Elsa Dan Nathan

Elsa Dan Nathan
BERTEMU


__ADS_3

Siapa dia?


Tanpa sadar Nathan mengikuti langkahnya menuju seseorang itu. Sosok yang membuat Nathan berbeda itu juga ikut menatapnya. Seketika dunianya seperti terhenti. Daun turun melambat agar jatuh sangat hati-hati, rumput menggerakkan diri sangat pelan, semuanya melambat. Tiba-tiba ada sungai yang terdengar arusnya. Bunga-bunga yang entah dari pohon apa mulai bermekaran.


Nathan seakan terkena hipnotis kuat dari gadis berkacamata itu. Ada yang berdesir dalam dirinya. Dia tak bisa mengontrol diri bahkan lupa semua hal tentang siapa dia. Dadanya juga berdetak begitu kencang. Dia mati gaya. Dia menjadi Nathan yang berbeda. Baru kali ini dia merasa di suatu tempat yang paling indah itu. Semuanya indah hanya melihatnya. Langkahnya terus menuju ke arah seseorang itu.


"Semua berdiri rapi dan Ucapkan salam kepada Kak Nathan, ketua sangker sekaligus ketua panitia kita. Siaap grak!!" perintah Devan dengan tegas dan keras yang cukup membuat Nathan kembali sadar dengan kenyataan.


Seketika semua kembali normal, tak ada lagi sungai yang indah dengan suara arusnya, tak ada lagi bunga-bunga, daun jatuh semestinya, angin juga berhembus semestinya. Langkahnya pun bisa dia kendalikan, dia bisa mendengar lagi tawa dan bisik-bisik junior tentang dirinya. Nathan juga masih bingung bagaimana bisa dia sudah berada di lapangan dan di depan barisan junior cewek dengan jarak sekitar dua meter. Dia menyaksikan orang-orang di depannya berdiri dan bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu khas ucapan selamat datang untuk teman-teman Pramuka.


"Selamat datang kakak. selamat datang kami ucapkan. Salam salam terimalah salam dari kami yang ingin maju bersama kakak." begitulah dendangnya.


Nathan yang terkenal mampu menguasai situasi mendadak glagap di hari itu. Tatapan senyum dari peserta untuk menyambut kedatangannya membuat kebingungan. Namun dengan segera, Nathan mengontrol dirinya. Nathan mulai melihat junior cowok di depannya. Sebagian dari mereka ada yang dikenalinya. Cowok leyeh-leyeh itu benar-benar datang karena rayuan maut Diklatgab diikuti cewek-cewek cantik mempesona. Seketika Nathan tersenyum kecil. Mereka benar-benar normal.


Lalu dengan gugup Nathan melihat ke arah junior cewek. Matanya terkunci pada seseorang itu lagi, sosok berponi dan rambut berkepang dua. Kembali dia merasakan desiran, rasa nyaman, dan tanpa sadar Nathan tersenyum kepadanya. Sosok berponi itu langsung menunduk kepala. Seketika itu, Nathan mulai kembali sadar atas tindakan di luar kendalinya.


Alarm di kepalanya berbunyi. Berbahaya jika Nathan terus menatapnya. Nathan langsung berjalan menuju junior laki-laki dan mengucapkan beberapa kalimat ucapan terima kasih telah ikut bergabung dalam Diklatgab saka ini. Dia juga meminta semua junior dan senior tetap semangat.


Hari itu Nathan tak bisa banyak berkata. Dia menyampaikan beberapa kata dan selanjutnya izin meninggalkan tempat sejenak. Loretta yang sedari tadi mengamati Nathan merasakan ada yang berbeda dengannya. Nathan bukan Nathan hari ini. Segera dia ikut menghampiri Nathan.


Nathan bergegas menuju toilet. Sebelumnya, dia meminta Revan menggantikan posisinya memimpin apel pembukaan. Nathan beralasan sakit perut karena telat makan. Sejatinya dia hanya ingin menuntaskan kebingungannya. Ada apa dengan dirinya. Bagaimana bisa dia tampak payah seperti ini. Dia mengingat kembali apa yang barusan terjadi. Lagi-lagi dia berdesir, dadanya bergemuruh. Cewek berponi itu. Nathan terpejam dan tanpa sadar bibirnya mengulas senyuman. Kemudian Nathan tersadar kembali. Dia siapa? Kenapa diriku begitu bahagia membayangkannya? Nathan membatin.


---

__ADS_1


Flash back


Elsa


Hari dan waktu yang dinanti telah tiba. Sore itu Elsa sudah sampai dulu di Makoramil. Masih belum tampak seorangpun datang. Padahal jam sudah menunjukkan 4 sore. Dia duduk di bangku depan. Dia memandang ke arah jalan raya dan membayangkan keindahan hutan sembari mengulang lagi lirik lagu Letto. Dia menyanyi kecil sembari membayangkan dirinya memegang embun. Gambaran tentang hutan sudah memenuhi kepalanya. Namun imajinasinya hanya bertahan 10 menit. Imajinasinya lari tunggang langgang ketika Elsa melihat Hannah. Hannah mulai tampak dari jalan raya. Ingin rasanya Elsa pura-pura tak melihat tapi tubuhnya terlalu sulit disembunyikan dari Hannah.


Hannah pun langsung bergegas ke Elsa. "Sudah lama di sini? Aku ketinggalan gak? Kamu bawa semua perlengkapannya? Eh bawa sof*el gak? Nanti kegiatan diklatnya di hutan lho. Aduuuh gimana ini? Aku gak bawa sof*el. Nanti aku digigit nyamuk berapaaaa." begitulah kata sambutan Hannah. Elsa mulai terbiasa mendengarkan gemericiknya kata Hannah dan Hannah pun sudah terbiasa tak mendapat komentar apapun dari Elsa.


Satu per satu minibus dari sekolah yang berbeda masuk ke lapangan apel. Tiap minibus yang masuk itu membawa anak-anak pramuka. Mereka perwakilan dari beberapa sekolah yang sesuai dengan keterangan di minibus masing-masing.


"Lho Elsa, kok kita berbeda ya? Mereka diantar pake mobil sekolah. Kok kita berangkat sendiri, mereka juga banyak. Kok kita berdua aja ya. Aneh gak sih." pernyataan Hannah penuh selidik.


Elsa tak peduli dengan semua pernyataan Hannah. Meski tatapannya menuju peserta yang barusan datang, Elsa hanya fokus ingin melihat hutan dan sungai yang jernih.


Dari jauh, tampak Elsa dan Hannah mengantri untuk check in. Loretta dan Niken merasa lega seketika. "Mereka gampangan." ejek Loretta.


Niken masih belum selesai kesal dengan Loretta menepis perkataannya, "Kamu bisa bilang terima kasih gak sama mereka? Kalau sampai mereka gak datang, kita bakal bilang apa ke Nathan."


"Tak ada yang disampaikan. Mereka datang." timpal Loretta sembari berjalan mendekati Hannah dan Elsa. Niken benar-benar ingin menghilangkan otak Loretta yang sudah membuat ide kelewat.


"Wow, semangat sekali. Kalian pasti akan senang." Loretta berpura-pura ramah menyambutnya. Hannah seketika buang muka. Andai Elsa takut kuntilanak atau sejenisnya mereka pasti tak akan ke sini. Berbeda dengan Elsa, dia tak terganggu sama sekali. Dia hanya dan hanya fokus ke antrean untuk tanda tangan. Dia tak sabar ingin ke hutan.


Setelah menandatangani daftar hadir, peserta dipandu Devan ke lapangan. Dia mengajarkan PBB sederhana sebagai pengenalan dan memberi tahu bahwa semua peserta wajib mengikuti tata tertib di Gudep Makoramil. Jika tidak mengikuti, peserta cewek harus dihukum push up lima kali, peserta cowok push up sepuluh kali. Selanjutnya dia mulai mengajarkan salam sambutan untuk menyambut Nathan nanti. Setelah semua terkondisikan, Devan memberi perintah duduk. "Nathan sudah perjalanan ke sini sebentar lagi dia sampai." bisik Andi ke Devan.

__ADS_1


Elsa duduk di samping Hannah yang sibuk berbicara dengan peserta lainnya. "Elsa, jangan terkejut. Hasil penyelidikanku, rupanya Loretta gak ngasih undangan ke sekolah kita. Jadi cuma kita seorang yang dikasih tau undangan Diklat ini. Mereka yang dikirim atas nama sekolah itu tidak baaayaaar dan kita yang sangat polos ini baaaayaaar. Ambyaaar, lima puluh ribu, Elsaaaa. Bisa buat streaming Drakor full full. Dasar lampir." kesal Hannah menatap Loretta.


Elsa langsung memandang ke arah Loretta yang berdiri di ujung kiri barisan cowok. Aneh. Gak gratis pula. Itu saja yang perlu dikomentari selanjutnya sibuk membayangkan hutan dan sungai. Hutan dan sungai lebih menarik dari pada Loretta tapi tak terlalu menarik juga dari pada uang lima puluh ribu. Yang lembar biru atau merah tetap saja bisa dicerna akal.


Pertemuan itu di mulai.


Tanpa disadari kapan mulainya pandangan Elsa tidak lagi tentang hutan dan sungai. Dia melihat seseorang yang sangat tampan berjalan menuju lapangan. Sosok yang memiliki mata tajam, rahang mengeras, alis tebal, dan bibirnya yang tebal pula. Si tampan itu juga menatapnya. Mata Elsa terkunci. Dia tak bisa menundukkan kepala seperti biasanya. Mendadak dia merasakan ada merpati berterbangan di sekitarnya dan bersandar di ranting-ranting kering. Mawar-mawar mendadak bermunculan, jantungnya terpacu seperti mengendarai kuda, padahal dia tak pernah mengendarai kuda. Hari itu dunianya indah bahkan sempurna. Wajah cowok di depannya sarat akan kedewasaan itu membuatnya sulit bernafas. Oksigen mendadak berkurang. Matanya yang tajam benar-benar menikam dirinya. Apakah ini imajinasi Elsa atau memang nyata, sosok itu berjalan mendekat, cowok itu hanya memandang dirinya, bahkan Elsa merasa dia juga begitu menikmati perasaan ini. Matanya tak mampu berkedip untuk melihat sosok laki-laki itu. Oh Tuhan, apa yang sedang terjadi?


Suara Devan membuyarkan tatapan Elsa. Elsa tiba-tiba mendengar suara lantang untuk berdiri. Elsa bodoh sejenak. Dia tak tau cara berdiri.


"Semua berdiri rapi dan Ucapkan salam kepada Kak Nathan, ketua sangker atau ketua panitia kita. Siaap grak!!" perintah Devan.


"Berdiri Elsa!" bisik Hannah. Hannah mulai menyanyikan lagu yang barusan diajarkan Devan. Elsa benar-benar lupa liriknya. Dia masih bingung. Dia melihat di sekitarnya. Mawar tadi kemana? Merpati tadi kemana? Lho ini dimana?


"Elsa, ayo nyanyi. Jangan sampai kena push up." Elsa pun menepuk tangannya. Beberapa lirik berhasil dia ucapkan sampai selesai. Namun dia menundukkan diri karena bingung. Kok bisa tadi begitu indah lebih indah dari pada hutan dan sungai. Terus sekarang semuanya itu kemana? Apa cowok tadi bisa menghipnotis? Elsa ingin membuktikan apakah benar dia bisa hipnotis.


Elsa mengangkat kepalanya lagi. Dia memberanikan menatap sosok tampan itu lagi. Tanpa sengaja sosok tampan itu juga memandangnya. Seketika merpati kembali berdatangan dan mawar-mawar juga mendadak muncul. Dia tersenyum kepada Elsa. Jantung Elsa berdetak tak karuan. Elsa menundukkan kepala segera. Apa tadi barusan? Dia beneran tersenyum atau khayalanku? tebak Elsa. Elsa berkali-kali memejamkan mata. Dia bukan lagi takut intimidasi dan sejenisnya. Dia takut melihat yang tidak-tidak.


Suara tampan itu sudah menghilang. Elsa berani membuka matanya. Keadaannya sudah normal kembali, Hannah pun juga mulai berbicara normal seperti biasanya. "Eh tadi Kak Nathan ganteng banget. Mukanya dewasa banget tapi cool banget. Pokoknya banyak bangetnya." kata Hannah namun dia segera menggeleng tiba-tiba. "Tidak tidak tidak. Fokus Kak Roy. Kak Roy tampan Kak Roy cool."


Elsa mulai normal lagi memandang Hannah. Dia baru sadar nama sosok tampan itu adalah Nathan. Bahkan dia juga merasakan desiran ketika nama Nathan terdengar di telinganya. Elsa memandang sekitar. Hanya pohon dan tembok yang mengelilingi bangunan Makoramil. Tak ada lagi merpati dan mawar yang mekar. Dia juga mulai mendengar bisikan peserta cewek sama-sama mengagumi Nathan. "Kak Nathan keren banget. Sumpah ganteng bingiiitts. Aku mau ikut Diklatgab terus." "Aku juga." "Iya aku juga." Cewek-cewek begitu antusias mengikuti Diklatgab SAKA ini. "Aku juga", tanpa sadar Elsa berbicara pelan. Hannah di sampingnya mendengar suara Elsa pun bertanya. "Aku juga apa?"


Elsa tak menjawab tapi menunduk. Hannah semakin terbiasa melihat Elsa aneh. "Please, jangan menundukkan kepala di sampingku juga." Seketika Elsa mengangkat kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2