
"Terima kasih untuk teh manis dan makan malamnya. Karena sudah malam, aku harus pulang." dengan berat hati Nathan harus segera berpisah dengan Elsa untuk malam yang baru saja datang.
Begitu pula Elsa tak bisa berbohong bahwa dirinya benci jika harus mengizinkan Nathan pulang. Namun dia juga tak menyukai jika Nathan mendapat kesan buruk di mata paman meski ini masih jam 6 malam. "Hati-hati, kak."
"Iya. Kamu juga hati-hati."
Nathan berjalan menuju motornya. Langkahnya berat meninggalkan Elsa. Dia juga tak tahu kapan lagi bisa berkunjung ke rumah Elsa. Karena tak mungkin dia izin telat kerja lagi.
Entah keberanian dari mana Elsa mengantar Nathan sampai ke depan gerbang. Matanya begitu berharap agar Nathan menemui lagi. Berkunjunglah lagi, batin Elsa.
"Masuklah ke dalam dan kerjakan PR mu!" ucap Nathan sembari tertawa kecil. Tangannya mengacak rambut Elsa dan sukses membuat Elsa merona. Sebenarnya Nathan masih ingin berlama-lama dengan Elsa tapi sudah pasti nanti ada yang marah.
"Selamat malam." ucap Nathan dengan mata teduh.
"Malam, kak." balas Elsa tak berani menatap Nathan sambil membenarkan rambutnya dengan satu tangan. Nathan melajukan motornya mulai meninggalkan Elsa.
Saat Nathan mulai tak tampak, Elsa ingat kalau tadi Nathan ingin mengatakan sesuatu. "Aku men. Men apa? Mendapat, mendengar, mendalami, mendadak, mencari, menjawab, men apa sih?"
Setelah berfikir lama, Elsa mulai menebak dengan ragu, "Mencintai?" dia tertawa seketika. Nathan terlalu sempurna untuk dirinya. Jikapun dia mencintai seseorang, dia akan mencintai seorang putri bukan seorang penakut seperti dirinya.
Tak bisa dipungkiri rautnya begitu sedih dengan tiba-tiba. Dia tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya jika Nathan benar-benar mencintai orang lain. "Sakit sekali." ucapnya sembari memegang dadanya.
~
Setiba di restoran, Wulan hanya mengecup pipinya lalu kembali sibuk bekerja. Nathan bergegas ganti baju dan mulai mencuci piring di restoran. Perasaannya begitu senang tapi sedikit kecewa karena belum mengungkapkan isi hatinya.
"Weeess, Nathan. Pulang apel." ledek karyawan restoran.
"Namanya juga anak muda." balas Nathan sembari tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
--
Malamnya setelah bekerja, Nathan merebahkan diri sejenak. Dia mulai membuka smartphone dan melihat foto-foto Elsa. "Imutnya."
Nathan mulai mencari nomor Elsa dan mengirim pesan.
Selamat malam, Elsa. Tidur nyenyak.
Sebenarnya Nathan ingin melihat balasan pesan keterkejutan Elsa. Sayangnya pesannya belum terbaca. Mungkin Elsa sudah tidur. Nathan merebahkan dirinya di kamar sembari mulai memejamkan mata. Sejenak kemudian Nathan terlelap dengan mimpi indahnya.
~
Paginya, Nathan sudah tiba d parkiran. Dia segera melihat smartphonenya. Dia mendapati wa nya sudah dibaca Elsa tapi sayangnya tak mendapatkan balasan.
__ADS_1
Ini aku, Nathan.
Dia mengirim chat lagi dan segera mendapati centang biru. Artinya sudah dibaca dan masih tidak ada balasan. Nathan mengacak rambutnya dan menunjukkan raut kecewa.
Rio sudah tiba di sekolah dan mulai memarkirkan mogenya dekat motor Nathan. Setibanya, dia melihat reaksi Nathan yang sudah murung, Rio mulai was-was dengan bisnis endorsenya. "Kamu gak ditolak kan?"
"Ditolak apanya? Ngomong aja belum."
Rio lega seketika. "Terus kemarin ngomong apa aja?"
Nathan menarik nafas berat. " Kemarin aku diinterogasi pamannya dan disuruh segera pulang untuk belajar."
Mendengar penjelasan Nathan, Rio langsung tertawa terbahak-bahak. "Sudah aku bilang, kalau mau ngungkapin perasaan itu jangan di rumahnya. Jelas dikira mau ngelamar."
Nathan berfikir sejenak apa yang diucapkan Rio ada benarnya. Dia harus mengajak Elsa keluar rumah. "Ada tempat yang recommended gak?"
"Banyak. Kalo nyari tempat romantis, serahkan ke ahlinya." ucap Rio sembari menepuk dadanya berkali-kali.
"Ahli apaan? Cewek aja belum ada." sikut Evan tiba-tiba dari belakang.
"Lho Evan, Eric. Kok gak denger suara motor kalian."
"Noh." ucap Evan sembari menunjuk ke arah mogenya yang agak jauh dari posisi mereka.
"Udah jam segini kita kok belum liat Joe ya. Coba telpon bro." pinta Rio.
"Gak perlu. Dia bilang ngantar Loretta dulu."
"Apa? Kemajuan sekali." ucap Rio sembari melirik Nathan yang mengalami keterlambatan dalam hubungannya.
Tampak dari jauh Joe masuk ke parkiran dengan senyum gak jelas. "Idih, sok manis banget senyam-senyum di jalan." sinis Eric.
"Dah, ah. Aku cabut dulu. Sakit liat senyumnya." ucap Rio berlalu.
"Dasar jomblo! Oke dah, cabut juga. Gak perlu formasi." ucap Evan tak kalah sedihnya.
Eric menggeleng melihat mereka. "Padahal mereka cakep. Kenapa bertahan dengan jomblonya sih."
"Sebenarnya mereka mencari cewek dengan hati, bro." nasihat Nathan sambil berlalu. Dia melihat smartphonenya full chat. Namun dia kesulitan tersenyum karena tak mendapati balasan dari Elsa.
~
Sedari tadi Elsa masih nyaman berada di toilet. Dia melihat dua pesan dari Nathan. Dia ragu apa mungkin ini Nathan kemarin. Tapi sudah dipastikan itu memang chat nathan. Dia melihat foto profil Nathan sedang duduk di bangku taman dengan manis.
__ADS_1
Elsa mengingat-ingat, dia tak pernah memberikan nomornya kepada siapapun. Bahkan di kontaknya hanya ada dua nomor, yakni paman dan bibi. Apalagi Elsa juga malas membawa smartphone ke sekolah terlebih dia tak mengingat nomornya dengan baik. Bagaimana bisa seorang Nathan mendapatkan nomornya.
Elsa tak cukup pandai mencari tahu. Kini dia mengabaikan saja bagaimana Nathan bisa menyapa dirinya. Kini dia tak tahu harus membalas apa. Dia benar-benar kehilangan cara membalas chat Nathan. Apa cukup emoji atau stiker aja ya, batin Elsa.
"Apa aku tanya Hannah ya?" tanyanya sendiri. "Tidak tidak. Hannah pasti akan memberi saran yang tidak-tidak. Aaaaa. Terus ini bagaimana?" frustasi Elsa di toilet sendiri.
Dengan wajah cemberut, Elsa mematikan smartphone dan menyimpan baik-baik di tas. Dia berjalan lunglai menuju kelasnya berada.
Setiba di kelas, Hannah menarik Elsa segera untuk duduk di bangku. "Elsa, ada kado di atas mejaku. Kamu tau gak ini dari siapa?" tanya Elsa.
Elsa melihat Hannah dengan tatapan aneh. Bisa-bisanya nyuruh aku nebak. Apa wajahku mirip dukun?
"Jangan menatapku. Tatap ini!" pinta Hannah ke Elsa untuk melihat kotak kado di mejanya. Elsa melihat kotak kado dengan pita manis di atas. Dia menggeleng dengan segera.
"Aku takut isinya bom." ucap Hannah yang sukses membuat Elsa segera menjauh dari tempat duduknya.
Niken dan Loretta yang baru masuk kelas tak serta merta duduk di bangkunya. "Kenapa kalian sibuk berdiri?" tanya Niken melihat Elsa dan Hannah.
"Ada bom di kotak kado. Di atas meja Hannah." jawab Elsa terbata-bata.
"Astagaa. Benar sekali. Kamu aneh, sudah pasti dapat kado bom." ucap Loretta.
Hannah memanyunkan bibirnya meski sedikit membenarkan pernyataan Loretta.
Niken segera mengambil kotak kado itu dan melemparnya ke atas lalu menangkapnya. Seketika Elsa, Hannah, dan Loretta terkejut dan setengah berjongkok. "Awas meledak, bodoh!" teriak Hannah.
"Sebenarnya yang bodoh ini siapa sih?" tanya Niken sembari merobek kertas kado. Dia mulai membuka kotak kado itu.
"Door!" ucap Niken sambil menunjukkan boneka little bunny pink bertelinga panjang yang begitu imut.
"Imutnyaaa." ucap Hannah melihat boneka itu sembari mengambil paksa dari tangan Hannah.
"Terima kasih atau apa kek."
Hannah memeluk boneka lucu itu. "Terima kasih Kak Niken." ucap Hannah dengan gaya imutnya.
"Ih jijik." balas Niken. "Dari siapa sih?"
Hannah melihat kertas di dalam kotak kado. "KR? Di sini ada yang namanya KR gak?" teriak Hannah ke teman sekelasnya dan kompak mereka mengabaikan semua.
Loretta memukul jidat Hannah dengan kamus besar bahasa Inggris, "Gak penting! Kalo nebak yang bener dikit dong. Boneka imut kayak gitu dibilang bom. Untung gak kena jantung."
Elsa juga tak peduli siapa KR yang dimaksud. Dia juga berterima kasih kepada Loretta yang sudah memukul Hannah. Dia sama kesalnya dengan Loretta. Elsa kembali duduk dengan tenang tak melihat ke arah Hannah yang sedang memeluk little bunny.
__ADS_1
Tampak dari jauh, Kak Roy mengamati mereka. Dia tertawa kecil melihat tingkah mereka. "Apa kau berfikir aku akan menghancurkan kelasmu?"