembali.


---

__ADS_1


Tanpa diduga sebelumnya, Loretta tiba-tiba muncul di belakang cafe dan mendekati Nathan dan kawanan tak jelasnya. Dia langsung berdiri di depan Nathan sambil menunjukkan smartphone-nya di wajah Nathan. "Nathan, jelasin ke aku. Ini bukan kamu kan?" ucap Loretta penuh kecemburuan.


Nathan yang sedari tadi tersenyum bahagia langsung berdiri menyambar smartphone Loretta. Dia mengamati status yang ditulis Rio di ig nya. Rupanya Rio memosting foto-foto Nathan dan Elsa yang sedang berduaan di taman ke Instagram.


💘 Lagi nonton drakor, eu. Ceritanya hantu taman lewat.👻👻


Nathan tersenyum melihat foto dirinya dengan Elsa berpelukan. Kemudian dia menggeser layar ke kanan. Nathan melihat Elsa memandang dirinya sembari menggenggam tangannya. Nathan menggeser layar ke kanan lagi. Dia melihat lagi foto Nathan yang memandang ke atas berusaha melihat pelangi di musim kemarau dan Elsa membuang muka sembari menggigit jarinya sambil tersenyum. Nathan meleleh melihat foto-foto itu. Bahkan dia sampai lupa Loretta sedang meletup-letup.


"Nathan! Ini bukan kamu kan?!" ulang Loretta keras.


Nathan sangat terganggu dengan teriakan Loretta. Nathan juga ingin membalas teriakan Loretta karena sibuk mengganggu ketenangannya. Namun Nathan segera menepis karena mau tak mau Nathan harus berterima kasih karena Loretta menunjukkan foto ini ke dirinya. Nathan menarik dan menghembuskan nafas sejenak.


Nathan memberikan ponselnya kembali ke Loretta. "Ini memang aku." ucap Nathan sembari memandang Loretta. "Dengan orang yang aku suka." lanjut Nathan begitu tenang.


Sukses Loretta memukul bahu Nathan berkali-kali. Air matanya mendadak tumpah. Dia terlalu sakit mendengarkan pernyataan Nathan. "Gak mungkin. Gak mungkin. Gak mungkin. Kamu jahat, Nathan! Kamu jahat!" teriak Loretta histeris. Melihat Loretta yang menangis, Nathan menjadi diam dan kehilangan senyuman gilanya. Mendadak dia merasa bersalah kepada membuat Loretta menangis. Nathan juga sama sekali tak menepis pukulan-pukulan Loretta. Nathan menerima semua pukulan Loretta karena dirinya juga tak tahu apa dia benar-benar jahat kepada Loretta.


Joe dengan segera mendekap Loretta untuk menghentikan aksinya. "Joe, bawa Loretta dari sini dan tenangkan dia!" pinta Evan kepada Joe.


Joe berjalan sambil mendekap Loretta dalam pelukannya. Dia berusaha menjauhkan Loretta dari mereka.


"Tak usah dipikirkan. Loretta akan baik-baik saja dengan Joe." ucap Eric melihat Nathan yang sedang bingung dengan perasaan bersalahnya.


Rio iba menatap Nathan yang dari tadi senyum seperti orang gila kini mendadak murung karena Loretta. Dia mulai mengambil inisiatif untuk mencairkan suasana. "Oke, ayok makan. Anak-anak di perutku sudah kelaparan!" ajak Rio agar segera teralihkan.

__ADS_1


Evan dan Eric mengikuti Rio masuk ke dalam. Nathan masih menata mood nya kembali. Dia mulai mengambil smartphonenya yang masih silent sejak pagi tadi. Dia mengabaikan ratusan chat di grup leyeh-leyeh dan Gudep. Dia ingin segera membuka ig nya. Rio sudah menandai ig nya untuk memudahkan Nathan melihat foto-foto Elsa bersama dirinya. Nathan kembali tersenyum menatap foto-foto itu. Nathan mengambil foto-foto itu untuk dipindahkan ke galeri. "Thanks, Rio." ucap Nathan sembari memasukkan kembali smartphone ke saku. Moodnya kembali membaik. Dia segera berlalu menuju kaumnya berada.


__ADS_2