Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
BEST COUPLE


__ADS_3

Pagi itu, Wulan mulai menyelesaikan makan paginya. Dia mengambil piring-piring kotor untuk dicuci di dapur. "Ma, pulang sekolah nanti Nathan main ke rumah Elsa ya." izin Nathan sebelum berangkat sekolah.


"Iya. Bertamu harus sopan ya. Ingat! Jangan macam-macam." warning Wulan sembari menggerakkan telunjuk.


Nathan tertawa kekeh, bisa-bisanya mama berfikir aneh-aneh soal anaknya yang baik hati. "Ma, Nathan masih jomblo. Belum jadian."


"Namanya juga deket cewek cantik. Ya tetap harus waspada." ucap Wulan.


Nathan terdiam sejenak, dia mengambil kursi kayu untuk duduk dekat mamanya yang sibuk membersihkan dapur.


"Ma, sebenarnya Elsa selalu berpenampilan cupu lho. Nathan juga baru tahu Elsa bisa berpenampilan sangat cantik. Ini foto Elsa sebelumnya." ucap Nathan sembari menunjukkan smartphonenya ke Wulan.


Wulan mulai mengamati foto Elsa yang berkacamata. Dia melihat gadis yang berpenampilan sederhana itu benar mirip Elsa yang kemarin ke restoran. Matanya, Wulan melihat mata Elsa begitu tajam. Bibirnya juga memaksakan senyum. Dia melihat sosok gadis yang berpura-pura kuat tapi sebenarnya dia benar-benar sangat rapuh.


"Pasti ada sesuatu kenapa Elsa berpenampilan seperti ini." ucap Wulan yang masih fokus menatap foto Elsa.


Nathan mulai bingung apa yang dimaksud mamanya. Dia menerima kembali smartphonenya. Kini dia juga mengamati foto Elsa. Kenapa Elsa begitu cupu jika di sekolah ataupun di diklat.


"Ayo cepat berangkat sekolah. Jangan sampai terlambat." ucap Wulan membuyarkan konsentrasi Nathan.


Nathan memasukkan smartphonenya lalu mengecup punggung tangan dan pipi mamanya. "Nathan sayang mama. I love you, ma." pamit Nathan.


Wulan menatap punggung anaknya yang berjalan menuju motor. Pikirannya sedikit terganggu soal Elsa yang mengubah penampilannya menjadi dua sosok gadis yang berbeda. Cantik dan cupu.


~


Elsa sudah datang sangat pagi. Dia duduk di bangku dalam keadaan sepi. Elsa mulai membuka buku catatannya. Sebenarnya dia tak pandai menulis apalagi bersastra. Dia hanya butuh teman untuk menemani pagi. Dia mulai membuat coretan tak jelas, yang pasti ungkapan hatinya kepada Nathan.


Tak lama kemudian, Hannah datang dengan gaya khasnya yang over aktif. "Elsa, Elsa. Kamu tau gak ada berita penting hari ini. Ini soal Nathan." ucap Hannah sembari menekan kata Nathan.


Elsa menutup buku catatannya segera karena banyak kata Nathan di buku itu. Harus diakui Elsa selama ini tak tertarik apapun informasi dari Hannah kini mulai menyadari informasi ini penting.


"Lihat foto ini!" ucap Hannah sambil menunjukkan smartphonenya.

__ADS_1


Seketika Elsa menarik smartphone Hannah. Hannah mendadak terkejut melihat reaksi Elsa. Tumben sekali dia tertarik dengan informasi. Biasanya bodo amat, batin Hannah.


Elsa mengamati foto dirinya bersama Nathan di taman cafe. Satu per satu dia melihat foto-foto itu. Pandangannya terhenti ketika melihat foto dirinya tersenyum sambil menggigit jari dan Nathan menatap langit sambil tersenyum. Pipinya mulai merona. Dia benar-benar malu melihat ekspresinya di foto. Dia juga tidak bisa membayangkan jika Nathan tahu foto ini. Sudah pasti dirinya sangat malu karena tak bisa menyembunyikan perasaan sukanya. Elsa benar-benar ingin mencari kardus untuk menutup kepala.


"Tuh cewek cantik banget. Mereka best couple ya." ucap Hannah.


Mendengar perkataan Hannah, Elsa mulai mengembalikan smartphonenya. Dia memikirkan perkataan Hannah. Andai saja itu benar, batin Elsa.


Loretta dan Niken baru datang. Ada yang sedikit mengganggu penglihatan Hannah dengan penampilan Loretta.


"Tumben sekali gak pake maskara, blush on, hot lipstick."


Loretta hanya diam. Dia duduk di bangkunya sambil menaruh kepala di meja. Dia mulai sibuk melihat smartphone dan seakan-akan tak mendengar kata Hannah. Melihat Loretta yang sedikit aneh hari ini, membuat Hannah tak menyiapkan amunisi kata lagi untuk Loretta.


Hannah mulai bertanya Niken. "Loretta sehat?" Niken hanya mengangkat kedua pundaknya. "Mungkin sedang patah hati." bisik Niken ke telinga Hannah.


"Jadi benar yang di-posting di Instagram Rio itu cewek Kak Nathan?" bisik Hannah ke Niken.


"Mungkin. Sebenarnya Nathan tidak pernah dekat dengan cewek."


"Hanya teman."


Elsa yang sedari tadi mendengarkan bisikan mereka merasa senang ketika Niken menjelaskan Loretta dan Nathan hanya berteman.


Sebenarnya percakapan Niken dan Hannah tak terlalu berisik di telinga Loretta. Loretta juga mendengar jelas pembicaraan mereka. Loretta juga ingin membungkam pertanyaan Hannah. Sayangnya dia tak punya argumen yang pas untuk membungkamnya. Cukup dengan berpura-pura tak mendengarkan dan memainkan smartphonenya dia sedikit merasa lebih baik.


Smartphonenya mendadak memunculkan pesan wa dari nomor yang tak dikenal. Loretta segera membuka wa itu dengan malas.


Hai, jerawat kecil.


Loretta seketika mengangkat kepalanya. Mendadak dia tersenyum melihat chat itu. Dia tahu chat itu tak lain dari Joe.


Dasar menyebalkan.

__ADS_1


Balas Loretta memulai obrolan.


Menyebalkan tapi asyik, no problem.


Dasar Joe, batin Loretta. Loretta mulai memikirkan tentang Joe. Sebenarnya Joe cowok tampan, terlebih perhatian. Dia asyik diajak ngobrol meski kadang juga aneh. Dia juga smart, cool, dan tipe setia pula. Bisa dibilang dia cowok idaman urutan kedua setelah Nathan.


Loretta tertawa kecil sembari menggelengkan kepala ketika membayangkan sosok Joe. Kenapa jadi deg deg an gini memikirkan dia sih, ucap Loretta dalam hati. Dia melanjutkan chatting dengan Joe sambil menunggu bel masuk.


Niken, Hannah, dan Elsa sedari tadi begitu heran melihat Loretta yang berubah tiba-tiba. Tadi make up nya sekarang otaknya.


"Apa kita perlu bawa Loretta ke UKS?" tanya


Hannah mulai khawatir tak jelas.


"Cukup abaikan. Dia akan sembuh." saran Niken.


"Oh, oke."


Hannah kembali bercerita dengan Elsa. Hari ini dia bersemangat karena ada kemajuan dengan Elsa. Itu karena setelah dua minggu lamanya, Elsa mendadak berubah tak jelas dan sering menolak permintaannya meski tak perlu mengucapkan penolakan.


"Kamu mau nemenin aku nemuin Kak Roy lagi gak?" tanya Hannah agak hati-hati.


Elsa yang suasana hatinya sedang baik hari ini mengangguk menjawab pertanyaan Hannah.


"Yes, yes, yes." ucap Hannah sembari mengangkat kepalan tangannya di dada berkali-kali.


"Oke, kita siap-siap ulangan matematika. Jangan lupa kerjakan dengan benar. Biar aku dapat nilai seratus lagi." ucap Hannah sambil memegang pundak Elsa.


Elsa mengangguk sambil memberi senyum ke Hannah. Hannah girang bukan main. Meskipun Elsa menyebalkan, dia tetap tak bisa meninggalkan si kacamata itu untuk urusan ulangan, UTS, Ujian Semester, dan tugas sekolah lainnya. Dia sangat menyadari kemampuan otaknya. Karena itu dia bisa menerima kekurangan Elsa yang menyebalkan.


Sejujurnya Elsa ingin meminta imbalan jika dia memberikan contekan ke Hannah. Dia ingin meminta foto-foto tadi. Sayangnya dia tak tahu cara berbicara dengan Hannah. Karena dia sadar kemampuan Hannah untuk memberi argumen dan prasangka-prasangka sangat luar biasa. Jika dia meminta foto itu tiba-tiba, sudah pasti akan dicecar ribuan pertanyaan dari Hannah soal Nathan. Seperti biasa, Elsa sangat malas mendengarkan.


Seperti bisa membaca pikiran Elsa, Hannah mendekat lagi. "Kamu mau lihat foto tadi gak?" tanya Hannah. Elsa mengangguk tiba-tiba. Hannah sungguh sangat heran dengan Elsa hari ini.

__ADS_1


"Jujur ya, aku pengen tanya kenapa kamu tiba-tiba mau lihat foto ini tapi aku tahu kamu akan lebih bisu." ucap Hannah sambil senyum kecut menunjukkan foto best couple itu.


__ADS_2