Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
MAKAN BERSAMA


__ADS_3

Elsa mulai mencium bau masam. Mungkin itu berasal dari Nathan yang belum ganti baju. "Apa Kak Nathan mau mandi dulu?"


Nathan mulai mencium tubuhnya. Aktifitas memasak membuat dirinya sangat cepat berkeringat. "Oh ya, bau ya."


Elsa melihat ke bawah karena tak ingin terlalu jujur terhadap Nathan. Sayangnya itu malah semakin menunjukkan Nathan benar-benar bau. "Matikan kompornya jika sudah lima belas menit. Aku izin menggunakan kamar mandi dulu boleh?"


Elsa baru mengingat kamar mandi tamu showernya bermasalah. Dia dengan terpaksa menunjukkan kamar mandi di kamarnya. Dia berjalan sembari diikuti Nathan. Lalu menunjukkan kamar mandi kecil miliknya. "Kamar mandi di luar showernya bermasalah. Kakak mandi di sini saja." ucap Elsa segera berlalu.


"Ini kamarmu?" tanya Nathan menghentikan sejenak langkah Elsa.


Elsa mengangguk sembari cepat-cepat menuju dapur.


Nathan tersenyum memasuki kamar mandi Elsa. Dia mulai melepaskan seragam dan mulai mengguyur badannya di bawah shower. Semua perlengkapan mandi Elsa beraroma buah. Nathan sangat nyaman dan fresh dengan aroma kamar mandinya. Melihat bathtub kecil ini dia ingin berendam. Nathan juga melihat banyak tanaman di dinding kamar mandi seperti lidah buaya, lidah mertua mini, dan tanaman rambat. Ada juga beberapa tangkai bunga mawar di vas kecil.


"Hmmm. Melihat kamar mandi ini, aku jadi ingat sungai di hutan." ucap Nathan sembari mengingat dirinya bersama Elsa di sungai.


Setelah lima belas menit, Elsa mematikan kompor dengan segera. Dia membuka tutup panci itu dan mulai mencium aroma sangat lezat dari sop itu. "Astaga, harum sekali."


Elsa sangat hati-hati memindahkan sop itu ke mangkok besar. Setelah itu membawanya pelan ke meja makan. Dia mulai menyiapkan makanan untuk Nathan. Tunggu, untuk Nathan? Tentu saja untuk dirinya. Dia belum makan.


Nathan keluar dari kamar Elsa dengan telanjang dada. Tubuh Nathan benar-benar indah bak patung dewa Yunani. Elsa yang sedang menata meja langsung berteriak melihat pemandangan itu. "Aaaaa. Kenapa Kak Nathan tidak pakai baju?" histeris Elsa.


"Kaosku di tas. Tasku di sofa. Kenapa kamu menutup mata?" tanya Nathan jail.


Elsa tak menjawab. Dia membalikkan badannya segera. Nathan tersenyum sembari mengambil kaos di sofa lalu mengenakan cepat. "Aku sudah memakai kaos. Lihat aku."


Ragu-ragu Elsa membalikkan badan. Elsa melihat Nathan begitu tampan dengan rambut basahnya dan kaos v neck lengan panjang warna putih. Dia masih mengenakan celana sekolah padahal hari ini masih senin. Pipinya merona melihat penampilan Nathan.


Nathan masih berdiri sambil memasukkan tangannya di saku celana. Dia ingin membuat Elsa terpesona dengan penampilan dirinya. Sayangnya Nathan tak bisa memungkiri bahwa dirinya lah yang terlalu terpesona dengan gaya sederhana Elsa. Dia tersenyum kalah dari Elsa. Karena Elsa lah yang membuat jantungnya semakin berdegup kencang. Herannya, kenapa pipi Elsa yang merona.


Nathan melangkah ke meja makan itu. Dia melihat Elsa duduk sambil menyeruput susu yang sudah hangat. "Sudah siap makanannya?"

__ADS_1


Seperti biasa Elsa hanya mengangguk. Sebenarnya dia ingin bersembunyi sebentar dari Nathan. Sedari tadi jantungnya berdebar tak karuan. Nathan terlalu tampan untuk berada di depannya. Bahkan dirinya ingin menyingkir karena seperti ikan asin di sop sedap ini.


Elsa sering melihat drama Korea dengan artis yang tampan. Dia menganggap ketampanan di tv adalah hal biasa. Karena memang drama harus diperankan orang cantik dan tampan. Mungkin cukup kisah Shrek saja yang sampai saat ini masih dianggap ending yang terbaik dengan aktor Shrek dan Fiona versi Shrek. Tapi melihat Nathan, menepis bahwa tampan itu hal biasa. Ketampanan bisa saja membuat dirinya tak bisa berbuat apapun.


"Pipimu merah. Kamu suka aku ya." ucap Nathan tanpa kiasan.


Elsa melebarkan pupilnya mendengar ucapan Nathan. Dia mengabaikan ucapan Nathan dan segera mengalihkan dirinya memakan sop buatan Nathan.


Hanya satu suapan, Elsa menjadi lupa apa yang barusan Nathan katakan. Dia merasakan sop kaya akan rempah itu benar-benar sedap dan gurih. Sop buatan Nathan benar-benar enak.


"Enak ya."


Elsa mengangguk berkali-kali. Elsa begitu semangat memakan sop buatan Nathan. Nathan menutup mulutnya karena ketawa melihat Elsa. Elsa begitu menggemaskan memakan sop Nathan. Entah dia lapar apa doyan. Sama sekali tak bisa dibedakan. Nathan juga mulai menyuapi dirinya sendiri. Dia menikmati pula sop buatannya. Pantas saja Elsa sampai lupa jaimnya, batin Nathan.


Nathan menaruh sendok ke mangkok. Dia beralih memandang Elsa yang masih menikmati sop. Nathan menikmati suasana ini sembari merasakan jantungnya berdegup keras.


Baiklah, sekarang, batin Nathan sembari menyiapkan segala kekuatan untuk mengutarakan perasaan.


Elsa menghentikan sesendok sop yang akan masuk mulutnya. Dia melihat ke arah Nathan yang begitu teduh memandangnya. Seketika perasaan lebih tenang datang lagi. Dia melupakan sop enak di depannya karena getaran-getaran yang tak bisa dia kendalikan sudah mulai datang lagi ke tubuhnya.


"Aku men-".


Ceklek.


Pintu rumah terbuka, menampilkan sosok Paman dan Bibi Andre dengan pakaian formal. "Sudah lama sekali kita tidak pulang sore." ucap bibi Andre kepada suaminya sembari belum menyadari ada sosok Elsa dan Nathan di meja makan depan mereka.


Paman Andre menghentikan langkahnya ketika melihat Elsa dan Nathan di meja makan. Melihat paman yang menghentikan langkahnya tiba-tiba, bibi menatap ke arah paman Andre memandang.


"Waw, ada Nathan di rumah kita." ucap bibi kemudian menutup mulutnya ketika melihat Elsa makan di meja makan. "Wah, ada Elsa juga makan di meja makan."


Pemandangan ini benar-benar langka karena mereka jarang sekali melihat Elsa makan di meja makan. Elsa selalu di kamar terus dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


Nathan mengumpat kekesalan dalam hati. Kenapa bibi selalu datang tiba-tiba dan merusak suasana. Padahal dia mau menyatakan perasaannya ke Elsa.


Nathan segera berdiri mengingat tata krama menyambut tuan rumah. Elsa juga ikut berdiri menyambut mereka.


"Wah, kau masak sop, sayang." ucap Bibi Andre melihat sop penuh di mangkok besar. "Baunya enak."


"Nathan yang memasak sop." ucap Elsa.


"Benarkah?" tanya bibi melihat Nathan. "Baiklah. Ayo kita makan bersama."


Berbeda dengan paman Andre. Dia belum bisa menunjukkan sikap ramahnya. Dia memandang Nathan begitu jeli. Tak ingin sekali dia melewatkan sesuatu dari padangan itu.


Sedari tadi paman Andre tak beraksi. Dia belum menyentuh sopnya sama sekali. Nathan mulai merasakan aura angker di meja makan. "Kamu sekolah mana?" tanya paman mulai interogasi.


"SMA 1, paman. " jawab Nathan seramah mungkin.


"Oh, SMA 1 ya. Hanya sepuluh menit dari sini. Seharusnya kau jangan menghabiskan waktumu main-main dengan Elsa. Kau harus belajar sungguh-sungguh sekolah di sana. Biayanya sangat mahal." ucap paman Andre datar bahkan tak menatap Nathan.


Nathan merasa dirinya sedang diinterogasi calon mertua. Bahkan dahinya merasakan keringan dingin. Nathan benar-benar harus memberi jawaban yang berkesan.


"Pasti paman, karena saya juga tidak ingin kehilangan beasiswa saya." ucap Nathan dengan ramah padahal jantungnya berpacu tak karuan.


Mendengar pernyataan Nathan, semua menoleh termasuk Elsa. Elsa begitu kagum Nathan bisa mendapatkan beasiswa di sekolah unggulan itu.


"Wah, keren sekali. Padahal kamu juga bekerja sambilan di restoran kan?"


"Iya, bibi. Sebagai tukang cuci di restoran dari jam 3 sampai jam 10 malam."


Paman Andre mulai memangut-mangut. Ekspresinya sedikit berubah. Dia mulai terkesan dengan anak laki-laki di depannya. Dia mulai mencicipi sop yang katanya buatan anak beasiswa ini. Hanya satu sendok saja, lidahnya segera begitu menikmati sop ayam ini.


"Bagaimana? Enak bukan?" ledek Bibi Andre kepada suaminya.

__ADS_1


Nathan tersenyum melihat ekspresi paman Andre. Selamat, batin Nathan.


__ADS_2